PERNIKAHAN BERUJUNG LUKA.

PERNIKAHAN BERUJUNG LUKA.
Kejutan Pagi.


__ADS_3

"Memang apa yang sudah dilakukan menantu kita di luar sana, Pa?" tanya Mama, mulai tenang lantas memegang bahu Papa. Mama merasa bersalah sudah memarahi suaminya.


"Sudah... jangan dibahas lagi, Ma, kita mandi saja terus shalat," titah Papa, menggandeng Mama kekamar. Lalu beliau mandi dan shalat ashar berjamaah.


********


Abimanyu sudah selesai mandi kemudian shalat ashar, shalat selesai. Abim duduk bersila, tanganya menengadah, mendoakan orang tuanya, dan minta ampun kepada sang pencipta, agar dosa-dosanya diampuni, dan dibukakan pintu taubat untuk istrinya. Itulah yang selalu Abim panjatkan.


Abim lantas berdiri melipat sarung dan sajadah membuka kopiah meletakan di rak kusus untuk menyimpan alat shalat dan Alqur,an.


"Kamu mandi sana Diah... biar segar, terus kenapa matamu sampai bengkak begitu? nangis terus ya?" tanya Abim perhatian, melihat Diah sepertinya kebanyakan menangis.


"Hu huuu... kenapa Papa kamu benci banget sama aku, Mas. Aku di katain kalau hidup nggak ada guna, suruh mati saja, daripada menambah dosa," adu Diah sambil menangis. Rupanya kata-kata Papa benar-benar melukai hatinya.


"Masa Papa bicara begitu?" tanya Abim lantas duduk disofa memperhatikan Diah yang sedang bersandar meninggikan bantal sambil menangis.


"Aku nggak mau tinggal disini, kita pindah saja, hu huuu..." Diah menangis seperti anak kecil.


"Terus kamu mau pindah kemana?" Abim mencoba bersabar menghadapi Diah.


"Kemana saja... yang penting nggak ditempat ini, Papa kamu sama Adik kamu selalu menghina aku habis-habisan," Diah terus menangis.


Abim melempar pandang kearah Diah, ada orang nangis tetapi bicaranya lancar seperti Diah.


"Yang benar saja kamu, Diah... minta pindah, baju kamu saja baru dibawa kesini." Abim menunjuk koper yang berjajar milik Diah belum dibereskan.


"Lagi pula... sekarang ini, kita sedang dalam kesulitan keuangan Diah, saya sudah mengajukan kredit rumah, mungkin tiga sampai enam bulan kedepan, kita baru bisa pindah." tutur Abim lembut.


"Lagian kenapa sih... nggak tinggal dirumah kak Mawar saja," protes Diah.


"Saya ini laki-laki yang punya harga diri Diah, saya nggak mau dinina terus sama Ibu kamu" jujur Abim.


"Terus apa bedanya dengan aku, Papa kamu sudah menghinaku habis -habisan!" Diah membentak Abim.


"Papa tidak menghina kamu Diah, Papa ingin kamu menjadi orang baik!" Abim tidak kalah membentak adu mulut pun tak terelakkan.


"Okay... keluargamu menganggap aku tidak bisa apa-apa, aku akan buktikan, bahwa aku bisa kerja mencari uang sendiri!" kata Diah lantang.


"Bukan begitu maksudnya Diah... astagfirlullah..." Ambim mengelus dada.

__ADS_1


"Sekarang dengerin Diah. Jujur, saya sudah punya cita-cita mempunyai istri yang tidak bekerja diluar, makanya saya memilih kamu." Abim memelankan suaranya.


"Karena apa? karena saya tahu, pekerjaan istri dirumah, walaupun terlihat sepele tetapi sungguh melelahkan. Apa lagi... jika sambil kerja, tidak usah jauh-jauh, contohnya Mama, beliau bekerja diluar, tetapi... harus bangun sebelum anak-anak bangun memasak untuk keluarga. Belum lagi ketika pulang kerja pun harus pulang lebih awal melakukan hal yang sama." ( Curcol ) 🤣🤣🤣.


"Yang saya inginkan, kamu bisa menjadi istri yang shaleh. Karena, dengan begitu... kamu bisa menjadi Ibu dari anak-anak saya, mendidiknya kejalan yang benar." Abim masih berharap isterinya akan berubah.


"Menyambut ketika saya pulang kerja, membuatkan saya masakan, dan mensyukuri seberapa rezeki yang aku dapat. Karena, walau rezeki sedikit, asalkan kita bersyukur, dan dibelanjakan di jalan Allah, akan menjadi berkah Diah." nasehat Abim panjang lebar.


"Dan juga sebaliknya, walaupun gaji besar jika dihambur-hambur kan yang ada hanya mubazir." Abim ceramah menjadi Ustad dadakan


"Itu namanya laki-laki egois!" sergah Diah.


"Nggak! pokoknya aku mau kerja! biar bisa cari uang sendiri, nggak ngemis-ngemis lagi sama kamu!" ketus Diah.


Abim hanya menggeleng. "Ya sudah... kamu kerja di butik Intan saja ya," usul Abim. Abim yakin dengan bekerja bersama Intan, akan membawa dampak positif bagi Diah.


"Nggak! bisa-bisa aku mati berdiri kerja sama Adikmu." Diah kesal jika ingat Intan yang ngerjai seharian tadi.


"Okay... sekarang terserah kamu Diah, apapun yang akan kamu lakukan. Lakukan saja! saya tidak akan ikut campur lagi," pungkas Abim. Terdengar adzan maghrib Abim lantas kembali mengenakan sarung dan baju koko. Lebih baik ke masjid menenangkang diri.


*******


Tiga bulan berlalu setelah pertengkaran, Abim dengan Diah. Diah membuktikan ucapanya, ia benar-benar bekerja diperusahaan asing.


Keduanya sibuk dengan urusan pekerjaan masing-masing, tidak ada lagi komunikasi. Abim sudah lelah, maka diam akan lebih baik.


Hingga suatu ketika, Diah malas berangkat bekerja. Kepalanya terasa pusing, dan perutnya mual. Diah menuruni tangga matanya menangkap Mama yang duduk di ruang keluarga fokus dengan lap top.


Papa, Abim, dan juga Intan sudah berangkat semua. Karena saat ini sudah jam sembilan pagi. Sedangkan Mama hari ini tidak ada jam mengajar.


Mendengar langkah kaki yang menuruni tangga, Mama mengangkat kepala.


"Eh, Diah... tumben? kamu dirumah nak?" tanya Mama lalu menutup lap top.


"Izin nggak masuk kerja Ma, nggak enak badan kayaknya," sahut Diah.


"Oh sarapan dulu gih, mungkin kamu masuk angin nak." titah Mama. Mama memang sabar dan baik menyikapi dengan bijak, tetap menerima kekurangan Diah apa adanya.


"Baik Ma" Diah lantas membuka tudung nasi ketika mencium bau nasi goreng rasanya mual.

__ADS_1


"Hoek... hoek..." Diah lari kekamar mandi dapur ingin mengeluarkan sesuatu tetapi tidak ada isinya.


"Diah, kamu kenapa nak?" Mama melebarkan kamar mandi yang di buka sedikit, lalu memijit tengkuk menantunya yang sedang berjongkok dilubang air.


"Nggak tahu Ma, sebenarnya sudah seminggu ini, saya merasakan ini, setiap pagi suka mual-mual tapi kemarin nggak sakit kepala Ma." Diah menjelaskan sambil keluar meninggalkan kamar mandi.


Mama lantas tersenyum menatap menantunya yang berjalan didepanya.


"Kapan kamu terakhir haid nak?" tanya Mama setelah Diah duduk di sofa di susul Mama.


Diah diam mengingat-ingat. Diah lupa Ma, tetapi sudah agak lama juga,"


"Sepertinya kamu hamil nak" Mama tersenyum menatap Diah didepanya.


Deg.


Diah melepas cepat tanganya yang sedang memijit pelipisnya sendiri, menatap Mama lekat.


"Apa iya, saya hamil Ma," lirih Diah.


"Menurut ciri-ciri, iya, sekarang kamu siap-siap, Mama antar kerumah sakit," Mama lantas berdiri menatap Diah yang masih bengong.


"Ayo nak" Mama mengulangi.


"Baik Ma" Diah lantas keatas mandi dengan air hangat, ia menatap perutnya di depan kaca kamar mandi.


Benarkah aku hamil?


Diah lalu keluar mengganti pakaian, ketika ingin memakai bedak.


Hoeek... hoeek.


Diah ngos ngosan kembali berkaca menatap wajahnya yang memerah. Ia lalu kembali ke lantai bawah.


"Ini mama buatkan jahe dulu, biar mengurangi rasa mual." Mama memberikan secangkir jahe hangat.


"Terimakasih Ma" Diah lastas meneguknya.


"Sudah kita berangkat" Mama menggandeng tangan menantunya masuk kedalam mobil yang sudah disiapkan supir.

__ADS_1


*******


"Nahlo..."


__ADS_2