
"Kamu saya antar" Marsel beranjak dari duduknya, kemudian mengangkat Lita yang sedang tidur pulas.
"Tidak usah, Tuan" tolak Diah tidak ingin menjadi perhatian orang-orang, di luar sana, pasti orang akan beranggapan bahwa ia adalah seorang Pelakor, sudah sekali saja ia menyandang nama itu.
"Jangan menolak! ini sebagai ucapan terimakasih, karena kamu sudah memberi cerita yang bagus, untuk puteri saya" tanpa sadar Marsel memuji cerita Diah, padahal tadi jelas-jelas mengkritiknya habis-habisan.
"Tapi Tuan" Diah mematung di tempat, rupanya bos nya menyukai ceritanya. Ah... andai saja yang diceritain adalah Syifa anaknya. Setiap ingat anaknya Diah selalu sedih.
"Ayo" Marsel menghentikan langkahnya ketika Diah tak kunjung mengikutinya.
"Baik Tuan" Diah menylempang tas, kemudian mengikuti Marsel. Di luar ruangan, melihat Marsel keluar bersama Diah, hati Siska terbakar api cemburu. Selama tiga tahun ini, ia berharap bisa mendapatkan hati Marsel, ternyata sia-sia, justeru Marsel mendekati pegawai rendahan seperti Diah.
"Non Lita, bobo Tuan" kata mamang supir nya, sembari membuka pintu.
"Iya Mang" suhut Marsel lalu masuk ke dalam mobil. "Ayo naik" titahnya ketika Diah hanya mematung di depan pintu.
"Baik Tuan" Diah pun masuk ke dalam mobil. Mereka duduk di jok tengah, Marsel menidurkan Lita di pangkuanya.
"Dimana alamat kamu?" tanya Marsel setelah mobil berjalan.
"Di jalan xxx Tuan" tutur Diah, keduanya lantas saling Diam. Diah bersandar di jok memejamkan mata. Tidak Diah sadari Marsel memandang nya. Semua itu tidak lepas dari perhatian Mamang yang melihat dari kaca spion.
Tidak terasa mobil sudah sampai di jalan yang Diah tunjukan. " Diah... Diah..." Marsel membangunkan Diah. Rupanya Diah tidur juga.
"Eh, saya Tuan, maaf... saya ketiduran" ucap Diah sambil mengerjapkan matanya, ia malu jangan-jangan tidurnya mangap, apa lagi sampai ngiler.
"Sudah sampai jalan yang kamu tunjukan, rumah kamu yang mana?" Marsel menatap keluar mobil.
Diah menoleh ke pinggir jalan. "Kedepan sedikit Tuan, ada gang, saya turun di pinggir jalan raya saja" ucap Diah.
"Mang, saya turun di depan ya" kata Diah kepada supir.
"Baik Mbak" supir pun berhenti. "Belok kiri saja Mang, antarkan sampai rumah," titah Marsel. Diah ingin menolak tetapi mamang sudah belok kiri menuju gang, kira-kira dua ratus meter sampai tujuan.
"Sudah sampai Mang" ucap Diah. "Terimakasih Tuan, sudah mengantarkan saya sampai kontrakan,"
"Kamu kontrak rumah?" selidik Marsel.
"Betul, Tuan, kontrkan tiga petak itu saya yang paling pingir" kata Diah seraya menginjakan kaki ke konblok.
"Terimakasih, Tuan..." ucapnya, mengagguk sebelum menutup pintu, dan hanya diiyakan oleh mamang. Diah menatap mobil bos nya yang sedang putar balik arah, hingga tidak terlihat.
Diah berjalan ke rumah sambil berpikir, apa yang ia lalui hari ini, suatu pelajaran berharga.Yakni disuruh cerita yang selama ini belum pernah ia lakoni.
__ADS_1
Yang kedua, ia masuk ke ruangan, orang nomor satu dimana ia bekerja, dan yang ke tiga, ia diantar pulang olehnya.
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam"
Sampai di teras kontrakan, Diah dikejutkan lagi dengan ucapan salam oleh seseorang wanita yang lebih muda dari ibunya, sedang duduk di pagar teras kontrakan.
"Diah... kamu baru pulang kerja, Nak?" tanya wanita itu lembut, lalu beranjak dari duduknya menghampiri Diah yang masih bengong. Wanita itu yang datang bersama tuan Efendi, ketika di rumah sakit.
"Iy, iya..." jawab Diah gagap lalu bersalaman.
"Nyonya sendirian?" tanya Diah mengedarkan pandangan mencari sosok papi nya. Namun tidak ada, ada rasa kecewa di hatinya.
"Saya sama supir Nak, Dia menunggu di mobil" terang mami Desty.
"Oh" ucap Diah lalu membuka kunci pintu. "Masuk Nyonga" ucapanya.
"Kamu tinggal sendiri di sini Nak?" mami masuk ke dalam kemudian menelisik seluruh isi kontrakan.
"Iya Nyonya, silahkan duduk" Diah menggelar tikar. Lalu ke dapur membuat teh hangat untuk tamunya.
"Diminum Nyonya" Diah meletakan minum di depan mami Desty dan juga untuk dirinya.
"Maaf Nyonya, ada keperluan apa, Nyonya datang ke sini?" Diah mengejutkan lamunan Desty.
"Begini Nak, kedatangan saya kemari mewakili Papi kamu. Papi kamu tidak bersalah, dan sudah menceritakan tentang masalalunya kepada Mami lima tahun yang lalu ketika ingin menikahi saya." tutur mami Desty.
"Kenapa tidak beliau sendiri yang datang ke sini, Nyonya?" Diah sejujurnya ingin memeluk ayah kandunnya, tetapi mengapa ayahnya justeru pengecut tidak ingin berusaha membujuknya.
Ketika menjemputnya ke kampung pun, bukan beliau sendiri justeru menyuruh orang, dan sekarang pun istrinya yang di suruh maju.
"Sebenarnya... Papi kamu ingin sekali datang kemari, Nak. Tetapi penolakkan kamu saat itu membuat nya takut berhadapan dengan kamu"
Diah diam sambil memutar-mutar nampan di tikar.
"Papi kamu diam, bukan berarti tidak memperhatkan kamu, setiap hari sebelum berangkat kerja, beliau mengikuti kamu dari jauh, memastikan jika kamu baik-baik saja,"
"Contohnya seperti tadi pagi ketika kamu naik ojek hendak berangkat bekerja, beliau juga mengikuti kamu memastikan, bahwa kamu selamat sampai tujuan," tutur mami Desty panjang lebar.
Diah mengangkat kepala menatap mami. Memang tidak ada kebohongan di matanya.
"Mami mohon Nak, temui beliu." lirih mami.
__ADS_1
"Baik Nyonya" Diah mengalah.
"Sekarang... kamu bersiap-siap ya Nak" titah mami ingin mengajaknya serta sekarang.
Diah hanya mengangguk, lalu mandi shalat ashar. Mengganti bajunya yang layak pakai, kemudian kembali ke depan tampak mami Desty sedang menyeruput teh.
"Sudah Nak? kita langsung berangkat ya"
"Habiskan dulu teh nya, Nyonya" Diah juga menghabiskan teh nya sebelum meletakan gelas kosong ke dapur.
"Jangan panggil saya Nyonya Nak, panggil saja Mami" titah mami setelah Diah mengunci pintu, hendak berangkat.
"Baik, Mi"
Mobil menuju kediaman tuan Efendi, Diah sudah tidak kaku lagi berbicara dengan ibu tirinya. Ternyata beliau orang baik, sepanjang jalan mereka ngobrol.
Tidak terasa, mobil sampai di rumah mewah. Namun, Diah tampak biasa saja. Diah yang sekarang, bukan Diah yang dulu, yang silau akan harta.
Ceklak.
"Papi... Mami membawa siapa ini," mami tersenyum sambil memegang pundak Diah memberi kejutan tuan Efendi yang sedang duduk membelakanginya.
"Diah... kamu datang Nak?" tuan Efendi balik badan tahu siapa yang datang lalu berdiri berhadapan dengan putrinya.
Mami segera menjauh memberi ruang untuk bapak dan anak itu.
"Diah..." papi terpaku ingin sekali memeluk putrinya tetapi takut tidak terbalas, tenggorokanya tercekat, entah kata apa yang akan diucapkan.
Sementara Diah, menatap lekat wajah bapak kandunnya yang selama ini ia rindukan.
Bapak dan anak itupun saling pandang hingga beberapa menit. Darah keduanya mengalir seolah terhubung, dan bermuara di hati keduanya.
"Papiiiii..." kata itu bak air sungai yang mengairi sawah, setelah sekian lama mengering, sawah itu menanti curah hujan.
"Diah... maafkan Papi Nak" keduanya pun berpelukan, menangis mengharu biru.
Diah melepas pelukan. "Diah yang seharusnya minta maaf Pi, aku sudah menjadi anak durhaka." Diah menangis sesegukan.
"Sudah ya Nak, kita perbaiki semuanya," pungkas papi.
Mami yang bersembunyi dibalik lemari pajangan, hanya turut menangis.
.
__ADS_1