Perjalanan Cinta Abizar

Perjalanan Cinta Abizar
112. Tidak pede


__ADS_3

Abizar pulang ke rumah bersama staf dan para dewan guru madrasah Aliyah yang memang ingin menjenguk istrinya


Alhamdulillah sekali mereka semua peduli dengan Fifin, begitu juga dengan Silvi yang ikut menjadi korban dalam kecelakaan ini


“Semoga cepat sembuh ya… sehat wal afiyat seperti biasanya, dan baby nya juga bisa segera pulang ke rumah” Ucap kepala sekolah madrasah yang mewakili saat itu


“Aamiin, inggih… maturnuwun sanget” Ucap Fifin tersenyum


Seless berbincang sebentar dan memberikan beberapa makanan sehat, para dewan guru tadi langsung pamit sebelum hari menjelang sore dan tidak enak saja kalau terlalu lama, nanti yang sakit malah tidak bisa istirahat


“Silvi sudah sholat?” Tanya Abizar


“Sampun gus, di bantu sama mbak Ila” Jawab Silvi mengangguk meski ia harus sholat sambil duduk untuk sementara


“Nanti kalau jadwal kontrol, biar saya yang antar” Ucap Abizar karena ia juga merasa bersalah dan merasa lalai dalam menjaga Silvi


“Njih gus” Jawab Silvi mengangguk lalu meminta tolong pada mbak Ila agar mendorong kursi roda nya dan mengantar sampai ke dalam kamar, selagi masih sakit maka kamar Silvi yang awalnya di area pondok putri kini dipindah dulu ke kamar rumah ndalem, semua itu untuk memudahkan dan demi kesembuhan Silvi juga, pun agar keluarga abah bisa lebih mudah dalam mengawasi


“Oh iya nak, namanya jadi siapa?” Tanya pak Yahya


Abizar tersenyum, mumpung seluruh keluarga juga memang sedang berkumpul, sekalian saja ia merundingkan soal nama putra nya


“Kulo pingin e awal memang Zayyan, cuman… nggih di gantos mawon pun” Ucap Abi yang tidak ingin mengingat kejadian buruk lagi


“Di ganti apa nak?” Tanya abah


“Muhammad Abbad Nailun Nabhan” Jawab Abizar


“Masya Allah… bagus itu” Ucap abah


“Tidak jadi tambahan al hafidz nya?” Tanya pak Yahya karena itu nama belakang menantu nya


“Mboten pak, kulo mboten semerap lare ini mangke bakat e ten nopo, kuatir nami al hafidz akan membebani mawon menawi mangke larene mikir di tuntut hafal al qur’an” Jawab Abizar ( tidak pak, saya tidak tahu anak ini bakat nya di bagian apa, khawatir nama al hafidz akan membebani, barangkali nanti anaknya jadi mikir kalau dia di tuntut harus hafal al qur’an )


“Ooh… iya bapak setuju kok, bakat anak beda beda jadi tidak bisa di paksakan” Ucap pak Yahya


“Inggih pak”


“Terus jadi siapa ini nak namanya?” Tahya umi Rida


Abizar melirik istrinya, dimana Fifin mengangguk sambil tersenyum, pertanda bahwa ia setuju dengan nama yang sudah di sebutkan tadi

__ADS_1


“Muhammad Abbad Nailun Nabhan, dalam artian, anak laki-laki yang rajin beribadah dan memperoleh kemuliaan” Jawab Abizar dengan senyum nya


“Masya Allah….”


Abizar juga berharap semoga dengan nama yang baik itu, putra nya nanti juga akan menjadi anak yang berbakti dan mendapat ridho dari Allah apapun jalan kehidupan nya nanti


“Oh iya mas, lalu bagaimana dengan kasus nya?” Tanya Fifin penasaran, sebagai seorang ibu ia juga mau agar pelaku segera mendapatkan hukuman


“Alhamdulillah nya lusa sudah pelaksanaan sidang di pengadilan, semua bukti juga sudah di tangan pengacara” Jawab Abizar yang membuat pak Yahya terheran heran saat mendengarnya


“Kok tumben cepat sekali?”


“Nggih pak, angsal bantuan saking bang Fahri” Jawab Abizar karena ia yakin bahwa Fahri mengeluarkan banyak uang agar kasus mereka cepat di tangani ( iya pak, dapat bantuan dari bang Fahri )


“Alhamdulillah… maturnuwun le… tapi sepurane nggeh nek ngerepoti” Ucap pak Yahya pada gus Fahri yang memang masih di sini sambil menemani istri nya ( terimakasih nak… tapi maaf ya jadi merepotkan kamu )


“Mboten kok pak, kulo malah seneng amergi saget mbantu kasus niki, kulo nggeh berharap supaya kasus e cepet rampung pak” Jawab Fahri dan ia ingin kondisi keluarga ini kembali adem ayem seperti semula ( tidak kok pak, saya malah senang karena bisa membantu kasus niki, saya juga berharap supaya kasus nya cepat selesai )


“Lalu besok siapa yang hadir ke pengadilan?” Tanya Aina karena ia tidak bisa, kenapa? Belakangan ini putri nya alias Salma itu rewel karena proses tumbuh gigi jadi sering menangis, sekarang saja ia bisa ikut mengobrol karena Salma sudah tidur


“Mas bisa hadir kok dek” Jawab Fahri


“Abi juga bisa mas, insya Allah akan ikut sidang nanti” Sahut Abizar


“Ya? Adek ikut ya?” Tanya Fifin


Abizar menggeleng keras “Katanya adek mau nurut kan sama mas? Adek dirunah dulu sampai kondisi nya makin membaik, jadi biar mas sama yang lain saja” Jawab nya, bukan apa apa… tapi ia takut Fifin malah pingsan atau syok saat di pengadilan nanti


“Selalu saja alasan itu yang mas gunakan” Ucap Fifin langsunh cemberut ketika tidak di izinkan ke pengadilan


“Fin… nanti disini saja ya sama ibuk? Biar bapak yang ikut nak” Ucap bu Risma pada putri nya


“Iya Fin… nanti abah juga pasti ikut kok, nak Fifin disini saja sama umi dan ibuk ya? Kita temani” Ucap umi Rida karena tidak baik juga kalau Fifin ijyt ke pengadilan


“Iya Fin, dirumah juga ada aku loh” Sahut Aina


Kalau sudah begini sih mau tidak mau Fifin harus menurut, ia akan tinggal di rumah dengan para perempuan sambil menunggu kabar atau keputusan dari persidangan


“Nah… itu baru istri mas” Ucap Abizar mengelus kepala istri nya yang tertutup hijab


“Berarti kalau adek nakal bukan istri mas gitu?” Tanya Fifin mulai sewot, padahal sedang nifas bukan sedang haid, tapi sewot nya sama aja kayak lagi pms

__ADS_1


“Ya tetap istri mas dong sayang…”


“Ciyeeee”


“Syut syut….” Goda para keluarga yang tersenyum geli sekaligus senang saat melihat pasangan ini


“Ah udahlah adek mau mandi ini, sudah hampir sore” Ucap Fifin saat melihat jam dinding


“Iya, ayo mas bantu”


Para keluarga juga langsung kembali ke kamar dan bersiap untuk mandi, karena sebentar lagi sudah masuk waktu sholat ashar, jadi mereka ingin beribadah dalam keadaan badan sudah bersih sekaligus wangi


“Mas hadap ke sana aja bentar” Ucap Fifin saat ia duduk di sofa dan hendak mengganti penutup jahitan caecar di perut nya


“Memang kenapa?” Tanya Abi bingung, ini istri sah nya jadi tidak masalah kan kalau dilihat?


“Ya tidak kenapa kenapa” Jawab Fifin sambil menunduk bahkan ia tidak membuka perban sama sekali kalau Abizar masih melihat nya


Oke, Abi paham sekarang kalau sang istri sedang malu atau tidak pede dengan kondisi tubuh nya sekarang


“Loh kok malah kesini?” Tanya Fifin ketika suaminya justru mendekat


Abizar menghela nafas, ia langsung mengangkat tubuh Fifin dengan sangat hati hati dan meletakkan nya dalam posisi telentang di kasur mereka


“Mas ambil air hangat dulu” Ucap Abizar yang tak lama kemudian ia membawa air hangat dari kamar mandi yang ia taruh di dalam bak, tak lupa juga handuk kecil yang akan digunakan


“Adek bisa sendiri” Ucap Fifin ingin mengambil handuk kecil itu tabi Abizar menjauhkan tangan nya


Perlahan, Abi menyingkap baju yang tertutup itu dan dengan perlahan juga ia mengusap permukaan kulit sang istri menggunakan air hangat tadi, tentu nya dengan sangat hati hati agar tidak terkena jahitan di perut istri nya


“Mas… biar adek sendiri, adek bisa” Ucap Fifin saat Abi membuka penutup jahitan itu dan mengganti nya dengan yang baru


“Kenapa sayang? Kamu tidak pede ya kalau jahitan caecar ini harus dilihat sama mas? Iya?” Tanya Abizar perlahan


Fifin mengangguk pelan, ia khawatir suami nya akan ilfeel atau bahkan jijik saat melihat jahitan itu, sekarang bentuk perut nya juga sudah tidak sesempurna awal, apalagi kalau jahitan itu akan membekas


“Mas tidak ilfeel ataupun jijik, justru melihat ini akan menambah rasa cinta mas ke kamu, karena kamu sudah mengorbankan badan kamu sendiri demi anak kita, mas juga minta maaf ya… membuat kamu dalam kondisi seperti ini” Ucap Abizar sambil tiba tiba menangis saat melihat kondisi tubuh istri nya


Fifin menggeleng, semua ini sudah takdir yang harus ia jalani, tidak ada yang bisa di salahkan atau perlu di sesali, soal caecar juga ia rela melakukan asal anak nya bisa selamat


“Adek juga tidak mempermasalahkan bekas luka ini, tidak menyalahkan mas, adek hanya minta supaya mas setia menemani adek” Ucap Fifin

__ADS_1


Abizar mengangguk angguk, ia mencium seluruh wajah istri nya lalu melanjutkan membersihkan tubuh Fifin dengan air hangat agar debu atau kotoran bisa terangkat dan tidak lengket badan nya sehingga bisa nyaman saat ibadah dan beristirahat.



__ADS_2