Perjalanan Cinta Abizar

Perjalanan Cinta Abizar
30. Momongan


__ADS_3

Bohong jika Silvi sudah sangat bahagia, memang kebahagiaan yang dia rasakan selama ini sudah membuatnya bersyukur, tapi tetap saja.. bahagia tanpa kedua orang tua itu kadang terasa hampa


Fifin melihat bahwa Silvi masih setia mengusap lembut kedua nisan itu dengan air mata yang mengalir, Silvi benar benar teringat soal kedua orang tuanya yang meninggal bersama


"Sini" Ucap Fifin sambil merentangkan tangan dan membawa tubuh Silvi ke dalam pelukan nya, disitu tangis Silvi justru semakin pecah


"Bohong kalau Silvi tidak kangen sama orang tua Silvi ning, sebaik apapun hidup Silvi... Silvi tetap merindukan mereka, ah..."  Ucap Silvi yang terisak di dada Fifin


"Iya, saya tau kok... kamu hebat karena sudah melangkah sejauh ini, kamu kuat dan insya Allah orang tua Silvi sudah bahagia di surga sana" Ucap Fifin yang mengelus punggung Silvi sambil tersenyum walau air matanya juga ikut menetes, dia saja belum tentu bisa sekuat Silvi


Umi ikut mendekat dan mengelus kepala Silvi, ia berharap bahwa keponakan nya tersebut bisa berbahagia dan menggapai sesuatu yang di inginkan


"Rezeki, jodoh dan maut sudah menjadi ketetapan Allah Silvi.. saya harap kamu bisa tabah dan terus mendo'akan mereka" Ucap Abi, sebenarnya dia juga sedih, tapi ia bisa menutupi hal itu dengan baik


Silvi mengangguk dengan tangis yang mulai mereda, beberapa menit kemudian mereka meninggalkan tempat pemakaman itu dengan Silvi yang mencium nisan kedua orang tuanya


"Silvi pamit ya pak.. buk, Insya Allah bakal sering sering kesini" Ucap Silvi tersenyum lalu bergegas masuk ke mobil Abizar


Mereka berempat kemudian mengajak Silvi jalan jalan, termasuk Abizar juga membelikan apa saja yang Silvi mau dengan syarat bahwa barang itu memang benar benar di butuhkan


"Terimakasih ya gus, maaf ngerepotin" Ucap Silvi yang memegang kotak besar berisi macbook terbaru, karena laptop nya yang lama sudah eror dan Abizar mengganti nya dengan yang baru


"Sama sama, tidak merepotkan.. tolong laptop kamu yang lama kasih ke mas Wawan, biar di bawa ke tukang servis" Ucap Abi yang sedang fokus menyetir


"Kenapa dibawa ke tukang servis gus? Kan sudah tidak dipakai?" Tanya Silvi bingung


"Siapa tau masih bisa di benerin Silvi, kalau bisa nanti di kasih ke yang membutuhkan saja" Jawab Abi


"Oh..njih gus" Ucap Silvi mengangguk


Sedangkan Fifin hanya tersenyum melihat interaksi kedua sepupu itu, dan satu hal lagi yang ia tahu.. bahwa Abizar atau suami nya itu tidak suka membuang sesuatu selagi masih bisa diperbaiki dan memberikan nya pada orang lain


"Fifin nanti pulang jam berapa nak?" Tanya umi


"Kalau shift malam begini Fifin pulang jam dua malam umi" Karena jam kerjanya adalah 8 jam, jika shift malam berarti dari jam 6 sore sampai jam 2 malam


"Ha.... tidak capek ning?" Tanya Silvi kaget karena tadi pagi saja Fifin baru pulang dari luar kota


"Em.. jujur pekerjaan apapun juga pasti capek Silvi, tapi Insya Allah bisa karena ini yang saya cita citakan dari dulu" Jawab Fifin


"Masya Allah" Ucap Silvi kagum karena Fifin yang benar benar profesional soal pekerjaan, apalagi menyangkut nyawa para ibu yang berusaha melahirkan anak mereka

__ADS_1


"Kamu bagaimana Abi? Bisa kan bangun jam dua buat jemput istri kamu?" Tanya umi memastikan


"Insya Allah bisa kok umi" Ucap Abi walau hatinya ragu karena kebiasaan bangun jam 3 dan nanti harus bangun untuk menjemput istri nya


"Kalau tidak bisa juga tidak apa apa kok umi, nanti Fifin bisa pesan taksi online" Ucap Fifin yang tidak mau membebani suami nya


"Enggak enggak, aku pasti jemput kok... kamu jangan kemana mana ya, bahaya malam malam pulang sendiri" Ucap Abi


Fifin menaikkan alis nya, tumben? Padahal sebelum menikah juga Fifin sudah biasa pulang jam 2 malam dan menyetir sendiri pula


"Yaudah, iya" Ucap Fifin yang mengiyakan saja


Tak lama kemudian mereka sampai di rumah sakit tempat Fifin bekerja


"FIfin pamit dulu umi" Ucap Silvi mencium tangan umi lalu berganti dengan suaminya


"Aku pamit ya mas, assalamualaikum" Ucap Fifin yang mencium punggung tangan sang suam, ia dengan style yang sama yaitu baju atasan seragam dan rok bawah dengan dalaman celana langsung turun dari mobil, tapi... Abizar segera mencegah tangan itu


"Kenapa? Ada yang ketinggalan?" Tanya Fifin bingung


"Aku belum mengecup dahi kamu" Jawab Abi yang langsung to the point, berbeda dengan Fifin yang malu nya bukan main karena ada Silvi dan umi yang senyum senyum sendiri sekarang


"Kenapa harus malu?" Tanya Abi makin menggoda istri nya


"Yaudah kalau malu biar umi sama Silvi yang tutup mata" Ucap umi yang menyenggol Silvi dan mereka berdua kompak menutup mata dengan kedua tangan masing masing


"Tuh gak ada yang liat kok" Ucap Abi yang langsung mendekatkan kepala sang istri sampai ke bibir nya, ia kecup permukaan halus itu dengan sangat lembut


"Kamu mah..." Ucap Fifin yang kesal namun juga tersenyum, ternyata benar bahwa Abi berniat mencintai nya dengan menciptakan beberapa hal romantis seperti ini


Abi menyudahi kecupan dahi itu "Cooming soon ya" Ucap nya sambil menyentuh perlahan dagu sang istri, bahkan jari nya saja belum berani menyentuh bibir itu


Fifin tidak menjawab karena malu, jantung nya juga semakin berdegup kencang ketika Abizar terus terusan memandang nya


"Sudah belum?" Tanya umi yang langsung membuyarkan tatapan pasutri baru itu


"Sudah kok umi" Jawab Abi


"Fifin kerja dulu ya, assalamualaikum" Ucap Fifin yang sudah kepalang malu dan memilih langsung keluar dari mobil daripada terus terusan berada di suasana itu


"Waalaikumsalam..." Jawab ketiga orang tersebut

__ADS_1


Dalam perjalanan pulang, Abi mengingat ingat soal dia harus memasang alarm agar bisa bangun jam 2 pagi


Sedangkan di pikiran Silvi, gadis itu sedang terdiam.. ia heran kenapa ning Fifin masih bekerja? Sedangkan Abizar saja sudah sangat mapan untuk menghidupi nya beserta calon anak anak mereka nanti


"Umi, maaf.. kenapa ning Fifin tidak berhenti bekerja setelah menikah ya umi?" Tanya Silvi yang penasaran


"Silvi... itu sudah cita cita nak Fifin, dia sudah bersusah payah kuliah sampai ada di titik ini, apa mungkin dia harus berhenti bekerja dan melupakan semua perjuangan nya hanya karena sudah menikah? Tidak kan?" Ucap umi


"Iya Silvi, saya tidak pernah melarang istri saya untuk bekerja asal dia tidak melupakan tanggung jawab nya, profesi nya juga penting untuk semua wanita kan? Kalau kebanyakan bidan berhenti bekerja karena sudah menikah, nanti siapa yang mau menolong ibu ibu hamil?" Ucap Abi yang ikut menjawab, ia juga paham soal profesi Fifin karena tidak semua orang mampu untuk periksa ke dokter kandungan


"Oh... njih gus, Silvi paham" Berarti berita soal ibu ibu karir yang menelantarkan keluarga nya itu juga tidak semua orang, tergantung kepribadian masing masing


Beberapa menit, mereka kembali ke rumah alias pondok pesantren darussalam setelah anak anak selesai jamaah sholat maghrib, mereka tadi sudah sholat di musholla yang ada di jalan


"Umi, Silvi sedang menanti teman baru" Ucap Silvi saat mereka berdiri di ruang carpot setelah memarkirkan mobil


"Teman baru? Memang ada teman Silvi yang mau mondok disini?" Tanya umi


"Bukan teman itu yang Silvi maksud umi, tapi Silvi siap mengajak bermain putra atau putri nya gus Abi sama ning Fifin nanti" Jawab Silvi yang benar benar antusias dan menunggu kabar baik itu


Abi yang sedang minum air dari botol itu seketika muncrat kemana mana, bisa bisanya Silvi menanti anak yang dibuat saja belum pernah


"Kalau itu sih... umi tidak ikut ikut ya Silvi, terserah Abi dan nak Fifin aja, tapi alhamdulillah kalau akan ada kabar baik soal itu" Ucap umi yang jawaban nya kelihatan mendukung


"Wah.. aamiin, semoga saja ya umi" Ucap Silvi dengan mata berbinar, ia akan berdo'a nanti agar gus Abi dang ning Fifin segera diberi keturunan


"Kamu bisa main sama putri nya kak Aina dulu kalau sudah lahir nanti" Sahut Abi yang kemudian lansgung melangkahkan kaki nya masuk ke dalam rumah, aih... ia benar benar malu dan kaget to the bone ketika Silvi dan umi berharap bahwa ia dan Fifin akan segera memiliki momongan


"Ya Allah" Ucap Abi mengelus dada nya sambil geleng geleng kepala, jujur untuk sekarang ia lebih memikirkan perasaan sang istri daripada memikirkan soal momongan


"Kenapa Abi?"


"Allahu akbar ya Allah" Ucap Abi yang spontan kaget ketika abah tiba tiba muncul dengan suara nya itu


"Kamu kenapa sih? Segitu kaget nya liat abah?" Tanya abah Anwar heran dengan putra nya


"Tidak ada apa apa bah, Abi permisi ke kamar dulu ya bah.. mau ganti baju trus ngajar anak anak" Ucap Abi yang memilih langsung permisi daripada abah mengucap hal yang sama sepeti umi barusan


Brak!


Abi menutup pintu dengan sedikit keras lalu bersandar di balik pintu tersebut, ia bisa merasakan bahwa jantung nya seakan mau lompat ketika mendengar harapan umi dan Silvi padanya

__ADS_1


__ADS_2