PERNIKAHAN BERUJUNG LUKA.

PERNIKAHAN BERUJUNG LUKA.
Tidak Mau Menyusui.


__ADS_3

Di dalam ruangan baby, Mawar menimang keponakannya, duduk disofa bersama bu Riska dan pak Sutisnya.


"Maw, yang laki-laki pada kemana? kok Bapak, ditinggal sendirian?" pak Sutisna heran, para lelaki tidak nampak sama sekali, jika pergi kenapa tidak mengajaknya serta. Pikirnya.


"Nggak bilang sih Pak, nggak tahu mau kemana," jawab Mawar singkat.


"Paling pada ngopi diluar, biar sajalah" jawab bu Riska. Bu Riska pikir, tidak mungkin mengajak suaminya sebab pak Sutisna tidak minum kopi.


Beliau tidak tahu, bahwa diluar sana tiga pria sedang memutuskan sesuatu hal yang berat dalam perjalanan rumah tangga Abim.


"Kak, Mawar..." panggil Diah, dari ranjang.


"Ya, tunggu Diah" Mawar menyerahkan baby kepada bu Riska, lalu menemui Diah.


"Kenapa, dek?" tanya Mawar menyingkap selimut Diah.


"Payudara aku sakit kak" Diah menunjukkan dadanya yang mulai membengkak.


"Oh biasa... setiap wanita yang habis melahirkan, dua sampai tiga hari kemudian, akan mengalami seperti itu, tetapi ada juga yang sampai seminggu," tutur Mawar.


"Terus... di apahin... biar nggak sakit?" tanya Diah.


"Sebentar," Mawar kembali ke sofa lalu mengangkat baby membawanya ke ranjang Diah.


"Kak Mawar! kenapa anak itu dibawa kesini?!" Diah yang awalnya bisa sedikit bicara lembut dengan kakak iparnya kini berubah garang.


"Apa maksudmu Diah?!" Mawar wanita lemah lembut itupun membentak Diah.


"Jauhkan anak itu, aku bilang!" sarkas Diah.


"Diah?!" Mawar tidak tahu apa yang ada dalam pikiran adik iparnya.


"Oeeekk... oeeek..." baby menangis lagi.


Mawar menatap baby merasa sedih sekali, anak sekecil ini sudah mendengar bentakan maupun cacian.


"Diah... dengarkan aku, susui anakmu ini, nanti setelah anakmu menyusu, payudara mu tidak akan sakit lagi," Mawar menyerahkan baby yang masih menjerit-jerit.


Seolah baby tahu bahwa dia tidak diinginkan oleh ibu kandungnya.


"Tidak... aku tidak mau!" Diah mendorong tangan Mawar.


"Oh! tenyata begini kelakuan kamu Diah!" bentak mama Ina yang ternyata sudah datang sejak tadi. Namun berbincang-bincang dulu dengan Riska sahabatnya. Ketika mendengar ribut-ribut kemudian menghampiri.


Diah terperangah, menatap kehadiran mertuanya.


"Bawa minggir anak ini Mawar, Mama yang akan memberi pelajaran sama wanita yang baru menjadi ibu ini!" Mama kemudian mendekati Diah.


"Tetapi... ternyata, dia tidak pantas disebut seorang Ibu!" mama kali ini mengeluarkan sumpah serapah.

__ADS_1


"Baik, Tante" Mawar membawa pergi baby menemui bu Riska.


Sementara mama Ina, meceramahi menantunya. "Mama kecewa! sama kamu Diah, selama ini Mama membela kamu mati-mati-an, ternyata Mama salah" tutur mama. Beliau berdiri disamping ranjang.


Selama ini mama yang salalu membela menantunya ini jika suaminya, Abim, maupun Intan marah kepadanya. Tetapi saat ini mama menyesal, ternyata yang di bela kelakuanya buruk.


Diah diam, tidak berkutik. Selama ini hanya mertuanya ini yang bersikap baik kepada nya tetapi saat ini pun marah.


"Dengar kamu Diah! karena kamu sudah bersikap buruk terhadap anak kandungnmu. Mulai saat ini dan seterusnya. Mama akan membalas sakit hati anakmu, Mama tidak akan mengakui kamu sebagai menantu!" kata mama panjang lebar, lalu meninggalkan Diah.


Mama lantas menjatuhkan bokongnya di kursi sofa di sebelah sahabatnya.


"Sabar Na" bu Riska mengusap punggung tangan sahabatnya.


"Aku benar-benar marah Ris, mana ada seorang ibu tidak mengakui anaknya," mama memijit pelipisnya.


Bu Riska menarik napas panjang. Ini belum seberapa In, andai saja kamu tahu, bagaimana keluargaku menghadapi sikap Diah dan ibunya hingga bertahun-tahun lamanya, kamu pasti tidak akan kuat. Batinya.


"Abim memang kemana?" tanya mama kepada Mawar.


"Sedang ngopi berama, Bu" pak Sutisna yang menjawab.


Mama hanya mengangguk.


"Kami sudah sampai," Abim masuk bersama pak Renggono juga Adit. Setelah mengeluarkan uneg-uneg nya Abim sudah tampak lebih baik.


Mereka bertiga turut bergabung duduk di sofa. Di rumah sakit, tetapi seraya dirumah.


"Ngopi?" jawabnya serentak.


"Kami sedang mencari angin di taman Pak" Abim yang menjawab. Mereka ngobrol dengan hangat.


"Papa nggak ikut Ma?" tanya Abim tidak melihat papa di sini.


"Kaya nggak tahu Papa kamu saja, kalau sudah di depan komputer suka lupa," jawab mama geleng-geleng.


"Nanti menyusul sama Intan kok," mama kemudian menatap seksama mata Abim yang terlihat cekung dadanya terasa sesak.


"Sebaiknya kamu pulang dulu Bim, kamu istirahat gih? biar mama yang menemani Diah," mama kasihan mengusap kepala Abim sayang, dan menatap wajah Abim yang tampak lelah.


"Na, aku juga mau pulang dulu, ya" bu Riska pamit pulang.


"Ya sudah sebenarnya aku masih ingin ngobrol sama kamu Ris," mama kecewa.


"Kapan-kapan...aku sempetin main kerumah kamu," ibu Riska menatap mama Ina sepertinya kecewa.


"Kasihan Melati dirumah, Na, sedang beres-beres... katanya mau membuka usaha" tutur bu Riska.


"Melati mau membuka usaha? anak-anakmu itu memang luar biasa ya Ris" puji mama.

__ADS_1


"Tante bisa saja," Mawar menjawab.


"Mela mau membuka usaha apa Bu?" mendengar kata Melati Abim berbinar.


"Katanya sih... mau produksi ice cream... sibuk dia Bim, sudah seharian tadi mencari freezer bersama teman-temanya, belum lagi bahan-bahan yang lain. Besok juga mau menambah daya listrik di rumah" tutur bu Riska panjang.


"Semoga Amel sukses Bu" Abim tersenyum senang.


"Aamiin..." semua mengaminkan.


"Aku pulang dulu, Na" ibu berdiri mengajak pak Sutisna yang sedang berbincang dengan, pak Renggono.


"Saya juga pamit San" pak Renggono pun ikut pulang.


"Baik Pak, salam buat jeung Reny," kata mama, lalu di iyakan oleh pak Renggono.


"Saya pulangnya nanti sore ya, Bu" kata Mawar.


"Nggak apa-apa... bapak naik taksi saja" jawab pak Sutisna.


"Bim, sebaiknya kamu pulang Nak, membawa mobil mama, sekalian mengantar Riska." saran mama.


"Baik Ma" Abim pun akhirnya terpaksa pulang. Ia ambil kunci mobil yang diberikan mama, melangkah keluar setelah mencium baby, tanpa pamit Diah.


"Terimakasih ya Ris, kami sudah merepotkan." kata mama beliau mengantar keluar.


*******


Waktu berganti sore, tampak bu Reny datang. Wanita angkuh itu akhirnya menunjukkan batang hidungnya.


"Sekarang kita sudah punya cucu, jeung," kata mama ketika bu Reny mendekati box melihat cucunya.


"Enak saja, ini bukan cucu saya, saya malu mempunyai cucu seperti dia!" bu Reny tampak emosi Mawar yang baru selesai membantu Diah kekamar mandi geleng-geleng kepala.


"Tidak boleh bicara begitu jeung, seperti apa anak Diah, itu adalah cucu kita, yang dititipkan Allah, jadi... kita harus menyayangi." mama berbicara lembut.


"Tidak! ini bukan cucuku! ini cucumu! karena kamu kena kutukan! makanya anak Diah menjadi seperti ini!" bu Reny semakin emosi.


Mama terkejut, bukan karena, bu Reny tidak mau mengakui cucunya. Tetapi kata kutukan yang membuat hati mama sakit.


"Bu! Astagfirlullah... ibu jangan bicara begitu!" Adit yang awalnya duduk di sofa berdiri menghampiri ibu tirinya.


"Sampai kapanpun ibu tidak akan mengakui anak Diah!" ucapnya angkuh.


"Istighfar bu. Ibu tidak boleh bicara begitu," Mawar menenangkan.


"Kenapa nggak boleh? apa ibu salah, mana mungkin, Diah bisa mempunyai anak seperti ini, jika tidak dikutuk!" bu Reny ternyata tidak cepat datang karena sudah mendengar dari Mawar, bahwa anak Diah seperti ini.


"Oeeek... oeeekk..." baby yang awalnya tidur, menangis kencang terkejut dengan bentakan neneknya.

__ADS_1


"Cup... cup sayang..." Mawar menggendong baby mengajaknya menyingkir.


.


__ADS_2