PERNIKAHAN BERUJUNG LUKA.

PERNIKAHAN BERUJUNG LUKA.
Keributan Siang.


__ADS_3

Setelah misinya berhasil, Diah segera kembali kekamar, bibirnya tersenyum licik.


"Rasain kamu Mel, ini belum seberapa, jika loe lama-lama disini akan gw bikin loe dijauhi keluarga Abim" Diah berbicara sendiri, kadang tertawa-tawa seperti orang gila.


Waktu merangkak naik hingga jam satu siang, setelah shalat dzuhur mereka hendak makan siang bersama.


Abim keluar dari kamar saat membuka pintu yang pertama ia lihat adalah Melati.


Melati yang baru keluar dari kamar Intan hendak menyusul Intan kelantai bawah berpapasan dengan Abim.


"Kak"


"Mel"


Ucapnya bersamaan, keduanya lantas terdiam. Abim menatap Melati tidak berkedip.


Melihat tatapan Abim, Melati lantas mengalihkan pandangan.


"Aku duluan ya kak" ucapnya tidak menunggu jawaban Abim Melati berjalan cepat menuruni tangga.


Abim masih berdiri di depan pintu, sesal yang kini ia rasakan. Mengapa dulu matanya buta, dan baru sekarang mata itu terbuka lebar bahwa Melati adalah wanita idaman.


Abim berjalan pelan matanya tidak melihat kebawah, jurteru fokus menatap meja makan dengan kehadiran Melati rumahnya menjadi hidup.


Tampak papa, mama, Intan sangat menyanyangi Mela. Jika bisa memutar waktu ia ingin rasanya kembali kemasa lalu. Menghapus Diah dari ingatan, dan akan selalu mengingat gadis pilihan mama.


Tidak ada pilihan bagi Abim saat ini, selain menerima nasip punya istri seperti Diah, setan gentanyangan yang menyerupai manusia.


"Kakak ngapain bengong di situ?" tanya Intan mengejutakan lamunan Abim.


Abim mempercepat langkahnya hingga sampai di meja makan.


"Masih terasa sakit kepalanya Bim?" tanya mama sambil menyendok nasi untuk suaminya.


"Iya, kok masih sakit, Ma" keluh Abim tadi sempat enakan tetapi saat bangun tidur kepalanya kembali berdenyut.


"Nanti habis makan mama kerok," kata mama.


"Dikerok, Ma" Abim terkejut, ingat waktu SMP ketika dikerok mama sakit sekali, walaupun akhirnya sakitnya sembuh.


"Iya, dulu kan kamu sering dikerok Bim, memang kenapa, atau biar dikerok sama Diah, lebih enak mungkin." mama memberi usul.


"Nggak mau, sama Mama saja." Abim menjawab cepat. Membayangkan disentuh Diah sudah pasti Diah mencari kesempatan.


Mereka mulai menyendok nasi mengisi piring masing-masing. Lalu menambahkan lauk. Ketika Abim ingin menyiduk sop Ayam, tanganya ditahan Intan.


"Sop ayam ini, kusus untuk kak Diah, yang lain nggak ada yang boleh makan" kata Intan.

__ADS_1


Mama papa saling pandang, tumben Intan bisa bersikap baik dengan Diah. Beliau lantas makan tanpa sop, toh masih banyak lauk yang lain.


"Ya jangan dikasih semua juga kali, Tan," ujar Abim. Sedang tidak enak badan seperti sekarang makan pakai sop tentu segar.


Intan tidak mendengarkan keluh kesah Abim justeru mengangkat mangkok meletakkan didepan Diah.


"Kok aku doang yang makan Tan, nggak bakal habis atuh," kilah Diah. Diah mengamati sop Ayam yang masih hangat didepanya pikiranya mulai resah.


"Orang lagi hamil tuh, bagus makan sop, iya kan Mel?" tanya Intan.


Melati tidak menyahut, justeru wajah Melati menegang.


Mama hanya bingung mengamati Intan, bukankah sop tadi memang dibuat untuk semua tapi kenapa justeru dikasih Diah semua? ingin melarang pun mama tidak enak, lebih baik diam makan yang ada saja.


"Tan, aku nggak mau makan ini" Diah menunjuk mangkok.


"Harus dimakan!" ketus Intan.


Papa dan mama berhenti mengunyah mendengar suara Intan, setengah membentak Diah.


Mama heran tidak biasanya Intan ribut saat makan, beliau berpikir pasti ada sesuatu.


"Sudah sih Tan, orang sudah nggak mau kok dipaksa," Melati memecah ketegangan.


"Mel, aku nggak mau makan ini," Diah merengek minta bantuan Melati.


"Apa maksudnya ini?" mama, papa dan Abim terkejut mendengar perkataan Intan.


Beliau sudah selesai makan tinggal tiga wanita ini masih menegang. Sebenarnya mama selalu menegaskan kepada anak-anak agar jangan bicara apa lagi sampai ribut saat makan.


"Ma, Diah nggak mau makan sop, Diah enek, nanti malah muntah," adu Diah tidak bisa merayu Melati akhirnya merayu mama.


"Sudah... sudah, jangan dimakan.


Melati tentu tidak ingin jika Diah sampai menyantap sop tersebut. Melati lantas membawa sop ke kebelakang.


"Kak, istrimu ini loh, sudah keterlaluan! masak sayur yang kami masak di bubuhi garam inggris." kata Intan menatap Diah sebal.


"Apa?!" papa, mama dan juga Abim serentak menatap Diah tajam.


Flashback on.


Saat Diah didapur sangat kebingungan seperti mencari sesuatu.


Bi Tuti yang bagian mencuci gosok ingin mengangkat jemuran. Tetapi tanpa sengaja matanya menangkap sosok Diah yang mencurigakan. Selangkah kemudian, bibi bersembunyi. "Tuti ngapain kamu?" bi Emi menepuk pundak Tuti.


"Pelan-pelan Bi, lihat, apa yang akan dilakukan Diah?" bisik Tuti.

__ADS_1


Bi Tuti lantas ambil handphone dari saku, lalu merekam kegiatan Diah. Setelah Diah kekamar, Tuti dan Emi segera melihat benda dalam botol.


"Apa maksudnya ini Bi?" tanya Tuti sambil menunjukan botol.


"Kita nggak usah berpikir yang aneh-aneh, lebih baik kamu bilang Non Intan, agar sop ini nanti nggak usah dimakan," pungkas bi Emi.


"Iya Bi" Tuti bergegas menemui Intan kekamarnya.


"Ada apa Tut?" tanya Intan jika Tuti kekamarnya pasti disuruh mama. Pikirnya.


"Non, maaf kalau saya lancang, tadi saya vidioin Diah," kata Tuti sambil membuka handphone.


"Apa yang dilakukan Diah?" tanya Intan sambil melihat vidio bersama Melati.


"Sudah ya Non, saya mau lanjut bekerja." Tuti meninggalkan kamar Intan, setelah diangguki Intan.


"Mel, kita harus berbuat sesuatu jangan kalah pintar dengan Diah," Intan menyusun rencana walaupun Meleti tidak menyetujui sebab Diah sedang hamil.


Flashbach of.


"Astagfirlullah... Diah... kamu tahu kegunaan garam ingris?" mama masih berkata lembut. Namun berbeda dengan papa dan Abim dua pria itu menahan marah


"Memang apa, bukanya itu cuma garam?" tanya Diah sambil menunduk.


"Garam itu untuk pencahar Diah, pemakaiannya harus seizin dokter." terang mama menggelengkan kepala.


Garam inggris memang untuk mencuci perut, setelah mengkonsumsi benda tersebut akan merasa mual, nyeri lambung, dan BBAB.


"Terlepas bahaya atau tidak, terus untuk apa kamu melakukan itu, Diah?" mama kembali bertanya.


Diah hanya menunduk, dia gemeteran jika sampai menatap mertuanya laki-laki.


"Papa tahu, pasti Melati tujuanya," papa menimpali.


"Seharusnya jangan dibawa kebelakang tadi Mel, benar kata Intan biar dimakan sama dia." papa lantas berdiri meninggalkan meja makan.


"Diah, Diah, kurang baik apa Melati sama kamu? kamu sudah memfitnahnya tapi justeru Melati yang kasihan sama kamu!" kali ini mama pun kesal, kemudian menyusul papa.


"Gw kekamar duluan Mel, hilang nafsu makan gw." Intan lantas naik tangga disusul Melati. Tidak seperti biasanya meja makan ditinggalkan berantakan satu persatu meninggalkan meja.


Hanya tinggal Abim dan Diah. Abim yang sudah menahan marah sejak tadi menarik tangan Diah kasar.


"Sini kamu!" bentak Abim menariknya kedalam kamar.


"Mas!"


.

__ADS_1


__ADS_2