
“Tapi mas” Ucap Fifin tertunda lantaran ia masih memikirkan ulang sebelum mengungkapkan nya
“Tapi kenapa sayang?” Jawab Abi saat ia duduk di ranjang sambil mengeringkan rambut dengan handuk dan memangku laptop nya
“Anu, apa kang Wawan sedang mencintai orang lain? Atau ada kisah cinta lah intinya” Tanya Fifin
Abi mengerutkan alis “Kenapa kok adek nanya begitu?” Tanya suami nya balik, karena dulu sudah di jelaskan kalau mas Wawan tidak sedang mencintai atau menyukai siapapun
“Ya kalau ada dan sudah serius sama Lia ya lebih baik di selesaikan dulu masa lalu nya, supaya tidak seperti adek kemarin” Jawab Fifin agak menyindir perkara pelakor yang menyerang rumah tangga nya kemarin
Abi menghela nafas “Yaudah… iya, nanti mas tanyakan dengan serius ke mas Wawan” Ucap nya meski agak ngilu saat mendengar sindiran istri nya
“Tapi kemana ya masa lalu mas sekarang? Tumben” Ucap Fifin karena sudah satu bulan wanita itu tidak mengganggu nya lagi
“Mas tidak tahu” Jawab Abi mengedikkan bahu nya
“Masa tidak tahu?” Tanya Fifin lagi, hanya memastikan saja kalau suami nya sudah tidak berkomunikasi lagi dengan wanita sundal itu
Abi langsung menatap istri nya dengan intens, menepikan laptop dan menarik lengan wanita itu hingga Fifin tiduran di atas nya
“Apa sih?” Ucap Fifin yang kaget saja
“Mas beneran tidak suka kalau kamu bawa bawa dia lagi sayang, beneran… selagi dia tidak mengganggu kita dan mas juga tidak berkomunikasi lagi berarti tidak masalah kan?” Ucap Abi
Fifin mengangguk, memang benar… Tapi wanita itu bisa saja kembali sewaktu waktu dan mengganggu mereka lagi
“Insya Allah mas bisa setia, adek jangan khawatir” Cup! Ucap Abi lalu mencium dalam dalam kening istri nya, entah kenapa semakin bertambah nya waktu maka semakin sensitif juga istri nya
Fifin mengangguk tapi juga manyun sebagai jawaban nya, beneran deh… dia itu masih kesal tp the bone sama Nisa
“Kenapa? Minta di kiss?” Tanya Abi kala melihat bibir yang lancip itu
“Ih… enggak, adek nanti mandi lagi” Jawab Fifin menggelengkan kepala lalu bangun dari posisi tiduran nya
“Mau kemana?” Tanya Abi
“Cari mangga muda” Jawab Fifin
“Buat apa?” Tanya Abi karena mangga muda itu sangat masam dan susah dinikmati
“Ya di makan mas, kalau istri muda itu baru dinikahin” Jawab Fifin
“Astaghfirullah, emang mau punya adik madu? Haha” Tanya Abizar sambil tertawa
__ADS_1
“Naudzubillah… ogah” Jawab Fifin amit amit dengan mengelus elus dada nya
“Mau cari mangga dimana sayang?” Tanya Abizar
“Di halaman depan kan ada, adek minta tolong sama kang kang aja” Jawab Fifin karena suami nya sedang sibuk, ia lantas langsung keluar dari kamar menuju ke bawah karena sudah tidak sabar untuk makan mangga masam
\~
Saat sampai di halaman pondok, masih sepi… anak anak semuanya masih sekolah, hanya ada beberapa pengurus saja yang sepertinya sedang memiliki waktu luang
“Kang” Panggil Fifin
“Njih ning” Ucap mas Abdul yang menyahuti saat ia sedang mengobrol dengan pengurus lain, lalu dengan segera menghampiri Fifin
“Saya boleh minta tolong?” Tanya Fifin
“Minta tolong pripun Njih ning?” Tanya mas Abdul dengan pandangan yang terus menerus ke bawah karena bagi nya, jabatan atau kehormatan Fifin itu penting disini
“Panjat pohon ini buat ambilkan mangga muda, bisa? Saya bisa sebenarnya manjat sendiri, tapi tidak mungkin kan?” Ucap Fifin, ya masa dia istri gus pakai gamis cantik cantik terus manjat pohon?😭apa kata orang nanti
Glek! “Inysa Allah saget ning” Jawab mas Abdul ( saget \= bisa ) walau ia sebenarnya tidak jago juga manjat pohon
“Oke” Ucap Fifin menganggukkan kepala dan agak menjauh dari pohon ketika mas Abdul ingin memanjat
Beberapa detik kemudian muncul lah abah dan mas Wawan yang baru selesai mengobrol berdua di ndalem “Lagi ngapain mas?” Tanya abah
Mas Abdul yang manjat nya sudah sampai setengah pohon itu langsung menoleh dan mengangguk sopan “Niki bah, mundut mangga muda” ( mundut \= ngambil )
Namun ketika netra nya menatap ke bawah, tiba tiba kaki nya serasa bergetar dan bruk!!! Baru sampai setengah pohon pun akhirnya mas Abdul jatuh juga
“Innalillahi….”
Fifin melihatnya pun kaget, perasaan pohon mangga ini tidak terlalu tinggi tapi mas Abdul sudah jatuh duluan? Sedangkan para pengurus putra yang lain juga dengan segera menghampiri mas Abdul
“Aduh… pinggang ku encok” Ucap mas Abdul agak meringis
“Kang, tidak apa apa? Ada yang sakit?” Tanya Fifin kala melihat mas Abdul yang dibantu berdiri oleh pengurus lain nya
“Mboten kok ning, cuman suka encok saja pinggang nya” Jawab mas Abdul sedangkan pengurus yang lain tertawa mendengar nya
Akhirnya mereka pun menjelaskan bahwa mas Abdul ini paling tidak bisa menatap dataran tinggi, jangankan dataran, antara pohon dan tanah saja ia langsung merasa gemetaran
“Ohh… gitu, maaf ya kang” Ucap Fifin karena ia tidak tahu dan main minta tolong saja pada mas Abdul
__ADS_1
“Njih ning, tidak apa apa kok”
Mas Wawan masih menahan tawa kala melihat betapa lucu nya Abdul saat jatuh, sedangkan abah juga menghampiri dan menggelengkan kepala di saat anak anak mereka masih bisa bercanda seperti ini
“Fifin mau apa nak? Mangga nya masih terlalu muda kan”? Tanya abah ketika mendongak dan melihat banyak mangga yang belum matang
“Njih bah, memang Fifin mau mengambil mangga muda karena membayangkan rasanya yang masam masam segar” Jawab Fifin
“Ohh.. iya, kalau gitu mas Wawan saja yang manjat” Ucap abah
“Njih bah siap” Jawab mas Wawan langsung siaga dan memasang posisi hendak memanjat pohon mangga itu
Tapi…
“Biar saya aja mas!” Tiba tiba ada suara bariton Abizar yang menghentikan mas Wawan dan langsung mendekati pohon itu
“Loh, tadi katanya masih kerja?” Tanya Fifin heran
“Njih gus, kalau sibuk juga tidak apa apa biar saya yang manjat” Ucap mas Wawan
Abizar menoleh menatap istri nya “Apa sih yang tidak mas kasih untuk adek?” Ucap nya dengan senyum yang terus tercipta
Fifin seketika salting to the bone, terlihat sekali bahwa ia menahan senyum dengan pipi yang memerah. “Udah sana katanya mau manjat” Ucap Fifin lantaran Abi malah menatap nya terus menerus
Mas Wawan langsung menepi dan memberi jalan pada Abi agar bisa memanjat pohon itu
“Awas sarung nya nanti sobek” Ucap Fifin
“Aman kok sayang” Jawab Abi mulai memanjat pohon mangga itu
Sedangkan di sisi lain umi merasa rumah ndalem sepi, karena para pengurus tadi sudah selesai menata souvenir sedangkan putra putri dan suami nya entah kemana, tapi… ketika beberapa kali mendengar suara gedebuk! Umi lantas keluar dari pintu samping menuju halaman pondok
“Ya Allah, masih muda nak… untuk apa?” Tanya umi agak bingung melihat putra nya yang menmanjat pohon hanya untuk mengambil beberapa mangga muda dari atas
“Fifin katanya mau makan ini umi” Jawab Abi dari atas
“Iya, katanya mau makan yang masam masam” Sahut abah membenarkan
“Oh… nak Fifin yang pengen? Umi kira ada apa” Ucap umi mengangguk anggukkan kepala nya, tapi… detik kemudian ia langsung menoleh kembali pada menantu nya itu
“Pengen masam masam nak?” Tanya umi dengan ekspresi kaget nya
“Hehe… njih umi, rasanya segar kalau di makan dengan campuran garam dan gula” Jawab Fifin sambil nyengir lantaran saat masih bocah dulu ia juga suka makan mangga muda
__ADS_1
“Kenapa toh umi?” Tanya abah bingung, sedangkan mas Wawan dan para pengurus lain yang berkumpul juga ikut bingung dengan ekspresi umi.