
Abim merebut handphone adiknya menatapnya tajam. "Mulutmu lemes sekali sih, Intan" Abim mencubit bibir adiknya kesal sudah diwanti-wanti jangan bilang Melati malah nekat.
"Sakit tahu kak! sini kembalikan hp aku," Intan menyambar handphone miliknya dari tangan kakaknya.
"Ih! orang dibantuin biar bisa bersatu dengan Melati, malah sewot!" Intan cemberut.
"Tan, sebaiknya nggak usah ikut campur urusan kakak, biar kakak menyelesaikan sendiri," pungkas Abim.
"Iya-iya" Intan mengalah. Abim kemudian keluar kembali kekamarnya sendiri yang bersebelahan dengan kamar Intan.
Abim merebahkan tubuhnya diranjang berbantalkan tangan, pikiranya kemana-kemana. Ia pasrah akan takdir jodohnya, tetapi akan senantiasa berdoa, semoga Tuhan memberikan jodoh yang terbaik untuk dirinya maupun Melati. Jika Melati memang berjodoh dengannya itu karunia Allah yang harus ia syukuri.
Derrtt... deerrrt.
Handphone yang ia letakkan di sebelahnya bergetar ia kemudian melihat siapa yang menghubungi lantas mengangkat.
"Hallo" Abim meninggikan bantal sambil mengangkat telepon.
"Hallo! Tuan, kami sudah berhasil menyelidiki siapa yang akan mencelakai Anda." suara bariton di seberang sana.
"Oh ya? siapa?" Abim lantas duduk.
"Dia orang yang sama, yang menculik Melati dipesta ketika itu, dan sebaiknya Anda berhati-hati target berikutnya adalah Anda sendiri, dan juga Melati." suara lantang diseberang sana.
"Apa?!" Abim lemas seketika kemudian menjatuhkan handphone kekasur. Ia meremas rambutnya gusar, kemudian bangun mendekati jendela. Netranya menatap kolam renang yang di sinari rembulan.
Abim mengepalkan tangan secepatnya harus meringkus orang yang akan mengincar Melati sebelum berangkat ke Swiss. Jika sampai gagal meringkus orang itu maka Abim lebih baik membatalkan rencananya ke Eropa.
*******
Dirumah Melati suasananya seperti biasa, ramai dengan kekonyolan Bombom, mereka saat ini sedang makan siang bersama.
"Mel, loe tuh kalau makan yang banyak, biar nggak krempeng begitu, lihat dong gue" ucapnya sambil mulut penuh.
"Ih! Bombom kebiasanya, kalau ngomong mulutnya penuh, telan dulu apa!" Sergah Risda. Bombom terkekeh.
"Nggak mau lah Bom, badan terlalu gemuk seperti kamu, kalau mau bergerak berat," jawab Melati.
"Kata siapa, gue susah bergerak? buktinya selama bekerja sama loe gue lebih kuat dibandingkan Alex," Bombom tidak mau kalah.
"Tapi setidaknya loe itu mengurangi berat badan Bom, biar cewek ada yang naksir sama loe." Alex yang dari tadi diam menimpali.
"Alaaah... bacot loe Lex! buktinya loe sudah berapa kali nembak Melati selalu ditolak, hahaha." Bombom tertawa.
__ADS_1
Semua lantas Diam, Alex pun bungkam, apa lagi Melati, mereka melanjutkan makan.
Memang benar apa yang dikatakan Bombom, Alex sudah mengutarakan rasa cintanya kepada Melati. Tetapi ia menolak ingin tetap bersahabat dengan Alex tanpa ada embel-embel cinta, agar tidak ada yang tersakiti jika salah satunya tidak mencintai.
Seperti biasa setelah makan, Alex merokok diluar. "Loe mau kopi Lex, Bombom lagi bikin, kalau loe mau sekalian" tutur Melati kemudian duduk di kursi taman.
"Nggak usah Mel" jawabnya singkat.
"Mel gue kan hari ini terakhir kerja sama loe, nanti malam kita jalan yuk" ajak Alek kemudian mematikan rokoknya.
"Kemana?" tanya Melati menoleh Alex yang duduk disampingnya agak jauh.
"Di alun-alun sedang ada pameran, kita jalan-jalan sekalian lihat-lihat, barang kali loe tertarik membeli sesuatu, nanti gw yang traktir." tutur Alex.
"Ya sudah, nanti malam kalau Ibu ngijinin gw ikut, tapi kalau ibu nggak ngijinin nggak apa-apa kan" Melati tidak terlalu memberi harapan.
"Okay... kita kerja lagi..." Alex bersemangat berjalan lebih dulu.
Mereka kembali melanjutkan pekerjaannya, inilah hari terakhir Alex bekerja.
Malam harinya setelah shalat isya Alex menjemput Melati, setelah bu Riska mengizinkan. Melati keluar dari kamar segera menemui Alex yang sudah menunggu diruang tamu sedang ngobrol bersama bapak dan ibunya.
"Bu Melati berangakat ya" Melati mencium punggung tangan ibu dan bapaknya.
"Tenang Bu, ada Alex yang menjaga" jawab Alex, menganggukan kepala. Ibu tersenyum berat, kemudian mengantarkan anaknya sampai teras menatap Melati yang sedang dibonceng Alex hingga tidak terlihat.
Mereka sampai alun-alun di salah satu kota, suasana sangat meriah. Melati senang sekali. Tempat ini sedang digelar Festival Kuliner Nusantara. Selain itu diadakan juga Festival pakaian wanita khusunya hijab dan pakaian muslim. Yang hadir ditempat ini kebanyakan ibu-ibu.
"Kamu mau apa Mel, pilih saja, nanti gw yang bayar" kata Alex. Melati tersenyum menatap Alex yang sedang berdiri menemaninya memilih hijab, dan pakaian muslim yang bagus. "Gw bawa uang sendiri kok Lex" tolak Melati. Tentu Melati menolak pasalnya, uang gaji Alex yang ia dapat dari dirinya.
Malam merangkak, Melati terlena keasikan pilah pilih. "MasyaAllah Lex... sudah malam, kita pulang yuk, nanti ibu menunggu" Melati membelalakkan mata lihat jam sudah menunjukkan angka 11.
"Ayo" Mereka berjalan suasa sudah agak sepi pengunjung. Alex mengikuti Melati dari belakang. Namun tiba-tiba lampu mati, suara berisik dari para penjaga stan. Keadaan sangat gelap, jika dicomot oleh seseorang pakaian yang mereka jaga tentu tidak akan tahu.
"Lex, aku takut" ucapnya.
"Tenang Mel, ada aku" jawab Alex kemudian membantu Melati mengambil dua tengtengan kantong plastik dari tangan Melati.
Bersamaan dengan itu tiga orang menyeret Melati. "Tol..." baru ingin minta tolong mulut Melati sudah di lakban oleh entah siapa orangnya.
"Mel... Mel..." terdengar suara alex samar-samar.
Melati ditarik paksa, ternyata dipinggir jalan sudah standby mobil. Melati dipaksa masuk kedalam.
__ADS_1
Seketika air mata Melati terjun bebas. Ia hanya bisa berdoa dalam hati semoga Tuhan bersamanya. Mobil pun meluncur cepat, tidak lama kemudian, sampai di rumah tua.
Melati ditarik masuk kedalam ruang tamu yang temboknya sudah usang, ruangan yang kotor, dan diterangi lilin disudut-sudut ruangan. Botol-botol minuman keras berserakan, sampah plastik kulit kacang bertumpuk sepertinya sudah sejak lama tempat ini dihuni oleh mereka.
Lakban di mulut melati kemudian dibuka oleh mereka dengan kasar.
"Siapa kalian?! lepaskan aku!" pekik Melati. Ketiga laki-laki itu berdiri melingkari Melati.
"Tolong... tolooong..." teriak Melati.
"Biar kamu teriak sampai suaramu habis! nggak bakal ada yang mendengar Nona!" kata salah satu penculik, kemudian ketiganya tertawa jahat.
Datang berikutnya satu laki-laki yang menggunakan masker.
"Mau dipakan perempuan ini bos?" tanya mereka serentak.
"Tinggalkan kami!" ketus pria itu seraya menggerakan kepala. Agar anak buahnya segera keluar.
"Baik bos" dengan patuh ketiga pria itu keluar lantas mereka siaga diluar.
Melati ternganga menatap pria itu, walaupun dia mengenakan masker tentu mengenali fostur tubuhnya dan juga pakaian yang dikenakan.
"Alex! mau apa kamu?!" Melati mundur.
"Ahahaha... tentu saja menikmati tubuhmu!" Alex maju menyeringai.
Ya pria itu adalah Alex kemudian membuka marker dengan kasar lalu melemparnya.
"Alex, please... kenapa kamu menjadi begini? kita ini sahabat Lex," Melati tidak percaya Alex pria humoris yang ia kenal hampir lima tahun ternyata mempunyai kepribadian ganda.
"Ahahaha... sahabat? sahabat katamu?!" Alex berjalan mendekati Melati. Melati mundur hingga membentur sofa yang sudah rusak hingga terduduk, keringat bercucuran tangis Melati pun pecah.
Alex menyeringai mendengar tangis Melati. "Loe munafik Mel, gue cinta sama loe! sejak loe masuk kuliah! tapi apa Mel?! gue cari waktu yang tetap untuk mengungkapkan perasaan gue sama loe! tapi LOE TOLAK MEL!!" Bentak Alex seperti orang kesetanan.
"Gw berharap bertahun-tahun agar loe jadi milik gw! NGERTI NGGAK LOE, MEL?! tapi loe justeru mencintai duda itu kan Mel!!" Alex menatap Melati beringas tidak seperti Alex yang selama ini ia kenal.
"Ahahaha... sekarang loe harus menjadi milik gw!"
"Lex tolong Lex..." hiks hiks hiks.
******
Ambil yang baik-baik saja ya, tokoh Alex jangan ditiru" 🤝🤝🤝.
__ADS_1
.