
Keesokan pagi nya mereka juga memulai aktivitas seperti biasa nya, tahajud, ngaji, subuhan, lalu sarapan dan berangkat kerja
"Nak Fifin... umi nanti ke rumah nya Aina, mau ikut?" Tanya umi saat mereka semua sudah selesai sarapan
"Boleh umi, kebetulan Fifin nanti ke rumah sakit jam tiga sore" Jawab Fifin karena ia mendapat shift sore hari ini
"Iya, setelah sarapan kita berangkat"
"Sudah hampir jam tujuh, Abi berangkat dulu ya umi, abah" Ucap Abi yang mencium tangan kedua orang tuanya, karena ya hari ini Abi mengajar di jam pagi jadi harus berangkat pagi juga
Cup!
Abi juga mencium kening Fifin, ia sudah tidak segan lagi melakukan hal itu meski berada di depan kedua orang tuanya
"Mas berangkat dulu ya.."
"Iya, hati hati" Ucap Fifin seraya mencium tangan Abi
"Assalamualaikum.."
"Waalaikumsalam.."
Abah berdiri dan melihat anak anak santri, apakah semuanya sudah berangkat sekolah atau belum, sedangkan umi dan Fifin yang membereskan peralatan makan setelah dipakai barusan
"Bagaimana dengan putra umi Fin? Kalian baik baik saja kan?" Tanya umi, walaupun tinggal bersama tapi umi juga tidak mungkin mengawasi anak menantu nya selama 24 jam
"Alhamdulillah... baik kok umi, malah hubungan kami juga sudah semakin dekat seperti yang umi lihat" Jawab Fifin tersenyum
Umi mendekat dan memegang kedua tangan menantu nya, ia mengelus tangan Fifin dengan lembut dan sembari tersenyum mengatakan
"Fifin bahagia sama putra umi? Kalau memang Fifin bahagia, umi juga sangat bahagia.. begitupun sebaliknya, ketika nak Abi menyakiti kamu baik sengaja atau tidak, umi juga akan ikut merasakan sakit nya"
"Insya Allah kami akan baik baik saja umi, mas Abi juga sudah sering mendapat wejangan dari abah.. kalau suatu saat ada masalah berarti memang Allah sedang menguji rumah tangga kami" Ucap Fifin yang membalas dengan tersenyum juga
"Umi sayang sekali sama kamu nak, harapan umi.. hubungan kamu dan Abi akan semakin harmonis kedepannya"
"Njih umi... Insya Allah terkabul"
Bulek yang sedang bersih bersih dapur itu tersenyum, memang sih keluarga Abizar ini sangat humble apalagi dengan menantu mereka
Jika umi Rida dekat dengan Fifin, maka abah Anwar juga sangat dekat dengan suami nya Aina, jadi menantu di keluarga abah dan umi ini memang sudah di anggap seperti anak mereka sendiri
__ADS_1
"Ya sudah, ayo berangkat" Ajak umi yang di angguki Fifin
Mereka ke rumah Aina hanya berdua saja, eh bertiga sih bareng supir keluarga.. karena Abi sendiri juga melarang Fifin menyetir tanpa mendapat izin dari nya
Sedangkan abah juga tidak ikut karena anak mengisi acara pengajian di musholla kampung pagi ini
Setelah beberapa saat perjalanan, Fifin ternganga dengan rumah Aina yang bahkan lebih mewah dari rumah abah dan umi, memang sih suami Aina itu dikenal sangat pekerja keras walau orang tua nya juga memiliki pesantren di kota ini, jadi Aina juga menikah dengan seorang gus dari pesantren lain ya..
"Fifin beru pertama kali kesini umi" Ucap Fifin
"Iya, Abi belum sempat ngajak kamu kesini ya?" Ucap umi yang tersenyum pada satpam di rumah Aina
"Iya umi, mungkin mas Abi lupa" Ucap Fifin membenarkan
Gerbang terbuka lalu mobil itu masuk ke halaman luas yang penuh dengan hijau hijau an, terlihat Aina sudah cantik dengan gamis nya dan perut buncit itu berdiri di tengah pintu ruang tamu
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam umi.. Fin" Jawab Aina sambil menyalami dan memeluk umi serta Fifin satu per satu
"Kenapa nunggu di tengah pintu begini?" Tanya umi
"Tidak apa apa, kata dokter harus banyak jalan jalan supaya nanti persalinan nya lancar" Ucap Aina seraya mengajak mereka masuk ke dalam
"Memang HPL nya kapan mbak?" Tanya Fifin karena terakhir ketika kali Aina periksa pun berbeda dengan shift yang ia dapat
"Tiga minggu lagi harus nya Fin" Jawab Aina
Mereka duduk di ruang keluarga yang luas yang sudah tersaji teh juga beberapa camilan
"Oh.. iya, berarti sebentar lagi" Ucap Fifin mengangguk angguk
"Fahri sudah berangkat kerja?" Tanya umi saat tidak melihat suami Aina
"Njih umi.. pagi pagi sekali karena katanya ada meeting atau apa yang pastinya Aina tidak mengerti" Jawab Aina membenarkan
Umi agak heran sih, jam kantor biasanya jam 9 atau 9 pagi kan? Tumben Fahri pagi pagi sudah berangkat? Tapi sesegera mungkin umi langsung berprasangka baik dan percaya dengan ucapan putri nya
"Na... minggu depan abah sekeluarga sama anak anak santri yang tidak pulang mau liburan ke pantai, kamu ikut? Tapi umi khawatir karena kandungan kamu sudah besar" Ucap umi
"Ikut dong umi, kan HPL nya juga masih lumayan lama umi..." Ucap Aina yang dari dulu tidak pernah tidak ikut liburan keluarga
__ADS_1
"Nanti kalau kenapa kenapa dan tiba tiba melahirkan disana? Jauh loh dari rumah sakit" Ucap umi yang menyuruh Aina untuk memikirkan nya lagi
"Kan ada bidan Fifin umi... tidak perlu khawatir, Insya Allah baik baik saja" Ucap Aina full senyum karena ia tidak perlu khawatir soal liburan meski dalam keadaan hamil besar, kan adik ipar nya itu juga bidan.. jadi aman lah
"Ya sudah, untuk jaga jaga bawa peralatan yang diperlukan untuk melahirkan juga" Ucap umi
Fifin hanya tersenyum saja, senang sih ketika Aina mengandalkan nya, tapi ia juga takut ketika ada keadaan darurat dan hanya dokter yang boleh menangani Aina
"Berarti aku juga bawa peralatan pribadi aku ya?" Batin Fifin bertanya tanya soal peralatan melahirkan milik nya sendiri
Umi kali ini juga membawakan beberapa makanan dan vitamin herbal untuk Aina agar selalu sehat, beberapa kali para wanita itu juga saling melempar candaan untuk menghabiskan waktu yang mereka punya
"Fin... katanya mau berangkat kerja?" Tanya umi saat waktu sudah menunjukkan adzan dzuhur
"Njih umi, ada yang mau Fifin tanyakan ke mbak Aina soalnya" Ucap Fifin
"Oh.. ya sudah umi tunggu di depan aja, sekalian mau ngasih ini ke mbok" Ucap umi melangkah keluar duluan karena ingin memberikan bingkisan pada pekerja di rumah Aina
"Mbak.."
"Ya? Kenapa Fin?" Tanya Aina
"Maaf mbak kalau Fifin lancang, itu dahi mbak Aina agak memar kenapa? Tidak habis jatuh atau apa kan?" Tanya Fifin yang melihat sedikit bekas ungu di dahi Aina walau bekas itu sangat tipis sampai umi saja tidak bisa melihat nya
Aina kaget, tapi sebisa mungkin ia menjawab dengan tenang "Oh... ini? Tadi waktu jalan kesandung, kamu tau sendiri kan ibu hamil kalau jalan pasti ketutupan sama perut nya? Jadilah tadi aku terbentur ke meja"
"O-oh... gitu ya? Lain kali hati hati mbak, jalan jalan memang perlu tapi tetap di dampingi aja supaya meminimalisir jatuh seperti tadi" Ucap Fifin
"Iya... makasih ya, nanti aku minta temani bibi kalau mau jalan jalan" Ucap Aina
Fifin kemudian pamit dan menyusul umi ke depan, walau dia agak sedikit tidak percaya dengan ucapan Aina tadi, tapi tidak mungkin juga kalau Fahri melakukan kdrt kan? Ia rasa tidak mungkin suami Aina berbuat demikian
"Kenapa Fin?" Tanya umi melihat menantu nya bengong ketika mereka dalam perjalanan pulang
"Tidak apa apa umi, Fifin hanya memikirkan saja nanti mau makan apa sama mas Abi" Jawab Fifin yang kebetulan nanti ia pulang kerja jam 9 malam dan Abi mengajak nya jalan jalan keliling kota sebentar
Ia tidak bilang kepada umi soal Aina tadi karena takut jika umi sampai kepikiran
"Uluh uluh.. sosweet nya anak umi yang mau kencan" Goda umi
Fifin hanya tersenyum malu malu, hehe.. walau beberapa kali Abi mengajak nya keluar berdua tapi ada saja yang jadi penghalang nya, kadang disebabkan karena jam kerja Fifin yang beda dengan waktu senggang Abi, dan ketika Fifin yang senggang pun ganti Abi yang sibuk
__ADS_1