
Setelah makan siang, Abizar mengajak Fifin untuk keliling taman rumah sakit sebentar mumpung cuaca sedang tidak mendung dan sejuk
Karena sepertinya tidak baik kalau hanya istirahat di kamar terus, dokter pun menyarankan agar jalan jalan sebentar menghirup udara segar untuk menenangkan pasien
Saat melihat ada kursi panjang, Abi duduk disitu dan kursi roda Fifin tadi ia hadap kan kepada nya
“Masih sakit ya?” Tanya Abizar sambil membelai kepala sang istri yang tertutup hijab
Fifin menggeleng “Lebih sakit apa yang putra adek rasakan” Jawab nya
Abizar menghela nafas “Insya Allah akan segera membaik, adek juga harus semangat berobat, biar bisa beraktivitas lagi, ya?”
Fifin mengangguk angguk, pandangan nya fokus tertuju pada pepohonan rindang di taman rumah sakit, sudah berapa lama ia disini tapi baru kali ini bisa merasakan jadi pasien
“Oh iya mas” Ragu ragu rasanya saat Fifin ingin berbicara
“Kenapa? Hmm?” Tanya Abi
“Adek minta maaf ya? Gara gara adek, putri kita meninggal, dan mobil mas juga sampai ringsek begitu” Ucap Fifin yang seketika suasana nya kembali mellow lagi, ia belum benar benar ikhlas dan rasanya masih sesak ketika mengingat hal itu
“Sudah… jangan di bahas lagi ya? Mas tidak mempersalahkan hal itu, karena ini musibah yang mana kita tidak tahu kapan datang nya” Ucap Abizar, ia sendiri juga masih berusaha ikhlas soal kehilangan putri nya, tapi dia juga tidak mau kalau sampai Fifin terus menerus menyalahkan dirinya sendiri
Alhamdulillah nya saat Fifin sedang sedih begini, ada suami yang selalu mendukung nya, memberi ia semangat dan support juga hiburan dari sahabat nya juga
“Assalamualaikum, alhamdulillah… dah bisa bangun?” Ucap Lia yang baru saja datang karena jam shift kerja nya
“Wa’alaikumsalam… iya alhamdulillah” Jawab Fifin tersenyum, Lia itu termasuk mood booster bagi nya
“Gak mau bilang apa apa ataupun nyuruh kamu sabar, intinya semangat buat sembuh karena masih ada masa depan yang cerah dan harus kamu lihat nanti” Ucap Lia
“Iya, Insya Allah habis ini sembuh kok. Eh btw mana kang Wawan?” Tanya Fifin balik karena setelah menikah tuh Lia lebih sering di antar sama mas Wawan
“Ke kantor polisi katanya” Jawab Lia
“Oh iya? Ada apa memangnya?” Tanya Fifin bingung
“Enggak tahu sih cuman tadi pergi sama mas Eko, ada urusan penting katanya” Jawab Lia
Fifin hanya mengangguk angguk saja tanpa menyadari kalau mas mas pengurus ke kantor polisi itu untuk menyerahkan bukti kamera CCTV pondok terkait kejadian sebelum kecelakaan
“Dek, mas angkat telfon sebentar ya?” Ucap Abi izin menjauh sebentar dan menitipkan istri nya pada Lia
“Kenapa sih telfon harus jauh jauh gitu?” Tanya Fifin heran
“Urusan kerjaan mungkin, udahlah gak papa… nanti aja pas selesai telfon baru ditanya” Ucap Lia
__ADS_1
Fifin seketika cemberut, toh dia kalau menerima telfon juga tidak sampai jauh jauh an seperti ini
“We we we” Panggil Lia agak heboh
“Apa?” Tanya Fifin
“Tuh tuh” Jawab Lia dengan dagu yang menunjuk pada salah seorang pasien yang sepertinya habis kontrol
Melihat yang di tunjuk Lia tadi, Fifin seketika ingat kalau sebelum kecelakaan terjadi memang ada mobil yang mengikuti nya dari belakang dan wajah gadis itu sebagai pengemudi nya
“Dia kayaknya yang ngikutin aku dari belakang sebelum kecelakaan” Ucap Fifin yang mengagetkan Lia
“Serius?” Tanya Lia dan Fifin mengangguk
“Wah… gak bisa dibiarin tuh orang” Ucap Lia ingin ngajak gelud tapi Fifin mencegah nya, bukan apa apa sih cuman sia sia aja rasanya kalau menghampiri duluan, toh ternyata gadis itu dulu yang mendekat pada mereka
Tap tap tap!
Mata Lia melotot saat melihat gadis itu malah menghampiri Abizar duluan, sedangkan Fifin seperti sudah kebal dengan cara ini
“Assalamualaikum… turut berduka ya? Semoga kamu tabah dan surga tempat putri mu” Ucap nya
Abi sudah tidak kaget lagi kalau ada Nisa disini, karena gadis itu sedang menderita penyakit jantung jadi jelas butuh pengobatan medis
Bahkan akun media sosial pondok pun sudah membuat pengumuman dan mengabarkan bahwa putri Abizar dan Fifin meninggal dunia, pun mereka juga mengharapkan do’a dari para jamaah diluar sana, jadi ia juga tidak curiga sama sekali soal Nisa ini tau berita dari mana
Mata Fifin memerah saat Nisa mulai mendekati nya, dan ketika wajah orang yang ia benci sudah ada di depan mata
“Saya turut ber-
Plak!
“PERGI!!!” Fifin dengan sekuat tenaga tadi sampai menampar pipi Nisa hingga kemerahan
“Astaghfirullah…” Ucap Abizar refleks karena kaget dan langsung mencegah Fifin saat istri nya ingin menjambak hijab perempuan itu
“Nah… ini baru bestie ku, ngapain sabar sabar? Tampol aja udah” Ucap Lia yang agak lain tapi lumayan bener😭
“Memang salah ya saya mau mengucapkan belasungkawa?” Tanya Nisa dengan memegang pipi nya yang sedikit perih
“PERGI!! Saya bilang PERGI KAMU DARI SINI, PERGI!!!!” Teriak Fifin dengan air mata nya yang mulai keluar lagi
“Sayang, kenapa? Ada apa? Adek tenang dulu ya… tenang dulu, bicara baik baik” Ucap Abizar memeluk istri nya
Tapi semakin di tenangkan malah Fifin makin ngereog, ia sampai menangis kencang dan berteriak sekuat tenaga supaya Nisa pergi dari hadapan nya
__ADS_1
“Istighfar sayang” Abizar sendiri sampai kesusahan agar istri nya bisa tenang
“PERGI! Dasar pembunuh” Ucap Fifin lagi
Lia yang melihat hal itu juga makin kasihan, sebelum Nisa yang pura pura menangis seolah tersakiti, ia lebih dulu menyeret gadis itu ke arah satpam dan menyuruhnya pergi dari sini
“Pergi aja, tunggu kejutan dari kami” Ucap Lia
Satpam juga tentu saja lebih percaya dengan Lia setelah ada penjelasan tadi dan memohon pada Nisa agar tidak membuat kekacauan lagi
Saat Lia kembali ternyata Fifin masih menangis histeris, bahkan badan nya sampai tiba tiba menggigil walau tadi sudah mendingan
“Gus, bawa ke kamar saja dan langsung panggil dokter” Baru saja Lia berucap tapi ternyata Fifin sudah pingsan duluan dengan badan dan wajah nya yang penuh keringat dingin
“Ya Allah sayang” Ucap Abizar langsung panik lagi dan dengan segera membawa Fifin ke ruang rawat
Saat di periksa oleh dokter, ternyata Fifin sedang mengalami syok dan rasa takut yang berlebihan sampai membuat nya pingsan
“Saya tidak tahu kecelakaan seperti apa kronologi nya sampai Fifin ketakutan ketika melihat seseorang” Ucap dokter Wina yang juga sangat prihatin dengan asisten nya ini
Abizar cukup lega karena istri nya pingsan disebabkan oleh syok, bukan karena luka nya yang makin memburuk
“Memang Fifin bertemu siapa nak?” Tanya umi, sedangkan bu Risma lagi lagi menangis sambil memandangi wajah putri nya
“Nisa umi” Jawab Abizar dengan lemah, ia tidak tahu masalah apa yang diperbuat oleh gadis itu sampai Fifin benar benar membenci nya
“Masalah apa lagi yang diperbuat sama Nisa?” Tanya umi ikut frustrasi karena tidak ada habis habis nya perempuan itu menganggu rumah tangga anak mereka
“Katanya Fifin, Nisa itu sempat mengikuti mobil nya dari belakang sampai kecelakaan terjadi”
“Astaghfirullahaladzim…” Ucap umi dan bu Risma yang kaget, apalagi Abizar, ia sendiri baru tahu karena belum kepikiran untuk mengecek kronologi kecelakaan, ia pikir ini hanya musibah tanpa campur tangan atau rencana jahat manusia
“Sepertinya mas Wawan sama mas Eko ke kantor polisi memang ada hubungan nya dengan ini, umi” Ucap Lia
Sedangkan wajah abah pun sudah merah padam dan menunjukkan kalau beliau benar benar sudah marah dengan keadaan ini, langsung saja abah menelfon mas Eko dan menyuruh nya untuk ke rumah sakit untuk menjelaskan semuanya
“Yang tenang War…” Ucap pak Yahya, walau dia marah tapi ia juga harus bisa mengontrol emosi
“Astaghfirullahaladzim Ya… aku sendiri tidak bisa tenang kalau memang begini ceritanya” Ucap Abah Anwar yang sedang membendung semua emosi nya
“Insya Allah akan segera membaik dan ada jalan keluar” Ucap pak Yahya yang juga berusaha tabah dan sabar
Abizar yang awalnya bengong karena kaget juga langsung menelfon gus Fahri, kemarin suami dari Aina itu sempat meminta izin untuk mengambil rekaman CCTV pondok sedangkan ia buru buru jadi hanya meng iyakan saja, ia juga menelfon Bima untuk meminta penjelasan soal kasus kecelakaan yang di alami istrinya kemarin.
•
__ADS_1