PERNIKAHAN BERUJUNG LUKA.

PERNIKAHAN BERUJUNG LUKA.
Tidak Percaya Diri.


__ADS_3

Kita tinggalkan dulu Diah yang sedang galau, semoga misteri cincin yang melingkar di jari Marsel, segera bisa di pecahkan.


Kita lihat dulu bagaimana kehebohan Melati, Abim, Intan, dan Rony di waktu yang sama, mereka sedang memilih baju untuk pernikahan Intan, di butik milik Intan sendiri.


"Mas Rony, pilih yang mana?" tanya Intan menunjukkan beberapa kemeja dan jas.


"Menurutmu?" Rony balik bertanya.


"Menurut aku, yang ini Mas" Intan memilih jas warna pastel, kemeja putih, dan dasi hitam. Sementara untuk Intan sendiri, memelih dress warna yang sama sudah ia rancang sejak sebulan yang lalu.


"Bagus Tan, aku suka, tapi cocok nggak, di tubuh aku?" Rony tampak mencoba kemeja, dan jas bergaya di depan calon istrinya.


Ya Allah... terimakasih, engkau telah memberi hamba jodoh, tidak hanya tampan, tapi juga baik, melindungi, dan juga mengajarkan hamba dengan hal yang baik.


"Intan... kok melihat aku seperti itu? oh iya, aku tampan sekali, ya?" Rony terkekeh seraya berjalan seperti peragawan, kemudian berputar-putar. Tubuhnya yang tinggi, kulit sawo matang memang keren tidak membosankan jika dipandang.


"Jangan gr!" ucap Intan, untuk menutupi rasa gugupnya. Padahal Intan memang sedang kasmaran.


"Sekarang coba punya kamu" saran Rony.


"Baju ini kan aku rancang sejak Mas Rony melamar aku, jadi aku sudah coba berapa kali" Intan mengambil jas dari tangan Rony kemudian melipatnya.


"Pasti saat mencoba baju ini, kamu berjalan di depan kaca, terus... membayangkan bersanding bersamaku, iya kan, ayo ngaku?" kelakar Rony.


"Iiihhh..." Intan mencubit lengan Rony pelan, tersenyum malu.


"Ya jelas membayangkan Mas Rony lah... kan aku nikahnya sama Mas," ujar Intan sambil melipat beberapa baju, yang sudah mereka pilih.


Rony mengedarkan pandangan keseluruh butik, koleksi baju yang mewah dipajang dalam lemari dengan berbagai model. Senyum Rony mendadak hilang.


Intan mempunyai usaha sendiri, tampak para pembeli sejak tadi hilir mudik membuat Rony tidak percaya diri. Sungguh sebenarnya bukan sifat Rony.


Rony sebenarnya bukan tipikal pria yang iri dengan apa yang orang lain miliki. Tetapi, berhadapan dengan keluarga Intan, menjadi sangat kecil di pandang dari status sosial.


"Tan" Rony tampak serius kemudian duduk di kursi plastik yang biasa digunakan para pelanggan.


"Ada apa Mas?" Intan pun mengangkat satu kursi ia bawa mendekat, duduk berhadapan dengan calon suaminya.


"Kamu sudah yakin memilih aku?" tanya Rony menatap lekat wajah cantik Intan.

__ADS_1


"Mas! kenapa masih tanya soal itu sih? seminggu lagi loh, kita menikah?" Intan heran sudah rencana matang-matang. Namun mengapa Rony masih meragukan keputusannya.


"Kamu tahu kan Tan, aku bukan siapa-siapa" Rony lantas berdiri. "Aku hanya karyawan biasa, dan dosen yang tidak seberapa penghasilan aku." Rony rupanya incecure.


"Apa kamu tidak akan menyesal jika nanti aku tidak bisa memberikan kamu kemewahan?"


"Stop!" potong Intan, sudah tahu arah pembicaraan calon suaminya.


"Aku mohon Mas, jangan pernah katakan itu lagi, saat Mas melamar aku. Aku tersanjung, karena aku mencintai Mas, sejak aku melihatmu pertama kali. Jadi... jika Mas Rony, berpikir begitu, aku kecewa!" mata Intan mengembun.


"Maaf, tapi dokter Tio, selalu mengejar kamu Tan, dan dia memiliki segalanya,"


"Mas!" Intan benar-benar marah. "Dengarkan aku Mas! aku memilih Mas, karena aku tahu, Mas berbeda dengan pria manapun, yang pernah aku temui. Mas pria baik, yang akan menjadi imamku, membimbingku, mengajari aku, agar aku menjadi istri sholeh, dan menjadi istri yang selalu menjaga kehormatan suamiku"


"Mas" Intan berdiri menyusul Rony yang sedang bersandar di lemari menengadah.


"Mas harus tahu, mengapa hingga usiaku 26 tahun, aku tidak pernah mencintai siapapun, karena tidak aku temukan kelebihan yang mereka miliki seperti apa yang Mas miliki, harta bukan jaminan bahwa kehidupan akan selalu tentram dan damai, Mas mengerti kan maksud aku?"


Rony menatap mata Intan, kejujuran melekat di sana. "Terimakasih Tan" Rony kembali memandangi Intan


"Sudah hampir magrib, kita temui Kak Abim, sama Melati, kita shalat maghrib, terus mencari makan malam" tutur Intan, mengalihkan pembicaraan.


*******


Sementara di sebelah. Melati, dan Abim pun sedang memelih baju, di bantu mama Ina.


"Jangan yang ini Ma, terlalu mewah, aku sama Bang Abim, kan hanya menemani Intan" tolak Melati. Sebab mama Ina bersemangat memelih gaun untuk anak dan menantu kesanganya. Tidak tanggung-tanggung yang beliau pilih, harganya merogoh kocek.


"Tapi kalian suka tidak?" tanya mama kemudian.


"Suka sih, Ma... tapi..." Melati tidak melanjutkan bicara. Ia merasa tidak enak jika gaun yang ia pakai sampai terlihat mencolok daripada gaun yang Intan, dan Rony pakai. Sebab, mereka lah yang akan menjadi ratu sejagat.


"Karena mahal kan maksud kamu? jangan khawatir, sayang... nanti Abang yang membayar sama Intan, jadi lebih baik kamu menurut saja apa kata Mama" Abim menyudahi perdebatan mama Ina, dan istrinya.


"Iya deh, besok Melati pakai, terimakasih ya, Ma" jawab Melati pada akhirnya mengalah.


"Sama-sama sayang... tapi baju ini, memang sengaja Mama rancang untuk kalian, jadi... jangan berpikir untuk membayar." pungkas mama.


"Dirancang untuk kami Ma? dalam rangka apa?" tanya Melati dengan dahi berkerut.

__ADS_1


"Hehe... ya jelas dalam rangka pernikahan adikmu lah... sudah ah, jangan dibahas lagi, pokoknya besok kalian harus pakai gaun ini"


"Baik Ma" Melati dan Abim menyahut bersamaan.


"Mama duluan ya... pasti Papa sudah menunggu, di rumah," mama menyudahi obrolan kemudian pulang diantar supir.


"Bang, kita lihat Intan di sebelah yuk, sudah selesai belum dia"


"Okay, sayang..." Abim lalu berdiri ketika mereka mau kesebelah Rony dan Intan sudah sampai.


"Panjang umur kalian, baru di omongin langsung nongol," kelakar Abim.


"Iihh, ngomongin tentang kejelekan aku ya? gibah itu namanya?" Intan pura-pura kesal.


"Ya nggak lah, sahabat aku yang satu ini mana ada yang jelek sih" Intan kemudian merangkulnya, dari belakang.


"Hait! kalian ini, jeruk makan jeruk, aku dari tadi berdua sama Intan nggak di peluk" pribadi Rony yang kocak sudah kembali walaupun tadi sempat menghilang.


"Mau aku tonjok! belum sah, sudah mau celup-celup!" Abim mengacungkan tinju ke arah Rony.


"Tenang Bang! tenang... guyon-guyon..." empat orang itu kemudian tertawa.


"Sudah yuk, kita sholat magrib, terus makan pecel bebek di lesehan pinggir jalan itu, setiap malam aku lihat ramai pengunjung, pasti enak" tutur Intan.


"Bersih nggak tempatnya?" tanya Abim.


"Alaah... Kak Abim, setelah pulang dari luar negeri, gaya! pakai tanya soal bersih apa nggak!" Intan mencibir.


"Yeee... kalau mau protes... sama kakak ipar mu ini, dia kan yang selalu menjaga kebersihan," Abim menoel pipi Melati.


"Kalau yang ini sih, aku sudah mengenal luar dalam, empat tahun loh aku menjadi dosen nya" Rony menyahut.


"Apa maksudnya luar dalam?" Abim kembali mengacungkan tinju.


"Mana suamiku yang cool, kok jadi somplak ketularan Pak Rony." seloroh Melati.


"Kamu ini semakin lama, makin nglunjak sama dosen kamu, ya!" kali ini gantian Rony yang mengacukkan tinju, kearah Melati.


"Tolong Tan..." Melati berlari kearah Intan. Keduanya terkikik. Mereka kemudian ke musholla, sholat magrib berjamaah didekat butik.

__ADS_1


.


__ADS_2