
“Pelan, sabar” Ucap Abizar saat memindahkan Fifin agar duduk di kursi roda, ia mendorong kursi itu sambil membawa perlengkapan bayi, sedangkan Abbad ada dalam dekapan mbak Ila
Alhamdulillah nya anak santri saat sore seperti ini sudah mulai mengaji dengan ustadz dan ustadzah masing masing, jadi tidak ada riuh atau kehebohan yang tercipta saat ia datang
“Alhamdulillah… Masya Allah” Ucap mas Eko yang tadi jaga pos depan dan langsung membantu Abizar dengan membawakan barang barang keperluan Abbad
“Terimakasih mas”
Mereka semua langsung masuk ke ndalem melalui pintu samping, di ikuti juga dengan Lia dan mas Wawan yang mampir kesini
“Eh mas ke aula belajar dulu” Ucap Wawan karena dia harus mengajar dan Lia hanya mengangguk sambil tersenyum
“Assalamualaikum….”
“Wa’alaikumsalam….” Jawab serentak anggota keluarga yang menunggu kedatangan mereka, lebih tepat nya kedatangan Abbad ke rumah untuk pertama kali nya
Umi Rida terenyuh saat melihat cucu nya sudah baik baik saja, lalu ia kemudian mempersilahkan bu Risma untuk menggendong terlebih dahulu, ini cucu pertama untuk bu Risma jadi bahagia nya pasti sangat terasa
“Ya Allah… alhamdulillah, putu ku sehat” Ucap bu Risma saat menimang cucu pertama nya, begitupun pak Yahya yang tersenyum senang sambil merangkul istri nya
“Kok tadi agak lama?” Tanya Aina
“Iya, sekalian kontrol kak” Jawab Abizar
Saat di ajak mengobrol pun Abizar menolak dengan sopan, karena ia tidak mau Fifin kelelahan dan Abbad juga harus diberi asi
“Lah terus kamu gimana Li?” Tanya Fifin yang merasa tidak enak ketika Lia disini dan dia harus ada di kamar
“Santai aja, aku mau ngobrol sama umi sekalian nunggu mas Wawan” Ucap Lia tidak masalah karena ia ingin berbincang dengan umi memang
“Beneran nih?” Tanya Fifin
“Iya beneran”
Fifin mengangguk lalu kemudian naik ke atas dengan Abizar yang menggendong nya, Abbad? Tentu saja mbak Ila yang harus mengikuti pasutri ini ke kamar atas
Sebenarnya Fifin memang sudah di perbolehkan untuk jalan kaki, tapi Abi tidak mengizinkan kalau naik turun tangga dan saat bepergian pun selalu membawa kursi roda seperti tadi, kalau di rumah kan lantai nya mulus, lah kalau diluar?
“Terimakasih ya mbak… monggo dilanjut kegiatan nya, maaf merepotkan” Ucap Fifin saat menerima Abbad di dalam pelukannya
“Sami sami ning, nggih pun kulo ngerencangi mbak mbak lintune masak riyen” Ucap Ila lalu pamit dari hadapan Fifin ( sama sama ning, ya sudah saya mau menemani mbak mbak lainnya masak dulu ) *masak untuk makan malam semua anak pondok ya
Abizar sendiri sudah menyiapkan box bayi di kamar mereka, karena Abbad masih kecil jadi baik nya memang tidur sekamar dulu
“Mas, adek ganti baju dulu” Ucap Fifin
__ADS_1
“Eh eh… gimana ini? Mas takut jatuh” Ucap Abi saat sang anak dititipkan pada nya, agak tidak bisa di percaya juga bentukan lengan Abi saat menggendong putra nya, kayak gemetar gitu
“Ya sudah mas letakkan di kasur saja, asal jangan sampai menggelinding” Ucap Fifin mengingatkan lalu segera mengganti pakaian nya
Abizar sendiri rebahan di samping putra nya, kadang ia masih sedih tapi juga bersyukur karena ada Abbad yang selamat dan menemani mereka
“Semoga kamu jadi anak yang sholeh ya Abbad, apapun prestasi kamu nanti pasti sudah berhasil membuat abah bangga nak” Ucap Abizar
Abbad yang tadi diam sambil berkedip itu seketika menangis saat Abizar mencium nya, apalagi tangisan itu kencang dan sangat jelas di telinga Fifin
“Kenapa mas? Abbad kenapa?” Tanya Fifin buru buru dan langsung menghampiri dua laki laki itu
“Tidak tahu sayang, tiba tiba aja nangis” Jawab Abizar sendiri yang panik
Fifin menghela nafas, terlihat Abbad mengeluarkan lidah yang artinya bayi itu sedang kelaparan dan menginginkan sumber kehidupan nya
“Abbad lapar ya nak? Duhh maaf ya… ibu ganti nya lama ya? Maaf ya sayang” Ucap Fifin yang tadi buru buru sampai sampai ia hanya menggunakan daster selutut dan itu sangat menggoda di hadapan Abi
Fifin juga gercep memberi asi pada putra nya, karena sebelum melahirkan ia sudah membeli beberapa baju yang memudahkan untuk memberikan asi, alhamdulillah nya Abbad langsung diam dan fokus menyerap asi
“Kenapa?” Tanya Fifin saat sadar bahwa sedari tadi Abi menatap nya dari atas sampai bawah
Jujur saja Abi itu mupeng sebenernya, apalagi baru pertama kali ia melihat sang istri memakai daster pendek seperti itu, kan jadi ngiler ya
“Haha, sudah jadi abah harusnya siap berbagi dong?” Ucap Fifin tergelak mendengar pernyataan suami nya tadi
“Iya deh iya” Ucap Abizar pasrah
“Kenapa? Pengen ya?” Goda Fifin karena paham mungkin sang suami menganggap nya cantik karena memakai daster ini
Abizar mengangguk, lalu dengan gemas ia cium bertubi tubi seluruh wajah Fifin, disertai dengan kecupan leher dan dada sampai ada sedikit kemerahan disana
“Haha geli geli, makanya mas harus sabar ya?” Ucap Fifin sambil mengelus rambut suami nya, ia mengecup pipi dan bibir itu lalu mempersilahkan Abizar agar mandi terlebih dahulu supaya badan nya tidak lengket
Abizar juga langsung menurut, baru kali ini ia sangat kepikiran dan mupeng, itu semua karena sehabis melahirkan tuh aura Fifin makin cantik, beda lah dari biasanya
Tapi karena Fifin juga masih nifas, itu berarti ia harus bisa menahan semuanya termasuk dalam hal ini, jadi kalau mupeng ia lebih memilih untuk keramas saja supaya kepala nya bisa dingin
Selesai membersihkan diri, Abizar langsung menggelar sajadah untuk sholat sendirian, banyak sekali hal hal yang ia panjatkan termasuk rasa syukur selama ini, diberi istri yang pengertian dan pangeran tampan sekarang
Saat Abbad sudah tertidur nyenyak
“Mas….” Fifin yang baru selesai memberikan asi pada putra nya itu kemudian menghampiri Abi, ia langsung memeluk suami nya dari belakang dan memberikan elusan serta sentuhan lembut di dada bidang tersebut
“Dek… mas baru saja mandi sayang” Ucap Abi karena ia agak sensitif, nanti di sentuh dikit harus mendinginkan badan lagi
__ADS_1
Fifin menghentikan gerakan tangan nya dan ganti hanya dengan memeluk perut Abi saja “Adek minta maaf ya mas, tidak bisa memberikan kebutuhan mas untuk sementara”
“Iya… mas mengerti kok sayang, jadi adek tidak perlu minta maaf sama mas” Ucap Abizar, lagian istri nya sedang dalam masa nifas juga karena melahirkan buah hati mereka
Tapi Fifin memang agak merasa bersalah sih, karena biasanya saat Abi meminta atau bahkan hanya memberikan gestur kode saja ia sudah melayani duluan, sebagai istri yang baik tentu saja ia mau memenuhi kebutuhan biologis suami nya
“Yaudah, mas yang sabar ya? Hanya sebentar kok” Ucap Fifin
“Iya… tapi nanti ganti doble servis ya?” Goda Abi menaik turunkan alisnya
“Iya” Fifin meng iyakan saja walau agak malu, untuk sekarang mah yang penting suasana hati Abizar membaik
Abizar kemudian mengajak sang istri untuk berbaring di kasur mereka dengan Abbad yang pulas di tengah tengah, Abi ingin membicarakan hal yang terjadi di pengadilan tadi
“Tadi banyak sekali kejadian sayang, dari pihak Nisa itu terus menyangkal kesalahan nya, orang tua Nisa yang sampai sujud sujud sama mas” Ucap Abizar menghela nafas
“Astaghfirullah… masa sampai segitunya mas?” Tanya Fifin tidak menyangka saja
“Iya, karena ibu nya menangis meraung raung. jadi ruangan berisik dan persidangan ditunda sampai waktu nya sidang kedua di kabarkan nanti” Jawab Abizar
Fifin geleng geleng kepala, meskipun Nisa anak tunggal tapi sebagai orang tua harusnya tidak bersikap seperti itu, cukup didik dengan baik agar anak mau mengakui kesalahan beserta konsekuensi nya
“Sebenarnya ya mas… dari dalam hati, adek itu sudah hampir ikhlas dan memaafkan Nisa, beneran” Ucap Fifin karena walau bagaimana pun membenci secara berlebihan juga tidak baik dan tidak ada guna nya
“Lalu adek mau mencabut laporan nya?” Tanya Abi
“Mendengar cerita soal sikap orang tuanya ke mas itu membuat adek kasihan, tapi walau adek memaafkan namun jalur hukum harus di tempuh mas, mungkin selama ini ada orang tua yang melindungi nya, tapi kali ini? Adek ingin dia mendapatkan efek jera dengan harapan nanti dia bisa berubah jadi lebih baik lagi” Ucap Fifin
“Masya Allah…” Ucap Abizar yang kagum dengan pemikiran istri nya, apalagi bisa memaafkan orang yang menyakiti kehidupan mereka berdua
“Hehe… entah apapun yang orang bilang dan apapun kejadian nya, adek cuman ingin semua segera selesai dan kita bisa fokus merawat Abbad” Ucap Fifin tersenyum sambil memandang putra nya
“Iya sayang… berdo’a yang banyak ya? Supaya ini semua segera selesai, keluarga juga jadi damai selalu” Ucap Abizar sambil mencium kepala istri nya
“Semoga Allah selalu meluaskan hati kamu seperti samudra, hati yang pemaaf dan bersih” Batin Abizar.
\~
Nanti kalau ada waktu luang atau menganggur, ia ingin menyediakan kamar Abbad dengan tema laki laki dan minimalis modern tentu nya, cuman nanti saja lah kalau keadaan sudah stabil.
•
Q : author, ini kapan tamat?
A : Insya Allah saya akan segera memutuskan ending nya ya, biar cerita tidak terlalu panjang karena takut yang baca bosan.
__ADS_1