
Fifin yang buru buru itu langsung masuk ke kamar Aina, tanpa ia sadari bahwa air mata itu sudah berjatuhan di pipi nya
"Loh, kenapa nak? Ada apa?" Tanya umi kaget dan langsung mendekati menantu nya
Aina juga ikut melirik, heran... perasaan yang mau melahirkan ini dia kan? Tapi kenapa Fifin yang menangis sekarang?
"Ah dalem? Pripun umi?" Tanya Fifin karena tidak mendengar ucapan umi tadi
"Anak umi kenapa sayang? Kok nangis?" Tanya umi sambil mengelus bahu menantu nya
Fifin menggeleng seraya menghapus air mata nya "Ah... mboten umi, ini tidak tahu kok tiba tiba nangis sendiri" Ucap nya namun dengan ekspresi yang sedih βΉοΈ dan perasaan agak rapuh
Semakin ia berusaha terlihat baik baik saja, maka air matanya justru makin jatuh seolah enggan di ajak untuk berbohong
"Ah... umi" Ucap Fifin sedang menghentikan sesegukan nya dan mengusap kembali air mata itu
"Kenapa nak?" Tanya umi langsung meraih Fifin dalam pelukan nya
"Iya Fin, kamu kenapa?" Tanya Aina yang sekarang merasa baik baik saja, karenaΒ kontraksi memang terjadi hanya sebentat sebentar
"Hkss.. tidak apa apa umi, mbak... Fifin cuman bahagia saja" Ucap Fifin perlahan melepas pelukan umi dan mengadahkan pandangan nya ke atas agar air mata itu tidak jatuh lagi
Ia juga mengipasi wajah dengan tangan nya agar wajah basah itu segera kering juga menahan rasa sedih nya
"Ayo... fokus Fin, soal mas Abi biar jadi urusan nanti" Batin Fifin yang sedang menguatkan dirinya sendiri
"Mbak... masih kuat jalan kan? Kita jalan jalan keliling kamar ini ya" Ucap Fifin membantu Aina untuk beridir
Karena jalan kaki itu bisa memancing kontraksi agar lebih cepat, biasanya saat di rumah sakit ia akan memakai ball.. tapi disini tidak ada, jadilah cukup jalan kaki saja
"Biar umi yang pegangin nak, kamu duduk saja" Ucap umi pada Fifin karena ia yakin bahwa menantu nya itu sedang tidak fokus dan entah karena apa
"Njih umi" Ucap Fifin duduk di pinggir ranjang sambil memperhatikan Aina yang berjalan juga mengeluarkan alat alat bantu melahirkan dari dalam tas nya
"Untung nya kemarin sudah aku sterilkan semua alat ini di rumah sakit" Batin Fifin karena mesin sterilisasi alat medis di rumah sakit lebih baik dari yang ia punya
"Mbak... kalau kontraksi berhenti jalan dulu ya, lanjut jalan kalau kontraksi nya sudah selesai" Ucap Fifin
"Iya Fin, sshh..." Ucap Aina meringis saat perut nya sangat mulas dan jalan lahir bayi itu terasa sedikit melebar
~
Sedangkan di ruang keluarga villa tersebut, Abi berkali kali menghubungi mas Eko.. agar mas Eko menjemput gus Fahri dan di antarkan kesini, karena kalau Fahri menyetir sendiri bisa bisa terjadi kecelakaan nanti
"Abah, gus... niki minum nya" Ucap mbak Ila membuatkan minum untuk abah, Abi serta pengurus putri yang masih duduk lesehan disini
"Terimakasih.."
"Mbak mbak pasti ngantuk kan? Silahkan tidur dan istirahat di kamar kalian" Ucap abah
"Njih bah..." Ucap mereka kecuali Silvi dan Ila yang enggan meninggalkan ruang keluarga
"Silvi sama mbak Ila tidak istirahat?" Tanya abah saat melihat hanya sebagian pengurus putri saja yang masuk kamar
"Mboten abah, Silvi mboten saget tilem" Jawab Silvi
Mboten saget tilem \= tidak bisa tidur
"Sami" Ucap Ila menyahuti. Sami \= sama
"Ya sudah, kalau sudah ngantuk nanti langsung tidur saja" Ucap Abah yang di angguki oleh Silvi dan Ila
Abi sedari tadi masih diam karena sibuk mengabari Fahri dan berusaha menelfon mas Eko hingga terdengarlah suara dari sana
π : Assalamualaikum... pengapunten sanget gus wau kulo tasek tilem (Maaf banget gus tadi saya masih tidur)
π : "Waalaikumsalam... iya tidak apa apa, mas Eko masih ngantuk mboten?" Tanya Abi
π : Mboten gus, amergi wau langsung tilem ba'da sholat isya' (Tidak gus, karena tadi habis sholat isya' langsung tidur)
π : "Alhamdulillah... mas Eko bisa jemput gus Fahri di rumah nya kak Aina sekarang? Langsung antar ke villa tempat liburan biasanya mas"
__ADS_1
π : Saget gus, tapi ngapunten niki ndamel mobil e sinten njih? (Bisa gus, tapi maaf.. pakai mobil nya siapa ya?)
π : "Pakai mobil istri saya di carpot, kunci nya ada di laci sebelah pintu samping, mas Eko masuk saja" Jawab Abi karena semua mobil ada disini dan hanya mobil Fifin yang tersisa, ia dan Fifin juga sengaja meninggalkan kunci mobil di laci ruang keluarga jika sewaktu waktu dibutuhkan
π : Siap gus, kulo amit nyuwun sewu njih.. (Saya permisi ya) *maksudnya permisi minta ijin masuk ke rumah ndalem karena mau mengambil kunci
π : "Iya mas, ya sudah... saya tutup dulu ya, assalamualaikum"
π : Njih gus... waalaikumsalam
Setelah nya Abi juga mengirim pesan pada Fahri supaya ketika mau kesini lebih baik menunggu mas Eko saja
π© : "Bang, kesini nta tunggu mas Eko jemput sampean aja"
π© : Tapi istriku gimana? Dia baik baik aja kan?
π© : "Insya Allah baik baik saja, bang Fahri do'a kan yang terbaik"
π© : Pasti, karena Aina itu istri ku dan mengandung putri kami
Setelah itu Abi meletakkan ponsel nya, mulut itu pun juga selalu berdzikir berkali kali agar kakak nya diberi keselamatan pada persalinan pertama nya
"Abi, Fahri tidak marah kan?" Tanya abah yang tahu sifat menantu laki laki nya
"Insya Allah mboten abah" Jawab Abi
"Alhamdulillah kalau gitu, tapi tadi abah sempat melihat nak Fifin menangis, kamu apakan dia?" Tanya abah tetap lembut tapi cukup mengintimidasi
Glek! Abi sudah menduga bahwa abah akan menanyakan nya, karena abah itu cukup pandai dalam membaca situasu
"Kamu apakan Fifin nak? Ingat... kamu sudah mengambil nya dari rumah orang tuanya, dan jangan sampai kamu menyakiti fisik juga perasaan nya" Ucap abah
Abi menghela nafas panjang "Tadi... Abi tidak sengaja berucap dan mengatakan soal profesi Fifin abah, alasan nya karena Abi takut dia dimarahi bang Fahri karena tidak membawa kak Aina ke rumah sakit biar di tangani dokter langsung"
"Tapi Abi salah dan Fifin mengira kalau Abi meragukan profesi nya dalam menangani kak Aina, jadi perasaan nya mungkin terluka abah" Jelas Abizar cukup panjang
Abah menggelengkan kepala berkali kali "Ya bukan mungkin, tapi nak Fifin memang sudah sakit hati karena perkataan kamu"
"Abi... nak Fifin lebih paham soal melahirkan seperti ini dan dia juga mengambil sekolah khusus, tentu nya sebelum memilih untuk membantu Aina juga dia pasti memikirkan dampak positif negatif nya" Ucap Abah
"Nak Fifin juga pasti sudah mendiagnosa soal keadaan Aina yang kuat atau tidak ketika menjalani persalinan normal, harusnya kamu senang kalau Aina bisa melahirkan normal berarti tubuh nya sehat dan tidak mengidap penyakit apa apa. Yang sepenuhnya salah memang kamu Abi... nanti kamu harus minta maaf setelah keadaan membaik"
"Njih abah..." Ucap Abi menunduk, memang benar sih apa yang abah ucapkan, harusnya dia tadi tidak berkata demikian pada sang istri.. mana hubungan mereka yang mulai tertata kini malah bertengkar sekarang. Hadeh
~
2 jam kemudian Aina benar benar merasakan sangat sakit di perut juga pinggang nya, ia sudah tiduran di ranjang dengan tangan yang terus berpegangan pada umi
"Yang kuat ya anak um" Ucap umi menangis ketika melihat putri nya yang kesakitan, ia rapikan anak rambut Aina agar tidak menutupi wajah nya yang berkeringat itu
"Fin... rasa nya mbak mau mengejan kuat" Ucap Aina ngos ngos an
"Mbak... ini sudah pembukaan lengkap, tapi jangan mengejan dengan kuat.. jangan dulu" Ucap Fifin setelah memeriksa jalan lahir itu
Fifin kemudian membimbing Aina untuk menarik nafas panjang, menghembuskan nya perlahan... seperti itu terus dengan teratur
"Sekarang mbak Aina mengejan pelan pelan dengan nafas seperti tadi, jangan mengejan terlalu kuat" Ucap Fifin karena ketika mengejan terlalu kuat, ibu hamil bisa kehilangan tenaga dan tidak sadarkan diri... sedangkan ketika tidak sadarkan diri maka ibu hamil bisa meninggal nanti
"Erghh..." Aina mengejan tapi tidak menghabiskan tenaga nya, ia juga membungkam mulut dengan selimut agar gigi nya tidak menggigit bibir nya sendiri
"Jangan tutup mata mbak, jangan"
"Kasih jeda mbak, sekali lagi" Ucap Fifin, ia membungkuk di depan jalan lahir itu.. siap menerima bayi yang akan keluar
"Ergh... Fin, sakit sekali" Ucap Aina dengan tubuh yang penuh teringat juga meremas tangan umi dengan sangat kuat, tulang rusuk nya pun seakan patah semua
"Bissmillah kuat mbak... ayo, pelan pelan pasti mbak Aina bisa" Ucap Fifin
"Bissmillahirrahmanirrahim ya Allah..." Ucap Aina, dan
Oek... oek...
__ADS_1
Rasa teramat sakit yang Aina rasakan tadi seketika berganti dengan perasaan lega dan haru ketika putri nya lahir
Dengan empat kali mengejan, bayi perempuan itu berhasil keluar hingga berada di tangan Fifin, ia juga segera membersihkan bayi itu dari darah dan memotong ari ari nya
"Alhamdulillah... selamat ya mbak Aina untuk kelahiran putri nya" Ucap Fifin tersenyum sambil memeriksa anggota tubuh bayi itu untuk memastikan bahwa semuanya lengkap
~
"Alhamdulillah abah, cucu abah sudah lahir" Ucap Abi dengan mata nya yang terbelalak saat mendengar tangisan bayi dari kamar Aina
"Alhamdulillah ya Allah" Ucap abah yang langsung sukur syukur seketika
Abi tersenyum haru dan mengelus punggung abah yang masih bersujud
Begitu pula dengan Silvi dan mbak Ila, mereka saling berpelukan satu sama lain karena rasa senang ketika putri ning Aina lahir di dunia ini
"Alhamdulillah ya mbak Sil" Ucap Ila tersenyum penuh haru
"Iya mbak Il" Ucap Silvi juga senang
Ceklek!
"Assalamualaikum..." Ternyata gus Fahri dan Eko sudah datang dan itu bertepatan dengan putri nya yang sudah lahir
"Waalaikumsalam..."
Fahri buru buru menghampiri abah dan juga Abizar "Pripun keadaan nya abah? Abi?" Tanya Fahri celingukan dan mata nya ikut berbinar ketika mendengar tangisan bayi dari dalam
Oek... oek (Othor gatau nulis suara bayi nangis itu gimanaπ)
"Selamat ya Fahri"
"Selamat ya bang"
"Alhamdulillah ya Allah" Ucap Fahri seketika menangis bahagia mendengar putri nya yang menangis kencang
Setelah bayi dalam keadaan bersih, umi langsung keluar untuk memanggil menantu nya
"Nak Fahri, selamat ya..." Ucap umi
"Terimakasih umi" Ucap Fahri tersenyum, lalu ia masuk di kamar dan terlihat lah Aina yang jalan lahirnya sedang di bersihkan oleh Fifin sebelum dijahit
"Mas... putri kita" Ucap Aina tersenyum sambil melirik ke samping dimana bayi mungil itu ada di dekapan nya
Fahri mencium wajah istri nya dengan penuh tangis, ia lalu mendekat putri nya dengan sangat hari hati lalu mengadzani di telinga mungil itu
"Allahu akbar, allahu akbar..."
"Laa ilahaillallah..."
"Masya Allah, cantik sekali putri abah" Ucap Fahri yang memang ingin di panggil abah ketika sudah memiliki anak
Fahri lalu beralih menatap istri nya "Terimakasih sudah berjuang melahirkan putri kita, mas minta maaf karena tidak menemani kamu" Ucap nya agak menyesal karena mementingkan pekerjaan
Aina mengangguk dengan wajah tersenyum "Iya, tidak apa apa" memang sih rasanya kurang ketika Fahri tidak menemani, namun... Aina bersyukur masih ada umi yang setia menemani nya
Fifin juga terharu ketika melihat pasangan di depan nya ini sangat romantis, meski ia fokus dengan tangan nya yang sedang menjahit jalan lahir itu yang sebelum nya sudah dibius, tapi ia masih bisa mendengar betapa perhatian dan romantis nya pasangan suami istri ini.
~
Mas Eko yang berada di ruang keluarga villa itu masih ngang ngong ngang ngong, bingung ketika melihat semua orang menangis tapi sambil senyum dan ada suara bayi dari dalam
"Ini ada apa toh mbak?" Tanya Eko pada Silvi
"Astaghfirullahaladzim... mas Eko tidak nyadar? Itu loh putri ning Aina sama gus Fahri sudah lahir" Jawab Silvi agak heran dengan Eko yang tampak ngeblank
"Oh iya? Alhamdulillah..." Ucap Eko baru paham dan ikut senang, maklum.. tadi di jalan kena angin dikit jadi dia agak ngantuk
"Beh... lola nya minta ampun, biasanya juga gercep" Ucap Silvi geleng geleng kepala sedangkan mas Eko hanya cengegesan saja
__ADS_1