
"Sayang... mau sampai kapan adek terus khawatir?" Tanya Abi dengan lembut sambil mengelus elus kedua sisi wajah istri nya
Fifin menggeleng pelan, ia tidak tahu sampai kapan ia menyimpan rasa khawatir yang kurang jelas ini "Adek tidak tahu"
"Kalau adek mau menepis perasaan buruk itu, adek percaya sama mas ya? Berdo'a sama Allah untuk keselamatan mas, dan percaya juga kalau mas akan baik baik saja" Ucap Abizar yang tidak ingin istri nya berlarut larut memikirkan mimpi itu
Fifin tidak bisa menjawab dan hanya bisa diam saat pendengar penuturan dari suami nya, ia masih bingung dan menimang nimang kembali keputusan apa yang harus di ambil
Mas Wawan yang mendengar obrolan gus dan ning nya itu seketika mengernyitkan alis, dia bingung dengan apa yang sedang dibahas oleh pasutri favorit santri ini
Saat sudah sampai di rumah ndalem, Abi meminta agar mas Wawan keluar duluan dan menemani para santri yang sedang sibuk membantu untuk meletakkan souvenir resepsi di ruang tengah
Abi juga menahan tangan istri nya yang hendak keluar dari dalam mobil, "Kenapa?" Tanya Fifin
"Kita bicara sebentar ya..." Ucap Abi menutup kembali pintu mobil yang tadinya sempat terbuka
"Bicara apa?" Tanya Fifin
Abi tersenyum tipis, lalu memeluk tubuh sang istri dengan erat sampai Fifin pun dibuat keheranan
"Ya zaujati... mas bersyukur kamu mengkhawatirkan keselamatan mas, mas bersyukur kamu ada rasa cemburu, tapi sayang... semua itu ada takaran nya masing masing" Ucap Abizar dengan perlahan agar tidak menyinggung hati istri nya
"Lalu apa adek terlalu berlebihan?" Tanya Fifin yang mana ia makin menunduk dan menyandarkan kepala nya di dada bidang sang suami
"Menurut adek sendiri bagaimana?" Tanya Abi balik agar wanita yang ia cintai itu menyadari letak kesalahan nya
Fifin menghela nafas panjang, "Ya... adek memang berlebihan karena sudah terlalu cinta sama mas, sampai mengkhawatirkan hal yang hanya di anggap bunga tidur" Ucap nya
"Mas tidak pernah meremehkan mimpi kamu sayang, tidak... tapi dari mimpi adek tadi setidaknya mas akan lebih hati hati lagi dalam menyetir" Ucap Abi
"Hm.... ya sudah, gimana kalau adek bikin permintaan baru?" Ucap Fifin
"Apa sayang? Hmm?"
"Mas boleh menyetir sendiri, dengan syarat hati hati dan kalau perjalanan jauh harus bawa supir atau siapapun, kalau ads jadwal tausiyah dan pulang nya larut malam juga harus ditemani, jangan menyetir sendiri" Ucap Fifin agak tegas seolah ia ingin permintaan nya di patuhi kali ini
__ADS_1
Abi terkekeh "Lah... memang harus begitu ya? Kasian atuh yang nemenin mas nanti harus nyetir terus"
"Bawa dua orang mas, udah ya... jangan bikin adek khawatir lagi dengan mas yang mencoba melawan permintaan adek" Ucap Fifin
"Ya udah ya udah iya... nanti mas pikirkan lagi ya soal ini" Ucap Abizar yang tidak ingin merepotkan orang lain
Apalagi mas Wawan juga sepertinya akan otw halal, tidak mungkin kan ia meminta tolong dan merepoti mas Wawan terus menerus agar menemani nya
"Sudah ah, adek keluar dulu" Ucap Fifin melepaskan pelukan mereka
Tapi... bukan Abi namanya jika ia membiarkan istrinya pergi begitu saja, sebelum Fifin membuka pintu mobil, ia langsung menarik tengkuk wanita yang tertutup hijab itu dan mencium bibir nya
Fifin terbelalak, walaupun ciuman itu hanya berlangsung sebentar tapi tetap saja keberanian suami nya itu patut di uji, ini sekeliling mobil mereka banyak para santri loh
"Astaghfirullah... nanti ada yang melihat" Ucap Fifin sambil mengusap bibir nya yang basah
"Tidak ada yang lihat, kan kaca mobil nya hitam" Ucap Abi mengedipkan sebelah mata nya dan mengajak sang istri untuk keluar
~
"Waalaikumsalam... gus, ning" Jawab para santri serentak
Saat sudah sampai di rumah tengah ndalem, sudah banyak sekali souvenir yang sudah cantik dan disusun rapi oleh para santri
Find lantas mendekat pada umi, yaitu ibu mertua yang sudah ia anggap seperti ibu kandungnya sendiri
"Umi..." Ucap Fifin sambil memeluk umi dari samping, seperti nya ia sedang ingin bermanja manja
"Kenapa nak?" Tanya umi
"Mboten nopo nopo umi, cuman pengen memeluk umi saja" Jawab Fifin sembari tersenyum
Umi juga tersenyum dan mengelus elus lengan menantu nya itu, "Umi berdo'a agar kamu segera bisa jadi ibu nak..."
"Aamiin" Jawab Fifin dan Abizar secara bersamaan
__ADS_1
Abi pun bahagia melihat betapa dekat nya umi dan istru nya itu, tapi dari beberapa hari kemarin memang Fifin bersikap lebih manja baik padanya maupun pada umi, entahlah... mungkin ada yang berubah dengan hormon wanita itu
Kemarin Fifin juga sedikit memaksa agar biaya resepsi ini dibagi dua rata saja karena ia tidak ingin suami nya menanggung sendirian
Tapi... Abizar tetaplah Abizar, selagi ia mampu membayar semua biaya resepsi maka sebisa mungkin ia akan meratukan istri nya dan tidak mau membuat wanita itu mengeluarkan uang sedikit pun untuk resepsi ini
"Oh iya, bagaimana soal keputusan nya mas Wawan tadi?" Tanya umi
"Masya Allah umi... kang Wawan tadi hampir tidak bicara sedikitpun" Jawab Fifin tidak habis pikir dengan mas Wawan yang kurang humble pada wanita
Sebenarnya cukup kaget sih karena mas Wawan ini orang nya blak blak an, tapi kenapa pas nadhor sama Lia tadi jadi pendiam? Wkwk kiyut emang
"Njih umi... mas Wawan tadi masih gugup pas mengobrol, sampai keringat nya saja sudah bercucuran umi" Ucap Abizar
Umi terkekeh geli mendengarnya, mungkin karena mas Wawan kurang suka berbaur dengan perempuan dan jadilah ia seperti ini saat ditemani nadhor tadi
"Ya sudah... nanti biar abah yang tanyakan ke mas Wawan soal keputusan selanjutnya itu bagaimana" Ucap umi karena abah sudah pergi ke undangan tausiyah diluar
"Njih umi"
"Oh iya nak Fifin sudah puas sama souvenir nya?" Ucap umi yang mana di depan mereka sudah ada bertumpuk tumpuk souvenir
"Alhamdulillah... Fifin suka kok umi, apalagi barang nya sangat bermanfaat" Jawab Fifin tersenyum
Yap... Mereka memilih untuk membeli souvenir yang lengkap, ada sabun mandi, bathrobe, sajadah, dan mukenah. Untuk tamu laki laki akan diganti dengan baju kokoh dan peci hitam
Sengaja mereka memberi souvenir tersebut agar semua tamu akan selalu mengingat sholat wajib dan tidak akan pernah meninggalkan nya sekalipun
"Alhamdulillah kalau nak Fifin sudah puas dengan souvenir nya" Ucap umi tersenyum
"Umi... Abi ke atas dulu njih" Ucap Abi yang sepertinya ada urusan masalah pekerjaan dan ingin langsung ke kamar atas
"Udah mau resepsi kok masih kerja toh nak..." Ucap umi heran pada putra nya
Abi hanya nyengir dan terkekeh, ia kemudian melangkah ke kamar atas, sedangkan istri nya dan umi masih asik mengobrol berdua di bawah.
__ADS_1
°