Perjalanan Cinta Abizar

Perjalanan Cinta Abizar
113. Keluar NICU


__ADS_3

Hari sidang


Tepat waktu, Lusa Abi dan keluarga menghadiri proses sidang kasus yang mereka ajukan, dan ternyata memang benar, pengacara yang dibayar mahal akan rela melakukan apapun termasuk kebohongan


“Anda yakin tidak merencanakan pembunuhan?” Tanya wali hakim pada Nisa


“Klien saya hanya tidak sengaja lewat jalan itu dan mereka searah, jadi langsung tertuduh padahal tidak ada bukti apapun” Ucap pengacara Nisa


“Kasus yang tidak ada bukti nya kan tidak mungkin bisa masuk pengadilan dengan cepat, aneh” Sindir Aldi alias pengacara dari pihak Fifin


“Sudah, dan apa korban hari ini berhalangan hadir?” Tanya yang mulia wali hakim saat melihat bahwa disini hanya ada perwakilan keluarga saja


“Mohon maaf, klien saya tidak bisa hadir karena kesehatan nya belum benar benar pulih dan membutuhkan waktu untuk menyembuhkan psikis nya” Jawab Aldi, seorang pengacara yang Fahri gunakan jasa nya


“Baik”


Nisa disini sudah memakai baju orange, ia menjadi tahanan sampai kasus ini benar benar di putuskan, tentu saja awalnya ia panik.. tapi selagi ada pengacara maka ia bisa lega sedikit


“Apa klien anda membuat alasan dengan sengaja agar tidak hadir disini? Takut ia hanya berbohong?” Tanya pengacara dari Nisa


Aldi hanya tersenyum dan dengan santai ia menjawab “Lebih tepatnya dia sedang istirahat dan lelah bertemu dengan orang orang yang mengusik kehidupan nya”


Disini Abizar geleng geleng kepala, entah berapa nominal pengacara itu dibayar sehingga mampu menciptakan sandiwara seperti ini


Apalagi Nisa, tidak ada raut penyesalan di wajah gadis itu, malah ia hanya tersenyum tanpa menundukkan kepala dan tidak merasa malu pada hijab yang dia pakai


“Nak Abi”


Abizar mendongak ke atas, saat ia duduk di kursi dan menyaksikan putusan sidang ini, ternyata orang tua Nisa masih berani menghampiri nya


“Nggih bu?” Jawab Abi dengan nada seolah bertanya, ada apa?


Disini tentu saja Abizar kaget bukan main saat orang tua Nisa tiba tiba bersujud di hadapan nya, refleks ia langsung berdiri dan bergeser tempat duduk


“Tolong berdiri bu, saya tidak bisa di perlakukan seperti ini” Ucap Abizar merasa tidak enak sekarang


“Ibu mohon ya nak… cabut gugatan nya, ibu mohon, Nisa itu anak ibu satu satunya” Ucap ibu kandung Nisa sampai menangis tersedu sedu


“Iya nak, kamu tau kan betapa sayangnya bapak sama Nisa? Bagaimana masa depan nya kalau harus di penjara nak?” Sahut bapak kandung Nisa yang ikut ikutan membela putri nya


“Maaf pak, bu.. Abizar tidak bisa mencabut gugatan nya” Jawab Abizar menolak dengan tegas dan menggelengkan kepala

__ADS_1


Setelah mendengar jawaban Abi, bapak kandung Nisa itu ganti memohon pada pak Yahya dan abah Anwar agar membebaskan putri nya


Lain hal dengan ibu dari Nisa yang terus terus an bersujud agar Abi mau memaafkan putri nya, ia harus mengeluarkan Nisa dari situasi buruk ini


“Ibu mohon nak…. Anggap ini permintaan terakhir ibu ya? Ibu minta maaf sama kamu atas kesalahan Nisa, ibu minta maaf” Ucap nya


Abizar sendiri jadi kasihan tapi juga makin pusing dengan situasi ini, ia kesal.. dan sebagai oran yang lebih muda, tentu saja ia tidak boleh membentak orang tua ini, jadi perlahan Abi ikut jongkok dan memegang lengan ibu Nisa agar wanita itu mau bangun


“Maksud ibuk apa? Ingin Abi memaafkan Nisa?” Tanya Abizar dan ibu Nisa itu mengangguk cepat


“Saya pasti memaafkan buk, tapi untuk gugatan nya. Mohon maaf.. saya tidak bisa mencabut laporan ini” Ucap Abizar


“Lalu bagaimana masa depan Nisa nak? Kamu tidak memikirkan itu?” Tanya nya


Abizar yang menahan emosi ini jadi makin mau meledak ledak saja amarah nya, “Lalu bagaimana dengan keadilan yang harus di dapatkan istri saya? Sepupu saya? Anak saya yang meninggal? Ibu tidak memikirkan masa depan mereka?”


“Abi… sesuatu yang sudah tidak ada di dunia pun tidak memiliki masa depan” Jawab ibu Nisa


“Lalu sepupu dan istri saya? Rasa sakit yang mereka rasakan? Ibu hanya melihat putri ibu di penjara sudah menangis berhari hari, lalu bagaimana dengan saya dan istri saya yang menangisi kepergian putri kami untuk selamanya? Bagaimana? Ibuk masih bisa menemui putri ibu, tapi saya? Saya sudah tidak bisa menemui nya” Ucap Abizar dengan kilatan amarah di mata nya


“Ibu tau, tapi masih ada satu lagi kan? Yang meninggal hanya satu kan?” Ucap nya


“Hanya satu ibu bilang? Maaf bu… apapun alasan nya saya tidak bisa mencabut gugatan, ibu tenang saja.. lagian hanya satu anak yang di penjara” Ucap Abizar berdiri dan menjauhi ibu kandung Nisa tersebut


Hakim juga bisa melihat bahwa situasi sudah tidak kondusif karena suara tangisan ibu Nisa yang memenuhi satu ruangan, ia juga langsung mengakhiri sidang dengan putusan bahwa akan di adakan sidang lanjutan nanti, untuk waktu nya akan di beri kabar


Abizar dan keluarga juga langsung keluar dari ruang sidang, mereka malas menanggapi keluarga Nisa yang terus terusan memohon seperti ini, padahal sudah jelas bahwa mereka enggan berdamai dengan alasan apapun


“Saya pasti akan balas dendam sama kamu” Ucap Nisa yang melewati nya sekilas dengan dampingan dua polisi di masing masing lengan nya


Abi dan sekeluarga hanya diam ketika pihak musuh bersikap seperti itu, memang biasanya sudah drama seperti ini kan? Jadi tidak perlu kaget lagi


“Abi, tidak apa apa?” Tanya Fahri saat melihat wajah adik ipar nya yang sepertinya pusing sekaligus menahan emosi


Abizar menggeleng, ia akan jujur bahwa emosi nya sedang ingin meledak dan tidak baik baik saja, berada di tempat ramai dengan emosi tidak stabil itu sangat sulit bagi nya


Lalu Fahri menyarankan agar abah dan pak Yahya pulang terlebih dahulu, termasuk pengacara mereka yang harus menyerahkan beberapa kesepakatan dulu untuk sidang selanjutnya pada pihak pengadilan


“Ngopi dulu ayo” Ajak Fahri, ia merangkul pundak Abizar dan mengajak nya ke tempat yang sepi dan damai, untung tadi mas Eko ikut jadi bisa mengantar abah dan pak Yahya pulang


\~

__ADS_1


Tarik nafas…. Buang nafas…. Terus seperti itu dengan secara perlahan, saat Abi duduk di tepi danau dengan secangkir kopi di samping nya


“Sudah enakan?” Tanya gus Fahri dan Abizar mengangguk sebagai jawaban nya


“Bisa bisanya mereka bilang hanya putri ku yang meninggal, apa mereka menganggap nyawa putri ku tidak ada harga nya bang?” Tanya Abizar mengeluarkan unek unek nya perihal orang tua Nisa, andai saja yang berkata bukan orang tua, maka sudah jelas Abi lebih dulu melayangkan pukulan pada orang tersebut


“Sabar ya Abi… memang tidak ada habisnya kalau kamu menanggapi setan itu” Ucap Fahri, ia sendiri juga kesal, tapi mau bagaimana lagi? Kalau semua orang ikut kesal maka siapa yang akan menenangkan?


“Ya Allah bang…” Abizar menyugar rambut dan memegangi dahi nya yang teramat pusing sekarang, ternyata perjuangan istri nya mengandung itu di anggap remeh


Sebagai pelampiasan kemarahan nya, Abizar beberapa kali melempar batu ke arah danau tersebut dengan cepat, sedangkan Fahri hanya menemani saja sampai emosi Abizar mereda, hal ini memang sangat jarang terjadi sih, tapi ia mengerti apa yang harus dilakukan


“Berdering tuh” Ucap Fahri menunjuk handphone Abizar


“Males”


“Istri mu itu yang telfon”


Mendengar kata istri pun sontak Abi buru buru mengangkat panggilan telfon nya, senyum yang sedari tadi tidak pernah nampak kini mulai keluar lagi saat tahu sang istri menelfon nya


“Ada apa? Hmm?” Tanya Abi


“Mas dimana sekarang? Kok abah sudah pulang tapi mas belum?” Tanya Fifin disana


“Lagi di danau, kenapa? Sudah rindu ya sama mas?” Tanya Abi balik


“Ck, bukan… ada kabar baik, katanya putra kita sudah di perbolehkan pulang” Ucap Fifin disana yang dapat Abi rasakan kebahagiaan nya


“Oh iya? Beneran? Alhamdulillah ya Allah… akhirnya” Ucap Abizar yang seketika sujud syukur sekalipun ia sedang di atas tanah kotor


“Jadi kita jemput sekarang yuk mas, kalau mas tidak sibuk” Ajak Fifin


“Iya, mas pulang sekarang ya? Tunggu sebentar sayang” Ucap Abizar dengan mata nya yang sudah berlinang air mata kebahagiaan


“Ada apa?” Tanya Fahri bingung karena tingkah Abizar yang berubah drastis, tadi emosi dan frustrasi kayak orang stress, sekarang udah bahagia lagi


“Abbad sudah boleh dibawa pulang bang, ini katanya sudah disiapkan untuk keluar NICU” Jawab Abizar bersemangat


“Alhamdulillah… pantesan langsung bahagia” Ucap Fahri


Mereka pun bergegas untuk pulang ke rumah setelah membayar kopi tadi, barulah Abi ke rumah sakit bersama istri dan ibu mereka untuk menjemput Abbad, akhirnya… akhirnya momen ini terlewati, mereka berdua akan mulai untuk melihat perkembangan Abbad di dalam rumah sendiri, yang pasti anak nya tidak merasakan sakit lagi sekarang karena organ nya sudah siap untuk hidup di dunia.

__ADS_1



__ADS_2