Perjalanan Cinta Abizar

Perjalanan Cinta Abizar
114. Maaf


__ADS_3

“Masya Allah… anak ku” Ucap Fifin terharu sekaligus bersyukur saat melihat bahwa alat alat yang menempel pada tubuh putra nya itu mulai dilepas


“Alhamdulillah ya Fin, semoga kamu juga cepat sembuh dan bisa bekerja lagi” Ucap dokter Wina karena ia juga rindu ingin memiliki asisten seperti Fifin lagi


Karena kondisi Fifin juga belum sembuh total, ia masih butuh kursi roda kalau mau kemana mana lantaran kaki nya yang masih patah, tadi waktu berangkat saja mereka membawa mbak Ila agar bisa menggendong Abbad nanti


“Aamiin.. aamiin” Ucap Abizar dan Fifin barengan


Sedangkan di ruang tunggu NICU, ada Lia yang baru saja selesai memeriksa bayi lain dan dia melihat ada mbak Ila yang sedang duduk disana, sudah jelas sih bahwa gadis itu menunggu gus Abi dan Fifin


“Assalamualaikum mbak” Sapa Lia dengan senyum nya, jujur setelah menikah ia belum memiliki kesempatan untuk bertemu mbak Ila, bukan karena apa apa melainkan hati nya agak gundah dan tidak enak


“Eh waalaikumsalam warahmatullah…” Jawab mbak Ila yang juga disertai senyum ramah nya


Dengan agak canggung, perlahan Lia duduk di samping mbak Ila walau tidak berani terlalu dekat, dan mbak Ila sendiri juga kaget saat Lia mendekati nya


“Em… gimana kabar nya mbak?” Tanya Lia memilih basa basi dulu sebentar


“Alhamdulillah, baik mbak baik” Jawab mbak Ila


“Ee… anu mbak, sebenarnya saya mau minta maaf sama mbak Ila” Ucap Lia mengutarakan niat nya


“Minta maaf karena apa ya mbak?” Tanya Ila


“Nggeh saya minta maaf karena membuat mbak Lia patah hati, kecewa dan saya juga yakin kalau saat itu menjadi posisi mbak Ila pasti rasanya sangat sakit” Ucap Lia mengingat saat mbak Ila hadir di pernikahan nya, dan kadang ia berpikir mungkin saat mas Wawan tahu lebih awal kalau mbak Ila mencintai nya pun pasti mas Wawan lebih memilih mbak Ila yang bisa dinilai sekufu


Ila tersenyum dan menggenggam tangan Lia “Itu hanya masa lalu mbak, saya yakin Allah lebih tau takdir mana yang terbaik untuk saya” Ucap nya


“Tapi mungkin kalau mas Wawan tahu kamu mencintai nya, dia akan memilih kamu di bandingkan saya” Ucap Lia jujur walau agak nyesek


Mbak Ila menggelengkan kepala “Sedalam apapun perasaan saya ke kas Wawan maka itu tidak berlaku jika mas Wawan memang sudah cocok dengan mbak Lia, sudah yakin bahwa mbak Lia adalah perempuan yang baik, Allah pun menakdirkan kalian berjodoh mbak” Ucap nya karena selama ini pun mas Wawan hanya menganggap nya teman saja, tidak lebih


Lia termenung, memang benar sih bahwa selama pernikahan pun ia bisa melihat kalau mas Wawan selalu melakukan yang terbaik untuk nya, selalu berusaha menjadi suami yang pengertian dan cinta pun tumbuh di antara mereka


“Mbak… jangan ragu sama mas Wawan karena dia sendiri juga tidak tahu kalau saya pernah menyukai nya, sekarang saya sudah ikhlas dan berdo’a supaya rumah tangga kalian sakinah mawaddah warohmah, damai dalam lindungan nya” Ucap Ila


Lia mengangguk angguk berkali kali, ia mengucap terimakasih yang amat amat banyak untuk mbak Ila karena sudah mengerti perasaan nya


“Mbak juga tidak perlu minta maaf, disini tidak ada yang salah, hanya perlu waktu saja untuk menerima semua takdir nya”


“Iya mbak, terimakasih banyak ya” Ucap Lia lagi

__ADS_1


“Ah saya lapar mbak, mau ke kantin sekalian bareng saya?” Ajak mbak Ila


“Boleh” Jawab Lia karena dia juga lapar, jam kerja sudah selesai tinggal nunggu mas Wawan menjemput nya, dan ia juga sedang menunggu Fifin sampai keluar dari NICU


Mereka berdua terlihat akrab sudah seperti teman saja, walaupun dari kemarin kemarin tidak pernah berbincang sama sekali


“Mbak tim bubur di aduk?” Tanya Ila


“Iya dong, lebih tercampur rasanya” Jawab Lia sedangkan mbak Ila bergidik geli karena ia tidak suka melihat bubur ayam yang campur aduk


“Di pondok sudah berapa lama mbak?” Tanya Lia


“Emm… sekitar sepuluh tahun”


Lia tercengang, berarti mbak Ila ini memang abdi ndalem yang setia dan mondok ketika ia remaja sampai sekarang


“Tidak ada keinginan mau pulang gitu?” Tanya Lia


“Enggak sih mbak, soalnya abah sama umi baik sekali sama saya dan yang lainnya juga, orang tua juga mengizinkan kalau memang saya betah dan mau membantu umi” Jawab mbak Ila


“Hebat ya mbak Ila ini Masya Allah…sudah cantik, pandai, suara juga merdu, beruntung nanti suami yang di takdirkan mendapatkan mbak Ila” Ucap Lia


“Mbak Lia sendiri juga banyak kelebihan nya” Ucap Ila tersenyum, Lia ini berhati baik dan berarti mas Wawan memang mendapatkan istri yang tepat


“Assalamualaikum” Ucap mas Wawan yang tiba tiba muncul dan menyentuh bahu istri nya


“Allahu akbar… ngagetin aja” Ucap Lia memegang dada nya sendiri saking terkejut nya


Mas Wawan hanya tersenyum, ia memeluk Lia dari belakang dan mengecup ubun ubun yang tertutup hijab itu sebentar


“Mas kok tahu Lia disini?” Tanya Lia


“Ya biasanya kamu lapar kan? Makanya mas kesini” Jawab mas Wawan sambil duduk di sebelah istri nya, dan ia baru menyadari kalau di depannya ini ada mbak Ila


“Wah… apa kabar Il?” Tanya mas Wawan pada rekan pengurus pondok itu


“Alhamdulillah… baik baik” Jawab Ila tanpa rasa kecewa lagi seperti kemarin, walau ia agak kaget dengan kelakuan Wawan tadi namun disisi lain ia juga bahagia, sepertinya rumah tangga ini baik baik saja


“Kesini sama abah atau umi?” Tanya Wawan


“Sama gus Abi dan ning Fifin, katanya mau menjemput gus Abbad pulang” Jawab Ila

__ADS_1


“Alhamdulillah… benar itu?” Tanya mas Wawan pada istri nya dan seketika pasangan suami istri itu saling menatap sekarang


“Eh iya mas, alhamdulillah… kondisi nya sudah stabil dan bisa dibawa pulang” Jawab Lia agak salting karena mereka belum lama menikah, jadi hanya sekedar saling menatap mata saja sudah membuatnya jedag jedug


“Alhamdulillah….” Ucap mas Wawan bersyukur sekaligus lega, tapi ia juga sengaja sambil menatap dan menaik turunkan alisnya untuk menggoda sang istri


Lia yang terus terus an salting itu mencubit lengan suami nya agar menghentikan sesi tatap menatap ini, bukan apa apa tapi ia malu dan tidak enak karena ada mbak Ila di depan nya


Mas Wawan hanya tersenyum lalu mereka bertiga lanjut mengobrol dengan mbak Ila yang sudah merelakan semua perasaan masa lalu nya


\~Melupakan mas lalu memang sulit apalagi tidak pernah ada hubungan di antara kita, namun aku percaya bahwa tuhan selalu memberikan jalan dan takdir yang terbaik, sehingga kita terpisah karena takdir bersama pasangan masing masing itu lebih baik daripada aku memaksakan untuk bersatu, karena memaksa yang bukan jalur nya itu ibarat mencampur air dengan minyak, semua akan sia sia dan tidak ada hasil nya


“Mbak” Panggil Abizar


Ketiga orang itu menoleh dan bisa melihat Abizar yang mendorong kursi roda Fifin, sedangkan Fifin duduk sambil menggendong putra nya


“Dalem gus”


“Alhamdulillah Masya Allah… akhirnya sudah bisa dibawa pulang ya gus” Ucap mas Wawan


“Iya mas, alhamdulillah….”


Lia juga mendekati sahabat nya dan mengucapkan selamat karena baby Abbad sudah bisa dibawa pulang, ia berdo’a agar ibu dan bayi mungil ini selalu dalam keadaan sehat


“Aamiin…”


“Ke rumah dong Li, temenin aku” Ucap Fifin karena nanti saat di rumah pasti anak nya menjadi rebutan para kakek nenek dan dia yang bingung mau memegang apa


“Baru pulang kerja bro, aku ikut apa yang dibilang mas Wawan aja” Jawab Lia


“Tidak apa apa ayo ke pondok dulu, mas tadi sudah bawakan baju ganti, dan kebetulan ini sudah sore kan? Mas sebentar lagi juga harus mengajar” Ucap Wawan karena meski sudah menikah pun ia tetap mengajar di pondok pesantren milik abah


“Ohhh… ya sudah ayo” Ajak Lia karena ia sendiri juga senang kok saat menemani suami nya di pondok


Mbak Ila tersenyum melihat kedamaian ini, tapi kadang dia iri… kapan ia bisa menikah dan menemukan laki laki yang baik? Entahlah… hanya Allah yang tahu


“Kulo mawon ning” Ucap mbak Ila membawakan tas berisi perlengkapan baby Abbad ( saga saja ning )


Jadi Abizar mendorong kursi roda istri nya, mas Wawan yang menggandeng lengan Lia sambil berjalan dempet sempet an, sedangkan di belakang mereka ada jomblo fi sabilillah yang berjalan sendirian sambil menenteng tas tadi


“Ya Allah… semoga nanti aku di takdirkan memiliki pasangan yang baik” Batin nya walau agak mengiri saat melihat betapa bucin nya gus Abi pada sang istri, begitu juga mas Wawan dengan istri nya

__ADS_1


Sebelum sampai ke rumah, Abi juga mampir ke toko sebentar untuk membeli perlengkapan baby Abbad yang belum sempat mereka beli karena panik yang melanda waktu itu, Fifin sendiri juga tidak kaget saat mereka menghabiskan lumayan banyak uang hanya untuk perlengkapan bayi saja, ia sudah terbiasa dengan harga harga kebutuhan bayi sejak masih kuliah dulu.



__ADS_2