Perjalanan Cinta Abizar

Perjalanan Cinta Abizar
60. Lebih jauh


__ADS_3

"Tapi saya sangat menyukai bahkan mencintai mu" Ucap Nisa tanpa malu pada penampilan nya yang sudah seperti uztadzah tapi minim kelakuan


Note  : baju gamis panjang dengan hijab yang tertutup itu kewajiban, tapi soal akhlak dan kelakuan itu tergantung pribadi nya masing masing. Jadi jangan memandang kalau semua yang berpenampilan tertutup itu tidak baik akhlak nya, jangan pula memandang rendah pada orang yang belum menutup aurat dengan sempurna


"Dan saya sangat mencintai istri saya" Ucap Abi tegas pertanda bahwa ia tidak ingin di bantah lagi, melihat Fifin yang disiram kopi saja sudah membuat nya emosi apalagi ditambah dengan pengakuan sampah tadi


"Maaf, ada apa ya ini?" Pemilik warung baru kembali dengan menenteng barang belanjaan itu heran saat melihat dada Abizar yang sudah kembang kempis


"Bau bau pelakor pak, memang mau dibiarin?" Ucap Fifin pada pemilik cafe itu tapi sengaja menyindir Nisa


"Enak aja ngatain saya pelakor" Ucap Nisa yang tidak terima dengan kilat penuh amarah di mata nya


Abi menghela nafas sambil geleng geleng kepala melihat perempuan yang dulu nya kalem kini berubah jadi momok


"Udah dek ayo pulang, mas... ini ya" Ucap Abi menarik tangan istri nya sedangkan tangan yang satu lagi ia gunakan untuk memberikan uang lembaran merah pada pemilik cafe atau warung tersebut


"Loh, kebanyakan mas"


"Ambil saja kembalian nya, dari Allah" Ucap Abi kemudian langsung menggandeng Fifin agar segera pergi dari sini


Nisa juga sempat mengajar, tapi dihalangi oleh pemilik cafe tadi


"Udahlah mbak... kasian mas nya juga udah punya istri, emang mau jadi yang kedua?"


"Mau aja" Jawab Nisa ceplas ceplos


"Astaghfirullahaladzim... " Ucap mas mas tersebut heran sambil terus menghalangi jalan sampai Abi dan Fifin pergi jauh


"Hih.. mas nya kenapa ikut campur sih? Sekarang mereka udah pergi kan? Gara gara mas nya" Ucap Nisa kesal


"Iyalah mbak, kalau gak suka sama sikap saya ya pergi aja dari sini.. sana hus hus" Usir mas mas itu tidak mau jika ada pelakor di tempat bisnis milik nya


Nisa sudah sangat geram dan kesal pada pemilik cafe ini, ia kemudian pergi keluar dengan menghentakkan kaki dan meninggalkan area tersebut


~


"Dek, beneran mas tidak tahu kenapa dia bisa ada disini.. mas minta maaf sama kamu, besok kita langsung pulang saja ya?" Ucap Abi di sela sela perjalanan karena ia benar benar tidak enak hati pada Fifin


Yang di ajak bicara malah makin diam dan dingin lebih dari kemarin, perasaan nya sedang campur aduk karena masa lalu suami nya kembali dalam hidup mereka


Abi menghela nafas, kan... belum juga selesai masalah mereka yang kemarin dan sekarang muncul lagi si sundel pagi pagi tadi, memang ujian rumah tangga tuh ada ada saja ya


"Sekarang kita kembali ke villa saja ya" Ucap Abi dengan meraih tangan sang istri agat berpegangan di pinggang nya


Beberapa saat pun mereka sudah berhenti di halaman villa, Fifin masuk ke dalam terlebih dahulu tanpa menunggu suami nya karena suasana hati nya sedang tidak baik


"Fin, habis jalan jalan? Gimana? Suka disini?" Tanya umi yang berada di dapur dan melihat menantu nya baru kembali


"Njih umi, suka sekali" Jawab Fifin berusaha senyum semanis mungkin karena tidak mau membuat mertua nya khawatir


"Alhamdulillah... sayang nya tidak bisa lama lama ya disini" Ucap umi mengingat besok anak menantu mereka akan kembali


"Hehe.. njih umi" Ucap Fifin menanggapi seperlu nya

__ADS_1


"Oh iya, abah dimana umi?" Tanya Fifin


"Di kamar nya Aina, katanya suka banget ngeliatin cucu nya yang cantik" Jawab umi


Fifin juga ikut tersenyum, ia senang saat keluarga ini mendapatkan anggota baru


"Kalau gitu Fifin ke kamar nya mbak Aina sebentar ya umi... nge cek jahitan nya dulu" Ucap Fifin


"Iya nak"


Fifin langsung melangkah menuju kamar Aina tanpa mempedulikan Abi yang baru masuk villa, mungkin hati nya kali ini memang masih dongkol


"Fin... mau cek jahitan ya?" Tanya Aina saat Fifin sudah masuk


"Iya mbak" Jawab Fifin membenarkan dengan senyum nya pada semua orang yang ada di kamar


"Kalau gitu biar abah sama Fahri keluar dulu, ayo" Ucap abah yang di angguki Fahri dan keluar kamar dengan menggendong putri nya


"Hati hati mas.." Ucap Aina


"Nggeh"


"Permisi ya mbak" Ucap Fifin meminta izin


Aina mengangguk dan melebarkan kaki nya, tapi... dahi Aina seketika memgerut kala melihat raut wajah Fifin yang cukup datar


Padahal harusnya senang kan? Karena setelah di periksa pun hanya normal nifas saja dan tidak ada pendarahan secara berlebihan


"Ya mbak?" Jawab Fifin menoleh


"Kenapa? Kok murung hari ini?" Tanya Aina dengan lembut


"Ah enggak papa" Jawab Fifin berusaha tersenyum, lalu ia berpikir sejenak.. mungkin ia bisa mencari informasi soal masa lalu Abizar kan?


"Mbak kira kamu kenapa kenapa" Ucap Aina lega rasanya


"Hehe... oh iya mbak, boleh tanya sesuatu soal mas Abi? Soal masa lalu atau hal hal yang perlu Fifin tahu mungkin?" Ucap Fifin memberanikan diri bertanya


Aina heran karena adik ipar nya tiba tiba bertanya soal masa lalu Abi, tapi ya tidak masalah... mengenal lebih dalam juga akan lebih bagus kan?


"Biasa saja kok Fin.. seperti yang kamu tahu kalau Abi itu orang nya keras kepala tapi cukup sabar, kalau dalam percintaan sih mbak kurang tahu karena dia juga tidak pernah cerita ke siapapun selain umi" Jawab Aina seadanya tidak di lebih lebih kan


"Ohh... iya iya, kalau Nisa itu bagaimana? Katanya sih teman mas Abi, apa mbak Aina kenal?" Tanya Fifin


"Oalah... Nisa? Kalau tidak salah, mbak kenal dia saat dulu di undang ke wisuda hafalan al qur'an" Jawab Aina


"Ohh..." Ucap Fifin mengangguk anggukkan kepala nya


"Kenapa kok nanya soal Nisa?" Tanya Aina


"Mboten, cuman ingin tahu saja" Jawab Fifin


Setelah selesai pun Fifin juga langsung permisi keluar kamar dan bertepatan dengan keluarga juga pengurus putri yang menggerumbul di ruang tengah, karena apa? Ya apa lagi kalau bukan karena gemas dengan putri Aina

__ADS_1


"Ning Fifin, ning baru kita ini cantik banget" Ucap Silvi merasa gembira begitu juga dengan pengurus yang lain


Fifin ikut tersenyum, memang sih... bayi yang baru lahir kemarin itu sangat menggemaskan bahkan cantik di usia nya yang masih 0 bulan


"Fifin ke atas dulu ya, mau mandi dulu" Ucap Fifin menuju kamar atas.. Abi sebenarnya ingin mengikuti, tapi ia masih gemas dengan keponakan nya itu dan lebih memilih untuk memberi istri nya waktu


~


Selesai mandi, Fifin yang sudah ganti baju itu duduk di depan meja cermin dan menyisir rambut nya secara perlahan


Tatapan mata yang tadi terlihat senang itu kini kosong, pikiran nya sedang kalut... "Ya aku mah apa? Hafidzo juga enggak, baca al qur'an saja di benerin, apa aku memang pantas ada disini?" Batin Fifin menerawang hari hari kemarin


Andaikan dulu ia tidak menerima soal lamaran abah juga sekarang ia tidak mengalami sakit hati seperti ini, andaikan dulu ia berani menolak dan masa bodoh soal mimpi pun pasti tidak akan ada pelakor saat ini, ia terus berandai andai tanpa sadar bahwa yang menyatukan mereka adalah takdir Allah, bukan karena persetujuan manusia


Tes


"Hiks... memang benar ya, seseorang akan direndahkan kalau value nya gak sesuai sama pasangan sendiri" Batin Fifin menatap wajah nya sendiri yang sudah penuh air mata


Tok tok tok!


"Nak... ini umi"


Begitu mendengar suara umi, Fifin cepat cepat menghapus air matanya agar tidak ketahuan kalau dia sedang sedih


"Njih umi, masuk saja" Ucap Fifin karena memang pintu nya tidak di kunci, takut jika Abi tiba tiba ingin istirahat dan tidak bisa masuk


Ceklek!


Umi masuk dan memberikan senyum hangat nya pada sang menantu, terlihat juga Fifin yang sudah duduk di pinggiran ranjang


"Kenapa umi? Ada yang perlu Fifin lakukan?" Tanya Fifin barangkali umi butuh bantuan


"Umi yang tanya, kamu kenapa nak?" Tanya umi perlahan dan mengelus kepala Fifin yang masih setengah basah dengan penuh kelembutan


"Pripun umi?" Tanya Fifin agak bingung


"Kamu kenapa sayang? Anak umi... kalau memang ada masalah, silahkan sharing sama umi... umi juga ibu kamu yang akan selalu mendengarkan kamu nak" Ucap umi ikut duduk di samping Fifin


Fifin seketika menjadi bingung, apa ini perasaan seorang mertua yang sudah seperti ibu kandung nya sendiri? Umi seolah tahu bahwa ia sedang memiliki masalah dengan masa lalu Abi


Sekarang harus bagaimana? Ia cerita atau tidak? Kalau tidak cerita ya gimana bisa dia dapat info soal Nisa?


"Kenapa? Umi tahu kamu sedang sedih hari ini" Ucap umi yang langsung memeluk menantu seperti putri nya sendiri


Fifin yang diperlakukan seperti itu pun juga tidak tahan untuk tidak menangis, seketika air matanya kembali deras dan dada yang masih sesak itu terasa sakit sekali


"Aaaa.. umi... di-sini sa-kit sekali umi" Ucap Fifin agak nyendat karena tangis nya sambil meletakkan tangan di dada nya sendiri


"Iya sayang, sakit? Menangis saja tidak apa apa sampai rasa nya memudar" Ucap umi terus menerus mengelus punggung Fifin


Ya, Fifin merasakan dada nya sesak karena sadar bahwa value atau kemampuan nya tidak sebanding jika di sandingkan dengan Abi, pun jika ia dibandingkan dengan Nisa tadi... ilmu agama yang sedikit ia miliki pun masih jauh dari perempuan itu, jadilah ia agak akhhhh sakit nyesek lah... siapa juga istri yang enggak nyesek kalau suami nya ketemu perempuan masa lalu yang serba bisa dan sempurna itu? Seketika insecure dan langsung merabai diri sendiri.


°

__ADS_1


__ADS_2