
Saat Fifin bangun, ia tentu saja bengong dengan pandangan mata yang kosong, tapi setelah itu dia langsung memeluk Abizar yang setia menemani nya
“Alhamdulillah…” Ucap Abi bersyukur saat istrinya sudah sadar kembali
“Mas… adek minta maaf” Ucap Fifin sambil menangis karena ia tidak bisa mengontrol emosi saat bertemu Nisa tadi, ibu mana yang tidak marah? Saat mengetahui bahwa anak nya meninggal bukan karena kecelakaan semata tapi juga keterlibatan seseorang
“Tidak apa apa, mas mengerti” Ucap Abizar tahu kalau emosi istrinya membuncak
Fifin masih memeluk suaminya dengan sangat erat, ia masih takut dengan kejadian kecelakaan kemarin dan takut kehilangan lagi
“Sudah ya? Mas tahu adek pasti emosi, tapi istighfar sayang” Ucap Abi berkali kali memgucakan hal tersebut pada istrinya
“Adek tidak terima dengan apa yang dia perbuat” Ucap Fifin
“Tapi adek yakin dia mengikuti mobil adek saat kejadian itu?” Tanya Abi
Fifin mengangguk “Iya, adek yakin”
“Ya sudah… habis ini mas bicarakan dulu sama yang lain” Ucap Abizar karena pengurus dan para keluarga sedang membicarakan rekaman di ruang tunggu keluarga pasien
“Adek tahu kalau ini semua bagian dari takdir, tapi adek tetap akan mencari keadilan untuk anak aku.. keselamatan ku, dan keselamatan Silvi” Ucap Fifin
“Iya sayang… mas paham dan mas setuju, semoga bisa selesai secepat mungkin” Ucap Abizar
Ia mengelus sebentar kepala Fifin, mengecup dahi itu lalu pamit sebentar untuk ikut merundingkan kasus ini dengan keluarga nya
“Buk… anak aku buk, dia dibunuh” Ucap Fifin kembali menangis saat bu Risma masuk ke kamar dan memeluknya
“Yang tabah nak… semuanya pasti mendukung kamu dan membawa kasus ini ke pengadilan, Fifin harus kuat ya?” Ucap bu Risma tersenyum lirih sambil mengelus elus punggung Fifin sampai anaknya itu tenang
Fifin mengangguk berkali kali, ia harus kuat dan bisa sembuh, dia mau mencari keadilan untuk putra nya dan ia akan berusaha untuk memberi pelajaran pada pelaku kejahatan, kalau disuruh ikhlas sih memang tidak mudah… mungkin bisa ikhlas, tapi bukan berarti bisa bebas dari hukuman
Sedangkan diluar kamar alias ruang tunggu, ada keluarga yang berkumpul dan membahas soal kecelakaan ini
“Benar mas kalau dari area pondok memang sudah ada mobil yang mengikuti?” Tanya Abizar
“Njih, ketingale saking cctv memang ngonten gus” ( Iya, kelihatan nya dari cctv memang begitu gus ) Jawab mas Eko menunduk, masalahnya dia siang itu sedang buang hajat sebentar jadi tidak bisa melihat pos depan seperti biasanya
Dan Fifin keluar pun saat siang hari, dimana semua santri sedang sekolah dan pengurus yang memiliki jadwal mata kuliah juga pasti sedang di kampus, mbak mbak pengurus yang tidak sibuk pun masih membantu bulek masak masak di dapur untuk acara 7 bulanan Fifin, jadi posisi pondok memang nampak sepi
“Sudah cek cctv di gerbang putri mas?” Tanya Abizar karena gerbang putri berhadapan dengan jalan raya, saat Fifin mau ke rumah sakit pun pasti akan melewati gerbang belakang
__ADS_1
“Dereng gus” ( belum gus ) Jawab mas Eko karena ia tidak kepikiran, yang menyuruh cek cctv saja gus Fahri
“Coba telfon pengurus siapapun mas, buat ngecek cctv pondok putri” Ucap Abizar
“Njih gus” Jawab Eko patuh dan ia menelfon mas Abdul saja selaku abdi ndalem yang sudah tahu kunci pemeriksaan cctv
“Lalu tadi bagaimana di kantor polisi nak?“ Tanya abah pada mas Wawan
“Sampun nyerahaken bukti cctv abah, cuman untuk dashboard mboten saget ditingali amergi polisi langsung yang nge cek” Jawab mas Eko ( sudah di serahkan bukti cctv nya abah, cuman untuk rekaman dashboard tidak bisa dilihat karena polisi sendiri yang mau memeriksanya )
“Tapi tidak rusak kan?” Tanya Abi karena mobil bagian depan lebih tepatnya bagian pengemudi itu ringsek parah
“Tidak rusak Abi.. cuman memang baru di tunjukkan rekaman dashboard waktu persidangan nanti” Jawab Fahri
Mereka tidak bisa langsung menuduh Nisa tanpa bukti, maka dari itu Abi membutuhkan semua rekaman cctv di area pondok dan juga kamera belakang mobil, sudah pasti ada bukti disitu
“Ya Allah….” Ucap Abi lirih sambil memijat dahi nya, ia merasa banyak sekali kejutan akhir akhir ini yang membuatnya pusing dan lelah
“Sabar ya Abi… Insya Allah malam ini atau besok sudah pasti wanita itu dapat panggilan ke kantor polisi” Ucap Fahri
“Iya mas” Jawab Abi mengangguk sambil terduduk lesu, umi Rida yang melihat juga kasihan dan mengelus elus pundak Abizar sebagai penyalur rasa semangat nya
“Sudah di tahan karena langsung di kerumuni warga waktu kecelakaan itu, cuman yang jelas dia juga orang suruhan dek” Jawab Fahri
“Ya Allah… kasihan Abi sama Fifin” Ucap Aina yang prihatin dengan situasi sekarang, baru kali ini ia melihat tampang Abi yang kelihatan pusing dan lelah sekali
Fahri juga mengerti perasaan istri nya, ia merangkul Aina ke dalam dekapan nyaman itu dan berusaha meyakinkan kalau badai ini cepat atau lambat pasti bisa mereka lalui
Disini hanya pak Yahya yang terdiam dan tidak mengucapkan sepatah kata pun, ia bingung, apa kesalahan yang sudah putri nya perbuat? Sampai ada orang yang ia sendiri tidak kenal dan dengan tega menyakiti putri sekaligus cucu nya
“Maaf nak Abi… disini bapak sangat bingung, memangnya Nisa itu siapa? Dan kenapa dia berani menyakiti putri bapak nak?” Tanya pak Yahya dengan mata yang sudah berkaca kaca, kenapa putri nya bisa memiliki cobaan seperti ini
Abi disini langsung bingung dan kaget dengan pertanyaan ayah mertuanya, saat menengok pada anggota keluarga nya yang lain pun juga bingung harus menjawab apa
Abizar jsangat takut, ia takut kalau menjawab jujur nanti pak Yanya akan sangat marah atau bahkan menjauhkan ia dari sang istri, ia juga takut apabila nanti pak Yahya kecewa berat dengan nya
Tok tok tok!
“Permisi” Saat semua sedang bingung dengan pertanyaan pak Yahya, tiba tiba saja ada perawat yang masuk dengan membawa alat pumping dan sebagainya
“Saya mau membimbing program asi dulu, nanti biar asi nya bisa diberikan pada anak bapak dan ibu” Ucap perawat itu dengan sopan
__ADS_1
“Oh iya… silahkan” Ucap Aina mempersilahkan perawat itu masuk
“Pak… Abi minta maaf sekali, nanti akan Abi jelaskan ya pak” Ucap Abi berkata demikian sebelum ia ikut masuk ke dalam untuk menemani Fifin, karena katanya ibu yang menyusui tidak boleh merasa stres ataupun tertekan karena itu bisa mempengaruhi hasil asi
“Bagaimanapun kondisinya, aku harus jujur sama bapak” Batin Abizar yang mana memang lebih bauk jujur walau nanti ada kemarahan yang timbul dari seorang ayah
Saat proses pumping asi, Fifin masih nampak sembab dengan mata yang tanpa pandangan, dan tentu saja asi yang keluar tidak bisa maksimal jika kondisi mental ibu sedang terguncang
Disaat situasi seperti ini, Abi mulai berusaha untuk menghibur dan mengalihkan perhatian Fifin secara perlahan, dengan membahas masa masa yang menyenangkan, masa yang lucu, apalagi saat mereka berdua masih malu malu dulu karena perjodohan
Dan… alhasil asi yang dihasilkan pun bisa maksimal karena Fifin yang mulai ceria dan tertawa karena hiburan dari suami nya
“Ih… Iya adek masih ingat tau, mas itu suka banget peluk peluk adek pas adek tidur” Ucap Fifin
“Ya mas gengsi lah dek, takut adek gak suka balik sama mas” Ucap Abi terkekeh
“Suka lah… mana bisa adek tidak suka sama suami sendiri kan?”
“Ya… iya sih, apalagi mas memang ganteng, wangi dan penyabar pula” Ucap Abizar sangat pede sekali ya gess
“Dih… tapi aneh nya mas suka jahilin adek” Ucap Fifin manyun
“Iya memang, tapi jahil nya spesial hanya untuk adek seorang”
“Alah… gimbal” Ucap Fifin
“Lohh serius, dan adek tahu tidak apa perbedaan adek sama negara?” Tanya Abi
“Apa memangnya?” Tanya Fifin
“Kalau negara ada di hati semua orang, kalau adek cuman ada di hati mas seorang” Jawab Abizar sambil membentuk sarangheo dengan jari nya
Fifin tertawa sejadi jadi nya “Kamu memang gak cocok mas buat nge gombal, beneran… hahahaha” Abi benar benar tidak cocok untuk bicara hal hal romantis, lebih cocok memegang mic dan memberikan tausiyah saja
Abi sendiri jadi ikut tertawa saat melihat istri nya tertawa, ia bersyukur Fifin masih bisa di ajak kompromi agar mood nya naik dan perawat tadi juga tersenyum sambil memberikan jempol nya
Karena dukungan dan support dari suami, Fifin bisa menghasilkan asi yang banyak dan menghilangkan sejenak rasa stress yang melanda dirinya, perawat juga mengapresiasi pasangan ini, Fifin beruntung mendapat suami yang baik sedangkan Abi juga beruntung karena mendapatkan istri seperti Fifin yang mudah di hibur
Saat selesai memompa Asi pun Abizar yang merapikan kembali kancing baju istrinya, ia sangat hati hati dengan sedemikian mungkin agar tidak menyenggol perut istrinya yang baru di operasi.
•
__ADS_1