
Melati ambil baju dalam koper yang disiapkan Mawar kemarin, ia ingin mandi walaupun dini hari rasanya tidak betah. Sebab ia mandi hanya ketika hendak shalat subuh kemarin dirumahnya.
"Kenapa kamu mau ganti baju didalam? disini saja, aku kan pengen lihat tubuh istriku," Abim lagi-lagi menggoda.
Melati tidak menyahut ia melempar pandang kearah Abim yang sudah merebahkan tubuhnya di ranjang terlebih dahulu, ia tersenyum memamerkan gigi putihnya. Membuat Melati mlengos kesal.
Abim terkekeh menatap istrinya yang sedang masuk kekamar mandi.
******
"Kamu mau makan apa? aku pesan ya" kata Abim setelah Melati keluar dari kamar mandi. Abim menatap Melati yang sudah menggunakan piama dengan rambut dicepol keatas tanpa disisir terlihat apa adanya justeru semakin cantik.
"Nggak kak, aku mau tidur saja capek banget rasanya," ucapnya kemudian duduk di sofa sambil membuka rambutnya hingga tergerai sebahu, lagi-lagi Abim menelan saliva.
"Eeeh... jangan bobo disitu, sini" Abim menupuk bantal disampingnya, ketika Melati merebahkan tubuhnya di sofa.
"Sama saja, kak" ucapnya yang sudah tidak kuat menahan kantuk.
Abim beranjak berjalan pelan sambil tersenyum lalu mengangkat tubuh istrinya.
"Eehh... kakak" Melati terkesiap. Namun Abim diam saja lantas menidurkan Melati di ranjang yang hanya pas untuk tidur berdua.
"Kita ini sudah suami istri" ucapnya sudah yang kesekian kalinya. Lalu ia pun merebahkan tubuhnya disamping Melati yang tampak masih takut berdekatan.
Melati menggeser tubuhnya hingga kepinggir ranjang lantas menarik selimut menutup seluruh tubuhnya.
Abim justru ndusel masuk kedalam selimut melingkarkan tangannya ke perut Melati. Jangan ditanya perasaan Melati campur aduk antara, grogi, takut, khawatir dan entah apa lagi menjadi satu.
Abim mengerti tidak akan memaksa Melati jika belum siap hanya ingin pelan-pelan mendekat agar Melati terbiasa.
Mereka pun tidur tanpa melakukan apapun hingga jam berganti pagi. Melati bangun terlebih dahulu ketika membuka mata yang pertama ia lihat adalah suaminya masih tidur dalam posisi miring sama seperti tadi malam. Yakni memeluk perut dan kakinya kini justeru mengunci kakinya hingga Melati sulit bergerak.
Melati memindahkan tangan Abim kemudian menggeser kakinya pelan. Mungkin karena lelah Abim tidak merasa terganggu.
Melati lantas mandi, ganti baju kemudian shalat subuh. Ia berjalan mendekati jendela, membuka gorden setelah selesai shalat.
Matanya dimanjakan pemandangan pagi walaupun masih tampak kurang jelas karena matahari masih bersembunyi di peraduanya. Namun lampu-lampu masih belum ada yang dipadamkan.
Pemandangan alam yang luar biasa indah berada di wilayah kaki pegunungan Alpen.
Melati kemudian ambil kursi dan handphone duduk didepan jendela sambil menghubungi keluarganya di Indonesia mengabarkan bahwa mereka tiba dengan selamat sampai tujuan tidak kurang suatu apa.
"Kamu kok nggak bangunin aku?" tubuh kekar kembali merangkul pundak Melati dengan dagu yang menempel ke kepala Melati.
Melati memajukan kepalanya agar lepas dari dagu suaminya rasanya masih asing sekali. "Kakak sudah shalat belum?" tanya Melati kemudian, karena Abim tidak mau bergeser.
__ADS_1
"Sudah" lalu ia menarik tangan Melati pelan setelah Melati berdiri ia mengambil alih kursi dan memangku Melati.
"Kakak" Melati merinding seketika tatkala tangan Abim melingkar diperutnya memeluk erat.
"Seettt... diam" ucapanya pelan ketika Melati ingin lolos. Abim mengajak nya ngobrol menunjuk-nunjuk pemandangan diluar jendela yang tampak indah. Melati menjadi lupa bahwa ia sedang duduk dipangkuan Abim hingga perut Abim bernyanyi lantas mereka tertawa.
"Aku mandi dulu ya, setelah sarapan kita jalan-jalan kesana," Abim menunjuk ke arah pemandangan.
Abim segera mandi, Melati lantas menyiapkan kaos santai dan celana jins untuk suami barunya itu.
"Kamu menyiapkan baju untuk aku?" tanya Abim sambil mengangkat baju diatas sofa.
"Iya, nggak cocok ya?" tanya Melati lalu menghentikan aktifitasnya ketika sedang mengenakan jilbab, khawatir Abim tidak cocok dengan pilihanya.
"Cocok" ucapnya, Abim senang sekali Melati ternyata perhatian kepadanya. Ia memakai kaos sambil senyum-senyum.
"Kita kebawah yuk, cari sarapan" kata Abim kemudian mereka ke lantai dasar menikmati hidangan pagi.
Mereka sarapan makanan siap saji kas Swiss kemudian melanjutkan jalan-jalan.
"Jalan kemana kita?" tanya Abim ketika sedang menunggu taksi.
"Nggak tahu, aku ikut kakak saja, kakak kan sering kesini" Melati benar Abim memang sudah kesini.
"Ngga sering sih, baru dua kali ini kok"
"Kita naik sepeda yuk" ajak Abim.
"Capek banget kak, mendingan kita duduk disini saja," tolaknya, wajar jika Melati lelah sejak kemarin dia hanya tidur sebentar.
"Baiklah" Abim menurut, mereka lantas duduk santai di kursi taman memandangi danau. Hawa yang sejuk pas untuk beristirahat.
"Jam berapa kita ke apartemen kak?" tanya Melati.
"Besok, kita menginap di hotel dua hari" jawab Abim. Kemudian mengeluarkan handphone dari saku celana.
Ceklak ceklak
Abim melingkarkan tangannya kepundak Melati lantas mengabadadikan momen tersebut.
"Ah kakak! aku kan belum siap," Melati menatap Abim yang sedang memeriksa hasil jepretan.
"Tapi lihat dulu hasilnya," Abim menunjukan foto mereka memang bagus.
Saat sedang berbincang-bincang fotografer yang berasal dari Indonesia menawarkan jasanya.
__ADS_1
"Boleh Pak" Abim lantas menarik Melati membelakangi danau agar mendapat latar yang bagus.
Mereka foto dengan berbagai macam gaya dan diberi pengarahan fotografer.
"Satu lagi yang lebih mesra" titah tukang fhoto.
Abim dan Melati berdiri berhadapan kemudian mengalungkan tangannya di tengkuk.
"Cup"
Seberapa detik Abim mengecup bibirnya. Melati terkejut malu sekali dengan sang fotografer.
"Cukup Pak" kata Abim, fotografer pun meninggalkan mereka.
"Kakak... malu tahu" sesal Melati. Malu ciuman pertamanya sudah diambil.
"Saat nikah kemarin kita kan nggak sempat foto Mel" Abim tersenyum menatap istrinya yang sedang menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
Mereka kembali duduk setelah hilang rasa lelah, Abim mengajak Melati naik kapal pesiar mengelilingi danau.
Keduanya sudah mulai akrab, selayaknya kekasih mereka pacaran setelah menikah. Siang hari menikmati kuliner yang tidak jauh dari tempat itu, hingga sore hari mereka memutuskan kembali ke hotel.
*******
Waktu berganti malam, Melati dan Abim mengirimkan foto ke Mawar maupun Intan.
Melati kemudian merebahkan diri di ranjang bersebelahan dengan Abim.
"Kakak pernah mengajak Diah kemari?" tanya Melati.
"Nggak" jawabnya cepat.
"Terus bulan madunya kemana?" Melati penasaran.
"Sekarang tuh kita sedang berdua, jangan bahas orang lain" kata Abim serius.
"Iya" jawab Melati singkat.
Abim lantas menarik pundak istrinya agar menatapnya.
Mereka tidur berhadapan keduanya saling pandang tangan kekar itu diangkat keatas. Jarinya menyusuri wajah cantik yang saat ini menjadi istrinya.
Kedua insan yang sedang kasmaran itu pun saling mendekat, hormon dopamin yang meningkat membuat iris mata mereka saling membesar.
Abim semakin mendekat menautkan bibir mereka. Seharian penuh mereka bersama membuat Melati sudah tidak terlalu kaku. Hingga akhirnya menerima sentuhan-sentuhan Abim membuat matanya terpejam.
__ADS_1
.