Perjalanan Cinta Abizar

Perjalanan Cinta Abizar
64. Niat menghafal


__ADS_3

"Kenapa kok tegang gitu?" Tanya Fifin menahan tawa saat melihat suami nya yang ngos ngos an seperti habis marathon saja


"Ya... tadi adalah ditanyain umi kenapa gak turun pas makan siang" Jawab Abi sambil melangkah untuk duduk di pinggir ranjang lalu meletakkan nampan disitu


"Ih kalau adek yang ditanyain pasti malu banget" Ucap Fifin merinding dan tidak bisa membayangkan


"Haha, ya makanya tadi mas nyuruh adek disini saja" Ucap Abi terkekeh


Mereka memulai makan siang yang sempat tertunda tadi dengan senyap, karena rasa lapar yang sudah meronta ronta itu tidak bisa di tunda lagi


"Mau adek suapin?" Tanya Fifin di sela sela kegiatan makan mereka berdua


"Boleh" Jawab Abi mau meski lauk mereka sama tapi jika dimakan dari tangan yang berbeda maka akan berbeda pula kan rasa nya?


"Aaa" Ucap Fifin dengan tangan nya yang memegang sendok dan menyuapi sang suami


Abi mengunyah makanan nya dengan senyum yang mengembang, beneran deh... disuapin Fifin tuh rasanya kayak ada manis manisnya gitu, mau nyobain? Eitss tidak bisa wkwk, karena Fifin hanya akan menyuapi Abi saja


"Mau disuapin balik?" Tanya Abi


Fifin menggeleng karena dia sudah kenyang dan makanan di piring nya sendiri pun juga sudah habis


"Itu nasi nya" Ucap Abi dengan menunjuk butiran nasi yang berada di sekitar bibir istri nya


"Comot? Dimana?" Tanya Fifin sambil meraba raba bibir nya sendiri


Karena tak kunjung ketemu, Abi yang gemas pun langsung meletakkan piring nya dan mencium bibir sang istri


Fifin kaget, apalagi saat Abi menjilat dan mengambil butiran nasi di ujung bibir itu dengan mulut nya


"Sudah" Ucap Abi setelah menelan nasi tadi


"Ih, mas kok bisa nggak jijik sama adek?" Tanya Fifin heran sambil menutup mulut nya sendiri dengan kedua tangan


"Kan sudah mas nikmatin semuanya dari ujung kepala sampai kaki, emang ada alasan untuk jijik?" Jawab Abi agak frontal ya gess ya, mentang mentang udah gak ada sungkan lagi sama istri nya


"Astaghfirullahaladzim... kenapa jadi aneh banget suami aku ini?" Ucap Fifin heran saat melihat sisi Abi yang baru, yaitu laki laki yang sekarang lebih bersikap juga berucap apa adanya tanpa ada rasa canggung lagi


"Mas tidak sepolos itu sayang, mau lagi?" Goda Abi menaik turunkan alisnya sambil tersenyum jahil tentu nya


Fifin refleks langsung merapatkan kedua paha nya, enak aja... rasa perih yang dirasa saja belum hilang dan sekarang malah nawarin lagi


"Hahaha, bercanda" Ucap Abi tertawa ngakak saat melihat reaksi istri nya


Fifin memanyunkan bibir nya karena sang suami yang terus terusan memberi godaan padanya dari tadi


"Habis ini adek mau ngapain?" Tanya Abi mengingat mereka pulang itu masih besok pagi


"Itu nge cek keadaan nya mbak Aina dulu, sama main bareng anak anak diluar" Jawab Fifin, masa iya hari terkahir disini dan dia hanya berdiam diri saja? Tidak mungkin kan

__ADS_1


"Sudah bisa jalan memangnya?" Tanya Abi


"Ya adek tahan saja sakitnya, sayang banget kalau udah disini tapi berdiam diri di kamar" Jawab Fifin


Abi mengangguk angguk, lagian aneh juga kalau dia dan istrinya hanya di kamar terus menerus dan tidak bermain dengan yang lain nya


"Mas" Panggil Ffiin saat mengingat bahwa ada sesuatu yang belum dia sampaikan


"Dalem sayang, kenapa?" Tanya Abi


"Emm... adek mau belajar menghafal al qur'an sedikit demi sedikit, mohon bantuan nya ya" Ucap Fifin


Abi yang mendengar permintaan istri nya pun terkejut, tapi ia juga tersenyum "Masya Allah, iya... nanti malam mas beri tips nya"


Abi tidak bertanya apa alasan nya, karena ia sudah bisa menebak jika Fifin memiliki keinginan menghafal itu karena merasa insecure dengan Nisa, padahal Abi tidak mempersalahkan jika istri nya tidak hafal al qur'an


"Oke" Ucap Fifin memberi jempol nya


Abi dan Fifin kemudian turun ke bawah tentu nya dengan sang istri yang harus menahan rasa tidak enak di bagian bawah


"Tumben sepi"


"Iya, lagi di halaman depan main main" Ucap Abi langsung meninju dapur dan mencuci piring bekas mereka makan tadi, ia juga melarang Fifin untuk mencuci karena tidak tega saja rasanya


"Adek ke depan duluan ya" Ucap Fifin


Saat sampai di halaman depan, terlihat para pengurus dan santri putra yang bermain sepak bola di halaman


Sedangkan mbak mbak pengurus pun punya kegiatan sendiri yaitu bermain bola bekel di teras villa


"Mbak, sudah enakan badan nya?" Tanya Fifin pada Aina yang duduk di kursi teras


"Iya Fin, santai dulu mumpung anak mbak lagi di jagain sama mbak Ila" Jawab Aina


Fifin tersenyum dan mengangguk lalu ia menghampiri umi dan abah yang duduk bersandingan di teras tersebut


"Abah, umi" Ucap Fifin tersenyum dan duduk di lantai dengan bersandar pada kaki umi


"Sudah baikan nak?" Tanya abah


"Dalem, Pripun bah?" Tanya Fifin bingung lantaran sedari tadi ia memang baik baik saja dan tidak sakit sama sekali


"Perasaan nya sudah baikan?" Tanya abah lagi


"Eh, Alhamdulillah sampun abah... mungkin Fifin memang berpikiran terlalu negatif" Jawab Fifin


"Iya... tidak apa apa, nanti insya allah keadaan akan semakin membaik" Ucap abah tersenyum pada menantu perempuan nya tersebut


"Njih bah"

__ADS_1


Aina yang mendengar percakapan abah dengan Fifin itu langsung menautkan alis nya, bingung dengan hal apa yang sedang di maksud oleh abah


"Lalu nak pusing nya sudah hilang? Sudah minum obat kan?" Umi ganti menanyakan perihal Abi yang bilang kalau Fifin sakit kepala


"Ah? Fifin mboten pusing kok umi," Jawab Fifin agak bingung ketika umi bertanya


"Loh... tadi kata nak Abi kamu pusing dan minum obat, makanya sampai tidur agak lama" Ucap umi


Oke, Fifin baru sadar jika Abi membuat alasan palsu untuk menutupi mereka yang tadi siang pertama, masa iya harus jujur? Ya malu kan wak


Abi yang baru datang itu seketika melotot ketika kebohongan nya akan terbongkar, ia langsung duduk lesehan di samping Fifin dan merangkul pundak istri nya


"Ah menantu umi ini pelupa memang, karena terlalu pusing jadi Fifin lupa kalau dia tadi sudah minum obat" Ucap Abi dengan senyuman dan ekspresi nya yang tidak kelihatan kalau berbohong


"Ohh iya kah nak?" Tanya umi pada Fifin


"Ee... hehe, iya mungkin Fifin lupa umi" Jawab Fifin agak agak nyengir


"Ya sudah... alhamdulillah kalau pusing nya sekarang sudah hilang" Ucap umi


"Hehe.. njih umi" Ucap Abi menyahuti dengan tangan kiri nya yang memegang pundak sang istri dengan cukup erat, sebagai kode bahwa jangan sampai kebohongan nya terungkap


"Uluh... anak anak umi pintar sekali sandiwara nya" Batin umi terkekeh geli karena sebenarnya ia juga sudah bisa menebak apa yang terjadi pada anak menantu nya tadi siang


"Abi... gabung sini ayok" Ajak gus Fahri


"Oke bang" Jawab Abi menyanggupi dan cup! Ia mencium pipi sang istri secepat kilat di depan semua orang lalu ikut bermain sepak bola ala santri, gimana tuh? Ya main sepak bola tapi tetap pakai sarung. Tenang... udah pakai dalaman jadi gak akan melorot kok


"Ih... mas Abi mah" Ucap Fifin kesal dengan mengusap pipi nya berkali kali


Abah dan umi tertawa melihat betapa jahil nya sang anak pada istri nya, mereka juga merasa bahagia ketika kedua anak mereka sudah menemukan pasangan hidup masing masing


"Tidak terasa ya umi... putra putri kita sudah besar" Ucap Abah


"Njih bah... umi bahagia sekali" Ucap umi tersenyum sambil menatap suaminya tercinta, meski sudah tua tapi tetap kegantengan itu tidak akan luntur di hati umi


"Abah berharap nanti abah juga bisa bermain bersama cucu abah dari Abizar, putra yang abah banggakan" Ucap abah mengingat bahwa ketika ia tiada nanti maka Abi lah yang akan menggantikan posisi nya


Fifin yang mendengar harapan abah itu agak salting, tapi ia juga tersenyum sambil mengucap "Njih abah... mohon do'a nya ya bah"


Karena Abi dan Fifin pun sama sekali tidak berniat menunda untuk memiliki momongan, alasan nya adalah karena usia, mental dan finansial mereka yang sudah siap, begitu pula orang tua dari pihak masing masing sudah tua dan sama sama mengharap bisa menimang cucu nya


"Iya nak, abah do'a kan supaya bisa menyusul Aina ya" Ucap abah


"Njih bah, aamiin"


"Sini Fin tak elusin perutmu biar cepat tertular" Ucap Aina


Fifin tertawa mendengar nya, tapi ia juga menurut dan membiarkan Aina yang mengelus perut nya sebentar.

__ADS_1


__ADS_2