
Pria dan wanita dewasa awalnya saling mencintai dan akhirnya saling menyakiti, pasti banyak juga didunia ini. Seperti yang Diah alami. Dulu ia mencintai Abim dan pada akhirnya Diah telah melukai hatinya.
Dan pernikahannya yang kedua Diah telah memetik buah yang ia tanam ketika bersama Abim.
"Diah... tolong Diah... bukakan pintu" Alfred mengetuk-ngetuk pintu kamar karena Diah telah mendorongnya keluar lalu mengunci pintu kamar dari dalam.
Diah bersandar di pintu memeluk lutut sambil menangis membiarkan Alfred yang terus memanggil namanya.
"Pergilah Fred, dan jangan datang lagi, cepat ceraikan aku Fred, kamu tidak perlu repot, cukup menyebut kata cerai," tutur Diah dari dalam sambil menangis.
"Tidak Diah... jangan mengucap kata itu, aku nggak kuat, mendengarnya," jawab Alfred sungguh-sungguh.
"Pergi Alfred... pergiiii..." pekik Diah.
"Baik lah Diah... aku pergi, tapi aku tidak akan menarik kata-kataku, aku mencintaimu, dan tidak akan menceraikan kamu" pungkas Alfred.
Begitulah Alfred duduk diluar kamar hingga jam 10 malam, akhirnya ia menyerah. Afred berdiri melangkah lemas, mengapa hatinya kini merasa sedih dan takut. Takut kehilangan Diah.
Alfred merogoh dompet mengeluarkan uang yang Diah tolak tadi lalu meletakkan uang tersebut diatas meja makan. Alfred memutar bola matanya menatap kamar Diah, sebelum akhirnya membuka pintu depan. Alfred lalu menguncinya dari luar. Memang begitu mereka selalu membawa kunci masing-masing.
Dengan rasa sedih, kecewa, Alfred starter motor meninggalkan kontrakan.
Sampai lah Alfred ditempat dimana dia selalu menghabiskan waktu ketika sedang galau seperti sekarang.
Kakinya melangkah masuk kedalam bangunan yang cukup ramai menembus lampu remang-remang. Dentuman musik mengiringi pria dan wanita yang sedang berlenggak lenggok menari-nari.
Alfred duduk disudut ruangan kemudian mematik korek menyalakan rokok.
"Perlu teman, Tuan?" datang wanita yang hanya memakai bikini duduk di samping Alfred. Namun Alfred bergeming.
"Atau... ingin sesuatu Tuan" wanita itu mengulangi.
"Ambilkan saya minuman yang terbaik," titah Alfred pada akhirnya, kemudian kembali menghisap rokok menyembulkan asap keatas.
"Baik Tuan" wanita itu berjalan dengan menggoyang panggulnya tanpak bergoyang kekanan kekiri.
Tidak lama kemudian wanita itu kembali meletakan minuman didepan Alfred lalu menuangkan berkali-kali.
*****
"Mommy... kok Daddy nggak pulang-pulang?" tanya Freddy. Selama seminggu ia selalu bermain dengan daddy nya menemani sebelum tidur, tetapi hingga jam 10 malam Alfred belum pulang, Freddy tidak bisa tidur.
"Duh duh... anak Mommy, kok jadi manja sih..." Gita mencium pipi anaknya.
"Sekarang kamu tidur, Daddy kan memang sering nggak pulang Nak," Gita menghiburnya.
__ADS_1
"Memang Daddy kemana Mom?" Freddy penasaran.
"Daddy, sering pulang malam itu... mencari uang untuk kita." terang Gita. Gita mengelus-elus punggung anaknya lama kelamaan Freddy tidur juga.
Mendengar anaknya sudah mendengkur halus, Gita menyelimuti lalu berdiri mengecilkan ac.
Gita kemudian meninggalkan kamar Freddy menuruni tangga, masuk keruang kerja milik Alfred ketika masih bekerja di kantor ayahnya dulu. Gita membuka handphone kemudian mencari nama seseorang setelah menemukan nomor tersebut ia menekanya.
"Hallo Bu" suara pria diseberang.
"Hallo! bagaimana? kamu sudah menemukan ayah anak itu?" tanya Gita. Gita rupanya minta seseorang untuk menyelidiki siapa ayah anak yang mirip suaminya itu.
"Mohon maaf Bu, sepertinya akan sulit, anak itu dilindungi oleh Wahyu Adya," terang orang suruhan Gita.
Gita pun memutuskan sambungan telepon, ia mendesah kasar. Gita mengigit kuku jarinya sendiri, tidak ada jalan lain bagi Gita jika ingin tahu, anak siapa yang bersama Mawar waktu itu. Gita sendiri yang harus mencari tahu, tidak mungkin anak bisa seperti pinang dibelah dua dengan suaminya jika tidak ada hubungan darah menurut nya.
Gita semakin kesini semakin curiga, pasti suaminya mempunyai PIL diluar sana, ditambah lagi ada anak yang mirip suaminya tentu menambah kecurigaannya.
Gita flashback ketika Ayahnya memarahi Alfred.
"Kurang ajar! kamu Fred! kamu telah menghambur-hambur-kan uang perusahaan, hanya untuk bersenang-senang dengan wanita diluar sana, kan?!" Ayah Gita marah besar.
"Ayah salah sangka, saya tidak pernah melakukan itu Yah," Alfred membela diri.
"Jangan bohong kamu Fred! mulai hari ini kamu saya pecat, sebagai direktur!" Ayah Gita menggebrak meja kantor.
"Jangan jadikan alasan itu Fred, jika itu alasan kamu, kamu pikir saya tega membiarkan anak dan cucu saya kelaparan! tentu saya yang akan menghidupi mereka?!" Ayah Gita sering melihat Alfred keluar masuk hotel bersama seorang wanita menjadi emosi.
"Satpam! seret keluar pria ini," titah ayah Gita.
Alfred diseret keluar oleh satpam dengan paksa. Dibalik pintu ternyata ada yang mendengarkan, dia adalah Gita, hatinya hancur berkeping-keping.
Flashback off.
Gita keluar dari ruang kerja lalu menuju kamarnya sendiri. Waktu merangkak hingga dini hari Alfred belum juga pulang.
Gita merebahkan tubuhnya diranjang menarik napas panjang pikiranya melayang jauh, jika benar Alfred ada wil apa yang harus ia lakukan? saat ini hubunganya dengan sang Ayah sudah kurang baik lantaran Gita kekeh ingin mempertahankan rumah tangganya. Sedangkan maunya Ayah ia berpisah dengan suaminya.
Tengtong tengtong.
Bel berbunyi Gita beranjak dari tidur pasti itu Alfred. Gita bergegas menuruni tangga berniat membuka pintu, ternyata sudah di buka oleh bibi.
Bruk!
Alfred tersungkur di depan pintu Gita menatap Alfred tidak percaya, bau alkohol menyengat, rambut putihnya acak-acakan.
__ADS_1
"Rupanya Tuan mabuk Non" kata bibi.
"Bantu saya membawa kekamar mandi Bi" titahnya.
"Baik Non" Gita menggotong Alfred bagian pundak sedangkan bibi bagian kaki dengan susah payah membawa kekamar mandi.
Briuuur... briuur.
Gita mengguyur Alfred selain agar sadar ia juga tidak kuat bau alkohol.
"Hueeek..." Alfred tersadar.
"Bi, tunggu diluar ya, nanti saya panggil lagi."
"Baik Non"
"Briuur... biur..." Gita tidak berkata apa-apa terus mengguyur suaminya.
Alfred mengeluarkan isi perutnya.
"Dingin..." Alfred menggigil.
Gita memandikan Alfred yang masih belum sepenuhnya sadar.
"Dingin Diah... maafkan aku Diah..." rancauanya.
Jedeeer
Bak petir disiang hari Gita mendengarnya, terjawab sudah tanpa harus repot mencari tahu.
Sesaat Gita menghentikan menyampoo mendengar Alfred menyebut nama Diah.
"Huk"
"Diah... aku mencintai kamu... huk, aku nggak mau bercerai..." Afred terus menerus merancau Gita masih mencoba untuk bersabar melanjutkan memandikan Alfred lalu menghanduki.
Gita kemudian melongok ke pintu menemui bibi yang masih menunggu disana.
"Bi, tolong ambilkan piama ya"
"Ya Non" bibi Ambil piama tidak lama kemudian kembali menyerahkan kepada Gita.
"Terimakasih Bi, sekarang Bibi tidur saja." Gita lantas kembali ke kamar mandi memakaikan baju Alfred.
Gita memapah suaminya kekamar, Alfred lantas tidur.
__ADS_1
Sementara Gita sama sekali tidak bisa tidur kata Alfred yang menyebut nama Diah terus terngiang-ngiang di telinganya.
.