
"Papi, tunggu" istri tuan Efendi menarik lengan suaminya, seperti ada yang mengganjal di dalam hatinya, ketika suaminya ingin menemui Diah putrinya.
"Ada apa?" tuan Efendi memandang istrinya sembari memegang kedua telapak tangannya, pasutri yang tidak lagi muda. Namun masih terlihat tampan dan cantik itu saling berhadapan.
"Mami takut Pi," ucapnya ada raut kesedihan di wajah Desty.
"Takut? takut kenapa?" tanya tuan Efendi beralih memegang kedua pundak istrinya.
"Mami takut, bukan karena Papi mau menemui putrimu, tapi Mami takut, Papi akan CLBK dengan ibu kandung putrimu," ada rasa tidak rela di hati Mami.
"Hohoho... kamu ini? memang Papi anak remaja apa, ada CLBK segala," Papi tertawa.
"Papi... Mami serius..." ucapnya cemberut.
"Mam, dengarkan Papi. Reny itu hanya masa lalu, yang aku punya sekarang adalah kamu, dan anak-anak, yang akan menemaniku hingga aku mati" tuan Efendi memeluk istrinya. Gazebo dan kolam renang menjadi saksi, janji tuan Efendi.
( Lebay uhuiii... mana ada kolam renang menjadi saksi)🤣🤣🤣.
"Kamu percaya kan?" Papi melepas pelukanya, menatap istrinya tidak ada kebohongan di matanya.
"Ya, Mami percaya, tapi... Juliana hanya anak sambungmu," Mami mendongak menatap suami yang di cintainya itu.
"Mami!" tuan Efendi tidak percaya bahwa istrinya akan bicara seperti itu. Beliau menikahi Desty, sejak Juli kelas satu SMA hampir empat tahun mereka berumah tangga, tapi istrinya rupanya masih meragukan kasih sayangnya terhadap Juli.
"Itu artinya... kamu masih meragukan Papi," papi melepas tanganya dari pundak istrinya, lalu melangkah pergi.
"Papi..." Mami mengejar lalu merangkul suaminya dari belakang.
"Mami ikut"
"Ayo" Papi menggandeng tangan istrinya lalu berangkat ke rumah sakit berdua.
********
"Rin, kapan ya, aku bisa pulang?" tanya Diah, ia sudah tidak betah tinggal di rumah sakit. Selain memikirkan pekerjaan, ia juga memikirkan bagaimana membayar tagihan rumah sakit nanti.
"Sabar dulu Diah... jangan pikirkan apa-apa, yang penting kamu sehat dulu, masalah biaya rumah sakit gw siap bantu" Rindy seolah tahu apa yang di pikirkan sahabatnya.
Tok tok tok
Saat sedang ngobrol pintu di ketuk, Rindy segera membuka pintu. Ia melihat pria yang tadi malam datang tapi tidak sendiri.
__ADS_1
Rindy melirik wanita di sebelah pria itu, beliau datang bersama seorang wanita yang tersenyum kepadanya, Rindy yakin, pria ini orang baik.
"Bagaimana keadaan Diah?" tuan Efendi menatap Rindy sudah tampak tenang menerima kehadiranya tidak seperti tadi malam.
"Silahkan masuk Tuan" Rindy mempersilahkan. "Tuan, dan Nyonya bisa lihat sendiri" sambung Rindy.
Tuan Efendi melewati dua ruang rawat pasien, karena Diah berada paling ujung. Sebenarnya Marselo ingin memesan kamar yang kelas satu. Karena semua penuh, terpaksa membiarkan karyawannya dirawat di ruang kelas tiga.
Tuan Efendi hendak masuk, lenganya digandeng istrinya, seolah takut suaminya di ambil orang. Istri tuan Efendi belum tahu jika Reny saat ini tinggal di kampung.
Tuan Efendi, menyibak bedscreen pembatas di antara pasien yang lain. Diah menatap pria dan wanita asing itu bergantian. Kemudian menatap Rindy, minta penjelasan.
Karena Rindy diam, Diah kembali menatap pria tampan berkumis tipis itu. Ada getar di dalam dadanya seperti ada ikatan kuat diantaranya.
Begitu juga sebaliknya, kedua iris mata mereka saling bertemu. Tuan Efendi rasanya ingin memeluk putrinya yang sudah beliau rindukan selama bertahun-tahu.
"Bapak dengan ibu ini siapa?" lirih Diah.
"Perkenalkan Nak, saya Efendi?" tuan Efendi mengulurkan tangan. Sedangkan istrinya hanya tersenyum.
"Efendi... siapa Anda?" Diah mencoba duduk lalu dengan sigap tuan Efendi membantunya. Beliau berjongkok menyejajarkan tubuhnya.
"Sa... saya... Papi kamu Nak" ucapan itu akhirnya terucap dari bibir tuan Efendi.
"Nak, jangan takut, saya Efendi, saya benar-benar Papi kandungmu," tuan Efendi mendekatkan telapak tangannya, berniat mengusap kepala Diah yang tertutup kerudung bergo.
Rindy walaupun belum tahu kisah Diah sebenarnya. Namun bisa sedikit mencerna alur kisah kehidupan sahabatnya.
Sementara Desty, istri tuan Efendi pun terharu, beliau menjadi ingat Juliana putrinya yang sudah kehilangan ayahnya sejak kelas tiga SD.
"Maafkan Papi Nak" tuan Efendi menyetuh kepala Diah. Namun di tepis. "Saya tidak punya Papi, yang saya punya Bapak," air mata Diah luruh.
"Pak Renggono yang membesarkan saya, yang mendidik dan menyekolahkan saya. Yang menjewer saya ketika saya nakal. Yang menyayangi, dan menerima saya seburuk apapun perbuatan saya!" suara Diah walaupun lirih, tapi lancar.
"Anda jangan mengaku-ngaku, jika memang benar Anda seorang Bapak, tidak akan menyia-nyiakan anak kandungan," Diah menangis sesegukan.
"Diah... semua tidak seperti yang kamu pikirkan Nak, Papi akan jelaskan," Papi kembali berjongkok, hatinya hancur penolakan Diah sungguh menyakitkan
"Tidak! saya tidak butuh penjelasan Anda! sebaiknya Anda pergi dari sini!" usir Diah.
"Diah... maafkan Papi Nak" tuan Efendi menitikan air mata.
__ADS_1
"Sudah saya bilang, pergi?!" Diah menatap nyalang pria di dekatnya.
"Baiklah, jika Anda tidak mau pergi, saya yang akan pergi!" secepat kilat Diah menarik infus dari lengan, lalu turun kebawah, memaksakan berlari keluar.
"Diah..." Rindy menarik tas slempang kemudian mengejarnya.
"Diah..." tuan Efendi pun berlari mengejar. Namun di halangi seorang pria. "Anda ini berisik sekali! jika ingin bertengkar di rumah sendiri!" kilat marah mata pria sesama menunggu pasien mencengkeram kerah tuan Efendi.
"Maafkan kami Pak" kata Desty lembut. Membuat pria itu melepaskan cengkeraman nya.
"Ayo Pi" Desty menarik lengan suaminya kemudian menemui scurity agar mengejar Diah.
Sedangkan tuan Efendi cepat telepon bodyguard agar memastikan bahwa Diah di tempat yang aman.
"Papi tenang dulu, kita tunggu disini" mami mengajak suaminya ke ruang administrasi memberitahukan bahwa pasien yang bernama Diah kabur.
10 menit kemudian. "Saya tidak menemukan siapa-siapa Tuan" kata scurity menghampiri tuan Efendi dan Desty.
"Astagfirlullah..." tuan Efendi meremas rambutnya gusar.
"Pi... sebaikanya Papi tenang, biarkan putrimu tenang dulu, toh dia sudah bersama temanya," hibur mami Desty mengusap punggung suaminya.
"Sebaikanya kita temui dokter dulu, bagaimana kondisi putrimu terakhir, nanti mami bantu berbicara dengan Diah jika sudah tenang," mami menenangkan.
Tuan Efendi menuruti saran istrinya, mereka menemui dokter. Dokter mengatakan, selagi Diah menjaga pola makan sebenarnya tidak ada penyakit yang serius.
"Jadi... anak saya bukan sakit, hanya karena kelaparan Dok?" tuan Efendi tertohok.
"Betul, putri Anda kekurangan gizi, saya akan berikan vitamin untuk menambahkan asupan gizinya." dokter membuat resep.
Tuan Efendi menunduk, menopang dahi, ingat apa yang dikatakan Diah tadi, papi macam apa yang sudah membiarkan anaknya hidup kelaparan? sedangkan beliau semenjak dua puluh tahun yang lalu selalu makan enak, tidur nyenyak.
"Pi" mami menyadarkan lamunan suaminya.
"Sekarang kita kembali ke ruang administrasi lagi, ya" kata Desty sudah memegang resep dari dokter yang harus ditebus di apotek.
"Tapi, saya ingin anak saya di rawat lagi dok" tuan Efendi menyesal dia datang bukan waktu yang tepat sehingga anaknya melarikan diri.
"Seperti yang sudah saya utarakan tadi Pak, putri Anda hanya membutuhkan gizi," dokter mengulangi.
"Baik Dok, terimakasih" mami kembali keluar bersama papi, langsung kembali ke ruang administrasi berniat membayar biaya rumah sakit.
__ADS_1
"Atas nama Diah, sudah lunas, Bu, bahkan sudah membayar ruangan hingga tiga hari. Ibu hanya tinggal membayar obat saja," kata petugas.
Tidak mau ambil pusing, karena mami belum mengenal Diah menurut saja apa kata petugas.