
"Alhamdulillah... Om Efendi, sudah berkenan berkunjung ke rumah saya" kata Adit suatu kebanggaan, di kunjungi pengusaha senior sukses seperti beliau. Adit menyambut kedatangan tuan Efendi dan nyonya Desty yang tidak terduga.
"Ahahaha... Mas Adit berlebihan, saya juga senang, bisa mengenal Mas Adit, dan Mbak Mawar, pengusaha muda yang sukses," puji tuan Efendi lalu berjabat tangan. Sementara Mawar dan nyonya Desty cipika cipiki.
"Ahahaha... Om Efendi terlalu memuji. Silahkan duduk Om, Tante" ucap Adit.
Dua pasang pengusaha berbeda generasi itu saling berbincang-bincang akrab, sambil menikmati kudapan, yang disediakan oleh Mawar. Hingga akhirnya tuan Efendi mengutarakan maksud kedatanganya. Kemudian menceritakan siapa dirinya.
"Apa? jadi Om Andi, Ayah kandung Diah?" Adit dan Mawar terkejut. Hingga terdengar pak Renggono yang baru keluar dari kamar mandi kemudian bergabung.
"Betul Mas Adit" tuan Efendi tercekat, entah bagaimana akan mengawali cerita kisah masalalunya dengan Renyta.
"Om Efendi, kenalkan ini Bapak saya, yang membesarkan Diah hingga kini" tutur Adit, membuyarkan lamunan Efendi. Renggono dan Efendi lalu berjabat tangan.
Mami Desty mengedarkan pandangannya mencari sosok istri Renggono dengan hati ketar ketir.
"Apa maksud Anda! tadi?! mengatakan bahwa Anda Bapak kandung Diah?!" tampak kilat marah di mata pak Renggono. Dengan entengnya pria ini tiba-tiba datang mengaku bapak Diah. Lalu kemana saja selama ini? Rupanya pak Renggono pun salah paham seperti Diah.
Tuan Efendi diam, suasana menjadi hening.
"Mohon maaf Pak Renggono, Mas Adit, saya akan jelaskan semuanya." tuan Efendi menceritakan kisahnya dengan Renyta dari A sampai Z. Pak Renggono menatap mata Efendy tidak ada kebohongan lalu percaya.
Tuan Efendi juga menceritakan pertemuanya dengan putrinya dan mengatakan bahwa Diah kabur dari rumah sakit lantaran dirinya.
"Apa?! jadi Diah kemarin masuk rumah sakit?" pak Renggono menjadi panik, mengapa Diah tidak mengabari dirinya.
"Bapak jangan khawatir, sekarang Diah di kampung dan dalam perawatan Tante Gini" tutur Adit kepada pak Renggono yang tampak dirundung kesedihan, memikirkan nasip anaknya yang hanya berdua dengan Reny.
"Lalu, Bu Reny kemana Mbak Mawar, saya ingin berkenalan?" tanya Desty sebenarnya bukan ingin berkenalan hanya ingin tahu keberadaan Reny sebab dari tadi tidak muncul.
"Oh, mertua saya juga di kampung, Tante" jawab Mawar. Tuan Efendi menoleh tampak ada kekhawatiran di wajah istrinya, lantas menggenggam tangan istrinya yang duduk di sebelahnya, seolah berkata. "Aku hanya milikmu."
"Mas Renggono, jika di izinkan saya akan mengutus seseorang untuk menjemput putri saya ke kampung," kata tuan Efendi.
Pak Renggono diam, beliau menjadi sedih, akankah Diah melupakan dirinya? jika sudah menerima bapak kandunya? pak Renggono menarik napas panjang. Namun walau bagaimana pak Renggono tidak mau egois, sekarang sudah saatnya anak tirinya itu memulai hidup bahagia. Dan akhirnya pak Renggono mengangguk pasrah.
********
Malam semakin larut, bintang-bintang bertaburan, mengelilingi rembulan.
Angin malam menyapu lembut pori-pori, membangkitkan bulu-bulu. Di atas rooftop, kedua manusia sedang bersi tegang, tiap kali mereka berbicara hampir tidak ada titik temu. Perseteruan pasutri yang satu ini tidak kunjung damai.
__ADS_1
"Apa?! jadi... kamu selama ini menyia-nyiakan darah dagingmu sendiri Fred?! laki-laki macam apa kamu Fred?!" Gita marah besar saat Alfred menceritakan sampai saat ini belum menemui putrinya dengan Diah.
Alfred berusaha jujur kepada istrinya, menceritakan kisahnya dengan Diah. Dari awal mula mereka bertemu, hingga menjalin hubungan terlarang dan akhirnya menikah siri.
Mempunyai anak yang saat ini diadopsi Mawar, hingga berujung perceraian dengan Diah.
"Aku nggak habis pikir Fred, ternyata kamu bisa melakukan itu, kamu pria paling egois yang pernah aku temui! kamu hanya mau enaknya saja!" Sagita tampak murka.
"Maaf" satu kata yang keluar dari mulut Alfred, sejak tadi hanya berdiri, bak patung arca.
"Apa Fred?! hanya kata itu, yang selalu kamu ucapkan! mungkin tidak hanya dengan aku, dengan Diah pun pasti kamu hanya bisa berucap kata maaf!" pungkas Sagita, lalu turun kebawah sambil menagis masuk kedalam kamar lalu mengunci pintu.
Tok tok tok
"Gita... buka pintunya Git" kata Alfred mengetuk-ngetuk pintu. Namun istrinya tidak mau membukakan.
"Daddy... Mommy marah lagi ya?" Freddy tiba-tiba berdiri di samping Alfred lalu memegang telapak tangannya.
"Nggak kok sayang, tadi Daddy habis dari luar, mungkin Mommy sudah tidur" Freddy berbohong. "Kok kamu belum tidur?" tanya Alfred.
"Freddy haus, jadi minum dulu" Freddy mendongak menatap Daddy nya.
Alfred mengusap-usap kepala Freddy hingga terlelap.
Pria bule itu, menatap telapak tanganya yang terasa kasar, karena sudah tiga hari ini bergijabu dengan cangkul. Alfred terpaksa bekerja sebagai kuli bangungan.
Seminggu belakangan ia sudah kesana kemari mencari pekerjaan, bahkan sampai rela jalan kaki, dan hanya pekerjaan itu yang ia dapat.
Motornya sudah ia jual saat menjadi gelandangan, karena hanya motor butut nilai jualnya tidak seberapa. Alfred mencoba untuk tidur besok akan bekerja kembali. Ia sadar, tidak mungkin terus menerus minta makan istrinya.
Keesokan harinya Alfred bangun dari tidurnya menatap jam ternyata sudah jam tujuh.
"Jam tujuh? Alfred membelalakkan mata. Sebab jam delapan sudah harus mulai bekerja. Afred buru-buru mandi memakai kaos dan celana. Ia bergegas kebawah setelah mencium pipi putranya.
"Hos... hos... hos..." Alfed ngos ngosan ia memegang lutut seperti ruku, beristirahat beberapa menit. Ia berlari sejauh dua km agar tidak terlambat, tetapi nyatanya tetap terlambat. Ia takut dipecat karena ia membutuhkan pekerjaan ini.
"Heh?! apa yang kamu lakukan?! cepat kerja! atau mau saya pecat kamu!" bentakan mandor project mengejutkan Alfred.
"Baik Tuan, maaf, saya akan mulai bekerja" Alfred kembali berdiri tegak.
"Awas! kalau besok kamu sampai terlambat lagi! saya pecat!" tukas mandor.
__ADS_1
Alfred dengan cepat ambil jaring, mengayak pasir, mencampurnya dengan semen, ditambahkan air, mengaduk-aduk, lalu memasukkan kedalam ember. Tidak cukup sampai di situ. Alfred mengantarkan adukkan kepada bagian yang memasang bata.
Terik matahari terasa menyengat, Alfred menelan ludah, tenggorokannya terasa kering. Betapa tidak? tadi ia lupa membawa minum. Ditambah lagi tadi pagi tidak sempat sarapan.
Hingga tiba waktu makan siang, teman-teman Alfred berbondong-bondong menuju Warteg di pinggir jalan depan proyek. Alfred membuka dompet hanya tinggal uang dua ribuan dekil pula.
"Kira-kira... dapat ice tea nggak ya? ia bergumam. Alfred masuk kedalam Warteg duduk bersama teman-teman yang lain.
"Eh ada Bule" bisik gadis pelayan Warteg.
"Iya, kita minta foto yu" jawab janda yang bagian masak.
"Ide bagus" kedua wanita itu mendekat. "Tuan... kami boleh minta foto?" tanya dua wanita itu.
Alfred tidak menjawab. "Mas-Mas, tolong fotoin dong," kedua wanita itu minta tolong kepada sesama kuli proyek.
"Cek, keburu lapar nih" gerutu pria itu. Walaupun akhirnya mau mengambil beberapa pose foto kedua wanita itu bersama Alfred.
"Terimakasih" dua wanita ingin segera melayani pelangganya. Namun, satu wanita ditahan Alfred.
"Tunggu Miss"
Gadis itu tesenyum lalu mendekat. "Ada apa Tuan?"
"Ice tea manis berapa satu gelas?"
"Tiga ribu, Tuan?"
"Sa... saya... minta nasi rames, sama tea, tapi bayarnya hari sabtu, habis gajian ya" Alfred menggaruk tengkuk menyembunyikan rasa malunya.
"Huh! ternyata bule kere!" gerutu gadis itu sambil berlalu masuk kedalam kembali melayani pelangganya.
"Mbak, Bule itu mau ngutang, boleh nggak?" tanya gadis itu kepada janda.
"Masa sih... tapi biarin, aku saja yang melayani" janda muda itu bersemangat melayani Alfred.
*******
"Hai... terimakasih yang masih setia sampai bab ini.❤❤❤
Ternyata banyak reader yang kecewa ketika Melati menerima Abim. Lastas ngibrit meninggalkan platform. Tapi nggak apa-apa, tetap semangat💪💪💪
__ADS_1