
Sebulan setelah Melati dan Abim, mengadakan resepsi pernikahan, kini mereka sudah kembali ke Negara Swiss. Bahkan sudah melakukan aktifitas kuliah seperti biasa.
Abim dan Melati baru saja selesai shalat subuh berjamaah. "Bang, aku pagi ini nggak usah masak ya, delivery saja" ucapnya tidak semangat sambil melipat mukena.
"Iya... nggak apa-apa kok" jawab Abim.
"Aku mau tidur lagi Bang, sebentar saja" Melati kembali merebahkan tubuhnya di ranjang, setelah di iyakan oleh Abim.
Abim berdiri melipat sarung dan sadjadah, kemudian menghampiri Melati yang sedang meringkuk. Abim mengulum senyum menatap gaya tidur istrinya, seperti anak kucing. Abim lalu menyelimuti tubuh istrinya kemudian keluar menutup pintu kamar perlahan.
Ia ke dapur membuka kulkas ambil telur beberapa butir dan sayuran, kemudian memotong-motong. Kali ini ia ingin menyiapkan sarapan.
Setelah matang, pria tampan dan mapan itu menyiapkan di meja makan.
Ia kemudian membuat minuman hangat untuk istrinya. Sudah selesai aku akan bangunkan istriku.
"Yank, bangun... sudah siang, kita sarapan dulu, yuk" Abim membangunkan istrinya mengecupi dahi, bibir, dan pipi.
"Sreeekkk...
Cahaya matahari masuk melalui jendela kamar, saat Abim menarik gorden dan membuka jendela.
Melati mengerjapkan mata, kemudian duduk rasanya pagi ini malas untuk melakukan apapun. Ia menatap guling seperti enggan untuk di tinggalkan.
"Kamu sakit?" Abim menempelkan punggung tangan di kening istrinya. Tidak biasanya Melati selelai shalat tidur kembali.
"Nggak" ucapnya lalu menyandarkan kepalanya di pundak Abim.
"Mandi yuk, aku gendong" Abim memunggungi agar Melati nemplok di badan. Benar saja Melati minta gendong.
Ia menempelkan pipinya di badan Abim seperti anak kecil.
"Aku mandikan ya" Abim membuka pakaian istrinya lalu memandikan setelah Melati mengangguk. (Hanya mandi doang loh😁😁)
"Bang, aku hari ini malas ke kampus..." rengeknya setelah rapi berpakaian.
"Hehehe... kamu kenapa sih... tumben?" Abim keheranan, biasanya setiap pagi, sebelum ia bangun Melati sudah selesai mandi, tapi kali ini mandi saja sambil merem, terlebih Melati tidak mau kuliah.
"Nggak tau Bang, rasanya pengen tidur terus," ucapnya serak-serak basah terdengar seksi di telinga Abim.
"Hehehe... ya sudah... hari ini kamu di rumah saja, biar nanti aku izin" Abim kemudian ke dapur ambil satu centong nasi, dua potong omelet di tuangi saos, berniat makan sepiring berdua.
"Sarapan dulu ya" Abim membawa piring ke dalam kamar.
"Abang masak sendiri, kan aku bilang delivery saja" Melati kasihan melihat suaminya memasak sendiri.
"Nggak apa-apa, biasanya kan kamu yang masak, sekarang gantian dong..."
"Ayo makan" Abim menyuapi istrinya setelah menyuap ke mulutnya sendiri.
"Abang... jauhkan telurnya, aku nggak mau, bau amis" ucapnya sambil menutup hidungnya dengan selimut.
__ADS_1
"Bau amis? namanya juga telur, yank," Abim tidak bicara lagi, kemudian berjalan ke meja makan meletakan piring. Ia lantas membawa teh hangat ke kamar.
"Ya sudah... kamu minum teh hangat saja dulu, nanti kamu mau apa, aku masakin ya" Abim memberikan secangkir teh.
"Terimakasih" Melati menyeruput teh sedikit. "Kok teh nya rasanya aneh sih, Bang?" Melati mengecap teh yang masih sisa di mulut seraya nyengir-nyengir.
"Aneh bagaimana? ini kan teh dari Jawa yang biasa kita minum" Abim pun mencoba teh tersebut.
"Enak kok, wangi melati malah, kamu sakit kali Yank, jadi mulutmu terasa nggak enak," ujar Abim.
"Abang saja yang habiskan," kata Melati kemudian kembali merebahkan tubuhnya.
"Ya sudah... aku delivery saja, kamu mau apa?" Abim ambil handphone.
"Aku mau biji salak, gula merahnya, yang banyak, terus... di kasih santan sedikit," Melati membayangkan biji salak yang kuahnya bewarna coklat kemerahan sambil menjilati bibirnya sendiri.
Abim memandangi istrinya geleng-geleng kepala. Tidak banyak bicara ia segera membuka aplikasi masakan kas Indonesia.
"Ada Yank, tapi buka jam sepuluh" Abim menatap Melati, wajahnya tampak kecewa. Sebenarnya Abim bisa saja membuatkan, tetapi membayangkan harus membulatkan tepung ketan satu persatu tentu menyita waktu.
"Yah... aku pengenya sekarang," Melati telungkup di bantal.
"Di restoran dekat kampus ada sih, tapi khusus kolak, buka jam berapa aku belum tahu," tutur Abim.
"Ya sudah, aku berangkat ke kampus saja, deh" Melati bersemangat.
Abim menatap istrinya tiba-tiba beranjak dari tempat tidurnya terkejut.
"Abang mendingan sarapan dulu gih" titahnya. Abim masih bengong, ada apa dengan istrinya? lima menit yang lalu masih bergulung selimut bermalas-malasan, tetapi tiba-tiba semangatnya penuh.
"Ayo" Melati meraih tangan Abim agar segera berdiri.
"Okay..." Abim menurut, mereka duduk di meja makan.
"Kamu beneran nggak mau makan?" Abim menghabiskan sarapan yang tertunda tadi.
"Nggak Abang saja, yang habiskan"
********
"Mel, kamu kenapa ngantuk melulu sih?" tanya Dinda sahabatnya tidak biasanya Melati mengantuk saat jam pelajaran.
"Nggak tahu, waktu mau berangkat tadi aku sebenarnya sudah malas" jawab Melati saat ini mereka sedang keluar sudah jam istirahat.
"Mel, Mel, lihat ini?" Uiby berlari menyusul meperlihatkan foto di handphone miliknya.
"Apaan?" tanya Melati dan Dinda.
Melati menyambar handphone sahatnya itu. "Hah?! kurang ajar kamu ya!" Melati memukul pelan tangan Uiby.
"Ahahaha..." Uiby tertawa. Ternyata saat di kelas tadi, mengabadikan wajah Melati yang sedang tidur bersandar di bangku, posisi mulut terbuka.
__ADS_1
"Hihihi..." Dinda ikut melihat foto Melati
"Meledek" Melati menghapus foto lalu mengembalikan hp, mlengos kesal.
"Yaa... kok di hapus" sesal Uiby.
"Yank, katanya mau mencari biji salak" Abim menghampiri Mereka.
"Jadi Bang, ayo"
"Aku nggak ikut makan kalian ya" ujar Melati kepada kedua sahabatnya. Lalu bergandengan tangan dengan Abim, pergi tanpa menunggu jawaban Dinda dan Uiby.
Mereka mencari restoran penjual kolak, sebenarnya tadi pagi sudah mendatangi resto asal Indonesia tersebut. Namun belum buka, dengan tidak semangat Melati mengikuti jam kuliah sambil menunggu resto buka.
"Di habiskan ya" titah Abim. Setelah pesanan biji salak yang di kemas dalam gelas tersaji di hadapan mereka.
"Pasti dong Bang" Melati kemudian mencicipi kuah biji salak.
"Enak Bang" Melati lalu menghabiskan satu gelas dengan cepat.
"Pelan-pelan makan nya" titah Abim melihat gaya makan Melati seperti takut makanannya di minta orang. Melati terkikik.
Selesai makan, mereka kembali melanjutkan mata kuliah kedua.
******
Siang hari ketika pulang di dalam bus, Melati mencium bau parfum pria yang menyengat perutnya terasa di aduk-aduk. "Bang... aku mau muntah" ucapnya.
"Kenapa, kamu mabuk? tumben" Abim memijit tengkut istrinya.
"Bang, aku nggak kuat" Melati benar-benar menahan nafas.
"Kita turun di sini saja, nanti di sambung naik taksi" tanpa menolak Melati pun cepat turun setelah Abim berbicara kepada kondektur.
"Hoeek..." di tepi jalan Melati mengeluarkan isi perutnya.
"Astagfirlullah... kamu kenapa? jangan-jangan... biji salak tadi nggak bersih" Abim kebingungan sambil memijit tengkuk istrinya.
******
"Assalamualaikum... bagi yang penasaran dengan perjalanan kehidupan rumah tangga Rony dan Intan.
Setelah selelesai kisah Diah dan Marsel aku akan buat terpisah InsyaAllah ya."
Untuk kisah Alfred masih nyambung dengan Diah. Sebab ada Syifa di antara mereka.
"Ayo yang penasaran dengan kisah Diah segera klik.
JODOH YANG KETIGA.
.
__ADS_1