
"Hai... sahabat halu, yang penasaran dengan kelanjutan kisah Diah, dan Marsel, segera hadir, ya..." 🤣🤣🤣.
Abimanyu PoV.
Doaku tak pernah berhenti mengiringi perjuangan istriku yang sedang mempertaruhkan nyawanya.
"Semangat sayang... berjuanglah, demi anak kita" bisiku di telinga. Sungguh aku tidak tega melihatnya kesakitan. Tidak ada yang bisa suami lakukan, ketika istrinya sedang melahirkan. Selain hanya berdoa, dan menyemangati.
Aku tiup ubun-ubunya, dan memberikan sentuhan-sentuhan agar membuatnya lebih tenang.
"Ayo, ngejan sekali lagi, Bu Melati... sudah kelihatan rambutnya" kata dokter.
"Aaaggģghhh..."
"Oeeek... oeeekk.."
Puji syukur aku panjatkan kepada Allah, hanya dengan dua kali mengejan anakku lahir ke dunia.
"Selamat Bu Melati... anak Anda laki-laki, tampan seperti Papa nya" dokter meletakkan bayi ke dada istriku.
"Ooek... ooeeek..." anakku menangis kencang. Begitu juga dengan Istriku, cairan bening menetes di pipi-nya.
"Terimakasih sayang... anak kita laki-laki" bisikku. Lalu aku usap air matanya dengan jari, ku cium kening, dan pipinya, sungguh aku bahagia. Allah swt tidak hanya memberikan aku istri yang cantik, baik, dan sholehah, tetapi mempunyai kesempurnaan.
"Bang" ucapnya, tanganya menggenggam telapak tanganku. Ia kemudian tersenyum, dan mengangguk, tidak bedanya dengan aku terlihat pancaran bahagia di wajah cantiknya.
Aku melihat perawat menggendong putraku menurutnya akan dia mandikan.
"Masih ada yang sakit?" tanyaku.
"Nggak kok, Bang, begitu dedek keluar, perutku sudah tidak sakit lagi" jawabnya sambil memegangi perutnya.
"Syukurlah... Abang senang sayang" Aku genggam tangan istriku lalu ku cium dengan rasa cinta.
"Tuan... silahkan putranya di Adzani dulu" titah perawat.
"Baik Sus" aku gendong perlahan putraku. Aku perhatikan dengan seksama, hidungnya mancung mirip sekali hidung Istriku.
"Bu Melati, sekarang saya bersihkan dulu, ya" suster kemudian membersihkan istriku, lalu aku mengadzani putraku.
Aku bernapas lega karena istriku sudah di pindahkan ke ruang rawat setelah semua rapi. Kemudian aku mendorong dengan kursi roda.
"Aku lapar Bang" ucapnya setelah aku bantu ketempat tidur.
"Okay... kamu mau apa? aku carikan" tentu aku antusias sekali istriku hanya sarapan roti ketika di Bandara tadi pagi. Saat perutnya mulai mulas, ia tidak mau makan apapun, pasti saat ini lapar sekali.
__ADS_1
"Apa saja Bang, yang penting nggak pedas." jawabnya.
"Aku tinggal dulu ya" aku bergegas menuju restoran, setelah istriku menyetujui. Begitu sampai di luar, kedua mertua, kakak ipar, mama, dan papa pun semua sudah berkumpul di ruang tunggu.
"Bim, bagaimana keadaan istrimu? sudah lahir belum, terus kenapa kamu tinggal?" cecar mama, semua lalu berdiri menghampri aku, dengan wajah yang menegang.
"Sudah lahir Ma, sekarang sudah di pindahkan ke ruang rawat"
Alhamdulilah..." semua mengucap syukur. Aku masih diam memperhatikan beliau yang berjalan cepat menuju kamar inap.
********
"Selamat ya Nak, Mama bangga sama kamu, kamu bisa melewati masa sulit tanpa kami, orang tuamu"
Mama Ina menangis, membayangkan menantunya mengandung pertama kali, tapi bisa melewati masa sulit sendiri, tanpa mengeluh. Pasalnya, ini adalah kehamilan pertama kali hingga melahirkan.
"Terimakasih Ma, ini berkat doa Mama" Melati mencium punggung tangan mama.
"Ya Allah... lucunya... Mama boleh gendong, Nak?"
"Ya jelas boleh dong Ma" jawab Melati sopan.
Mama Ina membawa cucunya mendekati bu Riska dan Pak Sutisna.
"Duh... cucuku..." mama memangku cucu pertamanya. Tampak binar di mata beliau. Semua itu tidak lepas dari perhatian bu Riska, sahabat sekaligus besan.
Bu Riska memandangi Ina, senang. Melati mempunyai mertua sebaik Ina tidak seperti mertua Mawar.
"Gantian, aku yang menggendong sebentar ya In" kata bu Riska. Kedua nenek itu merebutkan cucu mereka.
"Kamu kan sudah punya cucu, Ris" yang dimaksud mama Ina adalah; anaknya Mawar.
"Waktu Bhanu masih bayi, saya jarang menggendong Tan, pasti Ibu yang selalu menggendong" tutur Mawar.
"Iya, tapi kan? itu anak Mawar In, aku juga pengen, gendong anak Melati" kukuh bu Riska.
"Ya sudah... tapi hati-hati loh, Ris, tanganmu kan sudah buyutan, nanti jatuh awas! hehehe" kelakar mama Ina, seraya menyerahkan dedek.
"Ngece... ngecee..." bu Riska menjeb-menjeb. "Usia kita kan sama, In"
"Ngece, itu apa Ma?" tanya papa Wahid. Beliau duduk di dekat pak Sutisna.
"Tanya saja, sama Riska, Pa, dia kan yang ngomong, hehehe" obrolan beliau sebenarnya tidak berfaedah. Namun, sudah lama sekali kedua sahabat itu, melewatkan canda tawa.
"Halaah... kamu In, mentang-mentang tinggal di Jakarta sudah 20 tahun pura-pura lupa bahasa Jawa" kelakar bu Riska.
"Saya yang sudah lama tinggal di Jawa saja, belum tahu artinya kok San" pak Sutisna menimpali.
__ADS_1
"Lihat In, cucu kita mirip sekali sama aku" seloroh bu Riska, padahal tidak.
"Siapa bilang? lihat tuh, hidungnya mancung seperti aku, hihihi..." mama Ina, menunjuk hidungnya.
Sementara Melati yang sedang disuapi Abim memperhatikan ibu dan mertuanya tampak tertawa-tawa, kebahagiannya semakin lengkap.
Melati bahagia, di kelilingi orang-orang yang menyayanginya. Ibu kandung, mertua, suami dan juga keluarga besarnya.
"Kok, kamu melihat beliau terus, kenapa?" Abim memperhatikan Istrinya bengong sampai berhenti mengunyah.
"Aku senang Bang, orang tua kita akur banget ya," Melati memutar wajahnya menatap Abim.
"Apa lagi aku, Yank" Abim membersihkan bibir Melati dengan tissue setelah menyimpan piring.
"Aku bahagia, mempunyai istri seperti kamu. Kamu, menerima aku apa adanya."
"Selama menjadi istriku, kamu tidak pernah mengungkit perlakuan buruk aku sama kamu, dulu saat aku belum mengenalmu."
Abim menyesal, dulu pernah sempat membuang berlian yang indah seperti Melati, matanya menganak.
"Abang ini bicara apa? semua manusia pernah salah Bang, kesempurnaan hanya milik Allah" "Begitu juga aku Bang, dulu pernah memakimu, berkata yang tidak pantas, aku juga minta maaf. Tetapi ya sudahlah... yang lalu biarlah berlalu, sekarang kita sudah punya malaikat kecil, kita harus bisa melindungi, dan juga mengajarkan dengan hal yang baik, dan benar."
Keduanya berpelukan. Dan tidak lepas dari perhatian mama, papa, ibu, dan bapak. Beliau saling pandang dan tersenyum bahagia. Anak mereka kini telah memanen buah hasil kesabarannya.
"Yank, anak kita mau diberi nama siapa?" tanya Abim, melonggarkan pelukanya, dan memegang kedua tangan Melati.
"Aku sih... terserah Abang saja" masalah nama Melati menyerahkan sepenuhnya kepada suaminya.
"Aku sudah siapkan nama, Yank, kalau kamu cocok"
"Siapa?"
"AKHMAR NIZAMA ABIMANYU. Agar anak kita kelak menjadi pemimpin yang cerdas, Yank" doa Abim.
"Aamiin... nama yang bagus, Bank" obrolan berhenti karena mama Ina, dan papa Wahid menghampiri mereka.
"Mama pulang dulu ya Nak, nanti malam kembali lagi" kata mama.
"Hati-hati Ma" jawab Melati dan Abim bersamaan.
******
"Oeek...oeeekkk..." malam harinya Nizam sebentar-sebentar bangun, dan menangis.
"Sudah... kamu tidur saja, biar Abang yang membuatkan susu"
Abim tidak membiarkan istrinya bangun. Ia yang membuat susu, menggendongnya sambil memberi dot, karena asi eksklusif belum keluar.
__ADS_1
...Tamat....
.