
Selesai makan, Abi langsung mengajak mas Wawan untuk ngobrol di ruang tamu. Sedangkan Fifin memilih untuk memberikan mereka waktu berdua dan dia membantu bulek di dapur
"Bulek, ada yang bisa Fifin bantu?" Tanya Fifin karena bulek masih disini untuk menyediakan makan bagi anak anak yang tidak pulang
"Boleh ning, gimana kalau bantu ngupas rempah rempah nya saja?" Ucap bulek yang akan memasak untuk menu makan malam nanti
"Boleh" Jawab Fifin dan langsung mengupas apa yang perlu di kupas
Sedangkan di ruang tamu, Abi sendiri masih ragu ingin menanyakan atau tidak. Tapi kemarin abah sudah berpesan untuk mengajak mas Wawan mengobrol perihal ini
"Ngapunten, wonten nopo njih gus?" Tanya mas Wawan dengan sopan ( wonten nopo \= ada apa )
"Ehem.. itu mas sebelumya abah sudah menyampaikan sesuatu? Perihal perempuan yang berniat ta'aruf dengan mas Wawan" Ucap Abi berdehem dulu
"Njih gus sampun" Jawab mas Wawan menganggukkan kepala nya ( sampun \= sudah )
"Lalu bagaimana mas? Mau atau tidak untuk proses perkenalan dulu sama mbak nya?" Tanya Abizar
Mas Wawan terdiam cukup lama, bukan... bukan nya dia ragu, tapi dia hanya sedikit minder saja "Kulo namung minder gus, mbak nya bidan.. sedangkan saya sendiri? Kulo masih ragu gus" Jawab mas Wawan ( kulo namung minder \= saya hanya minder )
"Kenapa? Mas Wawan juga sarjana kan? Tidak ada salahnya kalau memang ingin berkenalan dan menjemput jodoh, atau mas Wawan sedang menyukai perempuan?" Tanya Abi dengan beragam rentetan nya
"Injih gus, tapi gaji kulo pun masih pas pas an, khawatir kalau mbak nya nanti justru kecewa. Mau kok gus untuk ta'aruf karena saya juga belum mencintai wanita manapun, tapi njih niku wau.. " Jawab mas Wawan ( niku wau \= itu tadi ) jadi mas Wawan minder soal gaji karena dia pun sudah sarjana tapi hanya mengajar ngaji anak anak di ponpes darussalam juga beberapa pondok pesantren lain, ia khawatir kalau bisyaroh dari mengajar itu tidak cukup untuk memberi nafkah pada pasangan nya nanti
"Ya makanya mas, ini nanti proses pengenalan juga bertujuan untuk mengetahui kekurangan dan kelebihan masing masing, termasuk mas Wawan nanti bisa membicarakan hal ini sama mbak nya... apa mau menerima mas Wawan dengan kekurangan dan kelebihan yang di punya, begitupun sebalik nya mas Wawan juga bisa menerima dia" Ucap Abi
"Njih gus, kulo tasek izin riyen kale ibuk" Ucap mas Wawan karena rumah nya cukup jauh dari sini ( kulo tasek izin riyen kale ibuk \= saya masih izin dulu sama ibu )
"Kalau mas Wawan sendiri bagaimana? Mau atau tidak nanti kita temani untuk proses nadzhor nya?" Tanya Abizar
"Njih gus insya Allah purun, mangke kalau ibu sampun maringi izin njih kulo langsung proses tukar biodata mawon kale tiyang e" Jawab mas Wawan ( iya gus insya Allah mau, nanti kalau ibu sudah memberi izin ya saya langsung proses tukar biodata sama orang nya ) orang yang dimaksud itu ya Lia
"Baik, kalau nanti ibu nya mas Wawan sudah memberi izin.. langsung di laksanakan saja ta'aruf nya ya mas, biar tidak lama lama" Ucap Abi
"Injih gus" Jawab mas Wawan mengangguk, ia memang mau melakukan ta'aruf karena ingin memiliki pendamping yang asik dalam urusan dunia maupun akhirat, tapi ya itu... dia masih minder soal pendapatan
"Tidak perlu minder mas, kalau memang dia mau menemani mas untuk menggapai kesuksesan juga insya Allah bakal sukses, mungkin mas merasa pendapatan pas masih kurang.. tapi pernikahan juga salah satu pembuka pintu rezeki" Ucap Abi
"Njih gus..."
"Jodoh datang nya tidak pandang umur ataupun harta mas, begitu juga dengan kematian" Ucap Abizar sebelum akhirnya mereka menghentikan pembicaraan karena sudah waktu nya sholat dzuhur
Fifin yang mendengar adzan berkumandang juga segera mengambil wudhu, memakai mukena dan turun untuk sholat berjamaah di musholla bawah
Biasanya musholla akan lebih dengan santri sampai di teras, tapi kali ini beda... hanya ada beberapa santri dan pengurus yang ikut sholat jamaah
"Kalau suasana liburan memang begini sayang, lebih senyap" Ucap Abizar yang kemudian ia berdiri di tempat imam
"Allahu akbar..."
Selesai sholat, berdzikir dan wirid, Abizar kemudian menyuruh semua anak anak yang tidak pulang itu untuk berbaris dan foto bersama
"Senyum dulu, satu... dua... tiga" Ucap Abi yang memotret langsung dengan handphone nya sendiri, kemudian ia tersenyum saat melihat hasil foto itu
__ADS_1
"Nanti foto ini akan di kirimkan ke orang tua kalian, meski liburan nya tidak bisa di rumah tapi tetap semangat belajar ya..." Ucap Abi
"Njih gus, siapp" Jawab anak anak serentak
Abi juga mengirim foto tersebut pada mas Wawan karena yang punya nomer wali santri pun hanya pengurus saja, Abi tidak mungkin bisa meladeni dan menyimpan nomer mereka satu per satu
"Mas, anak anak di suruh istirahat siang dulu... waktu nya tidur, nanti sore langsung ngaji seperti biasa" Ucap Abizar
"Njih gus" Jawab mas Wawan patuh kemudian menggiring anak anak agar kembali ke kamar mereka untuk tidur siang
"Sayang" Panggil Abi pada istri nya yang sedang sibuk membuka handhpone
"Iya mas, kenapa?" Tanya Fifin
"Serius nya ke handhpone terus, memang ada apa?" Tanya Abizar penasaran dan melirik handphone istri nya
"Lagi baca jadwal adek kerja ini shift berapa saja, kalau hari ini jelas malam mas" Jawab Fifin
"Oh... tapi nanti mas jadi tidur sendirian" Ucap Abi dengan wajah nya yang dibuat semelas mungkin
"Aduh... kasihan nya suami aku, cup cup.." Ucap Fifin terkekeh, mau bagaimana lagi? Ia tidak bisa resign begitu saja dari rumah sakit karena hal ini adalah yang sudah ia inginkan dari lama
"Ya sudah, ayo tidur dulu.. nanti sore adek berangkat juga biar tidak ngantuk pas kerja" Ucap Abizar
"Tidur, udah ayo" Ajak Abi yang dengan segera mereka masuk ke dalam rumah
"Eh kata nya pakde kamu ada disini? Mana?" Tanya Fifin
"Beliau sudah pergi sebelum kita datang karena ada urusan mendesak, maklum orang sibuk" Jawab Abi karena pakde nya harus mengurusi peternakan sapi
Fifin hanya mengangguk anggukkan kepala, toh nanti kalau acara resepsi juga bakal ketemu kan?
~
Jam 4 sore Fifin baru bangun dari tidur nya, sedangkan Abizar seperti biasa pasti bangun lebih awal
Fifin cukup terharu disini, ternyata Abizar itu sangat pengertian. Mengetahui istri nya akan berangkat bekerja pun tadi ia tidak melakukan macam macam atau hubungan suami istri karena tidak ingin istri nya tidur hanya sebentar dan kelelahan, biarlah hari ini ia tidak menyentuh wanita tersebut.. masih ada banyak kesempatan besok dan seterusnya
Fifin kemudian mandi dan sholat di kamar saat suami nya sudah di musholla bersama anak anak, lalu seperti biasa memakai rok untuk menutupi celana kerja nya
"Mas... hati hati"
Abi mengernyit alis beberapa kali saat di perjalanan, bukan tanpa alasan melainkan istri nya itu sangat parno saat melihat truk di dekat kendaraan mereka
"Hati hati mas, jangan ngebut dan jangan dekat dekat sama truk apalagi container" Ucap Fifin kesal saat mobil nya berdampingan dengan kendaraan besar
"Dek... sayang, mas tahu kok.. ini juga hati hati" Ucap Abi yang berusaha menjauhkan mobil nya dari kendaraan super besar itu dan memilih untuk melajukan secara perlahan saja
Ya masa iya dia mengusir kendaraan besar itu supaya tidak lewat sini? Kan tidak mungkin, secara ini jalanan umum
__ADS_1
"Adek tahu, tapi udah mas nyetir nya pelan pelan aja... adek tidak masalah kalau sampai nya mepet yang penting kita selamat" Ucap Fifin
Abizar pun hanya menurut saja karena seperti nya rasa khawatir dari sang istri itu cukup sulit untuk di hilangkan
15 menit kemudian mobil Abizar pun sudah berhenti dan terparkir rapi di rumah sakit, sebelum Fifin keluar ia menyempatkan untuk berbicara sebentar
"Sayang... adek jangan khawatir dengan hal yang berlebihan, insya Allah mas akan baik baik saja kok, asal ada do'a dari adek juga" Ucap Abi memandangi wajah istri nya dengan teduh
"Adek selalu do'a kan yang baik baik untuk mas, tapi tetap saja rasanya adek belum bisa melupakan mimpi itu" Ucap Fifin yang kemudian memeluk suami nya sejenak sambil memejamkan mata
"Iya... kalau gitu banyak banyak do'a baik sayang, insya Allah akan di ijabah sama Allah" Ucap Abi mengecupi seluruh wajah istri nya
"Heem, ya sudah adek masuk dulu... mas hati hati nyetir nya dan jangan lupa berdo'a" Ucap Fifin
"Nggih sayang..."
"Assalamualaikum..." Ucap Fifin setelah mencium punggung tangan suami nya dan keluar dari mobil
"Wa'alaikumsalam..." Jawab Abi
Setelah mengantar istri nya ke rumah sakit, Abi tidak langsung pulang melainkan berkunjung dulu ke rumah mertuanya, ia ingin sharing apa memang kepribadian Fifin seperti itu dari awal atau berubah setelah menikah dengan nya
"Waalaikumsalam... nak Abi kesini sendirian?" Tanya pak Yabya saat menantu nya baru datang
"Njih pak, mau mampir sebentar dan nanti ada rutinan di masjid sebelah " Ucap Abi karena ada pengajian rutinan juga di masjid sekitar rumah Fifin, dimana ia akan mengisi tausiyah disana nanti malam
"Kok tidak menginap saja bang?" Tanya Zaki
"Lihat dulu nanti Zak, kalau selesai pengajian nya malam ya menginap" Ucap Abi tidak ingin menyetir sendiri malam malam, bukan takut tapi ia tidak ingin kalau istri nya akan semakin khawatir
Saat melihat ibu mertuanya, Abizar langsung mencium punggung tangan itu dengan takzim kemudian basa basi sebentar sebelum ke inti nya
"Oh iya nak Abi, gimana sama Fifin? Ada masalah yang anak ibuk timbulkan?" Tanya bu Risma
"Mboten kok buk, cuman memang Abi mau sharing dan bertanya beberapa hal soal Fifin" Ucap Abizar
Bu Risma mengangguk anggukkan kepala nya kemudian sang menantu pun menceritakan dari awal Fifin mimpi tadi sampai istri nya yang menjadi sensitif saat melihat kendaraan besar
"Sebenarnya Fifin memang sensitif tapi tidak terlalu seperti yang nak Abi ceritakan tadi" Ucap bu Risma yang merasa putri nya makin sensitif setelah menikah
"Begitu ya buk? Jadi Abi kadang bingung harus bagaimana" Ucap Abi
"Tapi sebelum mimpi itu apa ada kejadian yang bikin Fifin tidak nyaman? Karena kalau Fifin bersikap demikian, berarti anak ibuk merasa terancam atau tidak nyaman dengan sesuatu" Ucap bu Risma
Abi seketika terdiam, ia tidak mungkin menceritakan soal Nisa kepada mertua nya kan? Karena Fifin juga melarang dan Abi tidak bisa membayangkan betapa sakit hati nya mereka nanti
"Balikin anak saya sekarang!!!" Beuh... Abi tidak bisa membayangkan kalau pak Yanya sampai berucap demikian, maka dari itu ia menggeleng keras dan mengambil kesimpulan bahwa istri nya menjadi sensitif soal mimpi itu semenjak Nisa menganggu rumah tangga mereka.
°
Terimakasih banyak yaa untuk 100 komen nya😊 akhirnya bisa juga sampai sini, bersyukur sekali punya pembaca yang cukup antusias seperti kalian🤗 stay tune dan pantengin terus kisah mereka😉
__ADS_1