PERNIKAHAN BERUJUNG LUKA.

PERNIKAHAN BERUJUNG LUKA.
Kemarahan Ibu Arisan.


__ADS_3

Malam semakin larut desah napas terdengar merdu membuat malam ini terasa syahdu. Dua insan kini telah menyatu tidak hanya menyatukan hati namun tubuh mereka pun kini bersatu, mata, hidung, pipi bibir, rambutpun turut bersatu.


"I love you" ucap Abim setelah menjatuhkan tubuhnya kesamping.


Melati hanya mengangguk, tanpa Abimanyu tahu, air mata bening pun menetes. Ia telah menyerahkan mahkotanya kepada sang pangeran selama 25 tahun ini telah berhasil menjaganya, ia menangis bahagia.


"Mau kemana?" tanya Abim menahan telapak tangan istrinya ketika Melati mengenakan piama kembali lantas bangun dari tidurnya.


"Mau kekamar mandi kak" sahutnya, lalu melanjutkan langkahnya. Melati menguyur tubuhnya melaksanakan mandi wajib walaupun saat ini tepat dini hari.


Melati menatap wajahnya didepan kaca toilet menatap hasil buah cintanya sambil mengeringkan rambut.


Ia kembali keluar setelah mengenakan pakaian mendekati ranjang tampak kaos dan boxer suaminya berserakan di lantai. Ia memunguti kemudian melipat meletakkan diatas meja.


Melati naik keatas ranjang menatap Abim yang sudah tidur pulas. Ia pernah membaca sebuah buku suami tidur pulas setelah bercinta itu artinya bahagia.


Semoga. Melati pun merebahkan tubuhnya disamping suaminya membaca doa akhirnya terlelap.


Malam berlàlu dengan indah tergantikan oleh lagi. "Kak... bangun, mandi gih... terus kita shalat" Melati membangunkan suaminya. Ia sudah mengenakan mukena ingin shalat berjamaah.


"Heeemmm..." Abim masih bergulung selimut tampak meringkuk seperti anak kecil membuat Melati tersenyum.


"Ayo bangun... sudah adzan subuh" Melati mengulangi.


Abim membuka matanya menangkap sosok istri yang sudah mengenakan mukena dan berdiri disamping ranjang ia tersenyum bahagia.


"Kamu sudah shalat?" tanya Abim yang baru saja duduk.


"Belum... makanya ayo... aku menunggu kakak yang jadi imam"


"Baiklah..." Abim lantas bersemangat kekamar mandi.


"Terimakasih ya" ucap Abim setelah Melati mencium punggung tangannya mereka baru selesai shalat, lalu mencium kening istrinya.


"Terimakasih... untuk apa?" tanya Melati bingung. Abim hanya tersenyum tanpa mejawab pertanyaan Melati. Karena tidak bisa diucap dengan kata-kata.


Gadis ini telah membuat hidupnya berubah dan akan memulai babak baru. Inilah yang selalu Abim impikan bisa shalat berjamaah terlebih dibangunkan istri seperti sekarang adalah kebahagiaan yang luar biasa.


Dua malam mereka menginap di hotel. Melati dan Abim berkemas-kemas ingin pindah ke apartemen yang sudah ia pesan online.


"Kak, kita nggak usah naik taksi, sebaiknya naik bus saja" saran Melati. Saat ini mereka sedang menunggu taksi.

__ADS_1


"Kenapa memang?" Abim menoleh cepat.


"Pokoknya nurut, ayo" Melati menarik tangan Abim ketika bus sudah dekat.


"Tunggu Mel" Abim meletakkan koper sebelahnya.


"Kita sebaiknya naik taksi saja, membawa koper begini, jika naik bus pasti repot, besok kalau kita sudah kuliah akan naik bus setiap hari," tutur Abim.


"Baiklah" Melati menurut, merekapun berangkat, naik taksi disini merogoh kocek jika terus-terusan bisa dibayangkan.


"Kita sudah sampai" Abim melangkah menuju apartemen menarik dua koper. Sementara Melati menyejajari langkah Abim menarik satu koper.


Apartemen mereka berada di lantai tiga, segera naik litf. Abim membuka kode pintu apartemen kemudian masuk, setelah sampai dilantai yang dituju.


"Kita bawa langsung kamar saja Mel" yang dimaksud Abim adalah koper.


"Iya" mereka membuka pintu kamar lantas meletakkan koper, Abim buru-buru kekamar mandi, sepertinya sudah kebelet.


Melati segera menyusuri ruangan apartemen, satu kamar tidur, ruang tamu, kemudian dapur. Apartemen yang sudah dilengkapi dengan fasilitas.


Melati berdiri didapur, disini ia akan menjalani kehidupan barunya, memasak untuk suami, menjalankan tugas sebagai istri, bersama orang yang dicintainya.


********


Di kediaman Mawar pak Renggono sudah dibawa pulang dari rumah sakit, beliau sudah sembuh walupun masih belum sehat benar.


"Bapak, sekarang tinggal disini?" tanya Diah saat hari sabtu Diah menjenguk bapak angkatnya.


"Iya Nduk, Bapak ingin pulang kerumah Ibumu, tapi Adit melarang," terang pak Renggono. Beliau dilarang Adit dan Mawar tinggal bersama bu Reny sudah pasti akan selalu dimarahi.


Lagi pula, jika dirumah Mawar semua bisa memantau kesehatan beliau.


"Maafkan ibu ya Pak" Diah menatap pak Renggono berkaca-kaca.


"Tidak perlu minta maaf Nduk, justeru Bapak yang minta maaf sama kamu, hingga usia Bapak dan Ibumu setua ini, Bapak tidak bisa mendidik Ibumu," bapak menarik napas sesak.


"Sudah Pak, jangan bersedih" keduanya pun saling diam merenung memikirkan bu Reny semakin tua semakin jadi. Diah sendiri malu untuk menasehati ibu kandungnya, ia sadar dia pun tidak merasa lebih baik dari ibu kandungnya.


******


Di waktu yang sama, ibu setengah baya sedang menonton televisi sinetron kesayangan yang telah tayang.

__ADS_1


Secangkir teh, dan satu toples keripik singkong yang beliau minta dari Rose shop menemani nya saat ini. Biar saja suaminya sudah pulang toh, sudah tidak bisa memberikan nafkah lagi. Buat apa? pikirnya.


Beliau menonton sambil ngomel-ngomel sendiri cerita dalam sinetron tersebut suami yang pelit terhadap istrinya.


Tok tok tok.


Sedang asyik nya menonton ada yang mengetuk pintu. Bu Reny bangkit dari duduknya berjalan mendekati pintu. Ia melihat siapa tamunya dari jendela.


Matanya membelalak sempurna teman-teman arisanya yang datang. Bu Reny cepat menutup gorden yang ia singkap sedikit lalu bersandar dipintu


"Keluar Reny! kami tahu, kamu didalam kan!" enam orang anggota arisan mengetuk-ngetuk pintu suaranya terdengar gaduh.


"Buka, Reny! jika tidak! saya akan laporkan kamu ke rumah pak rt," ancam mereka.


Bu Reny bingung ia harus mencari alasan apa lagi? seribu alasan sudah ia ucapkan kepada mereka.


"Buka-buka, buka...!" bentak mereka bersahutan.


Ceklak.


Tidak ada pilihan bagi bu Reny selain membuka pintu.


"Cepat! bayar arisanya! jangan alasan terus!" paksa ibu-ibu arisan, tanpa tedeng aling-aling, setelah masuk kedalam.


"Alaaahh... tenang neh! nanti saya minta anak saya. Anak saya itu, orang kaya semua, punya bengkel dua cabang, punya minimarket," kata bu Reny pamer kekayaan anaknya.


"Alaaahh... omong kosong! dari kemarin bilanganya begitu! nyatanya bayar arisan saja tidak bisa! cepat bayar!" kata salah satu ibu arisan melotot kesal.


"Ya ampuun... kalian ini, nggak percaya amat sih... tenang! akhir bulan saya lunasi," kilah bu Reny.


"Bayar! kalau tidak saya ambil paksa kalung dan gelang yang kamu pakai!" para ibu mendesak maju.


Bu Reny mundur sambil memegangi kalung dileher dengan tangan kanan, sedangkan tangan kirinya beliu sembunyikan di belakang badan. Hanya kalung dan gelang ini yang ia punya saat ini, jika sampai diambil habis sudah dia tidak punya simpanan.


Namun keenam anggota arisan terus melangkah maju hingga bu Reny mentok di tembok.


"Mbak Reny... sebagai ketua arisan saya sudah banyak menomboki arisan kamu selama tiga bulan ini, jadi... jika kamu tidak punya uang kes, serahkan saja kalung yang kamu pakai." ketua arisan yang dari tadi diam bicara lebih lunak.


"Jangan... kalian datangi saja, rumah anak saya, rumah nya yang tingkat nomer tiga dari sini" bu Reny menunjukan rumah Adit.


.

__ADS_1


__ADS_2