
Setelah sholat isya' Fifin meminta tolong pada suami nya untuk membantu agar ia bisa turun ke bawah, karena Lia akan berkunjung dan ia tahu bahwa Abi tidak suka ketika kamarnya dimasuki oleh orang lain
"Beneran tidak apa apa?" Tanya Abi sambil memegang erat lengan istri nya
"Enggak papa beneran" Ucap Fifin ketika merasa tubuh nya memang lemas tapi tidak selemas tadi
"Ya sudah, pelan pelan aja jalan nya" Ucap Abi yang lalu menuntun istrinya berjalan keluar kamar dan turun ke bawah
Saat selesai turun tangga, umi dan abah yang duduk di ruang keluarga pun langsung menengok ke arah menantu mereka
"Fin.. sudah baikan nak? Atau mau ke dokter aja?" Tanya abah
"Alhamdulillah, fifin sampun mendingan abah" Jawab Fifin tersenyum
"Kenapa turun nak? Tidak istirahat saja di atas?" Tanya umi yang ikut berdiri dan memegangi lengan menantu nya
"Mau ada teman Fifin kesini umi, tidak enak kalau dia nanti naik ke atas" Jawab Fifin sambil mengedipkan sebelah mata nya
Umi paham dengan kode tersebut karena putra nya yang tidak suka jika kamar mereka dimasuki oleh orang lain, jadi lah Fifin memilih untuk turun ke bawah daripada membuat suaminya tidak nyaman
"Abi katanya mau mengajar anak anak ngaji kitab?" Tanya umi pada putra nya
"Njih umi.. ini mengantar Fifin ke bawah dulu baru mengajar" Jawab Abizar
"Abi mengajar saja, biar umi sama abah yang menemani nak Fifin" Ucap Abah menyahuti
"Njih bah..." Ucap Abi mengusap sebentar kepala istri nya yant tertutup hijab itu, lalu langsung keluar menuju pintu samping seperti biasa
"Umi antar ke kamar tamu saja gimana? Nanti biar teman kamu bicara di kamar tamu saja" Ucap umi yang tidak mau jika menantu nya harus duduk di ruang tamu
"Boleh umi" Ucap Fifin
Umi mengantar Fifin ke kamar tamu yang dekat dengan ruang keluarga, lalu keluar dan duduk kembali bersama abah
"Umi tidak kembali ke kamar?" Tanya abah karena ia juga akan ke pondok untuk memantau kelas mengaji anak anak santri
"Tidak bah, umi disini saja... biar nanti kalau teman nya Fifin datang, umi bisa mengantar nya ke kamar tamu" Jawab umi
"Ya sudah.. abah ke anak anak dulu" Ucap Abah pergi seperti Abizar tadi
Umi menunggu Lia datang sambil murajaah hafalan agar tidak mudah lupa dengan ayat suci al qur'an yang sudah ia hafalkan
15 menit kemudian, umi menyudahi murajaah karena dari pintu samping ada mas Eko yang mengetuk ngetuk memanggil nama umi
__ADS_1
"Assalamualaikum.. umi"
Ceklek
"Waalaikumsalam, iya kenapa mas Eko?" Tanya umi
"Ngapunten kalau menganggu umi, tapi di depan ada teman nya ning Fifin.. nama nya Lia umi" Ucap mas Eko yang hari ini menjaga pos sendirian
"Oh.. ya sudah, kamu buka saja gerbang nya.. biar umi temuin di teras depan"
"Njih umi" Ucap mas Eko patuh dan melaksanakan semua yang umi Rida ucapkan
Umi kemudian melangkah dan membuka pintu utama rumah di bagian depan, terlihat Lia yang baru turun setelah memarkirkan mobil nya di teras
"Assalamualaikum.." Ucap Lia tersenyum sambil mencium tangan umi Rida
"Waalaikumsalam... Lia ya?" Tanya umi
"Njih umi.." Jawab Lia membenarkan
"Nak Fifin ada di dalam karena masih demam, ayuk masuk... biar umi antar" Ucap umi Rida
Lia mengangguk, ia dengan segera melepas sepatu yang dipakai dan masuk ke dalam rumah abah dan umi yang baru kali ini ia masuki
Cukup kagum sih, karena interior kebanyakan warna hijau... warna yang menggambarkan surga dan termasuk warna kesukaan abah
"Fin.. ini teman kamu sudah datang nak"
"Njih umi.. langsung masuk saja" Jawab Fifin dari dalam
"Nah... Fifin ada disini, kamu masuk saja" Ucap umi
"Njih umi.. terimakasih banyak" Ucap Lia lalu membuka pintu kamar tamu saat umi sudah berlalu dari hadapan nya
Ceklek!
Terlihat Fifin sedang berbaring di kamar tamu yang super duper bersih dan cukup luas ini
"Assalamualaikum.. heyy, masih sakit?" Tanya Lia mendekat dan duduk di sebelah Fifin
"Waalaikumsalam.. iya, tapi alhamdulillah demam nya sudah turun tadi" Jawab Fifin
"Ulu.. sayangku, cepat sembuh ya" Ucap Lia sambil mengelus pelan kepala Fifin
__ADS_1
"Iya.. terimakasih"
Lia kemudian memberikan totebag yang berisi teh kesukaan Fifin, camilan sehat seperti buah kering dan kacang kacangan.. lebih ke camilan rendah kalori sih karena Lia membawakan granula juga
"Beh.. nyuruh aku diet ini ceritanya" Ucap Fifin
"Ya kalau sakit mah makan makanan yang sehat, jangan gorengan seblak dan lain lain mulu" Ucap Lia mencebikkan bibir nya
Fifin juga membalas dengan memanyunkan bibir nya, dia hanya bercanda ya ges.. suka kok dengan apapun yang Lia bawakan untuk nya
"Eh Lia.. kamu serius gak sama mas - eh.. kang Wawan maksud ku" Ucap Fifin menepuk pelan bibir nya sendiri karena salah panggilan
"Serius, dia rius malah..." Jawab Lia yang terlihat yakin dengan keputusan nya
"Bener nih? Ibu sama bapak mu udah tahu belum?" Tanya Fifin
"Ya belum lah, kan nanti kalau beneran jadi juga dia yang harus melamar aku duluan" Jawab Lia, masa iya bilang ke ortu dulu? Nanti kalau NT alias nice try gimana dong? Kan malu
"Oh.. tapi kamu sudah siap menikah kan? Baik secara lahir dan batin loh ya" Ucap Fifin
"Insya Allah siap, aku capek kalau harus pacaran dan ending nya juga gagal mulu" Jawab Lia
"Berarti sudah siap ya kalau memang jadi ta'aruf?" Tanya Fifin memastikan lagi karena keputusan untuk menikah itu harus di ambil dengan matang
"Inggih ning Fifin, siap di khitbah malah" Ucap Lia dengan sedikit menggoda teman nya
"Aku sudah bilang sama mas Abi, katanya nanti di rundingkan dulu sama abah soal enaknya bagaimana dan biar abah yang menyampaikan ke kang Wawan" Ucap Fifin
"Kenapa tidak langsung ke mas Wawan saja?" Tanya Lia
"Tidak enak saja, karena selaku orang tua dan yang bertanggung jawab atas kang Wawan selama disini kan abah dan umi... setidaknya mereka harus tahu dulu" Jawab Fifin
"O-oh.. oke" Ucap Lia agak terkekeh, karena ya ternyata proses ta'aruf juga cukup banyak dan sulit untuk dilalui
"Tenang aja... kalau memang berjodoh juga pasti akan dipersatukan" Ucap Fifin sambil mengelus pelan lengan Lia yang tampak tegang
"Kayak kamu sama gus Abi ya... tidak pernah kenal dekat satu sama lain, ketemu pun di rumah sakit dan tidak pernah saling memandang juga, tapi ternyata kalian tiba tiba berjodoh dan menikah" Ucap Lia
"Namanya takdir Allah tidak ada yang tahu, memang hakikat nya itu berjodoh lalu bertemu... bukan bertemu lalu berjodoh" Ucap Fifin sesuai dengan apa yang Abi ajarkan padanya
"Cielah... sahabat ku udah pinter nih?" Goda Lia sambil menaik turunkan alisnya
"Ya mas Abi yang ngajarin" Jawab Fifin sambil nyengir karena ia saja tidak tahu banyak soal ilmu agama yang lebih dalam, hanya saja ada sang suami yang siap siaga untuk menjelaskan sedetail detail nya
__ADS_1
"Enak ya di ajarin suami sendiri" Ucap Lia karena ia berharap bisa seperti Fifin juga
"Ya... gimana ya" Ucap Fifin menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal, Lia mah bilang pengen karena belum pernah belajar sama suami saja.. padahal pernah juga Abi membawa tongkat sebagai ancaman jika Fifin tidak mau belajar. Tapi hanya untuk menakuti saja dan tidak pernah digunakan untuk menyakiti istri nya