
“Mas, adek sungguh berterimakasih sama mas” Ucap Fifin
Abi tersenyum dan mengelus lembut kepala istri nya yang masih terbalut hijab dengan rapi. Akhirnya… pesawat landing dengan selamat di bandara Bandar Udara Internasional Pangeran Muhammad bin Abdulaziz
“Gus, niki langsung ten hotel riyen nggeh? Jamaah lintu ne nyiapaken tenaga kale ngerapi aken barang ten hotel” Ucap bapak petugas travel tersebut ( Gus ini langsung ke hotel dulu ya? Jamaah lain nya mau menyiapkan tenaga sama merapikan barang di hotel )
“Njih, langsung saja” Jawab Abi menganggukkan kepala
Setelah menunggu semua barang di keluarkan, mereka keluar dari dalam bandara menuju parkiran dimana sudah ada bus milik travel yang sudah disiapkan
“Rasa rasa udara disini agak beda ya” Ucap Fifin lirih
“Iya sayang, beda iklim” Jawab Abi
Perjalanan dari bandara dengan naik bus, Abizar berulang kali menjelaskan pada para jama’ah soal apa saja yang harus dilakukan nanti, untuk yang pertama jelas harus istirahat dulu karena dari perjalanan jauh dan memulihkan tenaga juga
Di sepanjang perjalanan Fifin bisa melihat banyak orang sedang memakai pakaian untuk ihram, banyak juga yang sedang jalan jalan atau membeli oleh oleh di toko sekitar jalanan
“Masya Allah” Tak henti henti nya mulut itu berucap lantaran masih tidak menyangka bahwa ia bisa ada disini
“Suka sayang?” Tanya Abi
“Jangan ditanya mas, adek benar benar mau nangis lagi sekarang” Jawab istri nya
“Do’a kan nanti kita bisa kesini lagi bareng keluarga besar ya” Ucap Abi
“Pasti mas” Jawab Fifin mengangguk anggukkan kepala nya
Mereka akhirnya sampai di salah satu hotel Madinah, memang sengaja memilik disitu karena nanti akan memulai ihram juga harus di Madinah
“Gus, niki kunci kamar njenengan” Ucap panitia travel memberikan kartu kamar pada Abizar
“Oh iya, terimakasih” Ucap Abi menganggukkan kepala nya
Setelah memastikan semua jama’ah istirahat di kamar masing masing, walau panitia juga melarang dan biar mereka saja yang menjaga para jama’ah, tapi Abi tidak mau karena merasa bahwa ini juga tanggung jawab nya, sehingga setelah selesai memastikan semuanya istirahat, barulah ia mau naik ke kamar nya sendiri
Di gedung pencakar langit ini mereka akan menginap dan beribadah “Ya Allah Masya Allah, adek benar benar sangat kagum mas” Ucap Fifin dengan mata berkaca kaca melihat pemandangan disitu
Abizar hanya tersenyum manis lalu mengajak sang istri untuk berbaring agar punggung mereka bisa istirahat dengan lega
“Wahhh handphone adek banyak pesan nya” Ucap Fifin setelah mendapat sandi WiFi hotel dan banyak sekali notifikasi di handphone nya
“Iya, mas juga sama”
“Apa adek telfon saja sekarang?” Ucap Fifin meminta pendapat
Abi menggeleng dan menyimpan handphone sang istri juga handphone milik nya di meja nakas, “Besok saja, perbedaan waktu nya jauh sayang… di Indonesia sekarang sudah dini hari” Ucap Abi karena waktu jam di Indonesia lebih cepat 5 jam daripada Arab Saudi
“Ohh… gitu” Ucap Fifin mengangguk angguk kan kepala, ia sempat bengong sebentar lalu terbangun dan melepas hijab nya
“Mau kemana?” Tanya Abi
__ADS_1
“Mandi mas, badan adek lengket” Jawab Fifin
“Yaudah mandi bareng ya?” Ucap Abi meminta izin
Fifin mengangguk saja, toh sudah suami istri loh ngapain malu lagi? Iya kan? Selesai mandi juga keduanya hanya menggunakan bathrobe lantaran malas kalau harus membuka koper untuk mencari baju tidur
Fifin kembali rebahan, berada di kelas bisnis saja pinggang nya masih pegal dan ia perlu memulihkan tenaga agar bisa beribadah dengan lancar besok
Tapi… sayang nya saat mata Fifin baru terpejam, ia merasakan hidung mancung dan bibir sang suami yang mendekat dan menghirup aroma dari leher nya
“Mas… kenapa?“ Tanya Fifin malah tidak bisa tidur kalau Abi terus terusan menggoda nya seperti ini
“Mau apa mau apa?” Tanya Fifin lagi setelah merasakan tangan kekar dibalik selimut itu mulai nakal menyentuh nya
Sambil mendekat ke arah telinga istri nya, Abi berucap “Sayang… mas sedang ingin”
Fifin paham kalau Abi sedang dalam mode on, memang beberapa hari kemarin juga mereka tidak melakukan hal itu karena ada acara di rumah dan banyak sekali yang harus di urus
“Besok saja tidak mau?” Tanya Fifin
Abi menggeleng keras “Besok dari ihram sampai tahalul, kita tidak boleh bersenggama sayang” Jawab nya
Fifin seketika menelan ludah, pantesan Abi mengajak nya sekarang karena kalau sudah ihram pun berarti berhari hari mereka tidak boleh melakukan hal itu
“Ya sudah, tapi tolong agak pelan ya… badan adek masih capek rasanya” Ucap Fifin memperbolehkan
“Insya Allah” Jawab Abi karena ia tidak tahu bisa menyanggupi permintaan istri nya atau tidak
“Allahumma…….”
( Oke mari kita skip bagian ini karena masih tabu untuk di tulis )
Keesokan pagi nya setelah sholat subuh, Abi dan Fifin turun untuk menemui para jama’ah yang sudah siap dengan pakaian ihram nya
“Pak ini kita langsung ke tempat miqat saja ya? Supaya lebih cepat” Ucap Abi pada panitia travel
“Njih gus” Jawab nya
Saat sampai di tempat miqat atau masjid Dzulhulaifah, Abi ingin memastikan bahwa semuanya dalam keadaan baik baik saja
“Semuanya sehat? Atau ada yang tidak enak badan?” Tanya Abi
Semua jama’ah kompak menjawab tidak karena mereka sudah cukup beristirahat tadi malam
“Alhamdulillah…” Ucap Abi bersyukur, kemudian mereka semua sholat sunnah ihram 2 rakaat lalu dilanjutkan dengan niat
Sebelum itu ia juga memberikan buku panduan atau buku bacaan pada istri nya, juga mengalungkan kartu identitas agar mudah dikenali
“Biar adek tidak hilang?” Tanya Fifin dengan suara lirih
“Iya, tidak akan ketemu lagi soalnya istri yang seperti adek” Jawab Abizar yang selalu saja bisa membuat istri nya tersipu malu
__ADS_1
Kemudian, “Kalau tidak hafal bisa dibuka buku panduan nya masing masing” Ucap Abi membimbing mereka semua agar membaca niat umroh baik secara lisan maupun dalam hati juga tidak apa apa
“نَوَيْتُ العُمْرَةَ وَأَحْرَمْتُ بِهَا لِلهِ تَعَالَى لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ بعُمْرَة”
Latin: Nawaitul 'umrata wa ahramtu bihi lillahi ta'ala labbaika Allahumma 'umratan.
Artinya: Aku niat umrah dengan berihram karena Allah Ta'ala, aku penuhi panggilanMu ya Allah untuk berumrah
Baru sekedar membaca niat nya pun bibir Fifin sudah bergetar, begitupun jama’ah lain nya yang sedang terharu bisa beribadah disini
Mereka kemudian menuju masjidil haram, dalam perjalanan pun Abi kembali mengingatkan agar mereka semua melafalkan kalimat talbiah berkali kali
لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ لَبَّيْكَ لاَ شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لاَ شَرِيكَ لَكَ
Latin: Labbaik Allahumma labbaik. Labbaik laa syarika laka labbaik. Innal hamda wan ni'mata laka wal mulk laa syarika lak.
Artinya: Ya Allah, aku memenuhi panggilan-Mu, Ya Allah aku memenuhi panggilan-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu, sesungguhnya pujian dan kenikmatan hanya milik-Mu, dan kerajaan hanyalah milik-Mu, tiada sekutu bagi-Mu
Fifin juga terus mengucap kalimat talbiah itu sembari tersenyum, mengingat dia sudah ada disini dan juga sang suami yang terus mendampingi nya. Nampak sekali Abi sangat serius mengucap kalimat talbiah dengan memegang mic di tangan nya
Bagi Fifin, Abizar benar benar suami yang serius dalam hal agama namun bisa bercanda soal urusan dunia
Saat sampai di Makkah, Abi menghimbau agar mereka masuk ke Masjidil Haram dengan kaki kanan sambil membaca doa masuk masjid
“أَعُوْذُ بِاللهِ العَظِيْمِ وَبِوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ وَسُلْطَانِهِ الْقَدِيْمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. بِسْمِ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلهِ. أَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي ذُنُوْبِي وَافْتَحْ لِي “أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ
Bacaan latin: A'ûdzu billâhil 'azhîm wa biwajhihil karîm wa sulthânihil qadîm minas syaithânir rajîm. Bismillâhi wal hamdulillâh. Allâhumma shalli wa sallim 'alâ sayyidinâ muhammadin wa 'alâ âli sayyidinâ muhammadin. Allâhummaghfirlî dzunûbî waftahlî abwâba rahmatik.
Artinya : Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Besar, kepada Dzat-Nya Yang Maha Mulia, dan kepada kerajaan-Nya Yang Sedia dari setan yang terlontar. Dengan nama Allah dan segala puji bagi Allah. Hai Tuhanku, berilah shalawat dan sejahtera atas Sayyidina Muhammad dan atas keluarga Sayyidina Muhammad. Hai Tuhanku, ampuni untukku segala dosaku. Buka lah bagiku segala pintu rahmat-Mu.
Fifin bergabung bersama jamaah wanita karena sepertinya tidak memungkinkan untuk berada di samping Abi terus menerus
Dia bisa melihat kalau banyak jama’ah yang mata nya sudah berkaca kaca, menyadari bahwa mereka sedang di tempat suci, di rumah Allah sekarang
“Semuanya langsung ikuti saya dan panitia menuju hajar aswad, menghadap hajar aswad lalu mengucap kalimat takbir, boleh memegang dengan tangan kanan atau mencium nya, namun kalau tidak memungkinkan pun cukup pakai isyarat dengan tangan kanan tanpa mencium nya”
Para jama’ah langsung paham dengan ucapan Abi karena jauh jauh sebelum berangkat juga mereka sudah melakukan latihan terlebih dahulu
“Adek tidak perlu memaksakan untuk menyentuh hajar aswad kalau memang tidak bisa” Ucap Abi menghampiri istri nya
Disaat panitia membimbing agar mereka mendekat ke hajar aswad, saat itu lah Abi juga menghampiri sang istri
“Harusnya bisa sih” Ucap Fifin melihat banyak nya orang yang sedang thawaf hari ini
Apalagi mendengar kalimat talbiah yang terus menggema dari orang orang saat sedang thawaf
“Bisa?” Tanya Abi
Fifin mengangguk dan tersenyum, ia kemudian mengikuti para jama’ah perempuan yang sedang menuju hajar aswad.
__ADS_1