
Jam 3 pagi Abi mulai terbangun dan melakukan peregangan sedikit, setelah kesadaran nya sudah kembali, ia langsung menoleh ke kanan
Dimana ada Fifin yang masih tidur nyenyak, damai dengan selimut yang melekat sampai di atas dada
"Masya Allah... cantik nya istri aku" Ucap Abi lirih sambil senyum senyum sendiri
Ia kemudian mengambil baju yang sudah ia lipat kemarin malam sebelum nganu, dan memakai nya kembali untuk berjalan ke kamar mandi
Tak lama Fifin juga membuka mata, dengan malas ia memakai kembali pakaian nya semalam dan berjalan gontai menuju kamar mandi
Ceklek!
"Aaa....." Teriak Fifin yang udah seperti melihat zombi
"Astaghfirullahaladzim" Ucap Abi kaget dan ikut refleks menutupi daerah sensitif nya
Ya, Fifin tadi berteriak sambil menutup mata saat membuka pintu kamar mandi dan ada suami nya yang sedang membersihkan tanpa sehelai benang pun, tadi kesadaran nya belum pulih hingga langsung berjalan tanpa menengok suami nya di ranjang terlebih dahulu
Brak!
Fifin langsung menutup pintu kamar mandi dengan cepat, ia bersandar dan memegang dada nya sendiri yang terasa sekali berdetak terlalu cepat
"Astaghfirullahaladzim... bisa bisa nya aku buka tanpa permisi" Ucap Fifin menggelengkan kepala nya sambil menetralkan detak jantung itu
Ceklek!
Fifin hampir jatuh saat pintu kamar mandi kembali dibuka oleh suami nya dari dalam, untung saja ia masih bisa menjaga keseimbangan
"Kenapa? Ada apa kok adek tiba tiba buka pintu?" Tanya Abi yang hanya memunculkan kepala nya saja
"Ya... anu, adek tidak melihat mas di kasur masih ada atau tidak dan langsung ke kamar mandi" Jawab Fifin sambil menunduk karena ia masih malu
"Oalah... setengah sadar tadi?" Tanya Abi
"Iya, maaf ya... lagian kenapa mas tidak mengunci pintu nya sih?" Tanya Fifin agak kesal campur malu karena melihat aurora suami nya tanpa izin
"Lah kan dari kemarin kemarin mas kalau mandi tidak pernah mengunci pintu, kenapa adek tidak ketuk tadi pintu nya?" Tanya Abi balik
"Ya adek masih setengah sadar, mana bisa" Jawab Fifin manyun lima centi
Abi tersenyum dan menyadari kesalahan nya, iya juga sih... mana bisa Fifin kepikiran untuk mengetuk pintu? Kalau nyawa wanita itu saja masih belum terkumpul
"Eh eh eh... mau ngapain?" Tanya Fifin saat Abi menarik tangan nya agar ikut masuk ke dalam kamar mandi
"Mandi bareng ayuk, sunnah"
"Ih enggak mau, kata kamu kan masih banyak sunnah yang lain" Ucap Fifin
"Taat dengan suami dalam hal yang tidak merugikan diri itu juga baik loh" Ucap Abi
__ADS_1
"Ya... tapi mata adek ini yang tidak aman" Ucap Fifin
"Tidak aman kenapa? Kan sudah adek lihat semuanya dari ujung kepala mas sampai ujung kuku" Goda Abi sambil menaik turunkan alisnya
Pipi Fifin seketika bersemu "Biasanya ngeliat tapi kan remang remang" Karena Abi selalu mematikan lampu kamar dan bergelung di bawah satu selimut saat mereka bergumul
"Yaudah makanya sekarang kan lebih jelas, ayo" Ucap Abi menarik paksa tangan istri nya
"Eh adek belum ngambil handuk"
"Udah, nanti pakai sarung punya mas saja" Ucap Abi dan blam! Pintu tersebut ia tutup juga di kunci rapat agar lebih aman
"Adek di bathub aja ya" Ucap Fifin mengisi bathub itu dengan air hangat dan berendam di dalam nya setelah melepas semua kain yang melekat
Abi sendiri yang masih di bawah shower pun tersenyum, ia bahagia ketika melihat istri nya nyaman dengan fasilitas yang ada
Tapi bukan Abizar namanya kalau tidak jahil dengan sang istri, pelan pelan ia juga ikut berendam di samping Fifin yang sedang memejamkan mata
Dor!
"Eh kaget astaghfirullah" Ucap Fifin mengelus elus dada nya sendiri saat membuka mata dan Abi sudah berada satu rendaman air dengan nya
Ia lalu duduk di belakang Fifin sambil memijat mijat pundak seseorang yang katanya sedang capek seperti di hajar masal
( Jangan tanya gambaran nya gimana, cukup bayangin saja oke! )
~
Setelah sholat subuh, baru lah mereka bersiap siap untuk kembali pulang ke pondok pesantren darussalam
"Ada yang ketinggalan atau tidak?" Tanya Abizar saat menarik koper mereka keluar kamar
"Insya Allah mboten kok" Jawab Fifin yakin karena ia tidak membawa barang barang dalam jumlah banyak, dan ia juga sudah menenteng tas peralatan pribadi nya sendiri
Mereka turun ke bawah dimana ruang keluarga sudah ramai karena baru selesai ngaji subuh bersama
"Sudah mau pulang? Tidak ada yang ketinggalan?" Tanya umi memandang anak menantu nya dari atas sampai bawah, memastikan bahwa keadaan mereka berdua baik baik saja
"Insya Allah mboten umi" Jawab Abi
"Ya sudah, hati hati di jalan ya... mas Wawan juga sudah bersiap di depan" Ucap abah
Yaps, Wawan ikut pulang karena sudah dua hari ia disini dan waktunya menggantikan mas Eko di pondok pesantren
"Njih abah, kalau begitu kami pamit dulu" Ucap Abi mencium tangan kedua orang tuanya dengan takzim dan Fifin pun melakukan hal yang sama
"Hati hati ya Fin, apalagi kemarin hujan jadi jalanan banyak yang licin" Ucap Aina
"Iya mbak, terimakasih.. kalau ada apa apa atau butuh bantuan langsung telfon saja" Ucap Fifin yang di angguki oleh Aina
__ADS_1
Setelah berpamitan pulang juga pada semua pengurus, Abi dan Fifin pun memulai perjalanan pulang ke rumah dengan mas Wawan yang mengikuti dari belakang
Alias Abi membawa sang istri dengan mobilnya sendiri, sedangkan mas Wawan di belakang menggunakan mobil Fifin
"Wah... kenceng juga ini mobil, mungkin ning Fifin rajin bawa ke tempat servis" Gumam Wawan cukup kagum karena jarang sekali perempuan yang memperhatikan kendaraan mereka
Di tengah tengah perjalanan, Fifin merasa perut nya lapar hingga perlu amunisi
"Mas, adek lapar"
"Oh iya, kita belum sarapan ya? Cari warteg yang sudah buka aja gimana?" Tanya Abi
"Iya, tidak apa apa" Jawab Fifin
Karena warteg itu banyak menu lauk nya, jadi sangat bebas untuk memilih lauk bagi Fifin yang tidak boleh makan makanan seafood
Untung nya 2 jam perjalanan mereka sudah sampai di pusat kota daerah tersebut hingga cukup mudah menemukan tempat makan yang sudah buka
"Mas Wawan boleh ambil lauk yang mana saja, terserah selera" Ucap Abi mempersilahkan
"Njih gus, terimakasih" Ucap Wawan mulai mengambil piring berisi nasi dan memilih beberapa lauk yang ingin ia makan
Fifin tang memang cukup doyan makan itu juga berbinar saat melihat banyak sekali lauk, tapi daripada mubadzir ia memilih lauk yang benar benar ingin dimakan
"Sudah itu saja?" Tanya Abi
"Iya, daripada tidak habis kan mubadzir" Jawab Fifin lalu membawa piring makanan nya tadi di kasir agar dihitung dulu
"Ini total nya lima puluh ribu ya mbak" Ucap ibu ibu penghitung atau kasir
Mata Fifin melotot saat dia hanya makan nasi dan satu lauk, tapi 50 ribu? Ya ampun, memang sih ya kalau kota untuk liburan tuh mahal mahal
"Iya buk, sekalian tiga tadi yang dihitung ya" Ucap Abi sembari terkekeh saat melihat ekspresi istri nya
"Baik, total nya dua ratus ribu" Ucap ibu ibu itu setelah mereka bertiga memilih minum juga
Fifin memilih untuk minum air putih saja, sedangkan mas Wawan dan Abi juga sama tapi keduanya menambah kopi masing masing agar tidak mengantuk dalam perjalanan
"Kenapa?" Tanya Abi saat mereka duduk dan istri nya masih bengong
"Agak mahal ya disini" Jawab Fifin lirih karena takut terdengar pegawai disitu
"Ya memang segini harga nya sayang, namanya juga tempat liburan kan? Pasti lebih mahal" Ucap Abi
Pun juga dengan Wawan yang setuju, ia sudah beberapa kali dibawa oleh abah dan umi untuk kesini jadi sudah tidak kaget dengan harga harga nya
"Ya iya juga sih, tapi selama ini adek sibuk kerja jadi tidak sempat liburan juga" Ucap Fifin yang kadang tidak diberi jatah libur alias di rapel karena banyak pasien ibu hamil yang rawat inap
__ADS_1
Abi mengangguk angguk, ya... ia cukup paham dengan pekerjaan tenaga kesehatan yang memang sangat memakan tenaga.
°