
Fifin yang tangis nya sudah mereda kemudian duduk di bawah dengan meletakkan kepalanya di paha umi yang tertutup gamis
"Kenapa nak? Ada apa?" Tanya umi dengan selalu mengelus kepala menantu nya
Awalnya Fifin masih diam karena bingung mau cerita darimana, tapi kemudian "Umi..."
"Iya sayang?" Ucap umi menatap menantu nya dan seolah mendengar penjelasan dari bibir itu
"Umi pernah mengira tidak kalau punya menantu seperti Fifin?"
Umi Rida mengerutkan alis seraya tersenyum "Memang umi tidak pernah membayangkan nak, karena jodoh itu rahasia Allah"
"Lalu umi... apa Fifin pantas berada disini? Berada di keluarga umi?"
"Loh... kok anak umi nanya seperti itu? Kenapa tiba tiba begini?" Tanya umi heran dan penasaran soal apa yang terjadi pada menantu nya
"Ya... Fifin merasa saja kalau kurang pantas berada disini, mengingat masa lalu mas Abi yang lebih baik dari Fifin" Ucap nya dengan ekspresi yang tetap murung
"Masa lalu? Nisa maksud kamu nak?" Tanya umi dan Fifin mengangguk perlahan membenarkan
"Kenapa loh kok tiba tiba nanya soal Nisa? Tahu dari mana? Nak Abi yang cerita?" Tanya umi
"Mboten umi... awal nya memang Nisa mengirim pesan aneh dan Fifin juga tidak terlalu mempedulikan nya, tapi tadi tidak sengaja habis ketemu sama Nisa umi" Ucap Fifin menceritakan dengan perlahan
"Lalu? Dia bilang apa sama kamu?" Tanya umi meski dia sendiri pun agak kaget mendengar Nisa yang berani menghampiri anak menantu nya
"Ya... katanya masih cinta dan suka lah sama mas Abi, kesal karena tiba tiba mas Abi menikah tanpa memberi tahu dia dulu, juga bilang kalau kami menikah hanya karena perjodohan saja umi" Jawab Fifin lebih memilih cerita karena sekarang hati nya butuh pencerahan, tidak mungkin kalau cerita ke Lia kan? Yang ada Lia akan bar bar dalam memberi saran
Umi menghela nafas sambil memegang pipi Fifin seraya berucap "Dia memang orang yang sempat Abi sukai.. dan itupun dulu empat tahun yang lalu, hubungan mereka juga hanya pertemanan karena Abah tidak setuju jika Nisa menjadi menantu kami"
"Memangnya kenapa dengan Nisa umi?" Tanya Fifin karena Nisa itu sempurna kan? Udah hafidzo dan menempuh pendidikan agam islam juga
"Ya seperti yang kamu lihat nak, abah itu sangat mengutamakan adab daripada ilmu yang ia punya" Jawab umi
Singkat cerita, Abi dulu bercerita pada umi soal perasaan nya pada Nisa.. sedangkan umi langsung menyampaikan kepada suami nya alias abah
Tapi abah yang mendengar ucapan istri nya itu langsung menolak dengan baik, dalam artian ia tidak setuju jika Abi berniat serius dengan Nisa, walau abah belum tahu kelakuan Nisa saat itu... tapi entahlah karena dari dalam hati nya memang seolah bilang enggan jika putra nya menikah dengan Nisa
"Lalu umi... Fifin merasa rendah diri sekarang dan tidak pantas disini" Ucap Fifin menunduk ke bawah lagi
"Eh... anak umi tidak boleh seperti itu dong, kamu dan nak Abi memang sudah di takdirkan Allah untuk bersatu, jadi jangan merasa rendah diri ya nak... umi tidak suka kalau kamu seperti ini, umi suka Fifin yang baik dan semangat belajar sama Abi" Ucap umi mencegah agar menantu nya tidak lagi merendahkan diri sendiri
Note : rendah hati memang boleh, tapi jangan sampai rendah diri
"Lalu Fifin harus bagaimana umi? Fifin insecure soal ilmu dan juga takut kalau mas Abi kembali pada masa lalu nya" Ucap Fifin meminta saran soal apa yang harus dia lakukan sekarang
"Kalau Fifin merasa insecure soal ilmu ya nak Fifin bisa belajar memperbaiki apa yang dirasa kurang, masih ada kesempatan nak..." Ucap umi
"Lalu soal masa lalu Abi, anggap dia angin yang lewat dan buktikan kalau cinta kalian itu sangat nyata, insya Allah Abi juga tahu kalau nak Fifin jauh lebih baik dari Nisa" Lanjut nya
Fifin mengangguk "Tapi Fifin beneran masih sangat takut kalau mas Abi akan kembali sama dia umi"
"Berdo'a yang banyak sama Allah ya sayang, umi sangat yakin dan percaya kalau nak Abi tidak akan berbuat seperti itu... tenangkan hati kamu" Ucap umi berusaha menghilangkan gundah di hati menantu nya
"Njih umi" Ucap Fifin menganggukkan kepala nya
__ADS_1
"Ya sudah... ayo sekarang nak Fifin istirahat dulu, biar kepala nya fresh lagi dan hati nya juga tenang" Ucap umi membantu Fifin berdiri dan merebahkan nya di atas ranjang
Umi Rida juga menyelimuti Fifin sampai batas perut, di berikan juga tasbih kecil dalam genggaman menantu nya
"Coba dzikir yang banyak ya sayang, Fifin anak baik... insya Allah nanti hasil nya juga baik" Ucap umi tersenyum seraya mengusap sedikit air mata yang masih keluar di ujung mata itu
Fifin mengangguk dan terus menerus tersenyum sampai umi keluar dari kamar, ia juga menurut dan mulai memencet tasbih tadi dengan bacaan dzikir agar hati nya kembali tenang
~
Umi yang turun ke bawah melihat bahwa Abi masih asyik memandangi cucu nya, melihat hal itu... umi menghampiri putra nya dan mengajak bicara sebentar
"Abi... bicara sama umi dulu yuk sebentar" Ajak umi
Abi heran, tapi ia juga selalu patuh pada umi "Njih umi"
Fahri yang menggendong putri nya pun kembali masuk ke kamar Aina saat Abi sudah pergi dengan umi menuju kamar abah
"Kenapa umi?" Tanya abah yang sedang membaca kitab di kamar namun tiba tiba istri dan putra nya masuk
"Kita bicara sebentar njih abah, penting soalnya" Ucap umi
Abah mengangguk dan menutup kitab itu, sekarang ia duduk di pinggiran ranjang dengan umi.. sedangkan Abi memilih duduk di bawah
"Ada apa umi?" Tanya Abi penasaran
"Benar kamu bertemu sama Nisa waktu pergi jalan jalan tadi?" Tanya umi
Abah kaget bukan main saat mendengar nama Nisa, gadis yang bahkan sudah tidak pernah ia lihat selama 4 tahun itu kini muncul kembali
"Nak Fifin tidak berniat cerita sama umi, tapi umi yang memaksa jadi jangan marahi dia"
"Njih umi"
"Bagaimana bisa kalian bertemu lagi nak? Kasian menantu umi sampai menangis gara gara kamu" Ucap umi, sebagai seorang wanita dan pembela menantu maka tentu saja ia lebih mengerti perasaan Fifin
"Sungguh Abi juga tidak tahu kenapa dia bisa ada disini umi" Ucap Abizar bersungguh sungguh
"Itu baju nya Fifin juga kenapa tadi banyak bekas kopi nya?" Tanya umi karena tadi Fifin sempat menghampiri nya ke dapur saat baru pulang dan umi bisa melihat jelas noda itu
"Waktu Fifin minum, Nisa sengaja memukul gelas kopi dan tumpah di baju Fifin umi" Jawab Abi seadanya dan benar benar real
"Ya Allah..." Umi menghela nafas panjang karena tidak habis pikir dengan gadis bernama Nisa itu, bisa bisanya nekat dan menyakiti menantu nya secara fisik seperti itu
"Abi, abah sejujurnya sangat marah sekali dengan kejadian ini... dan kalau pak Yahya tahu kalau putri nya disakiti, abah tidak tahu harus bilang apa"
"Ingat Abi... Fifin di rawat dan diberi kasih sayang dirumah orang tuanya, sekarang ketika kamu membawa kesini maka kamu harus meneruskan itu semua"
"Njih abah" Ucap Abi hanya bisa menunduk dan meng iyakan
Abah meraih pundak putra nya agar berdiri dan menatap diri nya "Mulai sekarang tegaskan diri kamu, tegaskan! Jangan pernah goyah dengan masa lalu karena kamu sudah punya masa depan sendiri, abah tidak mau kamu menyakiti hati seorang istri nak... Abah mohon kamu harus ambil tindakan untuk masalah ini" Ucap abah karena Nisa adalah orang yang sangat nekat
"Njih abah, Abi akan mengurus masalah ini" Ucap Abi mengangguk dan sepenuhnya yakin dengan diri nya sendiri
"Pokok nya umi tidak mau tahu, sekali lagi dia bikin menantu umi nangis.. maka dia bakal habis sama umi" Ucap umi yang ikut emosi
__ADS_1
~
Ceklek!
Setelah mendengar beberapa saran dari orang taunya tadi, Abizar naik ke kamar dan melihat istri nya sedang memejamkan mata dengan tasbih yang tetap memutar
Perlahan... Abi ikut naik ke atas ranjang dengan hati hati agar tidak menunjukkan suara dan tidak mengganggu istri nya
Setelah beberapa saat, ia kini sudah berbaring miring dengan menatap wajah sang istri yang kelihatan sembab itu "Sayang... mas minta maaf sama kamu ya, belum bisa membahagiakan kamu dan malah sekarang mas menyakiti kamu" Ucap Abi sangat lirih dan itu benar benar dari dalam hati nya
Walau kedatangan Nisa disini bukan salahnya sih, tapi dia juga ikut merasa bersalah.. mungkin andai ia dulu tidak pernah suka dengan Nisa, maka tidak akan pernah ada kejadian seperti ini. Tapi balik lagi... hanya takdir yang menjadi pemenang dari semuanya
"Mas benar benar sayang dan cinta sekali sama kamu" Ucap Abi tersenyum
Detik kemudian Fifin membuka mata, ia sebenarnya tidak tidur dan sepenuhnya sadar dari tadi
"Sesayang dan secinta apa mas sama adek?" Tanya Fifin
Abi kaget, namun ia juga berusaha menjawab pertanyaan dari istri nya
"Tidak terukur, mas sangat mencintai dan menyayangi kamu... bahkan tidak sedikitpun terbesit untuk goyah dengan masa lalu, tidak pernah" Ucap Abi sambil mendekat dan mengecup dahi Fifin
"Kalau memang mas sayang dan cinta sama adek, buktikan" Ucap Fifin
"Buktikan? Adek mau bukti seperti apa?" Tanya Abi
Fifin tidak menjawab, ia malah merubah posisi tidur menjadi telentang dan menarik kerah baju Abi sampai sang suami itu berada di atas nya
"Ayo" Ucap Fifin
Abi kaget bukan main saat Fifin sangat berani padanya, apa ini efek emosi dan cemburu? Entahlah... yang pasti ada kata kata yang pernah ia ucapkan pada Fifin. Yaitu... ia hanya ingin berhubungan badan ketika mereka berdua benar benar sudah saling cinta dan menyayangi satu sama lain
"Yakin?" Tanya Abi sedangkan Fifin langsung menganggukkan kepala nya
"Oke" Jawab Abi dimana tangan nya mulai bergerak untuk melepas kancing baju nya satu persatu.
°
Mohon perhatian, tolong dong untuk readers yang baca karya saya.. Bilang bagus tapi kamu rate jelek sampai rating novel saya juga turun
Kalau ada kekurangan dari saya, lebih baik LANGSUNG DM IG SAYA @manusiafiksi2 , pasti saya balas.. Daripada kamu langsung menilai padahal belum baca seluruh chapter nya
Kenapa saya marah? Jelas marah dong, nulis satu chapter itu butuh waktu beberapa jam, saya masih dalam kondisi sakit pun maksain buat nulis lanjutan cerita ini
Jangan ngejatuhin novel orang dan bikin author itu down, kamu gak tahu seberapa besar hal yang mereka korbankan demi nulis novel disini
Mau tau pendapatan novel ini? Oke bisa lihat ya
Pendapatan perhari novel receh ini, dan masih berniat kamu turunkan rating nya? Itu perak ya, bukan ribu.. Kalau kamu merasa pendapatan ini setara dengan nulis beberapa jam sehari, yaudah ayo nulis bareng saya biar sama sama tahu rasanya jadi author recehan yang dikasih rating rendah.
__ADS_1
Kali ini agak emosi☹️ dan mohon jangan rate seenaknya, karena rate berpengaruh pada level karya.