
Abizar sendiri di dalam masih belum memikirkan soal kecelakaan yang di alami istri nya, untuk sekarang yang dia mau hanya lah bisa melihat istri nya dalam keadaan sadar dan baik baik saja
“Putra kita butuh kamu, mas juga butuh kamu sayang… jadi ayo cepat sembuh ya? Mas akan selalu berdo’a kepada Allah untuk kamu” Ucap Abizar tersenyum tipis lalu beranjak mencium bagian wajah istri nya yang tidak terluka, cukup lama sambil mengelus elus tangan Fifin, sampai kemudian ia keluar dari ruangan karena harus melihat keadaan Silvi juga
Bergantian dengan orang tua Fifin yang masuk ke dalam, tentu saja hati mereka terenyuh saat melihat keadaan putri yang sudah mereka besarkan dengan hati hati selama ini
“Ya Allah nak…” Ucap bu Risma yang seketika badan nya luluh
Pak Yahya merangkul bahu istri nya seraya mendekat pada putri mereka, memang sih… keadaan nya cukup parah karena mobil yang terguling juga
Bu Risma yang duduk di samping ranjang juga menahan tangis nya, jangan sampai ia bersedih di hadapan Fifin yang baru kehilangan putri nya
“Anak ibu kuat kan? Ibu nunggu kamu disini nak… jangan lemah ya? Ayo sembuh dan temui putra mu” Ucap bu Risma sambil menggenggam tangan Fifin dengan cukup erat
Pak Yahya hanya bisa diam, walau batin nya menangis melihat kondisi saat ini, tapi ia juga tidak boleh lemah di hadapan istri dan anak nya, karena ia harus bisa menopang semuanya
“Bapak tidak menyangka kalau kamu bisa mengalami ini nak… tapi kembali lagi bahwa Allah yang menentukan takdir hamba nya, ini cobaan kamu, dan Fifin harus bisa melewati nya, bapak ibu dan semuanya akan menemani kamu” Batin pak Yahya dengan terus memandangi putri nya
Sebenarnya belum puas menemani Fifin, tapi mereka ingat bahwa ada cucu laki laki yang belum di jenguk, maka dari itu sekarang bergantian jaga
Ganti umi dan abah yang menemani Fifin di dalam, mbak mbak pengurus menemani Silvi, sedangkan Abi, orang tua Fifin, Aina dan gus Fahri yang menuju ke NICU
Sayangnya, rumah sakit punya kebijakan masing masing termasuk sekarang. Tidak sembarang orang bisa masuk ke ruang NICU
Jadi karena Abi selaku ayah kandung, maka dari itu hanya dia saja yang diperbolehkan masuk ke ruang perawatan intensif bayi, itupun ia harus memakai masker, mencuci tangan, hand sinitizer dll, sedangkan keluarga hanya boleh melihat dari jauh di ruang tunggu penjenguk
“Mari pak” Ucap salah seorang suster yang bertugas di NICU dan mengantar Abizar untuk menemui putra nya
Dan… lagi lagi hati nya kembali tercubit, melihat kondisi putra nya yang lemah dan bernafas pun masih menggunakan alat bantu
Berat nya pun hanya 1,8 Kg saja, itu karena kembar jadi badan nya kecil, untuk sekarang bayi mungil itu terlelap di dalam inkubator hangat nya
Abi tersenyum sekilas walau air mata nya kembali berjatuhan, perlahan ia menggapai tangan mungil itu dari celah inkubator sambil berdo’a bahwa putra nya akan segera membaik
“Karena ibu nya masih kritis, jadi kami terpaksa mengganti ASI dengan susu formula untuk sementara sampai keadaan ibu nya kembali pulih” Ucap suster itu sambil menunjuk selang yang terpasang sebagai jalan nya ASI
Abizar mengangguk angguk “Iya, terimakasih” Ucapnya, ia masih bersyukur dan menurut apa kata dokter yang penting baik untuk perkembangan putra nya
“Kalaupun ibu nya sudah sadar, ada kemungkinan rooting reflex nya belum berkembang sempurna, tapi Insya Allah bisa membaik dengan berlangsung nya waktu”
__ADS_1
Rooting reflex \= (refleks mencari put*ng)
Setelah berbicara hal hal yang penting dan diperlukan, suster tadi pamit keluar untuk memberikan ruang pada Abi dan putra nya
Abi sendiri masih memandang sang putra sambil terdiam “Putra abah dan ibu hebat sekali ya? Bisa bertahan dengan tubuh mungil ini, kalau berjuang jangan setengah setengah ya nak? Harus bisa sampai sembuh dan bermain, belajar sama abah dan ibu, sehat terus ya nak… semoga Allah selalu menjaga kamu” Batin nya
Abi baru ingat kalau keluarga mereka pasti menantikan bayi ini, ia langsung berdiri sebentar dan membuka gorden yang menutupi kaca pembatas ruang intensif dan ruang tunggu keluarga
Saat dibuka, sudah jelas bahwa semuanya antusias langsung melihat dari dekat bahkan sampai wajah nya menempel di kaca
“Cucu nya ibuk sama bapak” Gerak bibir Abizar berkata demikian tanpa bersuara, karena selama di dalam pun tidak boleh berisik sama sekali
“Ya Allah…”
“Masya Allah…”
“Badan nya kecil tapi Insya Allah bisa berkembang seiring berjalan nya waktu” Ucap Aina
Bu Risma juga senang ketika mendapati cucu nya selamat walau harus mendapatkan perawatan intensif entah berapa lama
“Pak… ibuk senang, tapi rasanya sedih juga membayangkan cucu kita masih kecil tapi sudah banyak kabel menempel di tubuh nya” Ucap bu Risma
“Bapak juga kasihan buk, tapi ini jalan yang terbaik… cucu kita harus mendapat perawatan intensif supaya bisa bertahan hidup”
“Tapi ibuk tidak tega pak” Ucap bu Risma, dari tadi ia sudah menangis namun selalu menyeka karena tidak ingin terlihat sedih di depan menantu nya yang jelas lebih terluka sekarang
Aina sendiri juga terenyuh, baru kali ini ia bisa melihat sang adik begitu sedih sampai sampai pandangan nya kosong mengarah ke wajah putra nya
“Cepat membaik ya.. keponakan ku” Batin Aina
“Dek” Panggil gus Fahri pada istri nya
“Kenapa mas?” Tanya Aina balik
“Ikut mas sebentar ya? Diluar” Ucap Fahri namun Aina jadi bingung, situasi nya sekarang masih seperti ini dan tumben tumben an
“Nanti aja ya mas? Lihat dulu situasi nya” Ucap Aina
Tapi Fahri itu tidak bisa menunggu, ia hanya ingin menyelesaikan sebuah masalah dengan cepat sehingga pelaku bisa di hukum sesegera mungkin
“Sebentar saja…” Ucap Fahri menarik pelan tangan Aina
“Eh.. buk, saya keluar sebentar nggih” Ucap Aina pada bu Risma karena Fahri tiba tiba menarik nya
__ADS_1
Saat sudah diluar area NICU, Aina melepaskan genggaman tangan suami nya dan meminta penjelasan “Kenapa mas?”
“Dek, mas minta izin ya? Buat cek CCTV di depan rumah ndalem” Ucap Abizar
“Eh, untuk apa mas?” Aina bertanya, bukannya tidak boleh tapi ia juga perlu tahu, untuk apa suaminya memerlukan rekaman CCTV di depan rumah
“Ngenten sayang… dari rekaman dashboard memang benar mereka berdua mengalami kecelakaan karena menghindari truk dan mobil nya juga terguling, tapi… dari kamera belakang mobil itu sebenarnya selama perjalanan dari rumah, ada mobil yang selalu mengikuti mereka sampai di tempat kejadian kecelakaan tadi” Ucap Fahri menjelaskan
“Astaghfirullah…” Spontan Aina kaget sampai mata nya terbelalak, berarti ini memang bukan murni kecelakaan melainkan di sengaja
“Aneh nya waktu mobil terguling, mobil yang membuntuti di belakang itu tiba tiba pergi, aneh kan? Harusnya kalau dia tidak terlibat pun pasti menolong korban di depan” Ucap Fahri
Aina seketika merasa pening seketika dan tidak menyangka, memang sih di area pondok Darussalam itu sudah terdapat CCTV untuk berjaga jaga jika terjadi hal hal yang buruk
“Nggih angsal mawon mas, saestu” Ucap Aina ( iya boleh saja mas, beneran )
“Nggih pun, sakniki adek telfon operator pondok, kengken ngirim file CCTV dinten niki” Ucap Fahri ( Yaudah, sekarang adek telfon operator pondok, suruh ngirim file CCTV hari in )
“Nggih mas” Ucap Aina dengan segera menghubungi mas Eko lewat ponsel nya, karena mas Eko yang bertugas sebagai keamanan pondok dan tahu soal pengaturan CCTV di komputer
“Sampun?” Tanya Fahri
“Pun mas” Jawab Aina mengangguk, ia menghela nafas berat sebentar, rasanya hari ini terlalu banyak momen yang betubi tubi sampai ia sendiri bingung harus bagaimana
“Istirahat riyen nggih? Capek kan?” Ucap Fahri ( istirahat dulu ya? Capek kan? )
“Tapi Salma pripun mas?” Tanya Aina mengkhawatirkan putri nya yang ada di rumah ndalem
“Mas sudah dapat pesan dari umi, katanya Salma sudah tidur karena habis main sama mbak mbak pondok, adek mau istirahat disini atau pulang?” Tanya Fahri
Aina yang sangat kasihan dengan kondisi keluarga adiknya tentu saja memilih untuk istirahat disini, karena ning Salma juga sudah anteng tidur di rumah dan lebih baik ia menemani masa masa sulit sekarang
Alhamdulillah nya juga rumah sakit memang menyediakan kamar istirahat untuk keluarga pasien VVIP, sehingga ada kamar tersendiri
Yap… Abi sendiri tidak mau meninggalkan Fifin terlalu lama, walau putra nya penting tapi sang istri juga sangat penting bagi nya
Jadi Aina dan Fahri yang tidur di kamar tunggu NICU, sedangkan Abizar memang berniat kembali ke ruang perawatan istri nya
Orang tua Fifin juga enggan pulang, mereka lebih memilih untuk istirahat di kamar keluarga pasien daripada harus meninggalkan putri nya
Ya… mbak mbak pengurus pulang duluan karena Abizar menyuruh mereka istirahat, orang tua Fifin ada di kamar pasien VVIP atas nama Fifin, sedangkan orang tua Abizar istirahat di kamar pasien VVIP atas nama Silvi
Hanya dia saja sekarang yang masih betah duduk di samping ranjang istri nya, memandang terus dengan untaian do’a yang selalu ia panjatkan sampai benar benar terbang ke alam mimpi disana.
__ADS_1
•
Halo… huhu saya tidak update karena ada jadwal ujian kenaikan kelas sampai tanggal 11 Juni ( bulan depan ) jadi mohon do’a nya ya😭🙏🏻 sementara memang update saat ada waktu senggang karena ada ujian yang belum saya hafalkan, terimakasih🙏🏻