Perjalanan Cinta Abizar

Perjalanan Cinta Abizar
84. Tanggung jawab


__ADS_3

Setelah 10 hari mereka di kota suci Makkah pun selesai juga rangkaian ibadah yang dilakukan, 2 hari ini para jama’ah akan fokus dengan ibadah masing masing dan juga jalan jalan di sekitar untuk mencari buah tangan


“Mas” Panggil Fifin saat dia dan sang suami duduk di masjidil haram


“Dalem sayang?” Jawab Abi sambil menoleh ke samping saat mereka berdua sudah selesai sholat isya’


“Setelah ini kita kemana?” Tanya Fifin


“Habis ini mas wirid dulu sebentar, nanti kita jalan jalan ya… cari buah tangan” Ucap Abi


“Ohh… oke” Jawab Fifin menganggukkan kepala sambil tersenyum dan terus bergelayutan manja di lengan suami nya


“Adek kenapa kok manja lagi?” Tanya Abi sebelum memulai wirid nya


“Emm ya pengen aja, jadi tidak ada alasan nya” Jawab Fifin


Abi hanya mengangguk angguk lalu berusaha fokus wirid sesuai target nya walau sang istri terus bergelayutan dan menempel dengan nya


Fifin juga tidak mengganggu suami nya, ia malah menaruh handphone dan tersenyum dengan mata yang berkaca kaca fokus memandang ka’bah


“Ya Allah, hamba ingin sekali jadi seorang ibu, hamba mohon kabulkan dan berilah nyawa di dalam sini” Batin Fifin dengan tangan kanan yang mengelus elus pelan perut nya


Setelah setengah jam Abi fokus dengan tasbih, akhirnya ia juga selesai dan langsung menoleh pada sang istri yang nampak nya tidak bosan memandang ka’bah terus menerus


“Ayo” Ajak Abi


“Oh udah selesai? Yaudah ayo” Ucap Fifin


Abi memberi tahu panitia travel dulu agar menjaga para jama’ah sebentar karena ia ingin berkunjung dulu di tempat lain


“Mobil siapa ini?” Tanya Fifin saat mereka ada di parkiran hotel


“Milik teman nya mas, mas pinjam sebentar” Jawab Abi lalu menyuruh sang istri masuk dan ia mulai keluar menuju tempat oleh oleh


Fifin suka jalan jalan disini walau hawa dan cuaca sangat berbeda dengan di Indonesia, namun tetap saja ia suka


“Mau menetap disini?” Tanya Abi


Fifin menggeleng, memang Makkah itu indah tapi ia cinta dengan kampung halaman nya sendiri, tempat dimana ia dilahirkan


“Ya mas juga tidak mau sih, bukan tidak betah tapi mas cinta dengan rumah mas dari kecil” Jawab Abi


“Mas, memang butik juga mengirim kesini?” Tanya Fifin


“Alhamdulillah, benar sayang” Jawab Abi karena ia mempunyai teman disini jadilah memudahkan untuk mengirim produk butik ke Makkah


Akhirnya sampailah mereka di pusat perbelanjaan oleh oleh, biasanya orang yang haji atau umroh akan mampir kesini untuk membeli sesuatu


“Mau beli apa?” Tanya Abi


“Adek terserah mas saja” Jawab Fifin bingung karena banyak sekali barang barang disini


“Ya sudah” Jawab Abi, akhirnya ia ke toko pertama dimana ada yang jual macam macam tasbih, peralatan sholat dan sebagai nya


Ia membeli banyak karena ingin memberikan nya pada anak anak santri nanti, kalau keberatan juga gampang, nanti ia bisa membeli bagasi lebih banyak di bandara


Fifin hanya membantu memilih milih tasbih saja, untuk urusan komunikasi malah ia tidak bisa sama sekali dan pusing rasanya saat mendengar Abi berbicara pada penjual nya


“Eh, itu kan gamis dari butik ya?” Tanya Fifin menunjuk salah satu toko yang memang menjual baju


“Njih sayang, mas kan sudah bilang tadi” Jawab Abi yang juga tersenyum saat mengingat ia sudah berhasil mengimpor barang dari butik ke luar negeri


“Alhamdulillah, semoga bisa laris dan makin lancar rezeki nya” Ucap Fifin

__ADS_1


“Aamiin”


Setelah berjalan jalan mengelilingi beberapa toko, Abi kemudian menantang istri nya dengan iming iming hadiah uang


“Sayang” Panggil nya


“Ha? Dalem?” Jawab Fifin


“Mas tantang adek beli coklat disana dengan lima jenis, masing masing jenis satu kilo” Ucap Abi menunjuk penjual coklat dengan macam yang beragam


“Lahh enggak mau, adek mboten saget ngomong nya” Jawab Fifin menggelengkan kepala


“Mudah kok sayang, adek coba saja” Ucap Abi


“Mudah apanya? Enggak ah kasihan nanti dia tidak mengerti apa yang adek bilang” Ucap Fifin tetap menolak


“Kalau berhasil mas kasih satu juta” Ucap Abi


“Oke deal!” Jawab Fifin langsung setuju saat mendengar ada hadiah uang, lumayan banyak itu satu juta sudah berapa persen dari gaji yang ia dapat dari rumah sakit


Abi geleng geleng kepala, kok jadi mata duitan gini istri nya? Tapi tidak apa apa karena chalenge nya lumayan susah bagi Fifin yang tidak bisa bahasa Arab


Ya… akhirnya dengan raut wajah agak terpaksa, Fifin mulai mendekat pada penjual nya dengan menggenggam erat dompet sang suami yang memang diberikan pada nya


“Assalamualaikum” Ucap Fifin di awal karena ia bingung harus menyapa seperti apa


“Wa’alaikumsalam, wahu wahid hal turid shira'a?” Jawab penjual tersebut ( mau beli yang mana? )


Adeh, Fifin langsung berasa mau pijat kepala saat tidak mengerti ucapan penjual nya tadi


“Na’am na’am, mau beli” Jawab Fifin sebisa nya sambil menganggukkan kepala berkali kali, berharap agar sang penjual mengerti apa maksud nya


“naeam , ma hi alshuwkulatat alati turiduha?” Tanya penjual nya lagi setelah paham maksud Fifin ( iya, mau beli coklat yang mana? )


Tapi sang suami hanya mengedikkan bahu dan bilang bahwa ini adalah chalenge, jadi ia tidak mau ikut ikut an


“Ishh..” Batin Fifin kesal


Ia kemudian melihat lihat coklat dengan bentuk yang menarik, lalu mulai menunjuk lima jenis coklat yang sepertinya memang enak


“turid khamsat min hawula'i?” Tanya penjual nya ( mau beli lima macam ini? )


Mata Fifin jadi makin lebar saat penjual nya bertanya kembali, tapi ia hanya mengangguk angguk saja karena perasaan nya bilang bahwa penjual memastikan lima jenis coklat yang akan dia beli


“kam eadad aleubuaat alati turiduha?” Tanya nya lagi ( mau yang kemasan berapa? )


Aduh… Fifin makin bingung, tapi ia menjawab dengan menunjuk coklat yang sudah di kemas, ada 4 kemasan dengan paling kecil sampai paling besar berukuran satu kilo


“kulu eubuat tazin kilughram wahid?” Tanya nya ( masing masing kemasan satu kilo gram? )


“Iya, eh na’am na’am” Ucap Fifin mengangguk angguk dan bersyukur karena penjual paham apa maksud nya, dan ia pun mengerti karena ada kata kilogram dan wahidun yang artinya satu


“'awh naeam hasanan , min fadlik antazar lahzatan” Jawab nya lalu sibuk menimbang coklat ( oh iya baik, mohon tunggu sebentar )


Fifin menghela nafas lega, masalah total uang itu mudah dan ia sudah mengerti


Disisi lain, Abi masih tertawa hebat saat istri nya bingung dan menjawab dengan isyarat, gelengan, juga anggukan, tapi harus diakui kalau keberanian istri nya itu hebat sekali


Tak lama Fifin datang dengan senyum dan tas besar berisi coklat di tangan kanan dan kiri “Jangan lupa transfer satu juta” Ucap nya


“Hahaha, iya…” Ucap Abi lalu mengambil alih barang di tangan sang istri


Wkwk, lucu juga kalau mengingat Fifin rela pakai bahasa isyarat demi uang satu juga

__ADS_1


“Karena berhasil jadi mas tambahin” Ucap Abi menunjukkan mbanking dengan nominal lima juta yang sudah masuk ke rekening istri nya


“Wah… oke terimakasih” Jawab Fifin, tidak sia sia ia tadi kebingungan kayak orang lingkung tapi bisa juga dapat hasil nya


Mereka berdua kemudian duduk di kursi sekitar yang sudah disiapkan, Abi mengambil dan mencicipi coklat tadi yang memang enak rasanya


“Mau coba?” Tanya Abi memberikan coklat yang sudah dibuka


“Mau lah” Jawab Fifin menerima coklat itu, tapi….


“Ugh… huek” Fifin malah mual saat mau memakan nya, jadi coklat yang dimakan tadi belum sempat tertelan malah keluar lagi


“Astaghfirullah, adek masuk angin? Atau kenapa?” Tanya Abi panik dan membersihkan meja yang terkena muntahan istri nya


“Mboten semerap ( tidak tahu)” Jawab Fifin yang seketika tubuh nya menjadi lemas


“Kayak nya memang iya, kita balik istirahat di hotel aja ya? Nanti mas belikan obat” Ucap Abi


Fifin mengangguk, semua barang belanjaan mereka itu Abi yang membawa nya dan bergegas kembali ke hotel agar keadaan istri nya tidak makin memburuk


Saat dalam perjalanan pun Abi berhenti sebentar ke apotek terdekat untuk membeli obat


“Eh adek mau apa? Mungkin minum apa biar makin enak an?” Tanya Abi sebelum turun


“Apa aja yang buat masuk angin, sama tolong belikan tespeck ya mas” Jawab Fifin


“Tespeck buat apa sayang? Kemarin sudah cek kan?” Tanya Abi karena kemarin hasil nya negatif jadi ia tidak mau kalau sampai istri nya sedih lagi


“Buat jaga jaga, tidak apa apa beli aja” Jawab Fifin


Abi pun pasrah dan masuk ke dalam apotek untuk membeli obat, beberapa minuman yang menghangatkan tenggorokan, juga tespeck titipan istri nya


Setelah sampai di hotel, Abi membantu istri nya untuk berbaring dulu di ranjang itu sampai kondisi nya membaik


“Aduh mas lupa kalau harus ke masjidil haram karena para jama’ah masih ada disana” Ucap Abi


“Mas pergi saja tidak apa apa” Ucap Fifin


“Mboten ah, nanti kalau adek butuh apa apa gimana?” Ucap Abi bimbang, ia harus pergi apa izin dulu sebentar sampai Fifin membaik?


“Ya udah, kalau gitu bantu adek ke kamar mandi ya… nanti setelah itu mas langsung balik ke sana” Ucap Fifin


“Ya sudah, ayo” Ajak Abi membohong tubuh Fifin yang sepertinya memang benar benar lemas


“Adek bisa sendiri, mas tunggu di depan pintu sebentar” Ucap Fifin


“Serius?” Tanya Abi


“Iya” Jawab Fifin yang duduk di kloset


“Ya udah, kalau butuh apa apa langsung panggil mas saja” Ucap Abi


Fifin mengangguk, Abi juga keluar dan menunggu istri nya selesai, tapi… cukup lama sih, sekitar dua puluh menit itu istri nya belum keluar juga dari kamar mandi, tadi bahkan sepuluh menit belum keluar pun Abi selalu bertanya tapi istri nya hanya menjawab bahwa sedang sakit perut jadi butuh waktu agak lama


“Sayang, kok lama? Sakit perut nya parah?” Tanya Abi


“Mas, kamu harus tanggung jawab!” Teriak Fifin dari dalam kamar mandi


Abi jelas langsung kaget, ia lantas membuka pintu kamar mandi dan melihat Fifin yang masih duduk di atas kloset dengan wajah yang penuh keringat


“Kenapa kok teriak teriak? Mas harus tanggung jawab apa sayang?” Tanya Abi dengan ekspresi panik, bingung dan kaget menjadi satu.


__ADS_1


Sabar ya… sebentar lagi liburan sekolah jadi Insya Allah bakal update denga teratur karena tidak harus bangun pagi pagi buat mandi😭😂


__ADS_2