PERNIKAHAN BERUJUNG LUKA.

PERNIKAHAN BERUJUNG LUKA.
Lamaran.


__ADS_3

"Kalian di sini lama kan Nak?" tanya bu Riska saat ini Melati dan Abim berada di kios bakso.


"Liburnya dua bulan Bu, tapi teserah Bang Abim, mau berapa lama di sini, aku ngikut saja," Melati menoleh Abim yang sedang mengunyah.


"Rencana, masuk kuliah kurang seminggu kami berangkat Bu," Abim menyahut.


"Syukurlah... berarti kalian disini satu bulan lebih" bu Riska senang masih bisa kangen-kangenan lebih lama dengan putri keduanya.


"Abang... makan kok belepotan sih..." Melati menarik tisue spontan mengusap ujung bibir suaminya, dan tidak lepas dari perhatian bu Riska.


Bu Riska tersenyum bahagia, kini anaknya telah berbahagia dengan pria yang dulu selalu membuatnya menangis. Dan Abim telah membuktikan, bisa mengobati luka hati anak perempuannya.


"Ibu, kok senyum-senyum?" Melati memergoki bu Riska.


"Nggak apa-apa, makan nya dihabiskan ya, Ibu tinggal dulu" titah bu Riska sambil berlalu, meracik bakso karena pembeli berdatangan.


"Kamu mau kopi Bim? Bapak buatkan ya..." suara pak Sutisna dari meja, tempat membuat kopi untuk pelanggan.


"Jangan Pak" Abim cepat menghampiri mertuanya. "Biar saya buat sendiri saja" Abim lalu membuat kopi sendiri setelah sampai di belakang.


"Oh gitu, ya sudah" pak Sutisna lalu kembali meracik kopi untuk pelanggan.


Sementara Melati masih menghabiskan bakso nya.


"Melati... kamu kemana saja?" tanya seorang pria tampan, pelanggan bakso pak Sutisna.


"Eh... kak Roy, saya kuliah lagi Kak" sahut Melati.


Pria yang bernama Roy itu duduk di sebelah Melati. Melati bergeser menjauh. Roy memang tergila-gila kepada Melati sebelum Melati menikah. Namun, Melati tidak pernah menanggapi.


Roy tidak tahu bahwa Abim menatap tajam pria itu dari belakang.


"Mel, kata-kataku waktu itu serius loh, aku ingin menikah dengan kamu," dengan percaya diri Roy mengulangi ucapan nya dulu.


"Yaang... kamu kan nggak suka kopi, tapi aku buatkan ice teh" Abim duduk di tengah-tengah sambil meletakan nampan.


"Terimakasih Bang, kak Roy, kenalkan, ini suami saya" kata Melati.


Klontang" Roy menjatuhkan sendok.


Suami?


********


Diah Susanti PoV


Saat ini, aku sedang di mall, ingin membeli kado untuk ulang tahun anak kandungku Syifa. Aku senang, karena anakku sudah tidak takut lagi aku dekati, walaupun dia belum tahu jika aku adalah ibunya.

__ADS_1


Tapi... ya sudahlah... aku juga tidak ingin mengganggu kebahagian kak Mawar, yang sudah merawat, dan menyayanginya sejak masih merah.


"Kamu mau beli kado apa?" tanya Marsel, karena aku di antar olehnya. Aku tidak lagi bekerja di pabrik, melainkan menjadi pengasuh Lita.


Ah Lita, anak itu tidak ingin menjauh dariku walaupun sejengkal. Hingga akhirnya aku tinggal di rumah Marsel, tidak lagi kontrak rumah.


"Boneka ini, kayaknya lucu Tuan" aku memilih boneka.


"Bagus" ucapnya singkat.


"Sekarang temani aku ke Toko mas ya" Marsel mengajak aku memilih cincin.


"Menurutmu, yang bagus mana?" tanya Marsel kemudian, setelah melihat cincin di etalase.


"Sebaiknya... Tuan bertanya kepada orang yang akan Tuan belikan cicin" jawabku sambil menelisik cincin berlian termahal.


"Sekarang jawab saja! menurut kamu mana yang kamu suka, berarti dia suka" jawabnya setengah memerintah.


"Kalau menurut saya yang ini Tuan" aku tunjuk cincin yang unik. Lalu Marsel minta kepada penjaga toko agar mengeluarkan cincin tersebut.


"Tolong coba" ia meletakan benda kerlap kerlip itu, di atas meja etalase. Tanpa banyak bicara aku ambil cincin tersebut lalu mencobanya ternyata pas di jari manisku.


"Nah, kan cocok, berarti aku akan memberikan cincin ini untuk kamu" ucapnya.


Deg.


Ingat cincin aku menjadi ingat, sudah dua kali memakai cincin kawin, dan sudah dua kali pula aku lepaskan.


"Sekarang, kita cari makan dulu yuk" ia meraih tanganku mengajaknya ke Restoran mall, tanpa menunggu jawaban aku.


"Aku serius Diah... aku ingin melamarmu" ucapnya mengejutkan aku. Selama empat bulan aku tinggal di rumah Marsel, tidak pernah mengucapkan apapun, memang aku sering memergokinya dia suka mencuri pandang.


Baru 6 bulan aku berpisah dengan Alfred kini datang pria lain yang sudah melamarku.


"Diah... sekarang ini... aku bukan anak remaja lagi. Aku tidak ingin basa basi. Aku mencintaimu, dan aku ingin kamu menjadi istriku, anak aku sudah suka kepadamu, begitu juga dengan Mom. Aku ingin kamu menjadi ibu dari anak-anakku"


Marsel pria yang sudah mapan itu melamarku, dan menyelipkan cincin di jemariku.


Aku menarik tanganku cepat.


"Kenapa Diah..." ia menatapku tampak kecewa.


"Tuan, sebelum menikahi saya, sebaikanya Tuan pikirkan dulu matang-matang, saya sudah gagal dua kali dalam pernikahan yang terdahulu" kataku jujur.


"Diah, jika kamu mempunyai masalalu yang rumit, akupun sama, kita lupakan masala lalu, kita buka lembaran yang baru" tuturnya meyakinkan aku.


"Tapi..."

__ADS_1


"Seeettt... tidak usah pakai tapi-tapian, minggu depan kita menikah" ucapnya. Lalu ia meraih tanganku melanjutkan memasangkan cincin yang tadi sempat tertunda.


"Minggu depan Tuan? apa tidak terburu-buru?" tanyaku terkejut. Betapa tidak? maksudku, aku ingin ceritakan dengan detail siapa aku dulu, tetapi ia menolak.


"Sekarang aku ingin berkunjung ke rumah keluargamu, ingin minta restu kepadanya" ia lantas berdiri menarikku.


"Tapi, kita ini seperti bumi dan langit Tuan, Tuan konglomerat, sedangkan saya orang melarat" ucapku. Aku tidak menceritakan orang tua asli yaitu papi Efendy. Tetapi... yang aku kenalkan kepadanya beberapa bulan yang lalu, bapak tiriku.


Marsel justeru terkekeh, pria tampan itu membuat jantungku berdegup lebih cepat.


"Ayo naik" ucapnya lalu aku naik mobil tanpa membantah.


"Tuan... saya akan ceritakan masa lalu saya sebelum Tuan menyesal nantinya" kataku ketika mamang sudah menjalankan mobilnya.


"Cukup Diah... sudah berapa kali aku katakan, lupakan masalalu" pungkasnya. Aku tidak lagi bicara kami saling diam hingga sampai di kediaman bapak tiriku.


"Assalamualaikum..."


Aku masuk ke rumah di ikuti Marsel setelah bapak tiriku yang baik hati itu menjawab salam ku.


"Tuan Marsel, silahkan duduk" titah bapak.


"Pak Renggono... jangan panggil saya Tuan, panggil saja Marsel" mereka lantas ngobrol. Lalu aku kedapur menghampri ibu yang sedang memasak.


"Kamu pulang Diah, membawa apa itu?" bukan menanyakan kabarku, Ibu justeru melihat apa yang aku bawa.


"Buah Bu, tadi dibelikan Tuan Marsel," jawabku sambil mencuci buah lalu aku susun dalam piring.


"Marsel?" Ibu lalu mematikan kompor, berniat ke depan menemuinya.


"Tunggu Bu" aku menahan lengannya.


"Kenapa Diah! Ibu mau menemui Marsel" ucapnya.


"Ibu jangan ikut bicara apapun, Marsel ingin melamar aku, jika ibu berkata macam-macam, Ibu mau? dia menggagalkan rencana dia menikahi aku," ancamku.


Namun ibu hanya mlengos kesal, lantas menemui Marsel. Aku menarik napas panjang lalu membuat minuman.


Author PoV.


Marsel mengutarakan niatnya kepada pak Renggono, ingin menyunting Diah putrinya.


"Baiklah... jika Nak Marsel serius... saya percaya kan anak saya kepadamu," tutur pak Renggono.


"Tapi... saya nggak mau... kalau anak saya hanya menikah siri, pernikahan anak saya harus diadakan pesta!" ketus bu Reny.


"Ibu!" pak Renggono menatap istrinya tajam.

__ADS_1


Diah yang awalnya ingin mengeluarkan minuman berhenti. Ia kecewa padahal ibunya tadi sudah di wanti-wanti, tapi tetap saja membuat malu.


.


__ADS_2