
Supir keluarga papa, melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju rumah sakit Ibu dan Anak.
Tidak lama kemudian, sampai di rumah sakit.
Kebanyakan seorang ibu jika usianya sudah menua, lalu tidak bisa lagi mempunyai anak. Sudah pasti menantikan kehadiran cucu. Seperti yang dirasakan mama Sahina, beliau tampak antusias mengurus ini itu ingin segera tahu menantunya benar-benar hamil atau tidak.
"Selamat Non, Anda akan segera memiliki buah hati" kata dokter. Jika Diah tampak biasa saja mendengar berita itu, namun berbeda dengan mama Sahina.
"Alhamdulillah... saya akan segera mempunyai cucu Dok?" Binar terlihat dari netra mama.
"Betul Bu, ngomong-ngomong... kemana suami Nona? mengapa tidak ikut mengantar?" tanya dokter. Dokter kandungan yang masih muda itu, sudah pengalaman, kehamilan anak pertama sesibuk apapun pasti sang suami akan menemani istrinya periksa.
"Sudah saya hubungi, Dok, mungkin sebentar lagi sampai," terang mama, ketika dalam perjalanan kerumah sakit tadi mama menghubungi Abim.
*******
Abimanyu PoV.
Saat pekerjaanku menumpuk meneliti data karyawan yang masuk, maupun yang keluar, menghitung berapa pesangon yang pantas untuk mereka.
Aku dikejutkan dengan dering handphone. Sebenarnya aku tidak mau mengangkat, karena profesional kerja.
Tetapi handphone terus menerus berdering. Aku lihat siapa yang telepon. Oh ternyata Mama.
Tidak ada yang lebih penting selain Mama lalu aku angkat telepon.
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam..." Mama menyahut.
"Bim cepat susul Mama, dan Istrimu kerumah sakit Ibu dan Anak, ya," titah Mama.
"Rumah sakit, Ma? Diah sakit?" tanyaku memburu. Seburuk apapun hubunganku dengan Diah jika dia sampai sakit demi rasa kemanusiaan tentu aku bersedih.
"Bukan sakit sih... sepertinya Istrimu sedang hamil, cepat datang ya," kata Mama.
Tut.
Deg
Jantungku berhenti berdetak. Apakah benar Diah hamil? lantas anak siapakah, atau memang anakku?
Lututku terasa kaku ketika akan ku angkat. Sejenak aku tetap ditempat pikiranku menggembara kemana-mana.
Apa iya? ketika malam pertama berhubungan badan dengan istriku hanya sekali, langsung menghasilkan anak?
Ah! entahlah, aku segera kenakan jaket yang tersampir dikursi tempat duduk ku.
"Mau kemana, loe?" tanya Refan teman satu divisi.
__ADS_1
"Gw mau izin Fan, binik gw sakit," jawabku sambil membenahi kertas lantas mematikan komputer.
"Enak loe! mentang-mentang dekat sama Ceo, sering izin," kata Refan, memang orang sering bilang begitu, tetapi... sebenarnya aku jarang sekali absen jika bukan karena sesuatu hal yang mendesak. Nggak enak lah, kerja tidak profesional.
"Kapan gw sering izin? perasaan setahun ini, gw absen bisa dihitung," jawabku memang kenyataan begitu. Selama menikah empat bulan aku lebih betah dikantor demi menghindari pertengkaran dengan Diah.
"Canda coe... lanjut" kata Refan tersenyum menepuk pundakku. "Semoga binik loe cepat sehat, Bim," imbuhnya.
"Terimakasih... " jawabku, aku lalu turun lewat litf, menuju parkiran, setelah izin atasanku langsung.
Aku ingin segera kerumah sakit harus berpikir positif, tidak boleh menghakimi istriku, walaupun kurang yakin bahwa itu anakku, toh di era yang serba canggih aku bisa tes DNA nantinya.
Sampai parkiran aku menjalankan motor menuju rumah sakit yang sudah dikirim lokasinya oleh Mama.
"Ma, bagaiman hasilnya?" tanyaku setelah sampai depan ruang dokter kandungan. Mama dengan Diah sudah membuka pintu ingin keluar.
"Positif Bim, Diah sudah hamil tiga bulan." "Mama akan segera menimang cucu," ada binar bahagia diwajah Mama. Aku tersenyum kecut. Ah, andai anak itu anak Melati.
Astagfirlullah... kenapa aku justeru teringat kepadanya? semenjak bertemu di puncak tiga bulan yang lalu aku belum pernah lagi bertemu denganya.
"Bim kok kamu malah bengong? kasih selamat dong Istrimu," Mama menyadarkan aku dari pikiranku yang berandai-andai.
Aku melirik Diah yang sedang digandeng Mama. Akhir-akhir ini kami jarang bertemu. Aku perhatikan tubuhnya memang agak kurusan.
"Selamat ya Diah, kamu akan segera menjadi Ibu" ucap ku. "Cepat berpikir dewasa, jangan seperti anak kecil lagi, ya" bisikku. Agar jangan terdengar oleh Mama.
Diah menatapku tajam. Aku tidak ingin menyinggung yang lain dulu, khawatir Diah ngamuk didepan Mama.
"Coba dulu masuk Bim, kalau nggak boleh masuk tinggal keluar." usul Mama.
"Terus bagaimana dengan Mama, ingin langsung pulang, atau menunggu?" tanya ku. Karena setelah ini lebih baik aku kembali kekantor.
"Mama duluan saja Bim, kasihan Itrimu biar segera istirahat." jawabnya.
Setelah mama berangkat, aku segera menemui dokter.
"Selamat pagi Dok" aku perhatikan dokter sedang menunduk menulis sesuatu.
"Selamat pagi" dokter mengangkat kepala.
"Abimanyu" dokter lantas berdiri. Aku masih tertegun menatap dokter yang menyebut nama ku.
"Tio, Bim, teman SMA loe, masa loe, lupa?" dia tersenyum menunjuk dirinya sendiri.
"Tio? Alhamdulillah... loe sekarang sudah menjadi dokter?" aku terperangah. Tio yang dulu berkaca mata tebal kini menjilma menjadi dokter yang tampan berwibawa.
"Loe hebat! Tio, sekarang sudah sukses," aku tepuk-tepuk pundaknya.
"Loe sendiri bagaimana, Bim, sudah mengurus perusahaan bokap loe? atau... punya usaha sendiri?" tanya Tio.
__ADS_1
"Yah gw mah bukan siapa-siapa Tio, hanya pegawai rendahan," aku tersenyum masam.
"Ah loe Bim! semua juga tahu, loe itu sudah kaya sejak orok." kami pun tertawa, dan ngobrol panjang lebar.
"Tujuan loe kemari apa Bim? jangan bilang loe sedang hamil? hahaha" Tio berseloroh.
Aku lantas duduk, berbicara serius. Aku juga menceritakan bahwa Diah yang barusan ia periksa adalah, istriku, dia sempat kaget.
"Terus... apa lagi yang ingin loe, tanyakan?" tanya Tio.
"Jika suami istri, berhubungan badan hanya sekali apakah bisa hamil?" tanyaku to dhe point.
"Eh tunggu! sebelum gw jawab, ada apa loe tanya begitu, jangan-jangan... loe" Tio menjeda ucapanya.
"Jawab saja" kataku dengan nada perintah.
"Tentu saja bisa, selagi si wanita sedang dalam masa subur, begitu juga sebaliknya, akan cepat terjadi pembuahan."
"Tidak perlu berhubungan badan berkali-kali, Bim, tapi kalau terjadi pembuahan antara sel ****** dan sel telur maka akan hamil,"
Setelah mendengar jawaban dari Tio aku segera pamit pulang.
******
Author PoV.
Malam hari ketika Abim sudah sampai dirumah, bersikap biasa saja. Tetap dingin tidak memberi perhatian khusus kepada Diah.
"Mas, aku ini sedang hamil, kenapa kamu seolah tidak perduli?!" tanya Diah kesal, sebab dari tadi Abim sibuk dengan handphone di sofa tidak memperhatikan Diah.
"Terus... saya disuruh apa, jingkrak-jingkrak, atau guling-guling sangking senangnya gitu!" ketus Abim.
"Kamu jahat Mas!" Diah benar-benar marah.
"Saya menjadi jahat, gara-gara kamu Diah." Abim sebenarnya kasihan tetapi entahlah dalam hati kecilnya tidak yakin bayi yang dikandung Diah adalah anaknya.
"Baik! kalau Mas Abim nggak mau aku hamil, aku akan gugurkan kandungan ini!" ujar Diah seenak udelnya.
"Saya bukan nggak suka kamu hamil, tapi masalahnya... bayi dalam kandungan kamu itu anak siapa?!" kata Abim pelan tapi membuat hati Diah hancur.
"Mas Abim jahaaattt..." Diah berlari menuruni anak tangga. Rupanya Diah ingin membuktikan ucapanya.
"Diaaahh... Astagfirlullah... kamu sedang hamil nak?!" pekik mama beliau bangkit dari duduknya saat sedang berbincang-bincang dengan papa Wahid diruang keluarga Diah berlari kencang.
BRAK.
Diah jatuh terguling dari tangga.
.
__ADS_1
.