
Seminggu kemudian, Intan dan Rony sudah sah menjadi suami istri. Dan saatnya resepsi pernikahan di selenggarakan di hotel mewah.
"Selamat ya Mbak Intan, Pak Rony" teman-teman Rony, yang berprofesi sebagai dosen mengucapkan selamat. Mereka datang bersamaan hingga mengular panjang.
"Terimakasih ya, kalian sudah menyempatkan diri datang kemari," Rony berjabat tangan dengan mereka. Sementara Intan hanya menganggukan kepala.
"Saya kira, tadi bukan pernikahan Pak Rony, soalnya di luar banyak karangan bunga, tapi namanya Abimanyu, dan Melati Putih" kata salah satu dosen wanita.
"Iya, Bu, mereka kakak saya" Intan yang menyahut.
"Oh gitu"
Tidak hanya teman-teman kampus, teman Rony dari kantor pun berdatangan.
Tidak terkecuali tuan Efendi, beserta istri, dan Juliana putri mereka.
"Wahid, ternyata kamu menikahkan dua anak sekaligus?" tanya tuan Efendi kepada sahabat SMA nya itu.
"Tidak bareng Di, Abim nikahnya sudah hampir setahun" jawab tuan Efendi.
"Loh, jeung Ina kemana Pak Wahit? kok tidak ada?" mami Desty tampak mengedarkan pandangan ke sekeliling.
"Dia sejak tadi membujuk Melati Bu, anak itu ngotot tidak mau diadakan resepsi."
"Oh" mami Desty hanya oh saja.
"Ngomong-ngomong... Diah tidak datang bersama kalian Di?" tanya papa Wahid.
"Ah, anak itu Hid, waktu belum menikah saja, tidak mau datang ke rumah. Apa lagi sekarang, sudah punya suami. Ya pastinya datang bersama suaminya," papi Andi heran dengan Diah diberi fasilitas mobil pun, belum mau menerima.
"Wah-wah wah... kita reonian ini," suara pria seumuran dengan beliau datang bersama istrinya. Beliau adalah; Pak Johan.
"Waah... apa kabar, Han?" tuan Efendi langsung berjabat tangan dengan sahabat SMA nya itu.
Beliau lantas berbincang-bincang menceritakan ketika masih sekolah. Kadang membuat beliau bergelak tawa.
********
Memang benar, karangan bunga berdatangan. Namun rata-rata pengirimnya sahabat Abim dan Melatih yang jauh-jauh.
Sebab, ternyata papa Wahid, dan mama Ina membuat kejutan, untuk Melati dan Abim.
Tidak hanya pernikahan Intan yang di adakan pesta besar-besaran, tetapi Melati, dan Abim pun sama, tanpa Melati tahu. Memang sudah menjadi niat mama Ina ingin mengadakan resepsi pernikahan untuk Melati dan Abim yang tertunda saat pulang ke Indonesia dan benar saja mama membuktikan keinginan nya.
"Jika undangan, Intan di adakan pagi. Undangan untuk Abim siang hingga sore.
"Ma, kok Mama nggak bilang-bilang, kalau ingin mengadakan resepsi untuk kami?" tanya Melati.
__ADS_1
"Kalau Mama bilang, itu artinya bukan kejutan dong sayang..." jawab mama Ina.
"Iya sih Ma, tapi kan Mama jadi mengeluarkan dana banyak untuk acara ini" Melati sebenarnya sudah tidak ingin ada pesta lebih baik uang untuk kebutuhan yang lain.
"Jangan-jangan... Abang tahu nih rencana Mama, iya kan? ngaku!" tuduh Melati sebab Abim dari tadi hanya senyum-senyum.
"Nggak masalah sayang... sebenarnya bukan hanya Mama sama Papa yang merencanakan ini. Aku juga punya pemikiran yang sama. Nggak apa-apa lah... kan hanya sekali seumur hidup," terang Abim.
"Tu kan! bener, mau bikin acara sebesar ini nggak bilang aku dulu! keterlaluan sih! Abang!" Melati merengut kesal.
"Sudah ayo, sekarang kamu cepat masuk ke ruang rias" mama menghentikan ketegangan mereka. Mendorong melati dan Abim agar segera di rias.
Mereka pun di rias, semua tampak pangling melihat sepasang pasutri Melati dan Abim. Mereka di sulap oleh penata rias, tidak hanya cantik dan tampan tetapi juga anggun dan berwibawa.
Mereka di iring menuju ballroom hotel, kemudian naik pelaminan.
Tamu undangan silih berganti rekan bisnis papa, sesama dosen, rekan kerja mama Ina, teman-teman Abim. Tidak lupa teman-teman kampus Melati.
"Selamat ya Mel, Kak Abim, semoga samawa" Risda tampak berjalan paling depan di ikuti Bombom dan juga teman lainya.
"Terimakasih ya Ris, aku doakan semoga kamu segera mendapat jodoh"
"Aamiin"
"Selamat Mel, gue doa'in loe cepat bunting," kelakar Bombom.
"Bunting! enak saja, memang bini gw kucing" Abim yang menyahut. Semua pun tertawa.
"Gw yang mengundang mereka Mel, kan laki loe sendiri yang suruh," jawab Bombom.
"Apa?" Melati menoleh Abim.
"Benar, apa kata Bombom Yank, tapi ya sudahlah" berdekatan berakhir karena teman-teman Melati, semua menyalami, satu persatu.
"Bim, selamat ya, doakan gw, semoga cepat menyusul, nggak apa-apa deh, gw gagal dapetin adik loe, yang penting mereka bahagia," Tio dengan kemeja berwarna merah marun dan celana hitam memang tampan. Menyalami Abim dan Melati.
"Terimakasih Yo, benar apa kata loe, jodoh nggak bisa di paksakan," jawab Abim bijak.
"Ya sudah Bim, gw tinggal dulu, ya mau temui adik loe" Tio ingin menemui Rony dan Intan.
"Terimakasih, Kak" Melati tersenyum menganggukan kepala.
Di belakang Tio, Diah bersama suami dan anak sambungnya naik ke pelaminan.
"Kalian tidak bilang kalau mau ada resepsi pernikahan bersama, jika saya tahu, pasti ikut bergabung" kelakar Marsel, seraya berjabat tangan dengan Abim.
"Hahaha... pernikahan masal ya Sel" Abim terbahak-bahak. Melati menatap Diah, akhir-akhir ini Diah cenderung pendiam. Diah tersenyum kecut.
__ADS_1
"Selamat ya Mel, semoga kamu cepat diberi momongan" kata Diah
"Terimakasih Diah, aku doakan juga semoga kamu segera memberi adik untuk Lita. Diah lagi-lagi tersenyum masam.
"Tante Melati, cantik" kata Lita mencium punggung tangan Melati.
"Lita lebih cantik" Melati mengusap pelan pipi Lita.
Diah dan keluarganya turun dari pelaminan setelah foto bersama.
"Bang-bang, lihat! siapa yang datang?" Melati menepuk pundak Abim, dari kejauhan tampak pria putih dan bermata sipit, mendekati mereka.
"Alex?"
Melati dan Abim saling pandang. "Siapa yang mengundang Dia?" bisik Abim.
"Siapa lagi kalau bukan Bombom" jawab Melati. "Bang aku takut, Bang" Melati mundur, bersembunyi di belakang Abim, memegangi kedua sisi lengan suaminya, tetapi tetap waspada.
Keringat dingin keluar dari tubuh Melati. Betapa tidak? trauma penculikan itu walaupun sudah hampir setahun masih segar dalam ingatan.
"Selamat Mel" Alex mengulurkan tangan. Melati tidak menjawab, hanya mengangguk.
"Siapa yang mengundang loe! datang kemari?!" ketus Abim.
"Maaf, gw sudah salah dengan kalian, gw datang kemari, tidak bermaksud apa-apa. Gw juga tidak ada yang mengundang." Alex tidak berani menatap Abim.
"Terus... loe tahu darimana?!" sinis Abim. Tetapi Melati sama sekali tidak bersuara. Tubuhnya masih bergetar.
"Gw lihat, Risda posting di IG" jawab Alex menelan ludahnya.
"Lancang sekali loe, berani datang kesini!" Bombom yang melihat dari kejauhan mendekat. Dengan wajah yang menyeramkan.
"Loe salah Lex, jika loe pernah berpikir bahwa kami akan menganggap loe lagi sebagai sahabat. Bagi kami loe sudah mati!" Bombom yang slengean itu ternyata bisa marah juga.
*****
"Assalamualaikum... terimakasih yang sudah setia mengikuti karya abal-abal aku. Tidak terasa ya, ternyata sudah sampai bab 100.
"Budhe tiap bikin cerita tidak terlalu panjang. Dan untuk kisah melati plot nya seharusnya cuma sampai di sini.
Namun berhubung kisah Diah dengan Marsel tidak masuk plot. Kisah mereka akan budhe pisah.
Bagi yang penasaran nanti bisa klik;
Jodoh Yang Ketiga.
Dan untuk kisah Abim dengan Melati hanya tinggal beberapa bab lagi akan tamat.
__ADS_1
Salam sehat selalu, untuk reader semua, semoga senantiasa diberikan sehat.
Salam manis. ❤❤❤.