
Abizar sudah meminta izin pada petugas rumah sakit supaya istri nya di perbolehkan untuk ke NICU walau hanya sebentar saja, yang penting bisa ketemu anak nya
“Pelan pelan nak” Ucap umi ketika melihat Abi menggendong tubuh Fifin dan meletakkan nya di kursi roda
“Njih umi”
Tapi… sebelum ke NICU, Fifin memilih untuk menjenguk Silvi dulu karena ia kasihan dan penasaran dengan kondisi gadis itu
“Ning, ya Allah”
“Alhamdulillah…”
Mbak Ila dan Icha selaku pengurus yang menemani Silvi tentu saja kaget sekaligus senang saat melihat Fifin sudah bangun
“Saya baik baik saja” Jawab Fifin tetap berusaha tersenyum meski tidak selebar biasanya
Dan saat Fifin masuk ke kamar, ternyata Silvi memang sedang menunggu menu sarapan datang ke meja nya
“Alhamdulillah…” Ucapnya bahagia ketika bisa melihat Fifin lagi
“Pripun Silvi? Sudah membaik?” Tanya Fifin walau tidak di mungkiri kalau mereka dua masih dalam keadaan sama sama sakit dan dalam proses penyembuhan
“Sampun ning” Jawab Silvi berusaha tersenyum juga walau kaki nya sendiri harus di pasang gips karena patah tulang, ia juga tidak menanyakan keadaan Fifin sekarang karena takut tersinggung
“Emm… kulo ngapunten njih ning, mboten saget njaga njenengan” Ucap Silvi berusaha agar tidak menangis, ia masih memiliki rasa bersalah karena dia lah yang menyetir saat kecelakaan itu berlangsung
Fifin menggeleng dan menggenggam tangan Silvi, “Bukan salah kamu, lebih baik sekarang fokus sembuh dulu ya?” Ucap nya menyemangati orang lain, padahal dirinya sendiri juga sama down nya
Silvi hanya mengangguk angguk, ia tidak kuat untuk bicara banyak karena takut suaranya bergetar dan menangis, lagi pun tubuh nya serasa belum terbiasa dengan keadaan ini
“Kalau gitu saya ke NICU dulu ya? Silvi makan yang banyak” Ucap Fifin
“Njih ning, maturnuwun”
“Sama sama”
Setelahnya pun Abi dan Fifin bersama orang tua mereka langsung menuju ke NICU, disana Fahri dan Aina juga kaget sekaligus senang ketika tau Fifin sudah sadar
“Yang tabah ya Fin, Insya Allah kuat” Ucap Aina memeluk Fifin sebentar
__ADS_1
“Iya mbak, terimakasih”
Sedangkan Fahri hanya mengelus lengan Abizar saja, ia berharap bapak muda itu bisa ikhlas dengan semua yang terjadi pada kehidupan mereka
“Silahkan” Ucap perawat bagian NICU untuk mempersilahkan masuk pada kedua orang tua bayi
Fifin sendiri sudah biasa masuk ke NICU, tapi bukan sebagai ibu dari anaknya sakit, melainkan mengecek kondisi bayi bayi yang sedang tidak sehat
“Terimakasih” Ucap Abi sopan pada perawat tadi
Fifin sendiri terdiam, menangis, sedih dan terharu menjadi satu, biasanya ia melihat bayi orang lain disini, tapi sekarang? Dia melihat bayi nya sendiri di dalam inkubator dan belum bisa melepaskan alat bantu nafas itu
“Untuk proses skin to skin dan asi langsung masih belum bisa ya bu, karena kondisi bayi belum stabil. Tapi pasti nanti akan kita berikan asi dari ibu dengan cara pumping terlebih dahulu” Ucap perawat tersebut
Fifin juga mengangguk angguk, ia tahu kalau putra nya belum stabil dan tidak bisa keluar dari inkubator itu walau hanya sekedar untuk menyusu, jelas nanti akan ada terapi untuk dia agar bisa mengeluarkan asi dengan baik dan diberikan kepada putra nya
“Kalau begitu saya permisi dulu” Ucapnya
“Ganteng kan?” Tanya Abi sambil mengelus elus kepala istri nya, just info bagian kepala depan Fifin masih memakai perban karena luka sobek, tapi ia
tetap menggunakan hijab untuk menutup rambut nya
“Ssstt… tidak apa apa adek yang tenang, dia membutuhkan senyuman dari ibu nya” Ucap Abizar tak pernah berhenti untuk menenangkan istri nya
Fifin kembali mengangguk dan menghapus air matanya “Iya, aku harus kuat supaya ada yang menemani anak aku”
Dan…. Saat Fifin berkata demikian, putra mereka yang berada di dalam inkubator itu seketika tersenyum walau mata nya terpejam, entah sekedar kebetulan atau karena ia mendengar ucapan dari ibu nya
“Tuh… kan senyum? Sudah ya? Adek harus bisa sabar, kuat, demi anak kita juga” Ucap Abizar
“Tapi sayang sekali, adek tidak bisa melihat wajah putri kita” Ucap Fifin merungut lagi padahal baru aja senyum
“Bisa, mas perlihatkan fotonya” Ucap Abi sambil mengeluarkan handphone dari dalam saku baju nya, sesuai saran dari Lia bahwa ia mengambil foto putri nya dulu sebelum di makam kan
Fifin tersenyum getir saat ia melihat foto putri nya yang sudah meninggal, wajah nya tampak bersih dan tidak pucat, terpejam tapi kelihatan damai sekali
“Masya Allah… kamu juga cantik sekali nak, ibu minta maaf sekali tidak bisa menjaga kamu, tapi ibu tetap berharap dan berdo’a supaya kita semua bisa bertemu ya? Di surga nya Allah yang paling indah” Ucap Fifin dengan memperjelas gambar wajah putri nya
“Adek tahu nama putri kita siapa?” Tanya Abi dan Fifin mengangguk sebagai jawaban nya, karena dari jauh jauh hari Abizar sudah menyiapkan nama yang bagus
__ADS_1
“Fatimah Ghazala Humaira” Jawab Fifin
Abizar tersenyum dan merangkul pundak istri nya “Walau dia pergi duluan, dia tenang duluan dan dia tidak bisa menemani kita sampai dewasa, tapi Insya Allah ini sudah takdir, Insya Allah putri kita bahagia di surga” Ucap Abi, senang ketika nama yang ia siapkan sudah di berikan pada putri nya, tapi sayang sekali nama itu terpakai langsung dengan gelar almarhumah
“Aamiin, dan tidak bisa adek pungkiri kalau mengikhlaskan kepergian anak itu sangat berat, apalagi untuk selama lamanya, adek mungkin tidak sekuat yang lain, tapi adek akan tetap mencoba untuk ikhlas” Ucap Fifin
“Iya… bismillah, selalu ada Allah di dalam perjalanan hidup kita” Ucap Abizar tersenyum
Sebenarnya dia sendiri juga tidak sekuat yang lain, masih sering juga merasa sedih saat teringat putri nya, tapi kalau dia terus bersedih, Siapa yang akan menenangkan Fifin? Kalau dia sedih yang ada perasaan down mereka berdua malah makin menjadi jadi, itulah kenapa ia harus ikhlas dan tabah agar bisa membimbing istrinya juga
“Lalu, putra kita jadi siapa namanya?” Tanya Fifin
“Emm… mas menyiapkan nama yang cukup panjang”
“Hehe, siapa?”
“Muhammad Abbad Nailun Nabhan Al Hafidz” Jawab Abizar
Fifin geleng geleng kepala saat mendengar nya, memang bagus sih tapi lumayan panjang loh, apakah tidak masalah untuk kedepannya nanti?
“Artinya laki laki yang rajin ibadah, mendapat kemuliaan dan penghafal al qur’an” Lanjut nya
“Mas berharap putra kita bisa meneruskan perjuangan mas?” Tanya Fifin
“Lebih tepat nya perjuangan kakek nya, mas berharap dia bisa jadi anak yang baik, anak yang mengerti dan meneruskan dakwah abah” Jawab Abizar karena rasanya belum pantas ketika harus meneruskan dirinya
“Kalau adek tidak masalah dengan namanya, cuman nanti coba diskusikan lagi sama orang tua” Ucap Fifin biar saling menghargai dan tidak ada cekcok nanti
“Iyaa” Jawab Abizar, mereka memandangi bayi itu cukup lama walau hanya bayi yang tidur, tapi pemandangan itu mampu menenangkan perasaan mereka berdua
“Masya Allah, coba lihat mas?” Ucap Fifin saat tangan nya masuk ke dalam lubang inkubator dan di respon oleh putra nya dengan sebuah genggaman kecil di jari
“Alhamdulillah… berarti dia memiliki perkembangan yang baik, mas juga tidak sabar membawa nya pulang ke rumah” Ucap Abizar, ia menanti nanti hari itu, dimana kondisi putra nya sudah stabil dan di perbolehkan keluar dari NICU
“Semoga putra kita cepat membaik, aamiin”
“Semoga ibunya juga cepat membaik, aamiin” Sahut Abizar karena dari tadi Fifin hanya mendo’akan orang lain sampai lupa dengan kondisi dirinya sendiri.
•
__ADS_1