Perjalanan Cinta Abizar

Perjalanan Cinta Abizar
87. Kembali


__ADS_3

Abi tidak mengizinkan Fifin merapikan baju karena hal itu pasti akan membuatnya membungkuk untuk merapikan isi koper, maka dari itu dia yang membereskan barang barang di bagian lemari, sedangkan Fifin membereskan barang barang kecil mereka di meja


Setelah selesai, ia meletakkan koper di dekat pintu kamar lalu menghampiri sang istri yang masih menggulung kabel cas handphone nya


“Sayang” Panggil Abi memeluk istri nya dari belakang dengan meletakkan dagu di pundak tersebut hingga pipi mereka pun menempel tanpa sengaja


“Dalem sayang”


Pipi Abizar langsung bersemu merah saat Fifin menjawab nya dengan kalimat sayang juga nada yang sangat lembut di telinga


“Kenapa adek cantik sekali sih?” Tanya Abi dengan gemas


Fifin lantas menoleh ke samping hingga wajah mereka berhadapan, dekat sekali sampai hembusan nafas itu terasa “Heol, adek memang cantik dari dulu” Jawab nya agak songong


“Masya Allah” Abi geleng geleng kepala melihat istri nya yang memiliki tingkat kepedean super tinggi


“Jadi jangan heran ya kalau anak kita nanti cewek dan dia mirip sekali sama adek” Ucap Fifin lagi sambil tersenyum


“Iya, kalau cowok mirip mas kan?” Tanya Abi


“Iya lah, mas kan selaku bapak nya yang ikut andil dalam proses. Jadi pasti mirip kamu” Jawab Fifin sambil terkekeh, bukan ikut andil sih tapi lebih tepat nya yang punya proyek ini wkwk


“Wah… mas harus bisa tahan sih kalau deket deket sama adek” Ucap Abi karena dokter juga menjelaskan tadi jika hamil saat trimester pertama lebih baik mengurangi hubungan suami istri karena dapat membahayakan janin yang ada di dalam


“Haha.. sabar ya” Ucap Fifin malah sengaja mengelus lembut dada suami nya dan ia tinggalkan begitu saja


“Astaghfirullah… mau kemana dek?” Tanya Abi saat melihat istri nya menjauh


“Cuci muka”


Sebelum ke bandara, mereka juga berkumpul seperti waktu pertama kali datang. Menyempatkan ke masjidil haram untuk berpamitan sebentar lalu baru ke bandara untuk memulai perjalanan pulang


Disini bawaan paling banyak ya bawaan punya Abizar, karena ingin membawakan sesuatu untuk para santri di rumah, maka dari itu ia juga membeli tambahan bagasi dengan jumlah yang cukup banyak


Ibarat berangkat bawa koper berapa, pulang pun bawa koper berapa


“Sudah?” Tanya Fifin


“Sampun” Jawab Abi menganggukkan kepala


Saat di dalam pesawat pun Abi berkali kali menanyakan pada istri nya, butuh sesuatu atau tidak dan lain lain karena takut wanita hamil itu mengalami ketidaknyaman an


“Mas” Panggil Fifin


“Dalem, pripun? Ada yang adek butuhkan?” Ucap Abi langsung gercep walau sang istri baru memanggil nya saja


“Mau peluk, tapi kayak nya memang tidak mungkin bisa” Ucap Fifin karena di bagian kursi kelas bisnis itu ada sekat di bagian tengah tengah mereka berdua


Abi tersenyum, lalu sebagai ganti nya ia mengecup dahi dan pipi istri nya sebentar “Sabar ya… hanya dua belas jam saja”


Fifin mengangguk dan Abi juga ikut mengangguk, ia lalu mengubah kursi itu agar bisa dipakai istri nya untuk tiduran dengan nyaman


“Istirahat saja, nanti tidak berasa lama kok” Ucap Abi


\~


Seperti yang Abi bilang tadi, akhirnya mereka sampai di Indonesia juga setelah 12 jam lebih mereka mengudara

__ADS_1


“Gus njenengan kulo anter mawon purun?” ( gus, kamu saya antar ke rumah aja mau? ) Tanya pihak travel pada Abizar


“Matur nuwun sangat pak, tapi ngapunten niki mas mas pengurus sampun otw mriki kajenge njemput kulo kale istri” ( terimakasih banyak pak, tapi maaf ini mas mas pengurus sudah otw kesini mau menjemput saya dan istri saya )


“Ohh… Njih pun, kulo rantos mawon pripun?” ( oh ya sudah, saya tunggu aja gimana?) *maksudnya nunggu in Abi di bandara sampai di jemput


“Mboten pun mboten nopo nopp, njenengan langsung berangkat mantuk mawon niku sak aken para jamaah” ( tidak, tidak apa apa.. kamu langsung berangkat pulang saja, kasihan itu para jamaah)


Lantaran bus dari travel sudah terparkir rapi di bandara, koper para jamaah pun sudah di masukkan, jadi Abi menyuruh mereka untuk pulang duluan saja daripada harus menunggu nya


Untung nya tidak lama kemudian mas Wawan dan mas Eko sudah sampai di bandara, jadi para jamaah pun bisa langsung perjalanan pulang dengan pihak travel sedangkan ia juga pulang bersama mas Wawan dan mas Eko


Abi dan Fifin berpamitan sebentar sekaligus mengucapkan terimakasih pada pihak travel yang mau memberi kesempatan pada mereka, setelah itu barulah masuk ke dalam mobil yang mana tadi mas Wawan dan mas Eko sudah memasukkan semua barang barang ke bagasi belakang


“Gus, Masya Allah… berangkat dua koper, pulang nya enam koper” Ucap Wawan sambil menyetir


“Njih gus, banyak sekali bawaan nya” Timpal Eko


“Iya mas, oleh oleh buat semuanya” Ucap Abi


“Berangkat berdua, pulang berempat” Ucap Fifin tersenyum, dia tau nya berangkat hanya berdua sama Abi, tapi pulang dengan membawa 2 calon bayi di dalam perut nya


“Hehe… njih ning” Ucap mas Wawan, ia mengira kalau berempat yang di maksud ya Abi, Fifin, dia dan mas Eko. Karena pihak keluarga belum tahu kalau Fifin sedang hamil anak kembar


Beberapa menit kemudian mobil sudah mulai masuk ke halaman pondok, semua keluarga ada di teras rumah, begitu pula dengan para santri yang menyambut ramai kepulangan mereka berdua


Abizar tersenyum pada semua anak anak nya disini, lalu ia menatap kedua orang tuanya, rasanya ia ingin memeluk umi duluan. Tapi….


Umi lebih dulu mendekati mereka berdua dan langsung memeluk Fifin, duh… Abizar jadi iri, untung lah ada abah yang berdiri dengan memegang tongkat, jadi ia mendekati abah dan memeluk nya


“Sehat?” Tanya abah


Mbak mbak pengurus tadi sudah menyiapkan tikar kecil di halaman pondok, Abi dan Fifin langsung duduk disitu lalu membaca do’a setelah umroh


Semuanya seketika langsung ikut jongkok dan ikut berdo’a, kecuali para orang tua yang tidak mungkin lagi untuk jongkok


Lalu saat sudah selesai juga umi menyuruh mereka untuk segera masuk dan istirahat, karena rasanya dari perjalanan jauh itu sangat melelahkan


“Umi, ibuk” Ucap Fifin saat para keluarga berkumpul di ruang tengah


“Kenapa nak?” Tanya bu Risma


Fifin menjawab dengan senyuman lalu mengeluarkan foto kecil hasil usg nya kemarin dari dalam tas, bisa dilihat dengan jelas bahwa janin disitu ada 2


“Masya Allah, ya Allah” Ucap umi kaget tapi juga terharu


“Masya Allah…” Ucap bu Risma tidak tahu harus berucap seperti apa lagi saat tahu ia akan mendapat dua cucu sekaligus


Semuanya ikut senang dan mengucapkan selamat juga berharap bahwa yang di dalam perut akan sehat sehat selalu sampai waktu nya lahir nanti


“Bagi tips nya Fin” Ucap Aina berbisik yang langsung membuat pipi Fifin bersemu merah, mana bisa ia memberi tips? Sedangkan Aina sendiri lebih dulu menikah daripada dia


“Sudah, biarkan nak Abi sama Fifin istirahat dulu di kamar mereka ya” Ucap umi karena dari tadi mereka mengobrol dan antusias pada kehamilan menantu nya


“Njih umi” Ucap Abi lalu setelah mengucap permisi, ia gandeng Fifin untuk ke kamar atas, tempat biasa mereka menghabiskan waktu berdua


“Wah… capek nya” Ucap Fifin langsung menjatuhkan tubuh di atas ranjang besar itu

__ADS_1


“Mandi dulu sayang, baru tidur” Ucap Abi


“Masih capek, mandi in adek kalau mau” Jawab Fifin yang membuat suami nya geleng geleng kepala, sudah tahu ia sedang puasa tapi malah sang istri makin gemas untuk menggoda diri nya


“Adek bau keringat kalau tidak mandi” Ucap Abi, apalagi badan akan semakin capek saat tidur dalam posisi belum mandi


“Iya iya mas… adek mandi kok, mas duluan saja” Ucap Fifin


Abi menurut, ia mandi duluan dan selang beberapa menit pun ganti sang istri yang membersihkan badan


“Lega rasanya” Ucap Abi sambil menatap langit langit kamar mereka


“Tapi adek masih ingin berlama lama memandang ka’bah” Ucap Fifin menimpali


“Insya Allah kita bisa kesana lagi kalau memang di izinkan sama Allah” Ucap Abi


Mereka berdua pun lelap dalam tidur nya, Fifin memakai baju tidur dengan lengan pendek sedangkan Abi hanya pakai sarung dan kaus oblong saja, biar adem katanya


\~


Entah efek kelelahan mungkin, setelah lima jam tidur pun Fifin baru bangun, untung saja ia tidak melewatkan waktu sholat dzuhur


“Mas” Panggil Fifin sambil melirik suami nya yang nampak masih pulas


“Hmmm..” Abi hanya bergumam


“Mas” Panggil Fifin lagi tapi sambil menggoyangkan lengan suami nya


“Iya iya, ada apa?” Tanya Abizar yang berusaha membuka mata


“Ayo sholat” Ajak Fifin


Abi menguap sebentar lalu mengangguk, ia kemudian berjalan perlahan menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu


Fifin juga sama, ia berdiri tapi menuju walk in closet sebentar untuk mengambil peralatan sholat mereka


“Eh eh, rasa rasanya kok badan ku makin ngembang ya?” Ucap Fifin bertanya tanya saat ia omelihat kaca sambil berkacak pinggang


“Kenapa sayang?” Tanya Abi heran saat melihat istri nya seperti itu, dahi mengerut sambil meraba raba pinggang nya sendiri


“Adek makin gemuk ini kayak nya” Jawab Fifin


“Oh iya? Perasaan biasa aja kok, berat badan adek tidak nambah” Ucap Abizar hanya ingin menenangkan istri nya walau cukup kelihatan kalau berat badan Fifin sedikit bertambah


“Oh… tapi biasanya wanita kalau hamil itu berat badan nya makin bertambah, menurut mas gimana?” Tanya Fifin karena ia tiba tiba kesal lantaran banyak perempuan sexy diluar sana


“Ya tidak gimana gimana sayang, sudah normal nya memang seperti itu mau bagaimana lagi?” Ucap Abi yang tidak ingin ambil pusing


“Jadi mas tidak masalah kalau adek gendut nanti?” Tanya Fifin, ia yakin seiring berjalan nya waktu dan bertambah nya umur jabang bayi ini, pasti ikut ngembang juga badan nya


“Mboten, saestu” Jawab Abi ( saestu \= beneran )


“Yaudah, awas aja kalau sampai mas tertarik sama cewek cewek sexy diluar sana. Kalau sampai terjadi, maka itu… adek potong sampai habis dan bikin sate lalu di kasih ke kucing” Ucap Fifin mengancam sambil menunjuk bagian bawah suami nya


“Ngeri nya…” Batin Abi yang refleks langsung merapatkan kedua paha nya


“Awas loh ya” Ancam Fifin lagi

__ADS_1


“Njih sayangku, sudah adek wudhu dulu” Ucap Abi



__ADS_2