PERNIKAHAN BERUJUNG LUKA.

PERNIKAHAN BERUJUNG LUKA.
Kesedihan Mama.


__ADS_3

"Mel, kamu sedang ada acara?" Abim tiba-tiba berjalan tergesa-gesa mendekati Melati.


"Iya kak, kakak ngapain disini? sama Diah?" Melati clingukan mencari Diah.


"Nggak Mel, aku sedang bertemu klien disini," terang Abim lantas memandang teman Mela, satu persatu, semua mata mereka tertuju kepadanya. Abim menganggukkan kepala.


"Kenalkan kak, ini teman kampus aku, terus yang ini bujang lapuk Dosen aku." Mela, terkekeh, menirukan sebutan Rony. Mereka lantas berdiri memperkenalkan diri. Rony bukan marah malah terbahak-bahak mendengar banyolan Mela.


"Kakak bukanya hari ini pindahan? kok malah ada disini?" Mela heran, pasalnya, kak Mawar kemarin pagi bilang katanya hari ini Diah akan pindahan, tetapi Abim justeru disini.


"Pindahan, cuma membawa baju Diah saja kok, memang banyak," sahut Abim.


"Mel, kamu pulang jam berapa?" tanya Abim jika pulang sekarang ingin mengajaknya serta naik taksi.


"Nanti jam empat kak" jawab Melati.


"Oh, kalau gitu aku duluan ya..." kata Abim.


"Hati-hati kak" pesan Mela, dan hanya di angguki Abim sambil melambaikan tangan.


Melati menatap kepergian Abim, dalam hati bertanya. Apa sebenarnya yang terjadi dengan rumah tangga Abim? pasalnya, Abim kemana-mana hanya sendiri, tidak pernah membawa Diah serta. Walaupun Melati pernah kecewa dengan Abim, tentu ingin rumah tangga mereka bahagia.


"Ehem... ehem..." Rony berdehem mengejutkan Melati. Melati tersenyum lantas duduk kembali, diikuti yang lain.


"Siapa itu Mel?" tanya Alex bibirnya sudah gatal ingin bertanya.


"Kakak aku" jawab Melati singkat sambil membenahi sampah bekas mereka makan dibantu Risda.


"Kakak ketemu gede kan?" tanya Rony. Rony tahu dari tatapan Abim sepertinya mencintai Mela.


"Iya sih... Mama dia sayang banget sama aku." sahut Mela, polos.


"Ganteng banget Mel, kenalin gw dong," sambar Risda.


"Yeah loe Ris, sudah punya bini tahu! lagian loe jadi cewek mudah banget jatuh cinta. Kemarin bilang Pak Rony gagah, ganteng keren. Auw" Melati meringis memegangi kakinya yang diinjak Risda.


Risda malu sebab Pak Rony terkejut menatap Mela dan Risda bergantian.


Alex yang dari tadi diam, mendengar bahwa pria tadi sudah beristri agak lega.


"Sudah ah! kita jalan yuk, sudah jam dua nih" kata Bombom.


"Ayo, masih ada waktu satu jam" jawab Pak Rony. Yang sudah berdiri akan berangkat.

__ADS_1


"Memang Pak Rony mau ikut?" Alex kecewa jika Pak Rony ikut tentu kesempatan ngobrol dengan Mela, tidak ada, tetapi tidak ditunjukkan secara terang-terangan.


"Kamu ini? memang siapa yang punya ide, kok malah saya nggak boleh ikut," Rony geleng-geleng kepala.


"Sudah ayo, malah debat" Mela, melerai, lantas menggandeng Risda berangkat lebih dulu menuju perkebunan.


********


Sore hari Abim sudah sampai di rumah, menurunkan tiga koper baju milik Diah. Supir Papa Wahid yang sedang santai segera membantu mengangkat koper.


"Kok tidak telepon saya suruh jemput Den, padahal saya dari tadi menganggur" kata supir.


"Tidak apa-apa, Pak" sahut Abim lalu membayar ongkos taksi.


Supir lantas membawa koper masuk, hingga balik dua kali kedalam rumah.


Abim menyusul supir kedalam ternyata kopernya sudah dibawa kelantai atas.


"Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam..."


"Kamu baru pulang, Bim?" tanya Mama, tangannya langsung dicium Abim.


"Kamu sudah makan siang?" tanya Mama menatap anaknya minum seperti kehausan.


"Sudah, sama teman di puncak tadi" Abim menyeka keringat didahi dengan sapu tangan yang ia rogoh dari saku celana jins.


"Ada acara apa dipuncak, Bim?" Mama heran tidak berbicara apapun sejak sore, tiba-tiba Abim kepuncak.


"Ada yang mengajak Abim bisnis ternak ikan Ma, tetapi Abim saat ini belum bisa menerima" wajah Abim tampak menyesal.


"Loh kenapa Bim?" Mama tampak serius mematikan televisi yang ia tonton.


"Tabungan Abim sudah habis Ma, untuk membayar uang muka kredit rumah," jawab Abim, memang Abim tidak menceritakan masalah ini kepada Mama maupun Papa.


"Ya Allah... kenapa musti kredit rumah? Mama kan sudah bilang, tinggal disini saja, kalau nggak ada kamu sepi nak," kata Mama berkaca-kaca menatap Abim.


"Terima saja tawaran teman kamu itu, Mama ada kok tabungan, tenang saja, ini tabungan pribadi Mama, jadi Papa tidak akan tahu." Mama sedih menatap anak sulungnya matanya mengembun.


"Tidak usah Ma, Abim mau fokus satu dulu, ambil BTN biar nggak kesana kesini," tolak Abim.


"Maafkan Papa kamu ya nak" Mama lalu memeluk anaknya menjatuhkan kepalanya dipundak Abim. Mama menangis, selama ini mencari uang untuk anaknya. Namun, Papa justru menyita barang-barang Abim yang sudah diberikan kepada nya.

__ADS_1


Mama sudah berkali-kali membujuk Papa agar hatinya luluh, tetapi Papa rupanya kukuh dengan pendiriannya. Sebagai seorang Ibu tentu Mama hatinya lebih lembut dibandingkan hati Papa.


"Mama kok malah menangis sih... Abim nggak apa-apa kok, Ma" Abim mengusap-usap pundak Mama.


"Ya sudah nak, kalau kamu menolak bantuan Mama. Mama hanya bisa berdoa, semoga anak-anak Mama sukses, dan bahagia," pungkas Mama. Lalu ambil tisu mengusap air matanya.


"Abim Mandi dulu ya Ma" kata Abim lantas berdiri.


"Iya nak" suara Mama serak lantas Mama pun berjalan keruang kerja menyusul Papa.


"Mama kenapa menangis?" Papa terkejut melihat Mama menjatuhkan bokongnya di kursi, air matanya tidak bisa dibendung.


"Papa jahat! Papa egois! Papa nggak sayang anak-anak!" berondong Mama Sahina sambil sesegukan.


Papa mematikan komputer lalu merengkuh tubuh istrinya.


"Awas!" Mama menggerak-gerakkan bahu dan tanganya ingin lepas.


"Kenapa sih... Abim maksud Mama?" Papa turun dari kursi berjongkok didepan Mama. Mama buang muka kesal.


"Dengarkan dulu Ma, Papa sama seperti Mama, semua yang Papa cari untuk istri dan anak-anak Papa" ucap Papa tulus.


"Tetapi... Mama harus tahu, bukan anak kita yang menjadi masalah, tetapi menantu kita itu yang Papa risaukan." Papa lantas mengusap air mata Mama dengan telunjuk.


"Istri Abim itu bukan wanita baik Ma, dia tidak mencintai Abim dengan tulus seperti cinta Mama terhadap Papa," Papa lantas berdiri berjalan mendekati jendela, memandang kolam renang yang membentuk pelangi di tembok terkena pantulan sinar Matahari sore.


"Istri Abim itu, hanya ingin harta kita, dan dengan tidak tahu malunya menjajakan tubuhnya diluar sana."


Mama terperangah, lantas mengangkat kepalanya cepat, lalu menyusul Papa yang masih memegangi jendela.


"Papa tahu darimana?" Mama Sahina akhirnya penasaran ingin tahu, siapa menantunya.


"Papa sudah tahu, sebelum Abim menikah, bahkan Papa sudah menceritakan kepada Abimanyu. Tetapi anakmu ternyata cintanya sudah buta."


"Tidak ada pilihan lain bagi Papa Ma, kita lihat perkembangan selanjutnya, apakah istri Abim itu bisa berubah." pungkas Papa. Papa sekededar menyebut nama Diah saja rasanya malas.


****


"Huhuuu... kenapa waktu ketik Mama bidhe mewek 😢😢😢.


.


.

__ADS_1


__ADS_2