PERNIKAHAN BERUJUNG LUKA.

PERNIKAHAN BERUJUNG LUKA.
Penjemputan.


__ADS_3

Dini hari saat bu Riska menangis tersedu-sedu karena hingga kini Melati belum pulang, tangis beliau lantas berhenti saat terdengar pintu diketuk. Bu Riska bergegas kedepan bersama pak Sutisna membuka pintu.


"Ibu..." Melati menghambur memeluk ibu kandungnya. Ia menumpahkan tangis, tidak bisa bicara, lidahnya kelu, tenggorokanya tercekat.


Melati masih berharap bahwa ini hanya mimpi. Alex pria yang menjadi sahabatnya, tega melakukan sesuatu yang di luar nalar.


"Ya Allah... Nak, kamu baik-baik saja, kan?" bu Riska melepas pelukanya terperangah menelisik tubuh anaknya. Pasalnya, ketika berangkat tadi Melati berpakaian rapi, tetapi saat ini tampak menyedihkan jangan ditanya hati bu Riska terasa hancur.


"Ceritakan sama ibu, Nak" bu Riska kembali menangis membayangkan yang tidak-tidak, trauma ketika Melati di culik dipesta belum hilang kini justeru mendapati anaknya dalam keadaan yang lebih parah.


"Biarkan Melati beristirahat dulu Bu." pak Sutisna yang sebenarnya pikiranya sama dengan ibu. Namun pak Sutisna lebih baik tidak mencecar pertanyaan saat ini tentu Melati belum bisa di ajak bicara.


"Ayo, kekamar dulu Nak" ibu memeluk pundak anak gadisnya mengajaknya masuk kedalam kamar.


Pak Sutisnya menatap Melati dari belakang dadanya terasa sesak. Melupakan supir yang mengantarkan Melati.


"Putri Bapak, sudah sampai dengan selamat, saya pamit pulang ya Pak." supir membuyarkan lamunan pak Sutisna.


"Ya Allah... Mas... maaf ya, saya sampai lupa, sebenarnya apa yang terjadi?" pak Sutisna mengharap jawaban dari supir.


"Saya tidak tahu Pak, tugas saya hanya mengantarkan Non Melati, sebaiknya besok bapak tanyakan Tuan Abim," supir menjelaskan.


"Duduk dulu saya buatkan minum," kata bapak.


"Terimakasih... sudah pagi lagi saya pulang saja," kukuh supir kemudian pulang.


********


"Melati... kamu nggak apa-apa kan?" tanya Mawar keesokan harinya. Ia rupanya tadi malam pun meninggalkan anaknya dirumah, menginap dirumah Melati bersama Adit.


"Nggak apa apa kak," lirih Melati yang masih tergolek ditempat tidur menangis dan terus menangis tidak ingin apa pun. Ia rupanya trauma, tadi malam ketika mencoba tidur bayangan Alex seolah meneror dirinya.


Mawar sudah tahu apa yang terjadi sebab subuh-subuh datang menemui Abim kerumahnya. Abim pun menceritakan semuanya.


Tadi malam ketika Adit ditelepon bapak, Adit ikut mencari Melati dan berniat menyusul Abim. Namun beberapa kali telepon Abim hp Abim tidak di angkat, rupanya hp Abim sengaja ia tinggal di mobil.


"Makan sedikit... kakak suapin ya" kata Mawar. Tetapi Melati hanya menggeleng.


"Ya sudah, kakak antar kamu kekamar mandi yuk" Mawar memapah adiknya kekamar mandi setelah Melati mengangguk.


Melati masuk sendiri tidak ingin Mawar ikut kedalam.

__ADS_1


Melati pun mengguyur tubuhnya menggukan air shower. Menggosok rambutnya dengan sampoo, dan menyabuni tuhunya hingga bersih.


Setelah mandi hendak mengenakan handuk kimono, ia menatap seluruh tubuhnya yang masih polos didepan kaca kamar mandi. Tangisnya kembali pecah, tubuh yang ia jaga jangan sampai ada yang menyentuh. Karena tubuhnya hanya milik suaminya kelak.


Setidaknya ia bersyukur masih bisa menjaganya hingga kini, ternyata Allah melindunginya, dan menyelamatkan dirinya dari manusia bejat seperti Alex.


Melati kembali membasuh wajahnya menghilangkan sisa air matanya. Setelah memakai kimono ia lantas keluar, ternyata kakaknya masih menunggu didepan pintu.


"Sudah selesai?" tanya Mawar.


"Sudah" ucapnya pendek lalu membuang celana jins dan pakaian yang ia gunakan tadi malam ketempat sampah untuk menghilangkan trauma.


"Kok di buang?" tanya Mawar mengerutkan dahi.


"Biar saja kak, aku nggak mau mengingat kejadian ini." jawab Melati kemudian mengganti kimono dengan piama.


"Sebaiknya kamu makan dulu terus istirahat" titah Mawar. Melati pun menurut setelah makan beberapa suap, kemudian mencoba tidur diselimuti Mawar.


******


Rumah sederhana di perkampungan tampak Bombom sedang duduk menggelar tikar di depan televisi. Sepiring kue dagangan mak nya, ditemani segelas kopi menu sarapan nya pagi ini.


Bombom menggigit kue hingga setengahnya mulutpun penuh mengunyah dengan cepat, kemudian menelan makanan tampak serat lalu di dorong dengan kopi.


"Seorang gembong narkoba telah digerebek disalah satu rumah tua dikota xxx pukul 00 dini hari. Tidak hanya sebagai gembong. Alexander juga sedang menyandra seorang gadis yang bersama Melati," begitulah berita di televisi.


"Mamaaaakkk..." Bombom memanggil mak nya setelah menelan kue di mulutnya teriak.


Mak yang sedang menyusun kue didalam tampah hendak dijajakan pagi ini terkejut.


"Ada apa? Bom..." suara mak dari dapur.


"Maaaakk... sini dulu Mak..." teriak Bombom.


Mak bergegas menemui Bombom yang sedang memukul-mukul bantal di atas tikar sambil merancau.


Buk buk buk


"Dasar Alex! kurang ajar, gw nggak nyangka ternyata loe brengseeekkk...!!" Bombom menyerang bantal yang tidak berdosa itu membabi buta.


"Bombom! kamu itu gila ya!" mak menjewer telinga anak sulungnya itu.

__ADS_1


"Mak... ampun Mak, lihat tuh siaran televisi," kata Bombom. Mak melepas tanganya lalu beralih menonton televisi.


"Alex?" mak tampak lemas menjatuhkan bokongnya di kursi. Lalu menatap Bombom tak berkedip.


"Mak kenapa, lihat Bombom seperti itu?" Bombom takut sendiri melihat mak yang menatapnya tajam.


"Kamu nggak ikut-ikutan Alex kan Bom?" jantung mak ingin copot, pasalnya Bombom dengan Alex seperti lem dengan perangko. Alex sering main kerumah Bombom walaupun tidak pernah menginap.


"Astagfirlullah... Mak... Mak, nggak percaya sama aku, mau check sekarang Bombom mau kok," Bombom memang sama sekali tidak tahu siapa Alex.


"Ya sudah Bom, Mak percaya sama kamu" Mak terasa lega.


"Sekarang Bombom mau kerumah Melati dulu Mak" Bombom langsung berdiri.


"Mau ngapain, bukanya libur?" tanya mak mengerutkan dahi belum menyadari jika korban yang diberitakan adalah Melati.


"Menghiburnya Mak," jawab Bombom sambil berlalu ambil kunci motor lalu pergi.


"Menghibur apa sih itu anak?" mak pun mematikan televisi kemudian berangkat jualan.


*******


"Mel... loe baik-baik saja?" tanya Bombom ia sudah sampai dirumah Melati, ternyata Melati sudah ngobrol dengan Risda diruang tamu. Risda pun setelah tahu berita langsung mendatangi Melati.


"Alhamdulillah... Aku baik-baik saja Bom," jawab Melati, wajahnya tampak sedih, dan matanya masih sembab.


"Yang sabar ya Mel" kali ini Bombom tampak hati-hati bicara dengan sahabat sekaligus bosnya ini, tidak percanda seperti biasa.


"Terimakasih Bom" jawab Melati lirih menatap Bombom sekilas lalu menunduk *******-***** telapak tangannya, keadaan Melati belum pulih seperti biasa.


"Gw nggak percaya Mel, tangan gw rasanya gatal ingin menonjok mata Alex yang sipit itu, biar tambah nggak bisa melek." Bombom pun ternyata bisa emosi, sahabatnya ternyata bisa berbuat nekat.


"Gw juga nggak nyangka, Alex bisa berbuat begitu" Risda pun masih syok.


"Tapi... loe nggak ikut-ikutan kan Bom?" pertanyaan Melati pun sama dengan pertanyaan mak nya Bombom. Sebab Alex dengan Bombom sangat dekat sekali.


"Gw berani bersumpah Mel," jawab Bombom.


Ketika sedang berbincang-bincang pihak kepolisian pun datang menjemput Melati, Bombom dan juga Risda akan dimintai keterangan lebih lanjut untuk proses penyelidikan.


Dan juga akan di lakukan tes urine, apakah ada kandungan narkoba ditubuh mereka atau tidak.

__ADS_1


Ketiga remaja itu pun berangkat ditemani Aditya.


.


__ADS_2