
Jam 10 malam Abi dan Fifin baru kembali ke villa dengan terus bergandengan tangan di sepanjang jalan yang kembali mereka lewati
"Mas, kamu ngerencana in hal sebagus ini sejak kapan?" Tanya Fifin
"Sebelum kita liburan" Jawab Abi
Fifin mengangguk angguk, suasana di puncak memang semakin malam semakin dingin.. jadilah ia merapatkan jaket yang ia pakai
"Dingin ya? Habis ini kita sampai kok" Ucap Abi sambil merangkul istrinya, selain romantis ia juga memberi kehangatan
"Iya, memang makin dingin kalau malam" Jawab Fifin
5 menit kemudian mereka sudah kembali ke villa, yang mana di jam segini sudah pada tidur... kecuali santri dan pengurus putra di villa sebelah yang sepertinya masih ramai menonton sepak bola
"Loh Silvi habis dari dapur?" Tanya Fifin saat melihat Silvi membawa nampan malam malam
"Njih ning, ini ning Aina minta tolong dibuatkan teh hangat" Jawab Silvi
"Oh... iya, ya sudah saya ke atas dulu ya Silvi" Ucap Fifin kemudian naik ke kamar mereka bersama suami nya
"Adek ganti baju dulu ya" Setelah mengambil baju tidur, Fifin langsung masuk ke kamar mandi duluan
"Iya..." Ucap Abi yang juga sedang mengambil baju tidur nya di koper mereka, ia langsung ganti saja di kamar daripada menunggu kamar mandi kosong
Sedangkan Fifin yang masih di dalam kamar mandi malah mondar mandir kesana kesini, ia gugup dan takut karena tadi sudah meng iyakan permintaan suami nya
"Duh... aku takut" Ucap Fifin pelan, ia dengar dan pernah belajar soal itu bahwa ketika pertama kali rasanya memang sakit
Tapi... balik lagi, bahwa kodrat seorang istri juga harus siap melayani suami nya baik secara lahir maupun batin
Tok tok tok!
"Adek kenapa? Kok lama?"
Fifin sangat kaget mendengar suara suami nya, ia langsung mengambil air wudhu karena Abi memberi tahu bahwa lebih baik berwudhu sebelum tidur dan ia juga langsung membuka pintu kamar mandi
"Iya, kenapa?" Tanya Fifin
"Mas mau wudhu, adek sudah kan? Habis ini kita sholat ya" Ucap Abi langsung masuk ke kamar mandi
Alis Fifin mengernyit, mau sholat apa? Toh mereka tadi juga sudah sholat isya' bersama sebelum pergi ke hutan atau kebun tadi
Ceklek!
Tak Lama Abi membuka pintu dan terlihat lah wajah nya yang ganteng dan nampak segar sehabis wudhu
"Sholat apa?" Tanya Fifin bingung
Abi tersenyum "Disunnahkan sholat sebelum melakukan hal itu" Jawab nya
Blush
Pipi Fifin langsung bersemu merah mendengarnya, buset... gercep juga suaminya ini
"Udah gih, ambil mukenah dulu" Ucap Abi
Fifin hanya diam tidak bicara, tapi juga menyiapkan peralatan sholat mereka di samping ranjang, ia menggelar sajadah itu sembari menunggu Abi memakai sarung
niat
أُصَـلِّىْ سُنَّةَ لَيْلَةِ الزِّفَافِ رَكْعَتَيْنِ لِلَّـهِ تَعَالَى
Usholli sunnatan lailataz zifafi rok’ataini lillahi ta’ala
“Saya shalat sunnah malam pengantin dua rakaat karena Allah Ta’ala.
( Yang jomblo jangan nyengir )
__ADS_1
Setelah sholat dua rakaat, Abi mengakhiri nya dengan salam... lalu Fifin merapikan peralatan sholat mereka ke tempat semula
"Ya Allah, lindungi hamba mu" Batin Fifin karena sedari tadi jantung nya berdetak tidak karuan
"Sini" Ucap Abi yang duduk di tepi ranjang samhil melambaikan tangan nya
Fifin meneguk ludah, perlahan ia jalan dan duduk di samping suami
Abi kemudian meraih kedua tangan istri nya, mengecup jari itu dengan mengucap "Semoga tangan mu hanya menggenggam tanganku"
Setelah itu Abi menatap Fifin, menepikan anak rambut yang menutupi wajah cantik itu, pelan pelan... ia merebahkan tubuh sang istri hingga berada bawah kungkungan nya
Abi mendekatkan wajah nya pada dahi sang istri lalu sambil mengecup dahi itu
Setelah itu Abi memiringkan kepala istri ke kiri sambil mencium dan meniup telinga sebelah kanan, dilanjutkan memiringkan kepala istri ke kanan sambil mencium dan meniup telinga yang sebelah kiri
Fifin yang diperlakukan seperti itu jelas merasa geli sampai seluruh tubuh nya merinding, ia hanya bisa memejamkan mata karena tidak mampu menatap suami nya
Tapi... Saat Abi ingin mencium pipi istri nya, terdengar suara memanggil dari luar kamar mereka
Tok tok tok!
"Nak Fifin... tolongin umi nak"
Fifin yang mendengar nama nya disebut pun lantas membuka mata dan langsung mendorong pelan suami nya "Mas, itu dipanggil umi"
Abi yang didorong juga kaget, secara tadi nafas nya sudah memberat dengan tatapan sayu namun di kejutkan dengan suara umi
"Ehem.. biar mas yang buka" Ucap Abi bangun dari kasur dan menuju pintu kamar
Sedangkan Fifin pun langsung memakai hijab instan yang memang ada di nakas dan menyusul suami nya
Ceklek!
"Njih umi, kenapa?" Tanya Abi setelah menetralkan nafas nya
"Fifin mana nak? Itu... Aina" Ucap umi terbata dengan sangat panik
"Aina bilang perut nya sakit nak, tolong kamu cek dia ya" Ucap umi dengan menggenggam tangan menantu nya
"Njih umi..." Ucap Fifin langsung turun ke bawah dan di ikuti juga dengan Abi, terlihat mbak mbak pengurus yang terbangun dan menunggu di ruang keluarga
Sedangkan abah juga disitu, ia kaget saat mendengar ucapan sang istri soal putri mereka
Para pengurus putri kaget karena baru kali ini mereka melihat Fifin hanya memakai baju tidur serba panjang dengan hijab instan, tapi situasi nya memang genting jadi wajar saja
Fifin bisa melihat Aina yang duduk sambil memegangi perut nya
"Mbak... mulas ya?" Tanya Fifin, Aina mengangguk sebagai jawaban nya
"Mas Abi... tolong ambil kan sarung tangan adek di laci kamar atas" Teriak Fifin
Abi yang mendengar hal itu juga bergegas ke atas dan mengambil sarung tangan higienis sekali pakai, lalu memberikan nya pada umi lewat pintu yang hanya dibuka sedikit
"Fin... perut mbak sakit sekali, rasanya seperti mau buang air besar juga" Ucap Aina
"Sabar ya mbak, umi... tolong tutup pintu kamar ya, biar Fifin cek dulu" Ucap Fifin sambil memakai sarung tangan putih itu
Umi segera menutup pintu kamar, jadi sekarang hanya ada mereka bertiga dan Abi pun juga ikut duduk bersama abah
"Mbak Aina... Fifin permisi ya mbak" Ucap Fifin menaikkan daster yang Aina kenakan sampai terlihat lah jalan melahirkan itu
"Permisi mbak, maaf" Ucap Fifin lagi dan Aina juga mengangguk, ia melebarkan kaki nya dan Fifin mulai memeriksa dengan memasukkan jari tangan nya
Fifin terbelalak "Ya Allah mbak... ini mbak Aina sudah pembukaan tiga, mungkin sebentar lagi akan melahirkan juga"
Umi kaget mendengarnya karena perkiraan lahir cucu mereka masih jauh dari tanggal yang di tentukan, tapi balik lagi... tidak ada yang bisa mendahului takdir Allah
__ADS_1
"Aduh... iya kah Fin? Mbak nggak nyadar soalnya memang mulas sebentar sebentar saja" Ucap Aina meringis
"Bagaimana ini Fin? Kamu bisa menemani Aina sampai melahirkan nanti kan?" Tanya umi karena untuk keadaan sekarang, tidak mungkin melarikan Aina ke rumah sakit sedangkan rumah sakit sangat jauh dari villa
"Njih umi, akan Fifin temani" Jawab Fifin yakin
Aina melirik sambil tersenyum tipis ke adik ipar nya "Mohon bantuannya ya Fin, sepertinya keinginan mbak lahiran normal memang di ijabah sama Allah" Walau agak sedih karena suami nya tidak bisa menemani momen penting ini
Fifin tersenyuh "Sebentar ya mbak... Fifin ke ataa dulu ngambil barang"
Fifin keluar kamar dan semua mata langsung menatap nya
"Bagaimana putri abah nak?" Tanya abah begitu melihat menantu nya keluar
"Abah, mbak Aina sudah pembukaan dan mungkin cucu abah akan segera lahir" Jawab Fifin tersenyum, pengurus putri pun kaget tapi ada kebahagiaan dalam diri mereka
"Alhamdulillah... lalu sekarang bagaimana Fin?" Tanya abah lagi
"Fifin masih menunggu pembukaan lengkap nya abah, panjatkan do'a terbaik untuk mbak Aina ya bah..." Ucap Fifin
"Pasti, abah akan do'a kan yang terbaik untuk putri dan cucu abah" Ucap Abah sambil menahan tangis karena ingat soal rasa sakit yang dirasakan istri nya saat melahirkan putra putri mereka
Abi masih bengong dan shock, ia kemudian menyusul sang istri yang lari menuju kamar atas
"Dek, sejak kapan kamu bawa bawa ini?" Tanya Abi melihat istri nya yang membawa tas cukup besar atau peralatan yang biasanya dimiliki oleh bidan
"Adek memang sengaja membawa dan titip di mobil mas Wawan" Jawab Fifin yang menenteng tas itu
Lalu... saat kaki nya melangkah ingin keluar kamar, Abi menggenggam pergelangan tangan nya
"Kenapa?" Tanya Fifin
"Dek, bukan nya kak Aina harus ditangani oleh dokter yang biasanya kak Aina datangi? Lebih aman kalau ada dokter kan?"
Fifin kaget bukan main dengan ucapan suami nya, ini maksudnya bagaimana sih? Abi tidak percaya dengan profesi nya?
"Maksud mas? Mas gak percaya sama adek?" Tanya Fifin yang seketika emosi nya naik dan hati nya sakit mendengar ucapan sang suamin barusan
"Bukan, bukan nya mas tidak percaya... tapi bang Fahri ingin kalau persalinan kak Aina di dampingi dokter dek" Ucap Abi
Fifin meremas tangan nya sendiri sampai terlihat kemerahan, kepala nya seakan ingin meledak ketika mendengar jawaban yang suami nya lontarkan
"Ya mas pikir adek selama ini kuliah jurusan apa? Apa mas berpikir bahwa jurusan yang adek dalami ini tidak berguna? Iya?" Tanya Fifin tidak dengan nada tinggi tapi cukup sinis pada suami nua
"Bukan gitu sayang..."
Fifin langsung menepis tangan suami nya "Mas juga harus mikir dong... mbak Aina sudah pembukaan tiga, mau dibawa ke rumah sakit mana? Cukup waktu nya? Dan mas pikir adek bakal diam saja melihat orang yang mau lahiran?"
"Sayang, mas cuman khawatir ada apa apa sama mbak Aina" Ucap Abi berusaha menggenggam tangan itu kembali tapi tidak berhasil karena Fifin yang terus menepis nya
"Mas... adek selama ini kerja juga membantu orang lahiran normal, banyak yang berterima kasih sama adek karena mereka dan anak anak nya selamat, tapi mas malah meragukan adek?" Ucap nya dengan suara serak karena menahan tangis, padahal ia nekat membantu Aina melahirkan normal itu juga karena keadaan ibu hamil yang baik baik saja, tidak ada riwayat tekanan darah tinggi, vertigo, dan lain nya jadi insya allah aman ketika melahirkan normal
"Sayang... bukan gitu-"
Belum selesai Abi namun Fifin langsung memotong nya "Mas do'a kan saja yang baik baik untuk mbak Aina, adek yang akan bertanggung jawab kalau perasaan suudzon mas itu benar terjadi"
Daripada ia meladeni Abi, lebih baik ia menemani Aina dibawah dan membimbing agar pembukaan nya semakin bertambah
"Jangan lupa telfon gus Fahri, bilang kalau istri nya sedang kontraksi... kalau dia marah karena mbak Aina tidak melahirkan di rumah sakit, bilang saja Fifin yang memaksa lahiran normal" Ucap Fifin dengan nada datar dan langsung turun ke bawah tanpa mempedulikan suami nya
Abi terdiam sambil meremas rambut nya sendiri, ia hanya khawatir saja karena Fahri itu cukup keras kepala jika sesuatu terjadi tidak seperti rencana dan keinginan nya ( padahal Fahri itu keras kepala nya 11 12 juga sama Abi )
"Ya Allah... mungkin memang perkataan hamba pada istri hamba tadi sudah keterlaluan" Batin nya menyesal
Abi kemudian menelfon Fahri sesuai permintaan istri nya dan meminta tolong pada pengurus putra di villa sebelah agar melantukan do'a untuk Aina.
°
__ADS_1
Note \= biasanya setelah kuliah bidan itu mereka harus menolong ibu melahirkan sampai 10 kali, baru bisa membuka praktek atau klinik sendiri. ( ini peraturan dari kampus di dekat rumah saya )
Bagi yang ingin tahu soal apa aja peralatan pribadi yang wajib bidan punya, bisa cari di internet karena banyak sekali nama alatnya.