PERNIKAHAN BERUJUNG LUKA.

PERNIKAHAN BERUJUNG LUKA.
Cinta Tidak Harus Memiliki.


__ADS_3

Mawar dan Gita berbincang-bincang akrab selayaknya sahabat. Setelah mendapatkan yang dibutuhkan mereka memutuskan untuk sekedar makan cemilan di restoran mal.


Mereka tidak tahu bahwa tidak jauh dari tempat itu, Alfred kebingungan, mencari tempat persembunyian.


"Diah... kamu pilih-pilih dulu ya, aku mau ke toilet," kata Alfred beralasan.


"Ya" sahut Diah pendek, sambil memasukan belanjaan kedalam keranjang. Wanita yang satu ini sudah menjadi kebiasaan jika sudah belanja sampai lupa sekeliling.


Alfred kemudian bersembunyi agar tidak ketahuan istri tua nya. Mata Alfred terus memantau keberadaan Gita. Jika Gita pulang nanti maka dia akan masuk menemui Diah.


Namun hingga Jam lima sore, Mawar maupun Gita belum juga keluar dari mal. Membuat Alfred ketakutan, betapa tidak? jika sampai Gita mengetahui bahwa dia telah beristri lagi, tamat sudah riwayatnya.


Lain Mawar lain Gita, jika Mawar masih betah ditempat itu karena menunggu dijemput Adit. Gita ingin tahu lebih jauh tentang anak Mawar yang mirip Alfred, suaminya.


Alfred pindah dari rak satu ke rak yang lain guna menghindari tatapan Gita. Walau pada akhirnya ia pun memutuskan untuk meninggalkan tempat itu. Ia menuju parkiran kusus motor setelah menyalakan kemudian pergi.


Setelah kepergian Alfred, tidak lama kemudian Mawar dijemput Adit. Namun mereka tidak mengetahui keberadaan Diah.


Jika jam empat tadi, Alfred yang kebingungan karena takut ketahuan istri tuanya. Yaitu Gita.


Berbeda saat ini, menjelang maghrib Diah yang kebingungan mencari Alfred. Diah telepon berlali-kali namun tidak diangkat.


Diah masih berdiri, memandangi belanjaan didalam keranjang. Ia masih berpikir positif daripada berdiam diri lebih baik mencari akan lebih baik.


Yang pertama kali ia tuju adalah toilit, namun tidak ada, kemudian berjalan ke restoran memandang satu persatu para penikmat cemilan sore lagi-lagi kosong. Justru mencium Aroma makanan yang membuat cacing diperut minta diisi.


Diah memutuskan untuk duduk di dekat toko pakaian, ia mulai sadar, ternyata suaminya telah membohongi, sebab saat ini sudah lepas magrib.


Diah bingung apa yang akan dilakukan, pulang tidak punya uang sepeser pun. Hingga akhirnya ia memutuskan berjalan ke halte, sebab saat ini sudah jam delapan malam.


Diah marah, ingin rasanya mencakar-cakar wajah Alfred Jika ada didepanya saat ini. Diah duduk di halte memandangi para pejalan kaki otaknya terus berpikir bagaimana caranya agar bisa pulang.


Pluk.


Pejalan kaki menjatuhkan uang 2000 didepanya. Diah memandangi uang tersebut secepatnya ia ambil steropom bekas pop mie meletakkan didepannya.


Setiap para penjalan kaki yang melintas masing-masing menjatuhkan uang. Senyum samar dibibir Diah.

__ADS_1


*******


Di rumah Abimanyu setelah makan malam papa Wahid mengajak istri dan anak-anaknya berkumpul.


"Bim, sudah saatnya Papa akan mengembalikan semua aset milik kamu, yang pernah Papa sita," papa menatap anak sulungnya akhir-akhir ini menjadi pemurung merasa bersalah. Di usianya yang merangkak menuju kepala enam ingin melihat anaknya bahagia.


Abim hanya mendengarkan belum menjawab begitu juga mama dan Intan.


"Sudah saatnya kamu meneruskan usaha papa memimpin garment" sambung papa.


"Pa, sebenarnya Abim juga ingin bicara dengan Papa, dan Mama," Abim berbicara serius.


"Ada apa, Bim?" mama dan papa menjawab serentak.


"Untuk saat ini, biarkan garment berjalan seperti biasa Pa" jawab Abim lirih.


"Maksudnya apa Bim?" tanya papa tidak mengerti.


"Sebelum memimpin garmen, Abim ingin melanjutkan kuliah S2 di luar negri dulu Pa" jawabnya mantap. "Sebagai pemimpin Abim ingin mempunyai kemampuan yang lebih, tentu jangan sampai kalah dengan bawahan," alasan Abim ada benarnya.


"Apa?! nggak! Mama nggak setuju!" tegas mama. Mama Ina tidak ingin jauh dari anak-anaknya.


"Iya, tapi kenapa Bim? kuliah musti jauh-jauh, toh disini banyak kok, kampus yang bagus, tidak kalah dengan kampus, luar negri," tutur mama panjang lebar.


"Kalau itu sudah menjadi pilihan Abim, kita harus mendukung Ma" papa mengalah.


"Papa..." mama menatap papa kesal. Bukanya membantu mencegah agar anaknya tidak pergi tetapi papa justeru mendukung.


"Ma... jangan cemberut dong..." Abim memeluk pundak mama.


"Tapi..." mama menyenderkan kepala dibahu anak sulungnya. Mama masih merasa bahwa Abim adalah anak umur lima tahun setiap kemanapun pergi beliau selalu tuntun, keduanya pun saling diam.


Intan dari tadi hanya diam, duduk menopang dagu. Intan sama seperti mama tidak ingin jauh dari kakaknya.


Intan tahu pasti alasan kakaknya pergi karena ingin menjauh dari Melati.


"Jika kamu pergi, lalu bagaimana dengan Syifa?" tanya papa.

__ADS_1


"Mengenai Syifa, Abim percaya kok Pa, Kak Mawar dan Adit sangat menyanginya." pungkas Abim, obrolan selesai mereka masuk kekamar masing-masing.


"Pa... cegah dong! Abim jangan sampai pergi! bukan malah mendukung!" mama Ina menggoyang-goyang tangan papa dipinggir ranjang.


"Ma... Papa sudah membujuk Abim sejak enam tahun yang lalu, agar melanjutkan S2, tapi... Abim selalu menolak," jawab papa.


"Menurut papa... mumpung Abim sudah ada kemauan kenapa kita harus melarang." imbuh papa.


"Papa! cek!" mama pun membenamkan wajahnya di atas bantal.


Mama benar-benar tidak bisa merelakan Abim pergi.


Sementara dilantai atas.


Tok tok tok.


"Masuk"


Intan membuka pintu kamar kakaknya lalu masuk. Mendapati Abim yang sedang tidur telungkup di tempat tidur.


"Kak" Intan lantas duduk disofa.


"Heemmm..." sahut Abim.


"Kenapa kakak harus pergi?" mata Intan mulai mengembun. Ia bersandar di sofa.


"Bukanya sudah kakak jelaskan tadi? kenapa bertanya lagi." Abim mengangkat kepala menatap adiknya yang sedang sedih. "Kenapa kamu?" Abim bangun dari tidur lantas duduk disebelah adiknya


"Kakak jangan bohong, aku tahu kakak kecewa dengan Melati kan?" cecar Intan.


"Nggak" ucapnya.


"Kakak cemen, jadi laki-laki mudah menyerah, nggak mau usaha, Melati itu hanya butuh perjuangan kak, seberapa besar, usaha kakak untuk meluluhkan hatinya, bukanya malah menghindar seperti ini," Intan sangat kecewa padahal dia berharap Abim bisa menikah dengan sahabatnya tetapi kenyataan Abim menyerah sebelum bertanding.


"Kakak justeru ingin dia bahagia Tan, selama ini, dia sudah cukup terluka, kakak tidak mau, menambah lukanya semakin menganga," terang Abim.


"Tahu aahh! kakak nggak mau usaha!" ketus Intan, kemudian keluar meninggalkan Abim.

__ADS_1


Abim menarik napas panjang, kurang usaha bagaimana untuk mendekati wanita yang sudah mengisi hatinya kini. Mungkin ini karma yang ia dapat bagaimana dulu ia menolak Melati. Hanya dengan cara pergi jauh mungkin bisa mengerigkan luka masing-masing. Cinta tidak harus memiliki, jika berjodoh tidak akan kemana.


Abim lantas naik ketempat tidur menutup tubuhnya dengan selimut. Ia ingin tidur walaupun tidak bisa memiliki gadis pujaan setidaknya bisa bermimpi bersamanya.


__ADS_2