Perjalanan Cinta Abizar

Perjalanan Cinta Abizar
102. Innalillahi


__ADS_3

Ternyata setelah di bawa ke instalasi gawat darurat, Silvi butuh penanganan lanjut karena bagian tulang kaki nya ada yang patah


Begitu juga dengan Fifin, ia dilarikan ke poli ibu hamil karena perut nya yang terhimpit dan di khawatirkan bayi nya kenapa kenapa


“Dok, gimana keadaan Fifin?” Tanya Lia yang terus mengikuti kemana brankar Fifin menuju, masa bodoh dengan pekerjaan yang harus ia lakukan


“Li… keluarga nya udah datang belum?” Tanya dokter Wina yang berusaha untuk tidak panik, hal ini sudah pernah terjadi sebelumnya dan ia harus bisa setenang mungkin


“Belum dok” Jawab Lia menggeleng lemas


“Sa-saya suaminya” Jawab seseorang, ya… itu Abizar yang sedang ngos ngos an dan panik saat mendengar kabar tentang istri nya yang mengalami kecelakaan


“Gus” Panggil mas Wawan refleks


Abizar langsung lari menghampiri dokter Wina, ia butuh informasi soal keadaan istri nya “Bagaimana keadaan istri saya dok? Dia tidak apa apa kan? Tidak ada luka yang membahayakan?” Ucapnya bertanya sambil harap harap cemas


Dokter Wina menggeleng, ia memberi tahu bahwa setelah memeriksa Fifin tadi ternyata ada pendarahan hebat di bagian kaki, pun saat di usg ternyata satu janin nya tidak bergerak sama sekali


Abizar seketika lemas, kaki nya sampai tidak kuat menopang tubuh dan hampir saja badan nya hampir menyentuh lantai kalau tidak ada mas Wawan yang membantu nya


“Gus, ya Allah” Ucap mas Wawan yang ikut menangis, ia kasihan dengan kondisi ning Fifin dan Abizar yang jelas terpukul sekarang


“Jadi saya minta persetujuan untuk melakukan tindakan operasi sekarang, demi keselamatan bayi yang satu nya dan juga istri bapak” Ucap dokter Wina


Abizar sekuat tenaga berusaha berdiri dan menandatangani berkas yang diperlukan, termasuk segala keperluan yang dibutuhkan setelah operasi nanti


“Saya minta tolong, selamatkan istri saya” Ucap Abizar dengan mata sayu nya


“Insya Allah” Jawab dokter Wina mengangguk sebelum akhirnya masuk ke ruang operasi, ditemani Lia juga sebagai pendamping atau yang membantu di dalam nanti


Tap tap tap!


“Abi” Panggil umi dan abah saat mereka sudah sampai di depan ruang operasi, tadi mereka mengurus soal Silvi dulu dan setelah selesai barulah mendatangi menantu nya


Abi tidak menjawab, tapi air mata yang dari perjalanan sudah ia tahan pun runtuh juga saat melihat kedua orang tuanya datang


“Akhhh umi” Ucap Abizar agak serak dan tubuh nya luluh begitu saja di lantai, ia begitu menyesal dan tidak bisa membayangkan betapa sakit nya hal yang Fifin rasakan sekarang


“Nak… ya Allah, umi tau ini berat, tapi Abi harus bisa kuat ya? Siapa yang menemani Fifin kalau Abi juga sedih seperti ini? Hmm?” Ucap umi berusaha menenangkan anak nya dengan memeluk Abizar sekuat mungkin


“Memang keadaan Fifin bagaimana nak?” Tanya abah pada mas Wawan


“Mengalami pendarahan di bagian kepala dan kandungan nya abah, sampun mboten wonten pergerakan saking salah satu janin i pun” Jawab mas Wawan mengucapkan yang sejujur jujurnya

__ADS_1


“Astaghfirullah… ya Allah” Abah juga langsung terduduk di kursi ruang operasi, masih shock dan kaget saja karena tadi pagi Fifin masih mengobrol dengan nya soal anak anak


“Umi…. Fifin umi hkss” Ucap Abizar di sela sela tangisan nya yang tersedu sedu, ia benar benar mengkhawatirkan istri nya dan bayi yang ada di dalam perut tersebut


“Anak umi, bisa kan yang tabah sekarang? Fifin nanti sedih kalau lihat kamu seperti ini” Ucap umi, walau dia sendiri juga menangis tapi ia tetap berusaha untuk terus menenangkan putra nya


“Abi menyesal umi” Ucap Abizar yang makin tidak berhenti tangisannya, mengingat ia yang tadi menunda periksa kehamilan hanya karena dia merasa lelah


“Ssttt… tidak ada yang namanya menyesal karena hal yang sudah terjadi, lebih baik sekarang Abi yang tenang… berdo’a yang banyak supaya Fifin baik baik saja, ya?” Ucap umi


Dengan bantuan mas Wawan, umi membopong tubuh Abizar dan di dudukkan tepat di samping abah, ia yang dari tadi menangis kini terdiam dengan tatapan kosong ke pintu ruang operasi


“Maafin mas sayang, mas menyesal” Batin Abizar menerawang hari hari kemarin saat mereka masih baik baik saja


Abah pun merangkul pundak Abi untuk memberikan ketenangan, walau ia juga terpukul tapi ada putra nya yang lebih terpukul sekarang


\~


Sudah lebih dari satu jam namun pintu operasi tak kunjung dibuka juga, sampai Abizar mondar mandir terus tanpa henti di depan pintu itu dengan perasaan yang tidak karuan


“Mas Wawan, umi minta tolong boleh? Lihat keadaan Silvi di bawah, harusnya sudah masuk ke ruang perawatan” Ucap umi


“Njih umi” Ucap mas Wawan langsung sigap untuk memeriksa kondisi Silvi di ruang lain


“Abi… sabar ya nak” Ucap abah yang tentu nya sedang prihatin sekarang


Lhap! Lampu operasi yang tadi menyala kini sudah mati,itu menandakan bahwa operasi sudah selesai dan pasien harus dipindahkan ke ruang rawat


Ceklek!


“Dok, bagaimana hasil nya dok?” Tanya Abi tidak sabar saat melihat dokter Wina sudah keluar


Abah dan umi juga langsung berdiri lalu mendekat pada dokter Wina, mereka berdua juga sangat khawatir dan ingin tahu kondisi menantu nya


“Alhamdulillah operasi nya berjalan lancar, tapi Fifin masih dalam keadaan kritis jadi belum bisa di jenguk sampai dnanti dibawa ke ruang rawat inap” Jawab dokter Wina


“Ya Allah…”


Tapi setidaknya Abi bisa lega saat mengetahui operasi nya lancar pun istri nya juga masih hidup walau sedang ada di ambang kematian


“Lalu, bayi nya dok?” Tanya umi


Belum sempat dokter Wina menjawab, Lia keluar ruangan dengan membawa bayi mungil yang sudah bersih dan di pakaikan kain bersih

__ADS_1


Tapi… bayi itu hanya terdiam atau terlihat seperti sedang tidur, sedangkan suster yang satunya lagi membawa bayi yang berada di dalam inkubator


“Bayi yang satu ini laki laki, memang selamat tapi butuh perawatan intensif karena lahir sebelum waktu nya dan organ dalam nya masih belum siap, dan untuk yang satu lagi… kami memohon maaf yang sebesar besar nya” Ucap dokter Wina menunduk sebagai rasa belasungkawa nya


Lia sedang berusaha untuk tidak menangis saat ia menggendong bayi sahabat nya sendiri yang sudah meninggal, apalagi Abizar… tangis nya langsung keluar saat tahu bahwa bayi yang mereka tunggu tunggu kini malah pergi duluan meninggalkan mereka semua


Sedangkan dokter Wina yang tadi terenyuh kini kembali masuk ke dalam ruangan karena ada yang harus ia lakukan supaya Fifin cepat dipindahkan ke ruang rawat


“Masya Allah, cantik sekali putri abah” Ucap Abizar lirih sambil menangis saat menggendong putri nya yang bertubuh mungil dan tidak bernyawa


Abah dan umi juga ikut menangis, meski yang satu selamat tapi mereka kehilangan cucu perempuan, bahkan anak perempuan itu sudah di harapkan oleh menantu nya


“Maaf, saya izin membawa bayi ini ke NICU” Ucap suster yang membawa putra Abi dalam inkubator


Abi juga melirik ke putra nya dengan tatapan sedih “Masya Allah, kamu juga tampan sekali nak” Ucap nya


Abi pun mengangguk karena putra nya pasti butuh penanganan segera di NICU, ia mungkin masih bersedih dan lebih fokus ke putri nya yang sudah meninggal


“Umi, pripun ini?” Tanya Abi seketika bingung apa yang harus ia lakukan, ia hanya berdiri sambil menangis dan terus menggendong putri nya


“Biar abah beri kabar ke pengurus pondok, supaya mereka menyiapkan segala keperluan pemakaman” Ucap abah


Abizar mengangguk angguk, ia juga sering menciumi bayi mungil itu karena setelah ini mereka berdua tidak akan bisa bertemu lagi


“Ibu kamu hebat nak, bisa bertahan sejauh ini dan melahirkan bayi cantik seperti kamu” Ucap Abizar dalam hati karena ia rasa mulut nya masih terlalu kalu untuk berucap


“Pripun mas Wawan keadaannya Silvi?” Tanya umi ketika mas Wawan sudah kembali dari lantai bawah


“Sampun di pindah ten ruang rawat umi, alhamdulillah operasi nya lancar” Jawab mas Wawan meski kondisi Silvi cukup memprihatinkan


“Alhamdulillah…”


“Umi, maaf kalau boleh Lia ngasih saran, tolong bayi ini di foto dulu sebelum di makamkan, supaya Fifin nanti ketika sadar masih bisa melihat wajah putri nya walau hanya dari foto saja” Ucap Lia karena Fifin masih dalam kondisi kritis, itupun belum bisa dipastikan apakah setelah 48 jam ia bangun atau tidak


“Iya Lia, nanti di foto kalau sudah sampai di rumah” Ucap umi mengangguk, walau sudah tiada tapi tetap saja sebagai ibu Fifin pasti ingin melihat bayi perempuan nya


“Gus, kulo anter ten griyo nggeh? Sak aken kalau ngentosi dangu” Ucap mas Wawan menawarkan bantuan ( gus, saya antar ke rumah ya? Kasihan kalau kelamaan menunggu )


“Tapi, Fifin pripun umi? Abi masih tidak bisa tenang” Ucap Abizar lantaran ia belum bisa menemui istrinya sama sekali, tapi ia juga ingin mengantar bayi mungil nya ke tempat peristirahatan terakhir


“Insya Allah nak Fifin baik baik saja, Abi urus pemakaman dulu ya? Kasihan nak kalau lama lama, umi juga sudah mengabari orang tua Fifin yang sekarang sedang menuju ke rumah” Jawab umi


“Iya nak… biar abah dan umi yang menjaga Fifin” Ucap abah

__ADS_1


Abi terdiam sejenak, lalu ia mengangguk sebagai jawaban dan dengan sangat berat hati meninggalkan Fifin disini untuk mengurus pemakaman putri nya.



__ADS_2