
Malam dilewati oleh Abimanyu dan juga Intan sungguh sangat melelahkan. Betapa tidak? seolah bukan Diah yang menjadi ibu, tetapi justeru Intan. Namun begitu, Abim dan Intan ikhlas melakukan itu.
"Oeeek... oeeeek..." belum ada satu jam mereka tidur baby sudah membangunkan mereka.
Abim mengerjapkan mata bangun dari sofa, cepat menghampiri anaknya.
"Sayang... kenapa... kamu pipis ya..." Abim mengajaknya bicara lantas membuka popok, ternyata memang basah. Bayi mungil itu tersenyum tipis padahal mata nya terpejam, Abim pun turut tersenyum.
"Biar aku saja yang mengganti popoknya kak, sebaiknya kakak membuat susu saja," kata Intan membagi tugas.
"Baiklah..." Abim meninggalkan Intan kemudian membuat susu. Tidak lama kemudian Abim kembali.
"Ternyata pup juga kak" kata Intan setelah Abim mendekati adiknya. Dengan cekatan, Intan membersihkan bekas pup, tanpa ada rasa jijik padahal bukan anaknya.
Abim berkaca-kaca menatap Intan. "Terimakasih ya Dek," ucapnya.
"Kakak, pakai terimakasih segala sih... sebaiknya kakak shalat subuh dulu, nanti gantian," ujar Intan tanpa menatap Abim yang terus memperhatikan kegiatannya.
"Baiklah... ini susunya, aku taruh disini ya" Abim meletakkan botol susu, di box bagian atas lalu pergi ke mushola, setelah dijawab Intan.
Tidak lama kemudian Abim kembali lagi. "Sudah shalat kak?" tanya Intan yang bersandar di sofa memangku bayi sambil memberi susu.
"Sudah... sekarang gantian kamu yang sholat, setelah ini, kamu pulang saja dek, istirahat dirumah," saran Abim kasihan melihat Adiknya.
"Tapi kakak bagaimana?" Intan kasihan, betapa lelah kakaknya, kesana kesini, mengurus ini itu sendiri.
Sebenarnya tadi malam Intan minta kakaknya agar beristirahat pulang, tetapi Abim menolak. Mana mungkin membiarkan Intan hanya seorang diri mengurus anaknya. Kakak beradik ini pun saling melengkapi.
"Jangan pikirkan Kakak, sudah... sana shalat dulu," Abim mengulangi.
Intan beranjak setelah bayi diambil alih kakaknya. Intan sejenak berhenti disamping ranjang, menatap Diah yang mendengkur.
Wanita macam apa mendengar anaknya menangis sama sekali tidak bangun. Intan geleng-geleng kepala lantas keluar.
Jam enam pagi. Diah gelisah, menggerak-gerakkan bokongnya di ranjang.
Ternyata dia menahan panggilan alam. Ingin minta tolong di antar ke kamar mandi, tetapi gengsi. Semua itu tidak luput dari perhatian Intan.
"Mau kekamar mandi?!" ketus Intan.
Diah hanya diam.
"Ayo, loe, mau pipis di ranjang" ucap Intan, karena Diah tidak menerima uluran tangannya.
Diah lantas memegang tangan Intan. Intan membantu Diah naik ke kursi roda, lalu mendorong ke kamar mandi.
"Jadi orang itu, jangan terlalu sombong Diah, karena... hidup kita... pasti akan selalu membutuhkan pertolongan orang lain," Intan menasehati siapa tahu kakak iparnya ini bisa berubah.
__ADS_1
"Kalau niat menolong, yang iklas Tan!" ketus Diah membalikkan kata-kata Intan.
"Terserah kamu Diah... ke kamar mandi saja sendiri!" ketus Intan lalu meniggalkan Diah belum sampai tujuan.
Bersamaan dengan itu, Abim yang menggendong anaknya dari luar, masuk kedalam. Lalu menyadari apa yang terjadi. Abim menidurkan baby di box lalu menghampiri Diah membantunya tidak sepatah kata pun bicara.
"Dek, sebaiknya kamu pulang," Abim mengulangi.
"Baik kak, aku pulang, nanti aku minta bi Tuti, biar membantu kakak" pungkas Intan.
"Dek, nggak usah minta tolong bibi, biar kakak sendirian saja," cegah Abim.
********
Siang hari setelah shalat dzuhur, keluarga Mawar datang menjenguk.
"Maaf ya Bim, ibu sebenarnya ingin kesini sejak kemarin tetapi ada urusan lain" tutur bu Riska.
"Nggak apa-apa Bu, saya jadi merepotkan." Abim mencium punggung tangan bu Riska, kemudian pak Sutisna. Beliau lantas mendekati box melihat bayi.
"Maaf juga Bim, sebenarnya... saya juga ingin kesini sejak kemarin, tapi Bhanu sekarang tuh, biuuuh... susah ditinggal." Mawar yang berada di belakang ibu bersama Aditya suaminya menangkupkan kedua tangannya.
"Nggak apa kak" Abim tersenyum.
"Selamat Bim" Adit menepuk pundak Abim.
"Nak, maaf ya, Ibu belum bisa kesini" Pak Renggono menepuk pundak menantunya.
"Nggak apa-apa Pak, seharusnya... saya yang minta maaf," Abim merasa bersalah karena sudah tiga bulan, tidak mengunjungi mertuanya.
"Bapak sehat?" tanya Abim kemudian.
"Alhamdulillah... Bim, sehat. Hanya kaki bapak ini, suka pegal-pegal," terang pak Renggono sambil menunjukkan kakinya.
Bapak kemudian mendekati Diah, tanpa bicara. Ia menatap anak tirinya mengingatkan kisah masa lalunya, benar kata pepatah buah jatuh tidak jauh dari pohon.
Ternyata kisah Abim seperti kisahnya dulu, tanpa diberi tahu siapa ayah cucunya pak Renggono sudah bisa menebak.
"Diah... kamu sudah lebih baik?" tanya Mawar. Mengejutkan lamunan Pak Renggono.
"Jaitannya kebuka lagi... gara-gara..." Diah ingin mengadukan Intan kepada kakak iparnya, langsung mendapat plototan Abim.
"Diah petakilan, nggak mau diam kak, jadi ya begitulah..." Abim beralasan.
"Istirahat dulu, jangan banyak gerak Diah..." titah bu Riska.
"Jangan banyak menyusahkan orang Diah, perbaiki sikap mu," titah pak Renggono.
__ADS_1
Diah boro-boro menyahut justeru memalingkan muka.
"Bapak... Kak Adit... saya minta waktunya ingin bicara" kata Abim pelan.
"Baiklah" jawab Adit, dan bapak bersaamaan, lalu mengikuti Abim.
Abim mengajak mertua dan Adit ke taman rumah sakit. Ia mencari tempat yang sepi agar tidak di dengar orang lain.
"Pak, Kak, sebelumnya... saya minta maaf. Karena saya bicara tidak sopan, bukan mendatangi Bapak dan juga kak Adit kerumah, tetapi di tempat seperti ini," tutur Abim.
"Tidak apa-apa, Nak Abim, mau bicara apa?" pak Renggono menanti ucapan Abim.
"Saya... mau terus terang... sudah menyerah mendidik Diah," tutur Abim menopang dagu dengan telapak tangan. Mereka duduk di atas tunggak kayu.
"Apa, ada kaitanya, dengan anak yang dilahirkan Diah?" Adit memutar bola matanya menyelidik, menatap wajah Abim matanya lelah tampak kurang tidur.
"Itu salah satunya Kak, tetapi... terlepas itu anak Abim atau bukan saya sudah bertekat ingin mengembalikan Diah ke Bapak maupun Kak Adit."
"Srooott..." Abim membuang ingus dengan tisu, karena air matanya terjun bebas.
"Abim sudah sejak lama memikirkan ini Pak, dan sekarang lah saatnya saya akan menceraikan Diah setelah selesai nipas," Abim ambil tissue basah lagi dari saku celana lalu mengusap air matanya, karena tissue kering sampai habis.
Kini Abim berada di titik terendah.
"Maafkan kami, Bim" Adit mengusap punggung adik Iparnya yang sedang berguncang kerena menangis.
"Abim capek kak, sebenarnya... hanya satu hari saya merasakan kebahagian selama menikah dengan Diah."
"Srooott..." Abim kembali menangis, lalu membuang tissue ke tong sampah.
"Astagfirlullah... sebenarnya apa yang terjadi Bim? kenapa kamu tidak pernah bercerita dengan kami?" sesal pak Renggono, tidak tega menatap menantunya, sudah menderita selama satu tahun.
Berbeda dengan Adit. Ia paham, tidak perlu bertanya pun sebenarnya sudah tahu bagaimana kelakuan adik tirinya itu.
Namun Adit dan pak Renggono, mempunyai harapan, Abim lah yang akan membawa Diah ke jalan Allah.
Pak Renggono berpikir, sebelum Diah menikah dengan menatunya ini mempunyai pedoman, besi yang keras pun akan bisa dilelehkan, apa lagi, hati manusia.
Tetapi jika gagal Adit dan pak Renggono memaklumi. Hanya satu harapan pak Renggono, hanya Allah swt yang mampu membolak balikkan hati manusia.
"Bapak terima keputusan apapun yang akan kamu ambil Nak, kamu berhak berbahagia" Pak Renggono pasrah, menepuk pundak Abim.
ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜.
.
.
__ADS_1