PERNIKAHAN BERUJUNG LUKA.

PERNIKAHAN BERUJUNG LUKA.
Jangan Pernah Berpaling Walaupun Melati Mengering.


__ADS_3

Melati memuntahkan isi perutnya hingga habis. "Ayo, sekarang kita ke rumah sakit" Abim membawa Melati ke poli klinik terdekat. Awalnya Melati menolak. Namun Abim berhasil membujuknya.


"Apa yang Anda keluhkan Nona?" tanya dokter umum yang sedang memeriksa Melati.


Melati menceritakan apa yang dirasa tidak ada keluhan apapun, tetapi selama tiga hari ini sering merasakan mual dan tidak napsu makan.


"Menurut ciri-ciri... istri Anda, sedang hamil, Tuan" dokter umun tidak berani memberikan obat apapun.


"Hamil Dok?" Melati dan Abim bertanya serentak.


Dokter umum mengangguk, lalu menyarankan, agar sebaiknya Melati periksa ke dokter obgyn.


Tanpa berpikir lagi Abim segera menuju ruang dokter obgyn. Mereka menunggu giliran duduk di ruang tunggu setelah mendaftar.


"Masih mual nggak? apa yang sakit, mau aku belikan apa?" cecar Abim membuat Melati terkekeh.


Abim mengerutkan dahi, belum lama muntah-muntah istrinya sudah kembali ceria, tetapi Abim senang melihatnya


"Kok malah tertawa?" Abim menyentuh hidung istrinya.


"Habis Abang lucu, kalau bertanya memberondong seperti petasan begitu... bagaimana mau menjawab?"


Keduanya kembali tertawa.


"Melati putih" terdengar suara mikrofon. Keduanya lantas masuk ke ruang dokter.


"Kalian dari Indonesia?" tanya dokter setelah melihat data-data Melati, dan lihat dari wajahnya.


"Betul dok" jawab Abim singkat.


"Coba tiduran" kata dokter, setelah Melati menimbang berat badan. Dokter mengukur tekanan darah, kemudian memeriksa bagian intim Melati.


"Coba tes urine dulu ya" titah dokter. Asisten dokter memberkan gelas kecil kepada Melati.


"Baik Dok" Melati segera bangun lalu ke toilet, Abim mengantarkan. "Perlu bantuan?" tanya Abim.


"Tidak usah, Abang tungguin di luar pintu saja."


Abim mengangguk.


Setelah memindahkan air seni, tidak lama kemudian, Melati kembali menyerahkan kepada asisten.


Melati kembali merebahkan tubuhnya atas perintah dokter. Dokter memeriksa denyut jantung, laju pernapasan, dan suhu tubuh semua normal.


"Apakah istri saya, benar hamil Dok?" tanya Abim saat dokter melakukan USG.


Abim tampak terus berdoa mengaminkan kata dokter umum tadi, dari ciri-cirinya dokter mengatakan bahwa Melati sedang mengandung.


"Selamat Tuan, Anda akan menjadi Daddy," jawab dokter.


"Alhamdulillah..." Abim lalu memeluk istrinya yang masih tiduran di tempat pemeriksaan.

__ADS_1


Dokter wanita itu, tertegun menatap Abim yang tampak kegirangan, lalu tersenyum.


Sementara Abim, bersukur kepada Allah telah menitipkan buah cinta mereka di tubuh Melati.


"Sudah berapa bulan kehamilan saya dok?" tanya Melati pada akhirnya.


"Baru 8 minggu" jawab dokter sambil menulis resep.


"Sudah 8 minggu? tapi kok saya tidak merasakan tanda-tanda sebelumnya, dok?" Melati memang tidak merasakan apapun. Masalah haid terlambat Melati memang sering mengalami itu.


"Tidak semua wanita hamil merasakan keluhan Nona, ada juga yang mengalami mual, muntah, pusing dan masih banyak lagi. Tetapi harusnya Nona bisa tahu mengapa tidak segera datang bulan," dokter menuturkan panjang lebar.


Melati menanyakan banyak hal tentang kehamilan, setelah mendapat banyak ilmu kemudian pulang ke apartemen menggunakan transportasi taksi.


"Kamu makan dulu, perutmu kosong loh" Abim membujuk Melati seperti anak kecil. Pulang dari klinik Abim sengaja membeli makanan.


"Aku mau tidur dulu, bangun tidur nanti baru makan, Bang" Melati langsung ngeloyor ke kamar.


Abim lagi-lagi harus mengalah. "Ya sudah... tapi bangun tidur nanti terus makan ya, kasihan dedek di perut" titah Abim.


"Iya" Melati pun menutup tubuhnya dengan selimut.


"Yank" Abim merebahkan tubuhnya di samping Melati, tidur miring memandangi, mengusap punggung istri nya.


"Apa? serius banget?" Melati menatap lekat wajah suaminya.


"Terimakasih... kamu sudah setia mendampingi aku, menerima aku apa adanya" Abim menyusuri wajah Melati dengan jari.


"Tetaplah bersamaku sayang..." Abim mencium perut Melati lembut.


Melati menitikan air mata mengusap-usap kepala suaminya.


"Aku juga terimakasih, Bang. Abang telah menyiram Melati yang dulu sempat layu, memupuk, dan merawatnya, hingga Melati itu tumbuh subur" Melati mengusap air matanya.


"Bang... jangan pernah berpaling, walaupun Melati itu pasti suatu saat nanti akan menua dan mengering"


"Seeettt... jangan katakan itu" Abim mencium punggung tangan Melati.


"I love you"


"Love you too"


"Bobo ya, Abang mengerjakan tugas dulu." Abim mencium lembut bibir istrinya. Melati mengangguk.


Abim lalu keluar menata makanan yang baru ia beli di meja makan.


Teng tong, teng tong.


Bel apartemen berbunyi, Abim segera membuka pintu.


"Assalamualaikum..."

__ADS_1


"Waalaikumsalam..." ternyata Faisal yang datang setelah masuk Abim kembali mengunci pintu.


"Waah... tau aja, gw lagi lapar, makan ah" tanpa permisi atau disuruh Faisal lalu ambil piring menyendok nasi yang sudah Abim masak tadi pagi.


"Bini loe kemana Bim?" tanyanya sambil menyendok lauk.


"Tidur" jawab Abim singkat.


"Tumben bini loe tidur siang, biasanya ngoprek melulu," memang benar apa yang dikatakan Faisal. Faisal kemudian duduk di sofa. Menyuap makan siang yang sudah menjelang sore.


"Ini sepertinya bukan masakan bini loe ya Bim?" tanya Faisal setelah mengunyah suapan pertama, walaupun yang dibeli makanan Indonesia, tentu Faizal sudah hapal masakan Melati, sebab sering makan di sini.


"Sudah... makan saja Sal, nggak usah keppo masakan siapa!" ketus Abim.


"Galak amat loe" jawab Faisal cuek lalu menghabiskan makanannya.


Selesai makan mereka mengerjakan tugas dari dosen memang sudah janjian.


********


Hari berganti minggu, bahkan bulan, pagi hari yang cerah, seorang wanita berperut besar membuka jendela kamar ia adalah Melati.


Ia mengusap perut besarnya, di dalam si jabang bayi bergerak cepat menyapa Ibu nya. Bibirnya tersenyum merekah, seraya menunduk.


"Ini... susunya diminum sayang..." Abim membawa segelas susu hamil untuk istri tercinta.


"Terimakasih Bang" Melati langsung menyeruput susu yang masih hangat.


"Ya Allah... anak kita rupanya senang di kasih minum susu sayang" Abim menyingkap baju hamil kemudian mengecupnya lembut.


Begitulah Abim tidak ada momentum yang terlewat saat Melati hamil. Ia selalu memperhatikan Melati.


Memberikan makanan dan minuman yang bergizi, mengingat jadwal periksa, kemudian mengantarnya.


Melati tidak boleh bekerja ini itu, selalu menjaganya. Apapapun yang Melati inginkan selama kehamilan hingga delapan bulan, Abim mencari jika memang makanan yang Melati inginkan ada di Swiss, dan masuk akal.


Bahkan tidak bosan untuk memasak sendiri.


Di kampus, di apartemen, selalu menemani, tidak sampai lengah. Dimana ada Melati di situ ada Abim, kecuali bila sedang di dalam kelas.


"Aku siap-siap ya sayang" Abim beranjak.


"Aku bantu" Melati membuntuti.


"Tidak usah, kan pakaian yang kita bawa tidak banyak" tolak Abim. Jam 11 nanti mereka akan pulang ke Indonesia, selain sedang liburan semester, Melati dan Abim bersepakat ingin lahiran di Indonesia.


"Pasti Mama sama Ibu kaget ya Bang" Mereka tidak memberi kabar orang tuanya, karena ingin memberi kejutan.


"Sudah pasti" jawab Abim seraya menata pakaian yang kebanyakan baju hamil milik istrinya.


.

__ADS_1


__ADS_2