PERNIKAHAN BERUJUNG LUKA.

PERNIKAHAN BERUJUNG LUKA.
Sedih & Kecewa.


__ADS_3

Tidak hanya Rindy dan Marselo yang kebingungan mencari Diah. Terlebih tuan Efendi pun, dibuat syok dengan kepergian anaknya yang sudah dua hari menghilang.


Beliau tampak mondar mandir di ruang keluarga.


Tulilung... tulilung...


Terdengar panggilan masuk dari handphone yang tergeletak di atas meja. Tuan Efendi secepat kilat menyambar benda tersebut, lalu menggeser tombol hijau.


"Hallo Tuan"


"Hallo! bagaimana? kamu sudah bisa menemukan putriku?" suara tuan Efendi kencang.


"Maaf Tuan, saya belum bisa menemukan," suara orang yang menyelidiki Diah, nan jauh disana.


"Kalau begitu kenapa kamu menghubungi saya?! cepat cari, sampai ketemu!" perintah tuan Efendi beliau kesal.


Tut.


Tuan Efendi mematikan sambungan telepon. Beliau benar-benar panik bagaimana tidak? Diah pergi dalam keadaan masih sakit. Lelah mondar-mondar beliau duduk di sofa memijit pelipisnya yang sejak kemarin terasa sakit. Namun tidak beliau rasakan.


"Belum ada kabar Pi?" Mami menghampiri suaminya kemudian meletakkan secangkir kopi di atas meja.


"Belum, kira-kira kemana perginya anak itu, dia masih dalam keadaan lemah Mi," papi menyugar rambutnya yang sudah tumbuh beberapa helai uban.


"Sabar, Pi... kalau Papi pernah tahu siapa keluarga putrimu yang tinggal disini, mungkin saja putrimu ke sana," usul mami.


"Oh iya, kenapa Papi tidak berpikir sampai kesitu Mi, sekarang juga kita cari dimana Wahyu Aditya tinggal," tuan Efendi sedikit lega.


Tuan Efendi segera check profile Wahyu Aditya dan Mawar Merah, di WAG ( GPP). Group Persatuan Pengusaha. Beliau lantas menyimpan nomor tersebut kemudian menghubungi.


"Bisa Mi, aku berangkat ya" papi bersemangat, setelah telepon Adit.


"Baiklah... Mami temani" Mami segera ke kamar hendak salin baju.


Tuan Efendi menyeruput kopi sedikit walaupun tidak selera, namun menghargai istrinya yang sudah membuatkan untuknya. Beliau kemudian mengikuti istrinya bersiap-siap.


******


Di tempat yang berbeda, Diah turun dari mobil travel yang ia tumpangi. Dengan tertatih-tatih ia melangkah. Dari jalan raya menuju kediamannya masih kira-kira 1km. Perut yang teramat sangat sakit tidak ia rasakan.


Ia tidak membawa apapun selain tas slempang yang hanya muat dompet dan handphone.


Sampailah ia di rumah yang paling besar diantara rumah-rumah yang lain. Yaitu rumah pak Renggono, ternyata Diah pulang kampung.


Tok tok tok.

__ADS_1


Ceklak.


Wanita berusia 50 tahun membuka pintu. "Diah..." bu Reny membelalakkan mata, memandang putrinya dari atas sampai bawah. Penampilan yang sangat berubah, berbeda ketika bertemu terakhir kali.


Badan kurus, mata cekung,


dan yang membuat bu Reny semakin terkejut, saat ini Diah berkerudung. Baju rumah sakit biru laut masih melekat di tubuhnya, wajah pucat, menatap bu Reny dengan tatapan kosong.


"Bruk" Diah jatuh terkulai lemas membentur pintu.


"Diah... bangun..." bu Reny menggoyang-goyang tubuh anaknya bukan cepat mengangkatnya justeru berlari keluar.


"Giniiii..." pekik bu Reny mendatangi rumah Gini yang bersebelahan dengan rumah pak Renggono.


"Ada apa Mbak?" Gini yang sedang memasak segera mematikan kompor lalu berlari keluar.


"Diah... Diah, Gin" jawabnya.


"Diah... mana, Diah?" tante balik bertanya.


"Diah baru pulang tapi pingsan Gin"


Tidak pikir-pikir lagi Wagini berlari menuju rumah Mas Renggono. "Astagfirlullah... Diaaaah..." Wagini mengangkat tubuh ringkih Diah, yang tergeletak di depan pintu, kemudian membopongnya ke kamar.


"Tolong buka pintunya Mbak" Gini menidurkan Diah di ranjang setelah di bukakan pintu. Kamar milik keponakanya itu, walaupun sudah lama tidak Diah tiduri, tetapi terlihat bersih dan terawat. Karena Adit yang minta tolong tante Gini agar merawatnya.


"Ada" bu Reny ambil minyak angin di kamarnya. Tidak lama kembali lalu menempelkan minyak di hidung Diah agar sadar. Sementara Wagini dengan telaten membaluri tubuh keponakannya yang terasa dingin.


"Ibu... Tante..." lirih Diah setelah sadar, berusaha bangun.


"Kamu kenapa Diah?" tanya bu Reny to the point.


"Jangan di tanya dulu Mbak, biar Diah istirahat" tante rupanya lebih mengerti keponakanya daripada bu Reny.


"Nggak usah bangun Diah... aku buatkan minum" tante segera ke dapur membuatkan teh hangat.Tak lama kemudian, tante kembali, mendapati bu Reny mengajak Diah ngobrol. Tetapi entah apa yang kakak iparnya itu bicarakan, tante tidak tahu.


"Ini minum dulu" tante Gini membantu Diah duduk.


"Terimakasih Tan" ucapnya nyaris tak terdengar.


"Sama-sama" jawab tante lalu menoleh bu Reny tampak bengong entah apa yang ia pikirkan. "Mbak Reny, masak apa, biar Diah makan?" tanya tante.


"Belum masak" jawab bu Reny singkat.


"Tunggu sebentar ya, aku ambilkan makan" tante bergegas pulang ke rumah ambil nasi dalam piring. Di tambahkan sayur lodeh yang baru matang, diletakkan ikan bandeng presto, dan tempe bacem yang sudah di goreng.

__ADS_1


"Sekarang makan ya, tante suapi" tante Gini sungguh sangat perhatian dibandingkan bu Reny.


"Diah makan sendiri saja, tante" Diah ambil piring dari tangan tante. Ia makan dengan lahap disamping lapar masakan tante Gini, sungguh memanjakan lidahnya.


Selesai makan tante membantu Diah mandi, dan salin baju. "Sekarang kamu istirahat" tante menyelimutinya.


"Mbak, biar Diah istirahat dulu, sebaiknya kita keluar" titah tante mengajak bu Reny keluar. Wagini tahu watak kakak iparnya, yang dikhawatirkan cepat menginterogasi Diah. Tante kemudian menutup pintu.


"Kenapa lagi, itu Anak!" ketus bu Reny. Tante lalu menghentikan langkahnya.


"Sepertinya Diah sedang ada masalah Mbak, biarkan istirahat dulu, jangan ditanya ini itu, biar Diah cerita sendiri." tegas tante.


Waktu berganti sore, Diah bangun dari tidurnya, badanya sedikit enteng kemudian shalat ashar. Ia keluar dari kamar mencari keberadaan ibunya ternyata sedang menonton televisi. Diah pun menghampiri.


"Ibu sehat?" tanya Diah mengejutkan bu Reny.


"Kamu sudah bangun" bu Reny balik bertanya.


"Sudah" sahut Diah, lalu duduk disamping ibunya.


"Ibu apa kabar?" Diah memegangi pundak bu Reny.


"Baik, tapi ibu sama sekali nggak punya pegangan uang, mau masak nggak ada yang dimasak." jawabnya tidak nyambung.


Diah diam, ia baru sadar ternyata begini sifat ibu kandungnya. Jangankan tanya keadaanya, justeru yang dipikirkan hanya uang-uang dan uang. Diah menjadi ingat Syifa anaknya, yang ia sia-siakan lalu air mata nya terjun bebas.


"Kenapa kamu menangis?" tanya bu Reny kemudian.


"Bu, Diah mau tanya, tolong jawab dengan jujur. Sebenarnya Bapak kandung aku masih hidup atau benar-benar sudah meninggal, seperti yang ibu katakan ketika aku ingin menikah dengan Kak Abim?" tanya Diah panjang lebar sambil menyusut air matanya.


"Kenapa kamu tanyakan itu lagi, ibu kan sudah katakan! Bapak kandungmu sudah mati!" wajah bu Reny berubah merah.


"Ibu bohong! sama Diah, Bapak kandung Diah sebenarnya masih hidup kan?! tolong bu, katakan yang sejujurnya"


"Tolong jawab Bu, siapa Efendi?" hiks hiks.


Deg. Bu Reny menatap putrinya lalu memalingkan muka.


"Untuk apa kamu tanyakan pria kere itu!" Bu Reny lantas berdiri. "Jika kamu dulu tinggal bersamanya, kamu akan mati kelaparan!" bu Reny menunjuk wajah Diah dengan jari, ia berdiri di depannya.


"Jadi benarkan? kalau Bapak Diah masih hidup, dan namanya Efendi?!" Diah menunduk sesegukan.


Bu Reny diam.


"Jadi ini, alasan Ibu, meninggalkan Bapak kandung Diah? karena beliau miskin kan?!" Diah sudah bisa menebak apa yang terjadi di masa lalu.

__ADS_1


"Ibu jahaaattt... huuuu... Diah nggak nyangka, Ibu kejaaamm... huuuu" Diah merosot ke lantai lalu menggerak-gerakkan kakinya. Diah merasa sedih, dan kecewa, seketika ingat pak Renggono. Disia-siakan ibunya ketika bapak tirinya sudah tidak bisa memberikan uang. Terlebih, dengan seenaknya ibunya meninggalkan pak Renggono dalam keadaan sakit.


.


__ADS_2