Perjalanan Cinta Abizar

Perjalanan Cinta Abizar
54. Bertanya


__ADS_3

Definisi liburan tetap belajar, ya... Abi sedang mengajar kitab kuning pada anak anak santri di ruang keluarga villa itu


Sedangkan abah juga mengajari pengurus ngaji kitab di villa 2, karena tingkat kelas antara pengurus dan santri itu sangat berbeda


Umi, Aina dan Fifin.. ketiga wanita itu pagi ini setelah sarapan hanya bersantai di pinggir kolam sambil menunggu kegiatan ngaji kitab selesai


"Mbak... kenapa kok ekspresi nya gitu?" Tanya Fifin pada Aina yang muka nya agak berkerut


"Oh.. ini loh, rasanya perutku mulas" Jawab Aina sambil mengelus elus perut nya


Fifin kaget "Mau melahirkan mbak?"


"Eh... enggak, mungkin karena pas makan nasi goreng tadi kekenyangan jadi agak mulas" Ucap Aina


"Oalah... kalau ngerasain apa apa bilang ya mbak"


"Iya Fin"


"Nduk... umi ke dalam dulu ya" Ucap umi pada putri dan menantu nya


"Njih umi" Jawab Fifin dan Aina kompak


Setelah umi benar benar masuk ke dalam, Fifin menggeser duduk nya agar lebih dekat dengan Aina, jujur... hati nya masih mengganjal perihal dahi kakak ipar nya yang sempat memar itu


"Mbak... maaf kalau lancang, mbak Aina ada masalah sama gus Fahri?" Tanya Fifin pelan pelan karena takut menyinggung


"Eh... enggak kok Fin, kenapa memang nya?" Tanya Aina balik dengan wajah yang tersenyum seolah memang tidak terjadi apa apa dengan rumah tangga nya


"Itu mbak, Fifin rasanya masih ragu sama memar di dahi mbak Aina waktu itu.. maaf ya mbak" Ucap Fifin


Seketika Aina tertawa "Haha... enggak kok, sebenarnya memang waktu itu mas Fahri agak pusing karena kerjaan nya banyak, disisi lain dia juga khawatir sama aku yang umur tiga puluh tahun baru melahirkan anak pertama, dan... karena rasa khawatir lalu pusing sama pekerjaan, akhirnya tempramen mas Fahri naik"


"Lalu? Mbak tidak di pukul kan sama mas Fahri?" Tanya Fifin


"Tidak... waktu itu mbak lagi baca informasi soal melahirkan normal.. tapi mas Fahri kurang setuju dan minta mbak buat caecar saja, akhirnya dia rebut handphone ku.. mbak rebut balik, jadilah tarik tarikan handphone sampai mas Fahri yang menang dan dahi mbak terpental ke ujung lemari" Jelas Aina panjang lebar dan saat itu ia memang di dapur sedang membuat susu ibu hamil lalu kebetulan pula di depan nya memang ada lemari tempat menyimpan gelas


"Kamu nggak perlu khawatir, sungguh... beneran itu yang terjadi" Ucap Aina meyakinkan


Fifin seketika menghela nafas dengan lega, ia sangat khawatir jika Aina mengalami kekerasan dalam rumah tangga, dan ternyata itu hanya pikiran nya saja


"Alhamdulillah kalau nggak seperti yang Fifin pikirkan mbak" Ucap Fifin


"Iya..." Jawab Aina tersenyum, Fahri tidak ikut liburan memang karena banyak kerjaan dan sedang menyiapkan ruang persalinan terbaik di rumah sakit tempat Fifin bekerja


Suaminya, gus Fahri itu tidak sedang ada main dengan wanita lain, melainkan ia sibuk dengan pekerjaan dan rasa khawatir pada istrinya yang menjadi satu, jadi lah mulai dari kemarin kemarin ia sudah mendaftarkan Aina di ruang bersalin rumah sakit dan juga membooking ruang rawat inap VVIP


Ia ingin memberikan fasilitas terbaik untuk sang istri walau hati nya tidak bisa tenang, dan selalu berharap agar saat melahirkan nanti Aina dan putri mereka diberi keselamatan


"Adek... sayang"


Fifin menoleh ke belakang, ternyata Abi sedang mencari diri nya dan sekarang sedang berjalan menuju ke arah nya


"Kenapa mas? Sudah selesai ngaji nya?" Tanya Fifin


"Sengaja saja mas mencari kamu, sampun sayang" Jawab Abi ikut duduk di sebelah


"Ciee.. sayang sayangan" Goda Aina pada pasangan suami istri di sebelahnya itu


Abi malah sengaja memeluk Fifin dengan sangat erat dari samping, sampai sampai bibir istri nya manyun karena pipi yang terlalu menempel


"Mas..." Ucap Fifin agak risih karena masih ada Aina di depan mereka


"Jangan pamer, nanti takabbur loh" Ucap Aina terkekeh, aih... melihat Fifin dan Abi justru membuatnya rindu dengan sang suami

__ADS_1


Takabbur : sombong


"Udah..." Ucap Fifin melepas paksa pelukan Abi sampai ia benar benar bisa menghirup udara dengan bebas, pelukan tadi terlalu erat sampai sesak rasanya


"Udah ya Fin, mbak mau ke dalam dulu.." Ucap Fifin karena matahari yang terik, memang sih meskipun matahari sudau mulai naik tapi udara disitu tetap dingin


"Hati hati mbak" Ucap Fifin yang dibalas acungan jempol oleh Aina


Abi terkekeh "Adek tadi nanya nanya sama kak Aina ya?"


"Iya mas, alhamdulillah ternyata dugaan adek salah" Jawab Fifin sambil mengelus dada nya


"Hmm... makanya jangan suudzon dulu" Ucap Abi mengingatkan


"Ya makanya adek tadi bertanya sama mbak Aina untuk memastikan" Ucap Fifin


"Oh..." Ucap Abi ber oh ria sambil tangan nya tetap merangkul sang istri dan memandangi kolam biru yang nampak segar itu


"Mau berenang?" Tanya Fifin


Abi lantas menoleh lagi pada istri nya lalu mendekat pada telinga yang tertutup hijab itu "Memang mau kalau badan mas tercetak jelas dan dilihat sama pengurus putri disini?" Tanya Abi karena ia hanya mengenakan kaos putih lengan pendek dengan bawahan sarung juga dilengkapi peci


Jika digunakan berenang maka pasti kaos itu akan melekat dan membentuk tubuh nya yang gagah, sedangkan sekarang mereka sedang tinggal dengan pengurus putri. Beda lagi jika liburan hanya berdua maka Abi akan berani melakukan itu


"Ya enggak mau lah enak aja" Ucap Fifin, meski aurat pria hanya dari pusar sampai lutut.. tapi tetap saja ia tidak mau jika ada wanita lain yang melihat tubuh suami nya


"Makanya mas juga tidak mau berenang" Ucap Abi mengecup pipi istri nya sebentar lalu kembali memandang ke arah kolam


"Ih... mas Abi mah, kalau ada yang lihat gimana?" Tanya Fifin agak panik sambil celingukan ke kanan kiri, memastikan tidak ada yang melihat tadi


"Kan hanya cium pipi saja, tidak masalah kan?" Ucap Abi


"Ish... tetap saja adek malu" Ucap Fifin kesal sambil memanyunkan bibir nya


"Kenapa harus malu nak? Tidak apa apa, umi senang melihat kalian berdua romantis seperti ini" Ucap umi


Abi yang melihat tingkah istri nya juga ikut melihat ke atas


"Tidak perlu malu nak, umi senang... tapi untuk Abi harus tahu tempat ya" Ucap umi meski tahu bahwa putra nya pasti akan selalu waspada sebelum mencium sang istri


"Aaa... umi..." Ucap Fifin langsung berekspresi sedih seperti ingin menangis, antara malu juga kesal menjadi satu


Plak! Ia memukul pelan lengan Abi


"Aa... kamu mah" Rengek Fifin yang sudah kepalang malu dan bersembunyi di dada suami nya untuk menghindari tatapan umi


Abi hanya bisa nyengir dengan menatap umi yang ada di balkon atas sambil merangkul istri nya dan mengelus pelan punggung itu


"Hehe... ngapunten umi, tadi hanya mau bercanda saja sama Fifin" Ucap Abi yang sebenarnya juga malu ketika ke gep sama umi


"Iya... lain kali hati hati" Ucap umi terkekeh lalu kembali masuk ke dalam


Abi lalu menggaruk kepala nya yang tidak gatal, ya gimana atuh? Masa iya mau cium pipi istri nya saja harus liat liat ke atas dulu? Lagian ia juga lupa kalau di atas ada balkon untuk melihat pemandangan dan posisi nya juga tepat di atas mereka


"Mas bercanda, tidak tahu kalau ada umi di atas" Ucap Abi


Fifin langsung merubah posisi sepeti semula yakni ia yang duduk di samping Abi, karena umi sudah masuk ke dalam jadi ia tidak perlu bersembunyi lagi


~


Saat siang hari semua orang sudah tidur, tinggal Abi saja dan istri nya yang belum karena mereka memang tidak mengantuk


"Dek" Ucap Abi

__ADS_1


"Iya? kenapa?" Tanya Fifin yang sedang rebahan dan membalas chat dari teman teman nya


"Temenin mas yuk" Ajak Abi


"Kemana?" Tanya Fifin


"Main PS" Jawab Abi ketika melihat bahwa di kamar mereka ada PS nganggur


"Enggak ah, adek nggak suka nge game" Ucap Fifin karena handphone nya saja tidak ada aplikasi game satu pun


"Ya sudah, temenin duduk disini aja" Ucap Abi menepuk bagian kasur tepat di depan nya


Alis Fifin terangkat, ia nampak bingung tapi juga menurut pada sang suami, perlahan Fifin duduk membelakangi suami nya yang juga duduk bersila


"Temenin darimana ini?" Tanya Fifin


Abi tidak menjawab tapi menyuruh kaki istri nya untuk selonjoran saja lalu menarik pelan bahu sang istri sampai kepala itu bersandar di dada nya


Fifin terbelalak, temenin seperti ini yang dimaksud? Jadi Abi duduk bersila dengan tubuh yang bersandar di kepala ranjang, lalu Fifin yang rebahan membelakangi suami dengan kepala nya berada di dada sang suami


"Wangi banget rambut adek" Ucap Abi mulai memegang satu stick PS dengan di tengah tengah tangan nya ada Fifin


"Iya kan habis mandi" Jawab Fifin yang mana ia sedang mengatur nafas dan berusaha biasa saja dengan posisi seperti ini, toh mereka kalau tidur juga sering berpelukan satu sama lain


"Rileks saja.. mas tidak akan menyentuh kamu dengan jauh tanpa seizin kamu" Ucap Abi ketika merasakan badan istri nya kaku


"Iya..." Ucap Fifin pasrah saja dan mulai membiasakan diri dengan posisi itu, ia juga mengalihkan pandangan untuk kembali ke handphone nya dan menscroll video toktok


~


"Umi... abah, Abi mau izin keluar sama Fifin njih" Pamit Abi saat semua orang sudah berkumpul di villa 1 untuk makan malam


"Tidak makan dulu nak?" Tanya umi


"Mboten umi, nanti Abi akan makan sama Fifin disana" Jawab Abi


"Ya sudah... keluar saja mumpung masih disini, sayang kalau tidak pergi berdua" Ucap Abah tersenyum


"Cie... kencan" Ucap Aina heboh


"CIEEE GUS ABI CIE" Ucap seluruh pengurus putra dan putri serta santri putra disitu sambil tertawa


Aih... lagi lagi bukan Abi yang malu, melainkan Fifin. Ia memandang ke arah lain untuk menghindari tatapan semua orang


"Ya sudah umi abah... Abi keluar dulu njih"


"Iya nak, hati hati" Ucap umi dan abah


Abi dan Fifin membungkukkan setengah badan ketika melewati orang orang, itu adalah adab. Tidak memandang tua atau muda tapi itu bagus untuk dilakukan dan biar santri yang melihat juga bisa mencontoh


"Kita mau kemana sih mas?" Tanya Fifin saat ia dan Abi keluar dari villa tidak menggunakan mobil, melainkan jalan kaki dengan bergandengan berdua


"Ikut saja, dan semoga adek suka" Jawab Abi enggan memberi tahu karena ini adalah kejutan yang sudah lama ia rencanakan


"Ish... yaudah iya" Ucap Fifin menuruti kemanapun sang suami melangkahkan kaki nya


Tak lama Fifin merasa bahwa ia seperti mau di bawa ke arah hutan, tapi bukan hutan karena mereka melewati jalan berlampu hingga terowongan cantik




"Mas" Ucap Fifin mengganggap erat lengan sang suami

__ADS_1


"Tidak apa apa, cantik kan jalanan nya?" Tanya Abi sambil terus berjalan


"Iya, cantik" Jawab Fifin menganggukkan kepala walau sebenarnya ia tidak tahu mau dibawa Abi kemana, kalau dari jalan yang mereka lewati sih harusnya berujung ke tempat yang bagus.


__ADS_2