
Keesokan pagi nya setelah sholat dhuha, Abah mengumumkan pada semua santri nya baik putra maupun putri untuk berkumpul di halaman pondok sebentar
Jadilah gerbang pembatas juga dibuka pagi ini, karena akan ada pengumuman yang abah sampaikan
"Gimana mas? Sudah?" Tanya mas Wawan pada Eko yang baru selesai membentangkan tikar di seluruh halaman
"Sampun mas"
Pengurus laki laki yang berada di ruang informasi pun juga segera memberikan kabar pada anak anak
🎙📢 : Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, pengumuman untuk seluruh santri baik putra maupun putri, setelah sholat dhuha di mohon untuk langsung berkumpul di halaman pondok pesantren darussalam, sekian terimakasih... Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Fifin yang baru selesai sholat dhuha bersama suami nya di kamar pun lantas melihat lewat jendela kamar, bisa dilihat bahwa mas mas pengurus masih sibuk merapikan tikar untuk anak anak
"Pagi ini ya perizinan anak anak pulang?" Tanya Fifin
"Iya" Jawab Abi sambil merapikan sarung dan baju yang ia kenakan
"Adek ganti baju gih, habis itu kita turun"
Fifin mengangguk dan langsung mengganti mukena yang masih ia pakai dengan gamis rumahan tertutup
Saat mereka turun, sudah ada umi dan abah yang duduk di gazebo dalam atau pendopo mini di halaman pondok, beserta anak anak yang sudah duduk rapi di situ
"Kita mau kemana?" Tanya Fifin saat Abi terus menarik lengan nya sambil berjalan
"Itu, di panggil umi sama abah ke depan"
Fifin dan Abi berjalan lewat pinggir untuk bergabung dengan abah dan umi, sedangkan mas dan mbak mbak pengurus pondok menyebar ke sekeliling anak anak untuk menjaga kesenyapan
"Adek malu" Ucap Fifin
"Tidak apa apa, ayo" Ajak Abi lalu melepas sandal dan duduk di sebelah abah, sedangkan istri nya tentu duduk di sebelah umi
Mas Wawan kemudian memberikan mic yang sudah di cek pada abah
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.."
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabaratuh abah" Jawab seluruh santri yang berkumpul
"Wah... anak anak abah semua sedang semangat ya karena mau pulang?" Tanya abah sambil sedikit tertawa
"Hehe..." Terdengar beberapa santri yang terkekeh karena ucapan abah tadi memang benar
"Alhamdulilah wa syukurillah kita semua masih diberi kesehatan sampai saat ini, terutama untuk semua anak anak yang abah sayangi dan banggakan"
"E... ada yang mau abah umumkan, sesuai yang kalian dengar dari mas mas dan mbak mbak pengurus, kalau mulai sore nanti sampai liburan selesai kalian akan libur kegiatan pondok dan boleh pulang ke rumah"
Alhamdulillah... akhirnya liburan!
Yeay...
Hu....
Terdengar beberapa kehebohan dari santri yang merasa senang ketika kabar mereka boleh pulang sudah di konfirmasi oleh abah
"Tentu nya ketika liburan di rumah bukan berarti tidak ada tugas ya" Ucap abah lalu mempersilahkan putra nya alias Abizar untuk meneruskan
"Baik, sesuai kesepakatan abah dan saya... ketika liburan di rumah, kalian di wajibkan untuk hafalan sesuai target dari kelas masing masing dan murajaah saat sudah kembali kesini"
Ratusan santri yang tadi senang pun seketika banyak yang shock, mereka pikir ketika liburan bisa tenang tanpa hafalan, kenyataan nya pun tetap di kasih tugas
"Masih ingat apa prinsip kita kan?" Tanya Abi
Sontak saja seluruh santri langsung kompak menjawab "DI PONDOK NGAJI, DI RUMAH TETAP NGAJI"
"Alhamdulilah kalau masih ingat, dan jangan khawatir soal kalian akan di jemput atau tidak karena kemarin pengurus sudah mengabarkan ke orang tua kalian semua untuk menjemput putra putri mereka sore nanti"
Abi kemudian memberikan mic kembali pada abah, tapi abah menolak dan menyuruh Abi untuk menutup dengan di akhiri istighosah sebentar
"Ada yang ingin bertanya atau sudah paham semua?" Tanya Abi
"SAMPUN GUS, TERIMAKASIH" Jawab mereka
Abi mengangguk lalu "Umi sama adek ada yang mau di sampaikan sama mereka?" Tanya Abi
Umi menerima mic tersebut dan "Senang ya anak anak umi mau liburan? Silahkan nikmati waktu kalian bersama keluarga tapi juga tetap ngaji ya, insya allah barokah"
"NJIH UMI, TERIMAKASIH" Jawab para santri
"Maaf, umi?" Tanya Fifin kaget saat mic itu tiba tiba sudah berada di tangan nya karena umi yang memberikan tadi
"Sepatah dua kata saja untuk anak anak, mereka pasti suka sama kamu" Ucap umi tersenyum karena setelah ia mengucapkan kata semangat tadi, seluruh anak anak banyak yang menatap menantu nya dalam artian berharap bahwa Fifin juga menyampaikan sesuatu untuk mereka
__ADS_1
Fifin mengambil nafas dalam dalam "Em... selamat berlibur ya anak anak, semoga selamat sampai kembali disini.. jangan lupa belajar yang rajin dan saya juga menanti kalian kembali kesini" Ucap nya sambil tersenyum
"NJIH NING, TERIMAKASIH" Ucap para santri yang tersenyum semua saat mendengar Fifin berbicara
Abi juga ikut tersenyum, lalu ia mengambil kembali mic dari tangan istri nya dan mulai memimpin istighosah bersama pagi ini
Yuk istighosah an dulu sebentar
الإستغـاثة
بسم الله الرحمن الرحيم
الفاتحة
1. أَسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ 11×
2. لاَحَوْلَ وَلاَقُوَّةَ اِلاَّ بِاللهِ العَلِيِّ العَظِيْمِ 11×
3. لاَحَوْلَ وَلاَمَلْجَأَ وَلاَمَنْجَى مِنَ اللهِ اِلاَّ اِلَيْهِ 11×
4. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ 11×
5. يَا اللهُ يَاقَدِيْمُ 11×
6. يَا سَمِيْعُ يَا بَصِيْرُ يَابَاسِطُ يَاجَلِيْلُ 11×
7. يَامُبْدِئُ يَاخَالِقُ 11×
8. يَاحَفِيْظُ يَانَصِيْرُ يَاوَكِيْلُ يَا أَللهُ 11×
9. يَاحَيُّ يَاقَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ 11×
10. يَالَطِيْفُ 25×
11. أَسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا 11×
12. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ قَدْ ضَاقَتْ حِيْلَتِىْ أَدْرِكْنِيْ يَارَسُوْلَ اللهِ 11×
13. اللَّهُمَّ صَلِّ صَلاَةً كَامِلَةً وَسَلِّمْ سَلاَمًا تَامًّا عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدِ نِالَّذِيْ تَنْحَلُّ بِهِ العُقَدُ وَتَنْفَرِجُ بِهِ الْكُرَبُ وَتُقْضَى بِهِ الْحَوَائِجُ وَتُنَالُ بِهِ الرَّغَائِبُ وَحُسْنُ اْلخَوَاتِمِ وَيُسْتَسْقَى الغَمَامُ بِوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ وَعَلَى أَلِهِ وَصَحْبِهِ فِيْ كُلِّ لَمْحَةٍ وَنَفَسٍ بِعَدَدِ كُلِّ مَعْلُوْمٍ لَكَ 3×
14. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلاَةً تُنْجِيْنَا بِهَا مِنْ جَمِيْعِ اْلأَهْوَالِ وَاْلأَفَاتِ وَتَقْضِى لَناَ بِهَا جَمِيْعَ الحَاجَاتِ وَتُطَهِّرُنَا بِهَا مِنْ جَمِيْعِ السَّيِّئَاتِ وَتَرْفَعُنَا بِهَا عِنْدَكَ اَعْلَى الدَّرَجَاتِ وَتُبَلِّغُنَا بِهَا اَقْصَى اْلغَايَاتِ مِنْ جَمِيْعِ الخَيْرَاتِ فِى الحَيَاةِ وَبَعْدَ الْمَمَاتِ 3×
15. يَابَدِيْعُ 25×
16. يس . الواقعة
18. حَصَّنْتُكُمْ بِالْحَيِّ القَيُّوْمِ الَّذِى لاَيَمُوْتُ أَبَدًا وَدَفَعْتُ عَنْكُمُ السُّوءَ بِأَلْفِ أَلْفِ لاَحَوْلَ وَلاَقُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ العَلِيِّ اْلعَظِيْمِ ۳×
19. الْحَمْدُ ِللهِ الَّذِى أَنْعَمَ عَلَيْنَا وَهَدَانَا عَلَى دِيْنِ الإِسْلاَمِ 3×
20. بِسْـمِ اللهِ مَا شَآءَ اللهُ لاَيَسُوْقُ الْخَيْرَ اِلاَّ اللهُ 1×
ِبسْـمِ اللهِ مَا شَآءَ اللهُ لاَيَصْرِفُ السُّوءَ اِلاَّ اللهُ 1×
بِسْـمِ اللهِ مَا شَآءَ اللهُ مَا كَانَ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللهِ 1×
بِسْـمِ اللهِ مَا شَآءَ اللهُ لاَحَوْلَ وَلاَقُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ اْلعَلِيِّ العَظِيْمِ 1×
21. سَأَلْتُكَ يَاغَفَّـارُ عَفْـوًا وَتَوْبَةً . وَبِالقَهْرِ يَاقَهَّارُ خُذْ مَنْ تَحَيَّلاً ۳×
فَهَبْ لِيْ يَاوَهَّابُ عِلْمًا وَحِكْمَةً . وَلِلرِّزْقِ يَارَزَّاقُ كُنْ لِيْ مُسَهِّلاً ۳×
22. يَاجَبَّارُ يَاقَهَّارُ يَاذَا البَطْشِ الشَّدِيْدِ، خُذْ حَقَّنَا وَحَقَّ المُسْلِمِيْنَ مِمَّنْ ظَلَمَنَا وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَتَعَدَّى عَلَيْنَا وَعَلَى اْلمُسْلِمِيْنَ ۳×
23. الفاتحة
24. التهليل بالإختصار
Setelah istigosah selesai, keluarga Abi dan para sastriwan santriwati pun juga membubarkan diri karena anak anak akan menyiapkan baju baju sebelum mereka di jemput pulang oleh orang tua masing masing
Tapi... alis Fifin mengerut ketika melihat beberapa santriwan santriwati terlihat santai disaat teman nya yang sibuk mengemasi barang barang dll
"Mas, kenapa mereka santai banget?" Tanya Fifin
"Itu antara mereka sudah bersiap dari kemarin dan bisa jadi mereka tidak bisa pulang" Jawab Abi sambil merangkul lengan istri nya di hadapan santriwan santriwati yang masih sliweran kesana kesini
"Kenapa tidak bisa pulang mas?" Tanya Fifin dan ia membiarkan saja tangan sang suami nangkring di pundak nya
"Karena rumah mereka jauh, kalau luar kota masih bisa pulang.. kemungkinan rumah mereka luar provinsi dan mas tidak hafal mana saja, jadi mereka tidak bisa pulang karena biaya pesawat juga mahal dek" Jawab Abi menjelaskan
Mengingat bahwa pondok darussalam memang bagus tapi bukan pondok elit, semua santri pun tidak perlu membayar biaya makan dll, orang tua mereka hanya perlu mengirim uang saku dan biaya sekolah. Dan ntuk keperluan sehari hari seperti makan, ada donatur sendiri yang menanggung nya
Meskipun orang tua dari santri ada beberapa yang kaya bahkan berkecukupan, tapi sekali lagi... bahwa pondok darussalam mengajarkan pada santri mereka untuk hidup sederhana selama mencari ilmu disini
Maka pengiriman jumlah uang saku juga harus sesuai dengan peraturan pondok, tidak boleh dilebihkan seperti sengaja memberi uang jajan berlebihan pada anak mereka, kecuali ada hal tertentu seperti kas kelas dll
__ADS_1
"Oh... kasihan, nggak bisa ketemu sama orang tuanya" Ucap Fifin merasa iba
"Tapi insya Allah orang tuanya akan ikut senang ketika putra putri mereka memiliki ilmu yang bermanfaat dan barokah walau jarang pulang" Ucap Abi
"Mereka yang tidak bisa pulang, nanti akan mendapat giliran untuk video call bersama orang tua lewat komputer yang sudah di sediakan"
Fifin setuju dan menganggukkan kepala, sambil mereka jalan berdua menuju rumah, Ia memberanikan diri untuk membalas rangkulan Abi... yaitu dengan memeluk pinggang suami nya dari samping
"Udah berani megang?"
"Lah, mas juga udah berani megang adek duluan" Ucap Fifin tidak mau kalah
Abi terkekeh, lalu mendekatkan bibir nya pada telinga sang istri dan berbisik pelan disana "Asli nya mas juga berani untuk megang lebih jauh, hanya sedang menunggu sesuatu saja"
Pipi Fifin merona merah setelah mendengar ucapan suaminya barusan, ia sudah dewasa.. bahkan nakes justru lebih cepat paham dengan yang namanya begituan
Cyittt...
"Aduh duh" Ucap Abi meringis ketika sang istri mencubit kecil pinggang nya
"Jangan aneh aneh, nanti kedengaran sama anak anak" Ucap Fifin sambil terus tersenyum pada santri santri yang menyapa nya
"Cie... romantis banget gus Abi sama ning Fifin" Goda Silvi yang berada di kantin putri dan sedang membawa tumpukan buku perizinan pulang dari seluruh santri putri
"Terimakasih Silvi" Ucap Abi tersenyum tapi bukan untuk Silvi, melainkan untuk istrinya... bahkan sengaja ia menggoda Fifin dengan menaik turunkan alisnya
"Apa sih?" Batin Fifin sambil menatap aneh pada suami nya
"Oh iya Sil, buku ini dikemanakan?" Tanya Fifin
"Oh... biasanya kalau mau pulang seperti ini, semua buku perizinan di kumpulkan untuk di tanda tangani... santri putri berarti mengumpulkan nya sama Silvi dan mbak Ila, kalau santri putra biasanya di kumpulkan ke mas Wawan atau mas Eko" Jawab Silvi menjelaskan
"Terus yang berhak menandatangani buku perizinan ini siapa?" Tanya Fifin karena Abi tidak pernah menjelaskan padanya
"Semua pengurus berhak menanda tangani perizinan ning, karena umi dan abah banyak urusan.. jadi tidak mungkin bisa menandatangani satu satu seperti ini" Jawab Silvi
"Oh... iya ya, ya sudah terimakasih... saya mau ke rumah sakit soalnya" Ucap Fifin
"Njih ning... silahkan"
Fifin dan Abi melanjutkan jalan nya dan masuk ke rumah meski beberapa kali Abi kerap menggoda istri nya dengan menjawil lengan itu
"Tadi katanya adek nanya apa sama mas?" Tanya Abi saat mereka sudah kembali di kamar
"Nanya apa? Adek nggak nanya apa apa sama mas" Ucap Fifin sambil mengedikkan bahu nya
Abi tidak membalas, ia justru mendudukkan istri nya di bibir ranjang dan dengan perlahan... mendorong pelan sampai Fifin terlentang disana
"Hah?" Ucap Fifin yang spontan kaget, apalagi saat Abi juga ikut mendekat hingga tubuh sang suami berada di atas nya
"Mau ngapain?" Tanya Fifin berusaha menenangkan jantung nya yang sudah berdetak tidak karuan
"Mas memang berani memegang kamu karena kamu istri mas dan sah sesuai ikrar yang mas ucapkan, hanya saja... mas tidak akan berani jika kamu tidak mengizinkan nya" Ucap Abi makin mendekatkan wajah nya pada wajah sang istri
Fifin bisa merasakan nafas Abi yang hangat itu menyapu wajah nya, dag deg dag deg! Jantung nya benar benar ingin lompat ketika sadar bahwa posisi nya berada di bawah kungkungan sang suami, dengan Abi yang bertumpu pada lutut di setiap sisi paha istri nya
"Bukan hanya mas yang menunggu, tapi adek juga menunggu sesuatu dari mas" Ucap Fifin sambil menatap suaminya sebebtar
Lalu ia mendorong pelan pundak tersebut sampai ia bebas dari posisi itu
Melihat Abi yang diam saja dan tidak mengucap sepatah kata pun Fifin jadi kesal... ia langsung berlari menuju kamar mandi untuk mengganti baju nya, daripada menunggu Abi yang sedang tidak jelas... lebih baik ia segera ganti agar tidak terlambat kerja
"Tidak munafik, adek juga mau mas mengakui dan jujur soal perasaan mas ke adek" Ucap Fifin yang menatap diri nya sendiri di cermin sambil manyun se manyun manyun nya, andai Abi melihat pasti ia sudah mengatai istri nya yang cosplay jadi bebek sekarang
"Apa susah nya coba bilang? I love you ya adek.. istriku, uhibbuki ya zaujati dan bla bla bla.. masa gitu doang lama" Ucap Fifin makin mengomel sendiri
Author : kenapa gak kamu duluan aja yang bilang i love you?
Fifin : enak aja, meskipun dimana mana itu lady's first, tapi soal confess ya harus punya gengsi dong, suami duluan lah yang bilang
Abi mendengar suara istri nya sedang mengomel dan mengatai diri nya tidak sat set lah, lama lah, dan lain lain... tapi dia hanya tersenyum saja, meski Abi ingin mengungkap... tapi ia lebih memilih untuk menyiapkan kejutan sebagai ungkapan perasaan nya nanti
"Mas bisa dengar suara adek loh" Ucap Abi
Fifin yang sedang kumat dan berbicara pada dinding itu seketika berhenti, ia mengintip Abi yang ternyata sedang duduk manis di sofa kamar
"Apa? Oh iya kah? Wah.. mbok tembok, kamu memang sependapat banget sama aku" Ucap Fifin sengaja dan seolah olah dinding itu hidup lalu mengobrol dengan nya
Tembok \= dinding
Abi yang mendengar cara Fifin berbicara pun tak kuat menahan tawa, cara kesal istri nya itu sangat unik bahkan random sekali sampai mengajak dinding berbicara
"Hahaha... adek teruskan saja kalau memang mau telat berangkat kerja" Ucap Abi
°
__ADS_1
Gimana? Bisa tebak kejutannya apa?