
"Oeeek... oeeekkk..." baby menjerit- jerit menangis, kaget mendengar keributan.
"Cup... cup, sayaaang..." Intan menggendong baby mengayun-ayun dalam gendongan.
Darah keluar dari bibir Diah, ia lantas mengusap dengan punggung tangannya.
"Jahat loe, Intan!" ucap Diah kurang jelas sambil memegangi bibirnya yang pecah. "Loe akan gw laporin ke polisi karena melakukan penganiaan!" Diah mengancam.
"Lebih jahat mana! gw sama loe!" Intan mendorong dada Diah, dengan satu tangan, karena tangan satunya membopong baby.
"Silahkan lapor polisi, gw nggak takut. Gw juga akan lapor balik karena loe! sudah melakukan percobaan pembunuhan terhadap darah daging loe, sendiri!" sarkas Intan.
"Dasar loe manusia iblis! Diah!" Intan geram, ada seorang ibu yang ingin mencelakai anaknya sendiri apapun alasannya.
"Loe yang Iblis!" Diah berjalan cepat mendekati Intan ingin melakukan sesuatu.
"Ouw" Diah menghentikan langkahnya, ia lupa bahwa dia baru saja operasi. Darah keluar dari jahitan.
"Ada apa lagi ini?" tanya Abim yang baru dari mushola menatap Diah yang sedang meringis memegangi perutnya. Abim beralih menatap bibir Diah yang memar.
"Intan jahat, Mas! aku dipukuli, perutku ditendang" Diah membuka daster berkancing depan menunjukan jahitanya yang mengeluarkan darah.
Intan menatap Diah horor.
Abim tidak menyahut lantas memanggil dokter, dengan cara telepon. Biar bagaimana jika Diah kesakitan demi kemanusiaan pasti siapapun akan menolong.
Intan maju mendekati Diah. "Apa kamu bilang? aku menendangmu? biar tidak terlalu banyak kebohongan dari mulut kamu, sekarang gw akan menendangmu." Intan menakuti. mengangkat kaki lalu mengarahkan ke perut Diah, tentu tidak sungguh-sungguh.
"Oeeek... oeeekkk" baby kembali menangis. Menghentikan percekcokan mereka.
"Kak, kayaknya lapar dedek nya," Intan mendekati Abim yang diam di sofa selesai telepon dokter.
"Ya, aku buatkan susu dulu" Abim segera berdiri membuat susu.
Intan menyusulnya lalu mengamati cara Abim membuat susu. Membuat susu bayi tentu akan beda caranya.
"Kenapa tadi, ribut sama Diah?" tanya Abim sambil menuang air dari termos. Abim percaya dengan Intan, tetapi ia ingin tahu, mengapa bekas jahitan sampai mengeluarkan darah.
"Nanti aku cerita kak, sebaiknya bantu dia ketempat tidur, suruh tiduran istrimu... sampai kapan dia mau duduk terus" saran Intan, rupanya Intan kasihan juga melihat Diah kesakitan. Intan berbicara pelan, agar tidak didengar Diah. Ia melirik Diah sekilas, kasihan juga melihatnya meringis mencoba duduk dikursi roda.
Abim tidak menyahut, selesai membuat susu lantas memberikan kepada adiknya lalu mendekati Diah.
"Ayo, saya bantu ketempat tidur" tidak banyak bicara Abim mendorong kursi Diah ke tepi ranjang kemudian membantunya naik.
__ADS_1
"Aku mau melapor, Intan menganiaya aku," adu Diah mencari kesempatan. Setelah merebahkan diri di kasur.
"Jangan membuka borokmu untuk yang kedua kali, jika kamu masih ingin hidup lebih lama, atau kamu mau masuk penjara! nggak usah bikin masalah baru!' kata Abim entah apa maksudnya.
Diah tidak mampu lagi untuk menjawab.
Abim kemudian kemar mandi, melihat Intan yang sedang memberi susu anaknya.
Diah merengut kesal, ia berpikir keras, cepat atau lambat, hubungannya dengan Alfred pasti akan terbongkar.
Ia harus mencari cara, agar tidak diceraikan Abim, biar bagaimana misinya untuk menguasai harta Abim belum berhasil.
Jika waktu baby belum lahir, ia berharap anaknya akan menjadi senjata yang ampuh.
Tetapi senjatanya mengecewakan, itulah yang membuat Diah seperti orang kesetanan, setelah menghadapi kenyataan, bahwa anaknya bukan mirip dengannya justeru mirip selingkuhanya.
Andai saja Alfred sekaya Abim tentu Diah akan senang melahirkan anak dari pria yang dicintainya, sejak kuliah dulu.
"Selamat malam..." Dokter pria tampan masuk bersama suster.
"Selamat malam, Dok" Intan menghampiri.
Dokter menatap Intan yang sedang berjalan ke arahnya sambil menggendong baby, hingga beberapa menit, dokter terkesima.
"Tio" Abim mengejutkan dokter Tio.
"Oh istri loe, sudah melahirkan?" tanya dokter belum tahu, jika yang akan diperiksa adalah istri sahabatnya.
Mereka berbincang sebentar. Kesempatan itu digunakan Intan untuk menemui Diah.
"Jangan bicara macam-macam dengan dokter, jika loe melanggar, gw akan sebar vidio loe yang akan membunuh anak loe!" Intan berbicara setengah berbisik.
"Ingat! loe nggak mau kan? mati membusuk di penjara." ancam Intan. Ia yakin, jika tidak di gertak Diah pasti akan mengarang cerita kepada dokter dan masalahnya akan menjadi semakin rumit.
Diah tidak menyahut lalu membuang pandanganya dengan kasar.
"Ada keluhan apa, Mbak?" dokter berdiri disamping Intan yang masih menatap Diah.
"Jahitanya kebuka sedikit dok" Diah menyahut, sambil menahan nyeri dibibir, dan di perut.
"Kenapa bisa sampai beginini, Mbak? jangan banyak gerak dulu" kata dokter sambil memeriksa.
Dokter kemudian ambil peralatan yang sudah disiapkan suster lalu menutup luka bekas jahitan dengan lem perekat khusus untuk operasi setelah di obati.
__ADS_1
"Lalu kenapa bibir, Mbak?" tanya dokter kemudian memeriksa bibir Diah.
Diah ingin bicara, namun tangan intan yang sedang berdiri di belakang dokter mengepal.
"Kepentok kursi roda, Dok" Intan yang menyahut. Abim yang berdiri di depan Tio lalu menatap kearah Intan. Abim juga sebenarnya ingin tahu kenapa bibir Diah sampai memar.
"Sudah... pesan saya... sebaiknya Mbak, beristirahat total sampai 5 hari." titah dokter.
Dokter lantas pamit keluar. Ia melempar pandang kearah Intan tersenyum simpul. Intan hanya menganggukkan kepala.
Sementara Abim mengantar keluar. "Bim, yang menggendong baby itu adik loe ya?" Tio rupanya jatuh cinta pada pandangan pertama.
"Iya, kenapa?" Abim menangkap gurat bahagia di wajah sahabatnya.
"Gw kirimin nomor adik loe ya" ucapnya mereka sudah sampai diluar ruangan.
"Beres..." jawab Abim. Abim percaya Tio orang baik.
Malam semakin larut dalam ruangan akhirnya tenang. Diah sudah mendengkur, begitu juga dengan baby. Intan lantas keluar ruangan menemui kakaknya, yang sedang merenung sendirian
"Kak" Intan menepuk pundak Abim, lalu duduk di kursi panjang di sebelahnya.
"Apa? sebaiknya kamu tidur, dari tadi mengurus baby terus, kan" kata Abim memang benar adanya Intan sibuk mengurus bocah yang sudah di sia-siakan ibu kandungnya itu.
"Kakak harus hati-hati, Diah jangan sampai hanya berdua dengan baby" tutur Intan.
Abim menoleh cepat. "Kenapa?" tanya Abim menatap lekat adiknya.
"Diah tadi mau mencekik leher anaknya kak" adu Intan ngeri mengingat kejadian tadi.
"Yang benar kamu?" Abim terkejut lemudian memutar tubuhnya menghadap Intan sepenuhnya.
"Betul kak, untung aku segera datang, jika tidak hii..." Intan tidak melanjutkan ucapanya.
"Lihat, kalau kakak nggak percaya, aku sempat merekam kejadian tadi" Intan membuka handphone lalu menunjukkan vidio tersebut.
"Maaf ya kak, aku tadi kalap sampai menampar dan meonjok bibir Diah sampai pecah. Intan menyesal karena sudah brutal.
Intan selama ini tidak tahu, jika rumah tangga kakaknya tidak harmonis. Tetapi setelah melihat bayi itu Intan bisa menyimpulkan sendiri, ternyata kakak iparnya tidak lebih dari perempuan nakal.
Keduanya Diam larut dalam pikiran masing-masing.
Abim mengepalkan tangan, marahnya sudah sampai puncak.
__ADS_1
.