
Mawar menarik Adit menuju pintu kamarnya. "Buka Mas" ucapnya kepada suaminya.
Ceklak.
"Kakaaak..." Melati berlari keluar, Abim mengikuti dibelakangnya.
"Mela! ngapain kalian didalam berdua?!" Mawar menatap Abim dan Melati bergantian minta penjelasan.
Melati ingin membuka mulut, rasanya takut melihat tatapan kakaknya. Mawar selama ini jarang marah padanya, tetapi sekalinya marah, Mawar tampak menakutkan
"Kak, saya akan jelaskan," Melihat Melati ketakutan Abim yang menjawab.
"Kalian berbuat mesum didalam kan! hayo ngaku?!" sambar bu Reny.
"Benar apa yang ibu katakan Bim?" tanya Adit kemudian.
"Kak, saya akan jelaskan," jawab Abim, mengulangi. Belum sempat menjelaskan, bu Reny memotong.
"Sudah jelas! kalian berbuat maksiat didalam, masih mau cerita apa lagi?" bu Reny berbicara meyakinkan.
"Ibu diam dulu, biar Abim menjelaskan." Adit sebenarnya tidak yakin dengan apa yang diceritakan oleh ibu tirinya yang pembohong ini.
"Begini kak, tadi kami memergoki ibu yang sedang ambil sertifikat rumah" jujur Abim.
Adit menatap tajam ibu tirinya.
"Ketika kami masuk kedalam kamar, ingin menyelamatkan sertifikat itu, ibu mengunci pintu dari luar." Abim menceritakan semuanya, dari A sampi Z.
Bu Reny menatap sinis mantan menantunya itu. "Bohong dia Dit, mana mungkin ibu berbuat seperti itu" bantah bu Reny.
Perdebatan pun terus terjadi, bukan bu Reny jika tidak memenangkan debat.
"Sekarang begini saja, siapa yang memegang kunci kamar ini yang terakhir?" Mawar menengahi.
"Ibu" bu Reny merogoh kunci dari saku celana lalu mengangkat ke atas menunjukkan kepada semua. Beliau tidak sadar dengan begitu, ia mengakui perbuatanya.
Semua mata tertuju kepada bu Reny.
"Nah... sekarang sudah ada jawabanya, yang dikatakan Abim dan Melati itu benar," pungkas Mawar.
"Jadi kamu menuduh ibu mencuri Maw?" Bu Reny masih berani bertanya. Namun Mawar tidak lagi menjawab.
"Sekarang Ibu harus tinggalkan rumah saya, lagian siapa yang sudah mengundang ibu datang kerumah Ini? bukankah saya sudah katakan! jika ibu belum mau memperbaiki sikap ibu, terhadap bapak, saya tidak akan menganggap ibu lagi," pungkas Adit. Lalu masuk kedalam kamar ingin melanjutkan mandi.
Mawar pun keruang keluarga ingin menemui anaknya yang sudah pulang main bersama suster.
Abim dan Melati mengikuti.
Hanya tinggal bu Reny ia pun pulang kerumah, ketika melewati ruang tamu tidak ada yang mau menyapanya.
Bu Reny keluar dari rumah Mawar tidak mendapatkan apapun, selain rasa kecewa dan malu, tentunya.
Malam hari Melati dan Abim sudah pulang kerumah masing-masing. Bhanu dan Syifa juga sudah tidur, hanya tnggal pasutri yang sedang berbincang-bincang dikamar.
"Maw, sekarang sudah tidak aman, amankan semua sertifikat, jangan sampai ibu menemukan." titah Adit.
__ADS_1
"Iya Mas, tapi... sebaiknya jangan menyetop uang bulanan ibu, mungkin karena itu, ibu menjadi nekat," Mawar tidak tega, terlepas siapa itu bu Reny, biar jahat maupun baik, bu Reny lah yang sudah membesarkan suaminya hingga kini.
"Nurut lah Maw, aku bukan sejahat itu, aku hanya ingin ibu bisa memperbaiki sikapnya kepada bapak," pungkas Adit.
"Iya Mas, aku mengerti," Mawar lantas tidur miring menghadap suaminya.
Aditpun merengkuh tubuh istrinya kemudian mereka tidur saling berpelukan.
*******
Hari berganti, malam minggu saatnya acara ulang tahun Grocery Store yang ke dua puluh tahun dilaksanakan.
Tampak para pembisnis yang diundang ketempat itu, termasuk gadis cantik, melangkah anggun walapun pembisnis baru tidak lantas menciut, ia tampak percaya diri. Walaupun berhadapan dengan pembisnis senior.
Di tempat ini mungkin ia terlihat bodoh, tetapi jika pulang nanti tentu akan membawa segudang ilmu.
Tampak pak Johan bersama istri, Daniel sang pemilik acara bersama istri, tuan Ricard juga bersama istri. Para pembisnis senior itu pun masing-masing menyalami Melati.
"Mana Mawar dengan Aditya Mel?" tanya papa Johan, tidak melihat anak angkatnya.
"Maaf Pak, kakak tidak bisa hadir," jawab Melati.
"Oh jadi... ini Melati Adiknya Mawar?" tanya Daniel, beliau dekat dengan Mawar karena mereka bekerja sama.
"Betul Pak Daniel" kehadiran Melati disambut hangat oleh para pembisnis handal.
Tuan Ricard, pria bule itu asyik ngobrol dengan Alfred, rupanya mereka berasal dari negara yang sama. Mata liarnya menatap Melati hampir mau copot, dari sarang, tanpa melati tahu.
"Silahkan duduk Nona" tampak wanita penerima tamu mempersilahkan duduk.
"Terimakasih untuk para tamu undangan, yang sudah menyempatkan diri, untuk datang ketempat ini,"
Tampak pemuda berkaca mata, berpakaian lengkap kemeja, dasi, dan jas sangat berwibawa, memberi sambutan.
Semua menatap keatas panggung walaupun pemuda itu sudah berusia 32 tahun namun tampak masih muda, bawaannya yang selalu humoris ketika mengajar di kampus membuatnya awet muda.
"Pak Rony" Melati terkejut.
"Loh, kok pak Rony memberi sambutan disini Mel?" tanya Alex, tak kalah terkejut, Alex belum tahu jika Rony bekerja disini.
"Iya, Pak Rony memang menejer disini Lex," terang Melati
"Mela?" gadis berhijab syar,i bersama pemuda tampan mendekati Melati.
"Intan, apa kabar kamu?" Intan datang bersama Abim.
"Alhamdulillah... baik Mel" Melati dan Intan pun duduk berdekatan.
Melati melempar pandang kearah Abim begitu juga sebaliknya, empat pasang mata itu saling pandang untuk beberapa saat. Namun begitu mereka tidak saling sapa.
Semua itu tidak luput dari perhatian Alex. Alex hanya bisa menarik napas berat.
Pada akhirnya mereka, duduk berempat. "Kenalkan Tan, ini temanku." Melati memperkenalkan Alex.
"Alex"
__ADS_1
"Intan"
"Mel, mentang-mentang kamu sudah punya usaha, nggak pernah kerumah lagi, Mama kangen, tahu?!" ketus Intan.
"InsyaAllah... besok dech Tan, salam ya untuk Mama." Melati dan Intan pun berbincang-bincang. Selama itu pula Abim selalu mencuri-curi pandang.
Tibalah saatnya tamu undangan menikmati hidangan makan malam. Masing-masing memilih menu yang mereka suka.
Melati, Intan, dan juga Alex sedang Antri. "Mela, ini aku sudah ambilkan sekalian" Abim tampak membawa dua piring hidangan.
"Terimakasih" Melati ambil piring dari tangan Abim.
"Kakak, pilih kasih! masa Melati diambilkan aku nggak!" protes Intan. Tetapi hatinya senang, Ia pun berdoa semoga kakak, dan sahabatnya bisa bersatu.
"Ayo" Ambim menarik tangan Melati, mengajak nya duduk. Lagi-lagi Alex kalah strategi ia hanya bisa memandang dari kejauhan.
"Mel, hati-hati sama pria bule disebelah sana itu" Abim memperingatkan.
"Memang kenapa?" tanya Melati mengerutkan dahi.
"Pokoknya hati-hati" Abim tidak menceritakan secara detail, tetapi Abim tahu, pria bule itu terus memandangi Melati dengan tatapan nafsu.
"Tapi aku kok Familiar dengan wajah itu ya kak?" Melati yang awalnya cuek akhirnya menatap Alfred juga.
"Sudah... lanjutkan makanya jangan malah nglihatin orang terus," kata Abim.
Mereka pun melanjutkan makanya.
Sementara Intan masih antri, rasanya kakinya terasa pegal. Pria jangkung tampak memperhatikannya, sebagai panitia pria jangkung itu bebas masuk ke meja prasmanan tanpa ada yang merasa dirugikan, ia ambil piring dan menyendok menu makan malam komplit.
"Assalamualaikum..." Rony memberi salam.
"Waalaikumsalam" Intan lantas mendongak menatap pria jangkung itu.
"Ini saya ambilkan" Rony tersenyum menyerahkan piring ke arah Intan.
"Terimakasih" tanpa ragu, Intan ambil piring dari tangan Rony. "Silahkan dinikmati Non, saya kembali bertugas ya" ucap Rony tersenyum lalu kembali ke atas panggung. Intan masih bengong merasa heran dengan pria itu, tidak kenal tetapi perhatian.
Dengan cepat Intan meninggalkan Alex bergabung dengan Melati.
"Kamu cepat juga Tan?" tanya Melati.
"Iya Mel, masak aku diambilkan sama panitia yang diatas panggung itu." Intan kembali menatap Rony.
"Pak Rony?" tanya Melati.
"Kamu kenal Mel?" selidik Intan.
"Kenal lah, Dia itu dosen aku."
Mereka berbincang-bincang, sambil menikmati hidangan.
.
.
__ADS_1